RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 147


__ADS_3

Bugh...Duagh... Kreeek...


Entah dari mana dan kapan kedatangannya, Langit dan Biru tetiba ada.


Biru menarik baju bagian belakang pria yang sudah menarik narik paksa istrinya. tanpa banyak bicara dan bertanya, Biru menonjok langsung mata sipit itu, dengan cepat memanfaatkan kesakitan lawan, Biru langsung mematahkan tangan kurang ajar yang sudah berani menyentuh istrinya.


""Oh,No !"" Pekik sang pria kesakitan akan tangannya yang di patahkan oleh Biru.


""Itu balasannya karena Lo Sudah berani menyentuh milik gue !"" Tendang Biru ke pria yang sudah tergelepar di tanah dengan tangan benar benar patah di buat oleh Biru.


Mentari bernafas lega, Biru selalu ada di waktu tepat saat di butuhkannya. Senja pun sama, bisa bernafas legah, saat Langit membantunya dari pria asing ini yang sudah menariknya pun ke arah yang berbeda.


""Sialan Lo !"" Langit menyerang lawan di bagian tengkuk belakang itu sampai tersukungkur ke tanah.


Lawan yang di serang tetiba merasa terkejut dengan begitu mereka tidak bisa berkutik langsung mendapat serangan mendadak, tidak di beri celah untuk melawan sedikit pun.


""Langit ! Awas...!""


Biru langsung menghadang pisau yang di lemparkan oleh pria yang ke tiga, yang belum sempat di jamaah hadiah bogeman dengan cara menangkis tajam pisau itu.


""Aaarg, hulk ! Tangan mu."" Pekik ngeri Mentari melihat tangan Suaminya langsung mengeluarkan darah akibat tangkisan tadi yang pas mengenai kulit putih itu di mata pisau. Senja kaget ngeri dengan cara membekap mulutnya sendiri.


Langit terpaku mematung...Demi apa ? Sagara yang dari dulu selalu di musuhinya...kini menolongnya dan mengorbankan tangan itu sampai terluka meneteskan darah demi menyelamatkan punggungnya dari tancapan pisau.


Biru kembali menyentuh pisau itu, membidik kaki lawan yang berlari ingin kabur sebelum di beri.....Hap, Bidikan Sempurna, Biru begitu jeli membidik sehingga betis belakang orang itu terkena menancap sempurna dari pisau milik sang pria sendiri.


""Hulk, hentikan !"" Tahan peluk Mentari dari belakang ke Biru yang ingin melangkah ke pria yang terjatuh terkena bidikan, Ia tidak mungkin membiarkan Biru membunuh orang di negara ini, bukannya nanti Hon Hon mendapat kabar baik, ini malah akan mendapat hukuman di negara ini. Jadi sebelum itu terjadi, Mentari harus menurunkan emosi Suaminya yang terlihat sangat marah.


""Lepas Mentari ! mereka itu harus di beri hukuman."" geram Biru seperti singa yang siap menerkam mangsanya yang hampir tak berkutik.


""Sudahlah, ini Negara orang jadi ku mohon tenang kan dirimu...ayo kita pulang saja ku mohon !"" Nada itu terdengar takut gemetaran. pelukannya makin erat untuk menahan tubuh kekar Suaminya.


""Bi.!"" Panggil Langit yang sedari tadi terpaku benar benar tersentuh akan perbuatan Biru. ""Tangan Lo harus di obati, benar kata Mentari...kita pulang saja. Terimakasih... Terima kasih atas pertolongan Lo."" Tulus Langit akan ucapannya. Biru hanya diam menetralkan darahnya yang mendidih.


""Senja ayo !"" Delik Langit ke Senja.

__ADS_1


Senja perlahan bangun dari duduknya di tanah. ""Aww."" pekiknya sakit akan kakinya yang tergilir.


""Ayo naik !"" suruh Langit ke Senja di punggungnya untuk di gendong. Senja tersenyum manis penuh harap kalau mata itu benar-benar telah mengkhawatirkan dirinya.


Mentari melepaskan pelukannya dari tubuh Biru yang hanya diam tak bersuara juga tak merespon pelukannya. Mentari beranjak ke hadapan Biru dan seketika mendapati tatapan dingin Suaminya yang terpancar untuk pertama kalinya.


""Tutup kain ini ke luka mu.!"" Mentari ingin meraih tangan Biru tapi di tepis kasar oleh Biru.


""Tidak usah, ayo pulang...dan jangan bertingkah seperti anak kecil lagi seperti tadi... kalau kamu kenapa-kenapa tadi bagaimana hah, menyebalkan !"" Bentak Biru berlalu duluan meningkalkan Mentari yang langsung tertampar hatinya saat pertama kalinya ia mendengar ke sarkasan Biru untuknya.


Sampai di hotel penginapan. Biru benar benar marah kali ini, sampai Mentari benar benar di cuekin. Di obati tangannya pun tidak mau di bantu oleh Mentari. dan itu membuat Mentari sedih.


