RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 91


__ADS_3

Kurang lebih dua jam bertransportasi udara dan kurang lebih empat jam pun berkendara darat menuju ke kampung halaman Mentari, kini sampai juga pas di depan rumahnya di pertengahan malam.


Mentari turun dari taksi khusus dari bandara, ia merutuki kebodohannya yang memakai argo perjalanan... Empat jam ? Hadeeeeh, bengkak tuh hitungannya.. Otak Akutansi Mentari berperang batin... Servernya eror sudah !


Sepi.... itulah suasana kampung Mentari yang menyapanya. Ada rasa bahagia menerpanya yang akan bertemu Amma dan Senja-kakanya, Namun di hati paling dalamnya, Rasa sesak pun menggerogotinya sebab jauh dari udaranya.... Biru. Pasrah ! Biar kan waktu yang menjawab, Mentari tidak mau berharap banyak dengan Bos rasa kekasihnya. Ia sadar... kekasihnya itu banyak wanita yang memujanya.


Mentari menaiki tangga rumahnya yang terbuat dari kayu, Rumah panggung... itulah model rumah khas daerahnya. Mengetuk pelan pintu rumahnya, beberapa kali... namun tak kunjung di buka. Orang kampung tuh paling takut menerima tamu malam malam, takut takut orang jahat.


""Amma ! Kak Senja !"" Panggilnya pelan dengan tangan masih mengetuk pintu.


Di dalam rumah...Amma dan Senja memang terbangun namun sebelumnya tidak ada yang berani membuka kan pintu di tengah malam seperti itu.....Kalau penjahat bagaimana coba ? mereka berdua kan hanya sebatas wanita yang tak mempunyai otot untuk melawan. Tapi Mendengar suara yang tak asing plus suara yang di rindukannya. Dua kepala beda umur itu berlomba menghampiri pintu.


""Tari ? kita (kamu) kah itu nak ?"" Sang Amma memastikan dengan logat daerahnya. senja pun memastikan Sebelum membuka pintu.


""Iye' (iya) ini Tari Mak, Ini Tari Daeng ""


( Daeng adalah Panggilan sopan khas daerah Mentari untuk yang lebih tua, mau ke Kaka wanita maupun ke Kaka pria, sama saja )


Mendengar dengan Jelas suara Mentari, Senja pun membuka pintu lebar-lebar.


""Am---""


Greeb...


Amma langsung mendekap anaknya penuh rasa rindu terlepas sudah, air mata orang tua itu langsung tumpah. Mentari pun sama menangis haru. "" Tari Runduuuuuu, Mak "" Serunya panjang. Mentari mengabsen selebar wajah Ammanya dengan kecupan rindu.

__ADS_1


Plak...


Aduh....


Senja memukul kepala adiknya di bagian belakang yang tadinya terluka, namun Senja benar benar tidak tahu jika ada luka di sana karena Mentari Sebelumnya sudah membuang perbannya agar tidak menjadi pertanyaan besar.


""Sini kau adik nakal."" Peluk Senja penuh sayang dan rindu, Sampai mengecup pipi adiknya gemas.


""Daeng."" Mentari meneliti tubuh kakanya, atas sampai ke bawah. takut takut Raisa sudah membuktikan ancamannya.


""Daeng tak apa kan ?""


Senja dan Amma saling tatap bingung, sejurus kemudian Senja menaikkan satu alisnya, menatap curiga adiknya yang tak pernah bisa menampilkan kebohongan Wajah polos itu. Senja juga gadis pintar dalam akademis, Namun ia terlalu pasrah dengan keadaan ekonominya, berbeda dengan Mentari yang orangnya luwes ingin mengetahui dunia luar seperti apa...Selain Senja pasrah dengan ekonomi, ia juga tak tega meninggalkan lama lama Ammanya seorang diri di rumah, jadi ia lebih memilih mengubur dalam cita citanya.


""Apanya yang tak apa, eum ?"" Selidik Senja. Namun intimidasinya di jeda dahulu. Karena menyadari Amma-nya ada di antara mereka, ia tak mau membuat orang tua tunggalnya itu mempunyai pikiran beban. "Ah, sudah lah, ayo kita istrihat dulu. Amma tidur lagi ya ! Acara ngobrol dan rindu rinduannya lanjut besok, kasian Tari baru pulang."" Kelit Senja ke Amma-nya. Mana mungkin ia melepaskan adik polosnya ini begitu saja tanpa mengetahui apa penyebab Mentari pulang mendadak, apalagi Senja tahu jika adiknya ini sangat gila ingin berkuliah, tidak mungkin kan Mentari meninggalkan kuliahnya di ibu kota tanpa ada sebab.


