RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 64


__ADS_3

Mentari menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar sampai menarik perhatian Biru yang sedang berjalan beriringan dengannya memasuki teras kediaman rumah besar Batara.


Sebenarnya, Mentari tidak mau menghadiri undangan dari Radja, Tapi.... Sebagai anak Amma yang selalu di ajarkan cara berterima kasih dengan benar, ia pun terpaksa... Makan malam pakai nasi kecap lebih nikmat di dalam Kontrakan sendiri dari pada harus makan makanan enak di dalam rumah orang tajir yang tidak mau menolong dan tidak mengakui Amang lagi. Kecewa Mentari dalam hati.


""Kenapa petite ? kalau tidak mau masuk kita balik saja lagi, kita makan malam berdua saja, tanpa ada gangguan siapa pun !"" Seru Biru penuh arti. Gue juga ogah Petite, datang kesini kalau hanya ingin mendengar si dosen killer itu melamar mu buat anaknya, Rumah mewah ini akan gue acak acak sampai berantakan jika itu terdengar. Begitulah si otak Biru berpikir yang malas menghadiri acara makan malam yang entah dasar hari istimewa apa. Cih... menerima tanda terima kasih pakai acara segala. decihnya.


Pintu rumah mewah pun terbuka Sebelum di ketok si tamu. memperlihatkan Radja langsung yang menyambut mereka... pantang mundur lagi.


Yaaak, telat kan mau kabur, Petite ! Gerutu Biru dalam hati.


""Mentari, Welcome to the Batara family's house , please come in."" Sambut senyum ramah Radja. Membuat Biru melongo tak percaya dengan mantan dosen ini, Biasanya kan dingin dan datar tu muka. ini.....ya ampun jangan sampai terjadi, prasangka buruk gue.


""Ayo Mentari."" Biru bukannya mengajak masuk malah berbalik membelakangi Radja, Pulang.


Mentari bingung menurut yang di tarik oleh Biru.


""Hei...Hei...Hei... Sagara ! Pintu masuk ada di sini, bukan di sana !"" Seru Radja penuh penekanan.


Dengan terpaksa, Biru kembali berbalik dengan senyum palsu di buat buat olehnya.


""Tahu Om ! Cuma saya tersinggung lho hanya Mentari seorang yang di sambut dan di persilahkan masuk, jadi....ya saya balik saja dan tentu saja harus membawa penumpang spesial saya."" kalem Biru tak ada takut takutnya dengan Radja yang notabene adalah mantan petarung Ostia Club yang tak terkalahkan di eranya.


Dalam hati, Radja tergelitik geli melihat tingkah anak sahabatnya ini.

__ADS_1


""Oh, Begitu ! kamu boleh pulang tapi Mentari di tinggal saja, biar pulang nanti Om yang akan antar atau Om akan menyuruh Mentari MENGINAP di rumah ini."" Tekan penuh Radja di kata 'menginap'.


""Tidak ada seperti itu."" dengus Biru menarik Mentari masuk yang sedang diam seribu bahasa. Pikiran Mentari hanya berlafal di dalam hatinya.... Bukan Amang tapi kembarannya... Terus menerus Mentari memperingatkan dirinya di dalam hati Supaya tidak bertingkah di luar nalar.


Mereka pun masuk di iring Radja menuju ruang makan, sudah ada semua keluarga besar Batara, di sana juga ada keluarga Sunjaya yang di spesial kan di undang oleh Radja, tentu saja dengan maksud agar Biru mau tidak mau mengajak Mentari hadir di tengah tengah mereka.


Raisa terkejut bukan main ada Mentari dan lebih kesalnya... suaminya berjalan beriringan dengan pelakor cilik itu walaupun ada Biru juga tapi ia tidak suka melihat ada gadis itu di istananya.


""Bang !"" Bentak Raisa. ""Kenapa kau ini Bang ? kenapa wanita itu ada di sini ? siapa kau ini hah ? jangan menjadi duri di dalam rumah tangga ku, PERGI !"" Bentak bentak Raisa dengan telunjuk mengisyaratkan mengusir Mentari.


Suasana berubah tegang di ruangan itu yang tadinya ribut dengan canda tawa. Kedua orang tua Radja memalingkan wajahnya kecewa, ia mengira isu tuduhan Raisa itu benar 'Anaknya mempunyai cabe cabean'.


