
Senja memasuki pelataran rumah besar Mertuanya, ia di paksa pulang oleh Rose dengan alasan jangan lari dari masalah, Segera bereskan agar tak berlarut larut. Namun di benaknya, bukan ia yang harus membereskannya melainkan Langit dan Mentari sendiri yang harus membuktikan keelakan affair mereka.
Dan Demi Petir, ia balik kerumah Langit. Hanya demi Petir. itu saja !!!
Keadaan rumah masih menyala terang menderang di tengah malam seperti ini. Sudut mata Senja masih menangkap sosok mertuanya di kursi kayu yang bisa bergerak.
""Kenapa baru pulang ? Apakah begitu penting urusan mu atau egomu di luar sana di banding kan cucu ku."" Ucapan Chris seperti sindiran untuk Senja dengar, Senja hanya diam, kurang ajar dirinya kalau membalas sindiran tersebut, ia masih punya sopan santun menghargai orang tua walau pun anak orang ini sudah menghianatinya. pikirnya.
mungkin anak ku brengsek Senja, tapi itu mungkin dulu, sekarang sangat minim untuk dia membelot lagi, Apalagi lawannya adalah adik kamu sendiri, itu tidak mungkin ! Batin Chris yang sudah mendengar cerita keluh kesah Langit.
""Kamu kan tahu, Petir begitu tergantung kepadamu, Dia tidak bisa tidur tanpa adanya kalian keloni. Ke atas lah, Langit susah menenangkan Petir, sedari tadi dia mencari mu."" Lanjutnya.
""Baiklah Pa dan maaf atas keterlambatan ku.""
Senja berlalu, meningkalkan Chris, Benar kata Mertuanya, ia melupakan anaknya. Anaknya memang begitu rewel Sebelum melihat orang tuanya tidur satu ranjang bersama dalam apitannya juga apitan Langit, Petir tidak akan nyenyak dalam tidurnya sebelum di keloni bersama.
Ceklek
""Hole, Mama pulang !""
Senja langsung di sambut ceria oleh anaknya yang baru Membuka pintu kamar.
""Hoo, anak mama belum tidur ya ! Kenapa eum ?"" Senja meraup tubuh kecil Petir masuk ke gendongannya, menghirup Curug leher Petir yang begitu sedap di pengendusannya. menaruh tubuh itu ke atas ranjang yang di mana ada Langit berbaring miring memperhatikannya, Namun ia hanya cuek, menganggap tidak ada orang lain selain ia dan petir di dalam ruangan tersebut.
""Pa, Ma, peyuk Petil sepelti biasa !"" Pinta Petir sudah berbaring di tengah tengah orang tuanya.
Langit tersenyum tipis, menuruti keinginan anaknya, ia akan menggunakan anaknya agar wanitanya tidak pergi meninggalkan dirinya, egois kah ? tentu tidak...ini demi anaknya pun dan di sini ia merasa tidak bersalah.
""Tidur lah sayang, mama akan memelukmu."" Peluknya ke perut kecil anaknya dengan sedikit menjauh dari tangan Langit yang berada di perut Petir pun.
Tangan Langit Berangsur menyentu tangan Senja, Di genggamnya erat saat istrinya mau mengelak.
__ADS_1
""Ma, pa ! kenapa tiuman selamat malam nya tellupakan.""
Anak ini sangat pintar, Batin Langit. Dengan begitu, ia masih mendapat salam kecup pipi dari Senja, ya... walaupun ia tahu kalau ibu dari anaknya ini sedang dalam keterpaksaan.
""Nah, sudah kan salam ciumnya, Petir tidur ya Sayang, Mama akan tidur berdua dengan mu di sini dalam waktu yang tak tertentu."' Warning keras Senja, menekan kata berdua. dan Langit tau maksud Senja, Dia menolak tidur bersamanya saat ini. Ok, Senja tidur bersama Petir, maka ia pun akan di kamar ini mengikuti Senja.
""Papa pun !"" Timpal Langit.
""Holeeee !"" Pekik Petir senang. menyatukan kedua tangan orang tuanya yang berada di atas perut kecilnya, Tangan nya pun merajai paling
atas di sana. Dan perlahan mata kecil itupun berangsur terlelap.
Senja segera menarik tangannya yang di pegang Langit. Namun suaminya ini rupanya hanya terpejam bohongan, Lihat saja...Langit tak mau melepaskannya.
""Tidur lah Senja. Esok menanti mu !"" Ujar Langit pelan, membuka kelopak matanya.
""Aku di sini hanya untuk Petir, bukan yang lainnya."" Bisik Senja memperingatkan.
""Dan aku akan membuktikan tuduhan itu tidak lah benar, demi aku, kamu dan anak kita."" Tekad Langit.
""Jaga bicaramu, Aku hanya tidak mau mendengar kata penyesalan mu, Nanti.""
Senja tak menjawab, diam lebih baik menunggu kenyataan apa yang ada di depan hidupnya. Berangsur mata itu terpejam paksa, ia tidak mau mengganggu tidur anaknya. Dan Langit yang melihat Senja dalam keadaan malas membahas permasalahan, berangsur turun dari ranjang, ia butuh sedikit minuman sekedar merilekskan otak.
...****...
Suasana meja makan di pagi hari kediaman Sunjaya, jadi canggung karena Biru menolak terang terangan untuk sarapan bersama di saat Mentari duduk di dekat Biru yang baru bergabung. Kedua orang tua Biru sudah mengetahui kabar buruk bagi rumah tangga anaknya dari Rose dan Radja lewat via chat. Titan dan Vane tidak berpihak kepada anaknya, melainkan berdiri di tengah tengah, Kedua orang tua itu secara logika tidak mempercayai adanya affair Langit Mentari mengingat Mantunya ini begitu Sayang kepada keluarga kecilnya selama ini.