""Hulk maafkan aku !"" Ujar Mentari. Ia pun mengobati luka lututnya sendiri.


Biru mendelik sekilas dan baru tahu kalau Petitenya pun terluka di bagian lutut dan sikut tapi ia tak bergeming di kursi duduknya... sesekali Istri kecilnya ini di beri peringatan keras kalau sangat berbahaya berkeliaran di negara orang tanpa ada pengawasan darinya.


Biru malah beranjak ke kasur tanpa satu kata pun.


""Hulk !"" Sedih Mentari masih membujuk. Ia ikut berbaring di sebelah Biru. Seketika Biru merubah posisi memunggunginya. Hati Mentari semakin tersentak.


""Aku berjanji tidak akan nakal lagi, tidak akan pergi pergi lagi tanpa ada dirimu... maafkan aku ku mohon !"" Ada sesak yang tertahan di dada Mentari. Beginilah rasanya saat di cuekin suami.


""Selamat malam !"" Biru masih dingin, mematikan lampu dan memejamkan matanya begitu saja tanpa merespon Mentari bahkan ia melepas paksa tangan Mentari yang bertengger di pinggangnya.


Mentari menurut melepaskan tangannya. dan membalas memunggungi Biru. Memejamkan matanya dengan air mata menetes. Hulk-nya tidak mau memaafkannya.


Malam ini dan hari esok saja... bersabar lah sayang, jangan menangis...Batin Biru ingin memberi pelajaran kecil untuk istrinya.


Di kamar sebelah...Senja yang licik benar benar memanfaatkan kakinya yang tergilir untuk mendapatkan perhatian Langit....Ya, walaupun si mendung ini menurut terpaksa. Seperti saat ini Senja menyuruh ini itu ke Langit. dari mengambil kan makan sampai menyuapinya, padahal yang sakit kaki, bukan lah tangan. Tapi dengan pintar Senja selalu mendesak Langit.


""Langit, Tolongin !"" Pinta Senja yang ingin kekamar mandi setelah menyuruh Langit menaruh piring kotor bekas makan barusan.


"Apa lagi eum ? Jangan manja ya...dari tadi Lo selalu minta ini itu ke Gue...emang Lo siapa Gue, hah ?""


""Istri !"" Jawab Senja cepat dengan mata mengedip lucu.

__ADS_1


""Bohongan !"" pungkas Langit.


""Berharap jadi nyata !"" Balas Senja.


""Mimpi !"" Langit hampir terbuai, tapi menepis pengakuan Senja...pasti Akting, batinnya.


"" Akan indah karena mimpi ku tulus !"" Senja berbisik di telinga Langit. Pria itu menegang dengan jantung merespon jedag jedug.


""Aku mencintaimu !"" Bisik Senja kembali.


""Menjauh dari telinga ku, telingaku sakit sekali Mendengar kebohongan mulut Lo itu, itik.!"" Dorong Langit ke pundak Senja sampai wanita semampai ini terlentang ke kasur.


""Hahaha, lihatlah wajah mu sangat tersipu merah !"" Goda Senja tergelak.


Langit tetiba meraup tubuh Senja. membuat wanita ini terbungkam.


""Mau mandi kan ? jadi....ayo kita mandi bersama !"" Goda Langit menggeretek.


""Hah ?!"" Kaget Senja. Mandi bersama ? buka bukaan dong ? Oh, tidak bisa ! ia memang mencintai Langit tapi ia masih ragu ke mendung ini, jikalau Mendung hanya menginginkan tubuhnya saja tanpa mencintainya... Auto yang rugi dirinya sendiri.


""Mendung...turunin gue ! Gue bisa mandi sendiri."" Tolak Senja.


""Aih kenapa? tadi makan minta di suapin, ini itu minta di bantu...nah, sekalian juga gue akan ngebantu Lo mandi."" Geli Langit dalam hati melihat wajah gugup Senja yang masih dalam gendongannya.


""Gue bisa, gue bisa, gue bisa !"" Tolak Senja.


Langit menulikan telinganya, menaruh Senja di pinggir bathub, ia mulai mengisi bathub itu dengan air dan juga aroma wangi wangian yang menenangkan.


Senja yang sudah terlepas dari jangkauan langit. berdiri, tertatih berjalan keluar.


Langit melihat itu, membiarkan, tersenyum geli akan kegugupan Senja. ""Itik, Lo mau kemana hah ? ayo kita mandi bersama ! apa Lo butuh bantuan untuk melepaskan kain, gue siap !"" Goda Langit berteriak dengan decakan pinggangnya di sisi bathub.


""Ogah, gue masih waras.... gue memang mencintai Lo, tapi Lo-nya kagak... rugi gue !"" Balas teriak Senja sebelum tertelan pintu kamar mandi.


""Cih, pintar amat Lo ngengibul...Gue mencintai mu ? Gue kagak Percaya !"" Dumel Langit menjatuhkan pelan tubuhnya ke dalam bathub.

__ADS_1


__ADS_2