""Apa apaan ini, hah ? Mentari di undang hanya untuk di usir tidak sopan, begitu tuan Radja ! sangat tidak lucu !"


Titan dan Vane membiarkan anaknya bertingkah bebas, Mereka juga tidak suka dengan ketidak etisnya mulut pedas yang tiba-tiba terlontar dari istri Radja.


""Jaga bicaramu Raisa."" Radja memberi plototan tajam ke istrinya, Dan reflek menarik tangan Mentari untuk lebih masuk ke ruangan meja makan, lebih tepatnya di hadapan orang tuanya-Nenek kakek Mentari.


Raisa tersentak hati, Suaminya malah membela pelakor cilik itu di bandingkan dengan dirinya. Dan Keluarga Tegar hanya diam tak bersuara, apalagi Arkan yang lemas tak bersemangat.... Mentari adalah sepupunya...ah... hatinya yang jedag jedug asmara runtuh sudah saat mengetahui mereka mempunyai ikatan saudara dekat.... Panah asmara yang di tembakan salah sasaran, euy...


Biru semakin jengkel tangan Petite-nya di sentuh sentuh oleh tangan pria lain... Kurang ajar orang tua lupa umur ini. Biru ingin memberi bogemannya ke Radja tapi spontan Mamanya-Vane menghalanginya, ia hanya meninju angin.


""Diam dan sabar boy, kita akan mengetahui kebenaran tak terduga di sini, jadi tahan diri dulu."" Bisik Vane ke Biru seraya bergelayut kuat agar singa siap menerkam ini tidak lepas dari kandang, Wanita anggun ini sudah membaca niat awal Radja setelah melihat Mentari ada di antara mereka. Anak Radja sendiri atau anak pak Tegar. Hanya itu pertanyaan Vane dalam diamnya.

__ADS_1


Mentari di sini seperti orang bodoh, dengan hatinya yang selalu mengingatkan batas dirinya yang hanya orang asing. Anggapnya tak ingin lebih, di sini hanya ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya saat mendapat pertolongan dari Radja di insiden Gathering yang berlalu. Tidak ingin lebih.


""Kenapa kau mengajak wanita mu kerumah Radja, hah ? apa kau ingin membuat keluarga tenang ini ribut lagi seperti kelakuan Dewa, begitu !"" Tanpa sadar Bima-Amang Radja menyinggung nama Dewa di hadapan Mentari dan keluarga Sunjaya yang asing dengan nama itu.


Sekujur tubuh Mentari bergetar tertahan mendengar nama Amang-nya di sebut sebagai pembawa ribut tanpa ketenangan. ingin membela tapi takut ketahuan, ia tidak mau identitasnya terbongkar. Tidak mau...!


Plak...


Belum sempat Radja mengeluarkan suaranya, Raisa maju ke hadapan Mentari dan menampar pipi Mentari dengan kuat. Reflek Mentari di dekap oleh Radja untuk melindungi anak dari kembarannya itu. Raisa semakin meradang melihat pelukan itu.


""Yaaak.."" Lagi lagi marah Biru tertahan, Vane-Mamanya sangat nyebelin menahan pergerakannya dengan sangat kuat. Mau menghempaskan tubuh ramping mamanya tidak mungkin, Surganya itu.


""Raisa, sekali lagi kau menyakitinya maka aku akan---!"" Radja menghentikan ancamannya. ia sadar, di sini hanya salah paham.


""Akan apa pa, hah ? mau menampar mama ku pula, begitu maksud papa ? demi perempuan asing murahan itu papa akan menyakiti mama ku."" Kini Gema, anak kembar Radja yang bersuara membela Raisa.


Bugh..


Dan Kini bogeman Biru yang bersuara di wajah Gema, Singa itu terlepas paksa dari penjara tangan Vane saat kata 'murahan' di layangkan ke Petite-nya.


""Gadis ku bukan wanita murahan, Gema... Sialan !"" Geram Biru menarik Mentari yang takut gemetaran di pelukan Radja dan masuk ke pelukannya.


""Stooooop...! Mentari atau Gadis ini adalah anak dari Adik-ku, adik kembar ku, DEWA BATARA."" Akhirnya suara yang ingin meloncat dari mulut Radja sedari tadi tertahan, terlontar juga dengan sangat lantang menggema di ruangan besar itu.

__ADS_1


VOTE....dan Bunga bunga, like dan komen šŸ˜˜šŸ˜˜šŸ˜˜šŸ‘Œ


__ADS_2