Namun apa lah daya, mereka hanya bisa menasehati Biru juga Mentari untuk menyelesaikan permasalahannya dengan tepat. Mungkin ini adalah salah satu biduk rumah tangga yang mereka harus lewati.
""Ayah, nanti pelut ayah takit nanti !"" protes Pelangi ke Biru yang melihat Ayahnya belum menyentuh makanan apa pun.
__ADS_1
""Ayah buru buru sayang, nanti Ayah sarapan kok di kantor."" Kelit Biru. Mentari sedih dalam diamnya. Meraih tas kerja Biru yang sudah rutinitasnya Setiap pagi mengantar suaminya sampai di depan pintu utama.
""Hu--!""
""Aku buru buru !"" Dingin Biru, bahkan sama sekali tak mau melihat wajah sedih wanita di hadapannya, pekarangan lebih indah di mata Biru saat ini.
""Hati hati.""
Bahkan kecup hangat pun tak ada, Ya Tuhan... kuatkan lah hamba mu ini.
"" Aku kasih waktu satu minggu untuk mu membuktikan jika kamu tidak salah, Mentari."" Biru berhenti melangkah, tanpa berbalik ia berucap memberi peringatan kerasnya.
""Kenapa ? kenapa aku harus membuktikannya, Tanpa ada bukti pun harusnya kamu melihat kejujuran di mata ku, Pak Sagara ! Ini kah cinta mu yang selama ini kamu agungkan di pendengaran ku, Dangkal !!! Sangat dangkal, hanya sekedar foto saja kamu sudah luar biasa menyakiti ku dengan sikap dingin mu, Buka lah mata mu Hulk. Gunakan logika jernih mu, ada kalanya ego harus di kesampingkan untuk mengetahui sesuatu yang tak kasat mata.""
Dada Mentari berombak menahan kekecewaannya terhadap Biru yang tidak mempercayainya.
Biru terpaku di tempat, bibirnya keluh dan mata sepetnya ia pejamkan.
Dito, dari atas mobil pun yang sedari tadi stay menjemput Biru, melihat pertengkaran Bosnya, ia tahu... Bosnya itu dalam keadaan dilema. antara mau percaya atau tidak, Ia tahu permasalahan Sepasang suami istri di hadapannya ini, Karena Biru telah memberinya tugas untuk menyelidiki kasus ini dari semalam, Tapi ia belum mendapatkan apapun. di Cctv hotel tidak ada yang mencurigakan.
"Jika kamu tak mempercayai ku, maka kamu cari sendiri bukti itu, karena aku tidak akan melakukan apa apa, Biarkan otak mu itu mencemooh ku sebagai penghianat yang cuek dalam situasi rumah tangga kita yang sekarang di ujung jurang saat ini, Buat apa aku harus capek capek membuktikannya ke orang yang sekarang tidak mempercayai istrinya sendiri yang katanya sangat di cintainya, yang katanya orang ini adalah udaranya. Aku akan diam Pak Sagara untuk saat ini, Dan aku akan bertindak di saat waktunya, Aku cuma ingin memberi mu applaus karena sudah memberikan kekecewaan di dasar hati ku dan satu lagi, kalau kamu sudah lelah mencari bukti tapi tak berujung maka mengeluh lah di depan ku, aku akan membenarkan adanya itu jika itu yang kamu mau !!! Tapi Setelahnya, Aku harap tidak ada penyesalan.""
Mentari berdarah namun tak kasat mata, Dua tetes air bening jatuh di pipinya begitu saja, Namun ia segera menghelanya cepat, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan suaminya yang berujung hanya dapat belas kasih, bukan kasih tulus lagi yang sebenarnya Biru masih meragukannya. Ia akan membawa santai sikap dingin Biru di saat ini, itulah pilihannya. ia akan bersikap seperti hari hari biasa, membawa kan makan siang untuk Biru, dan apa pun dalam tugasnya sebagai istri. ia akan mencoba menghancurkan tembok besar di antara mereka sekarang ini.
""TAPI KENYATAANNYA, KAMU LAH YANG MENYAKITI KU, KAMU LAH YANG MEMBERIKAN KEKECEWAAN DASAR DI HATI KU, MENTARI PUTRI BATARA !!!"" Bentak Biru Geram masih setia membelakangi Mentari, yang di mana Topan baru bergabung di samping Bundanya.
""Kenapa Ayah memarahi Bunda ku ?!"" Kesal Topan. Reflek di gendong Mentari. Biru pun seketika sadar akan suara gelegarnya. berbalik penuh kebelakang.
Kenapa aku begitu bodoh tidak bisa menahan ego. batinnya mengumpat kasar yang sebenarnya di otaknya kembali teringat foto foto tersebut.
""Kamu salah sayang, Ayah tidak marah ke pada Bunda, Ayah cuma ada masalah pelik di luaran sana. Ayo kita masuk !!!""
__ADS_1
Mentari segera mungkin berkelit, ia tidak mau membuat imege Biru sebagai Ayah anak nya menjadi rusak di depan ketiga anaknya, membawa masuk Topan di dalam gendongannya, Dan Tumben si sulung tak menolak akan gendongan Mentari yang biasa nya selalu berkata Topan sudah besar.
Mentari.... Aaaargh, aku harus bagaimana ? Aku ingin mempercayai mu, tapi otak ku selalu tertuju ke foto Sialan itu.