""Daeng tahu saja kalau ada masalah, pintar sekali kau Senja Putri Batara !"" Mentari bersembunyi di bawah selimut, berkelit untuk malam ini saja ke kakanya. ""Besok saja, acara ngobrol dan rindu rindunya ya Mak, kasian Tari baru pulang."" Mentari meledek, Mengulang ucapan kakanya di saat berada di depan pintu, tadi.


""Dasar, kau ini, selalu nakal dan nyebelin Tari, Aku marah ya ?""


"" Aku marah, ya !"" Tetiba Mentari mengingat Biru, Ia juga pernah merengek dan berkata seperti itu ke Biru.


Mentari menyilap selimutnya, Menoleh ke arah Senja yang juga menatapnya.


""Daeng, Ada Smartphone kan ? Pinjam sebentar !""

__ADS_1


""Buat apa ? Hp mu kemana ? Aku punya tapi tak pernah di kasih makan, Nol perak !."" Senja tersenyum getir, hape bagus yang setahunya di kasih oleh Mentari saat dulu tak terlalu di gunakan, Namun aslinya...Biru lah yang mengirimkan alat canggih tersebut tanpa di ketahui oleh mereka.


""Ya sudahlah, Besok saja minjam ponsel odong odong milik Jum.""


...****...


Pagi pagi, Biru sudah siap dengan koper kecil di tangan. Vane dan Titan menyerinyit akan keberadaan koper yang di bawah Biru.


""Mau kemana dengan koper pakaian itu, eum?"" Tanya Vane. Menarik ujung baju lengan Biru untuk ikut sarapan dahulu.


Biru duduk langsung meminum susu segelas sampai tandas.


""Mau ke kampung Mentari, ma, pa ! Mau nyusul dia."" Izinnya sopan.


""Tidak boleh !"" Larang Titan. ""Biarkan Mentari di sana dahulu, dan jadilah pria yang bertanggung jawab, bukan hanya menyangkut hal pribadi saja namun juga dalam kerjaan. gunakan logika sedikit saja, Sagara ! Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan ceroboh mu, Kemarin kita rugi besar karena kamu mengecewakan beberapa relasi kita, Papa beri kamu waktu untuk mengembalikan keadaan perusahaan cabang kita, Kalau gagal jangan harap bisa menemui Mentari, apalagi menikah dengannya. Jadilah pria hebat dalam segala hal Sagara...Cinta mu memang hebat tapi rasa peduli mu ke orang lain minus !"" Hardik Titan.


""Minus ?"" Biru kesal tertahan.


""Ya ! Minus ! Kalau kamu pergi sekarang meninggalkan kantor cabang yang lagi krisis, maka papa pastikan balik balik perusahaan itu sudah tutup telak, Dan bagaimana nasib karyawan mu nanti, eum ? Bagaimana nasib keluarganya ? apa kamu tidak kasihan oleh mereka ? Mikir ! dan jadilah laki laki sejati.""


Titan langsung pergi, meninggalkan sarapannya yang belum tak tersentuh sama sekali. Ia tidak suka dengan sifat Biru yang kurang bertanggung jawab dalam kerjaan.


""Ma ! kan ada asisten ku Ma." Rengek Biru minta di izinkan.


""Papa mu benar sayang ! Tanggung jawab dalam bidang apapun itu ada lah laki laki sempurna, Percayalah... Mentari akan setia di sana ! Dan mama janji, Setelah kamu membuktikan ke papa mu kalau kamu bisa di andalkan, maka mama akan melamar Mentari untuk mu langsung di hadapan Keluarganya di sana."" Vane pun berlalu pergi setelah berucap, Meninggalkan Biru yang terlihat kecewa.

__ADS_1


Baiklah...dua Minggu atau paling lama satu bulan , Perusahaan ku akan normal kembali demi kamu Petite, dan semoga kamu setia di sana seperti diriku di sini.


Vote , bunga bunga, Jempol juga..


__ADS_2