RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 60


__ADS_3

""Santai tuan Titan, Istri mu ini akan mempertanggung jawabkan jika pilihan anakmu salah, Dan aku akan menjawab satu persatu keganjalan di hati dan kebutaan mata dalam mu."" Jawab Vane kalem.


""Mentari yang polos begini di katain tidak benar oleh suami ku, bagaimana di waktu aku saat menguber cintanya, dulu....!"" Lanjut Vane dalam hati, ia bergidik sendiri jika harus mengingat kecentilan nya di saat sering menggoda Titan dengan berteriak..... Pangeran ! seraya menggedor tak sabar gerbang rumah Titan dulu.... Pokoknya malam ini pisah ranjang satu jam saja. ingat satu jam, jangan lama-lama !


Wanita paruh baya anggun nan cantik ini, mengeluarkan handphone pintarnya dan memperlihatkan semua isi video mulai dari kamar Biru, ruang tamu Apartemen Biru, bahkan di ruangan khusus CEO di kantor cabangnya, yang di pimpin oleh Biru. Di layar bening itu terlihat jelas, Siapa si polos benaran dan siapa si polos bertopeng. dan siapa pula setengil nakal, Biru.


Dengan mata elang, Titan membulatkan matanya tentang kelakuan anak gesreknya itu yang memaksa mencium Mentari untuk yang pertama kalinya. Ya Tuhan, anak orang di bikin munta saking ganasnya tuh bibir. Titan menggeleng dengan kalakuan Biru. Tunggu kau , anak nakal. ancamnya yang ingin mencambuk anaknya pakai sehelai lidi saja, tidak pakai balok. Berabe. Sekarang bukan lidi saja tapi berubah pakai cambukan benaran, Saat Titan sudah melihat semua kemodusan Biru, Bayar hutang pakai ciuman ? Astaga... untung mintanya cuma cium, kalau ranjang ? mati kau anak modus !


Vane tersenyum sumir melihat perubahan mimik wajah Titan, Masih ragu ke Mentari, Gue tukar otak Lo pakai IOS biar gampang di Upgrade. cibir Vane dalam hati, tidak berani terang terangan, takut takut berujung di meja hijau.


"" Shit...!"" Umpat Titan jijik. Saat melihat sepenggal rekaman video di ruangan kerja Biru. Ini Sena kegerahan apa ? atau mau menyus*i bayi kepala gede, dengan santai membuka dua kancing kemejanya di hadapan Biru yang menunduk sedang serius bekerja dan......Ya tuhan, penggodanya si seksi sekretaris tunggu hukuman mu Sena .


""Jangan lama-lama lihatnya, Mata mu bisa bisa bisulan segede dada Sena."" Vane merebut paksa layarnya, ia tidak mau Suaminya terbawa alur tentang pancingan Sena. Jika tergoda kan bahaya...ini rumah sakit woy, bukan kamar pribadi. masa pepet pepetan di tempat berbau obat, kan tidak lucu.


Titan malah tersenyum geli dengan tingkah kecemburuan Vane. Dia sendiri menyuruh nonton, malah dia pula yang kecacingan.

__ADS_1


""Nyewa hotel yuk, di sekitaran sini !"" Godanya ke Vane. Vane tersipu-sipu manja.


Namun.... belum sempat di respon, Titan langsung bertanya.... membuat Vane menelan ajakan suaminya.


""Masalah pelukan Mentari ke Pak Radja Batara, apa bisa di jelaskan, Nyonya Sunjaya ?!"" Ledeknya, ia yakin Vane tidak punya jawabannya akan hal ini.


Vane tersenyum miring mendengar tuturan yang meremehkan dirinya. "" Mentari Putri Batara. ! Nama lengkapnya."" Kini ia yang sekarang meledek kekagetan suaminya.


"" Maksudmu ? Mentari bagian dari mereka ?"" Heran Titan. ""kok Bisa ? apa Mentari anak simpanan pak Radja atau dari pak Tegar ?"" Titan menerka nerka dari salah satu dua relasinya. Berarti Mentari anak haram dong ? Terkanya sempit, sesempit bolong hidung. pengusaha Tak selamanya pintar Guys, buktinya Titan Sunjaya ini masih ragu... masih abu abu menilai Mentari.


Titan terdiam, ia belum bisa mencerna marga Mentari ? ah...tidak mungkin Mentari bagian dalam mereka, itu hanya nama saja, mirip. pikirnya. dan ia pun tidak tahu jika Radja Batara mempunyai kembaran yakni Dewa Batara... Daddy, ayah , papa, bapak, Amang atau sejenisnya adalah sah hukum dan Sah darah milik Mentari Putri Batara, Camkan itu, bukan anak embel embel haram.


Meninggal kan sepasang suami yang sedang bernego negoan dalam hal bertopeng. Mentari di ruangannya sudah sadar, dan dengan kaget sudah ada dua orang yang menunggunya bangun dari pingsannya, yakni Arkan dan Gemi putri Radja, juga Nan-tulangnya__Raisa dengan tatapan ingin menerkam Mentari, Arkan sendiri ada di situ hanya ingin berjaga jaga dari emosi yang ada di Nan-tulangnya, Wanita ini berpikir sempit pula, Bang Radja__Suaminya sampai rela berkorban nyawa hanya demi gadis ingusan, apa coba artinya jika gadis ini tidak istimewa, pasti gadis ini adalah jalang suaminya. itulah yang di pikirnya.


Jangan tanyakan di mana si Tengil Sagara, ia sedang mencari banyak makanan untuk My Petite tanpa meninggalkan pengawasan untuk Mentari.

__ADS_1


""Bangun kau, enak sekali hidup kau ini, hah ?"" Semprot Raisa marah.


Mentari duduk seperti yang di titahkan oleh Nan_tulang rasa orang lain, dengan pikiran mencoba mengingat ingat kejadian terakhir yang membuatnya pingsan. Tulang ? aku harus berterima kasih. Gumamnya.


""Jadi kau ini jalang kecil suami ku, hah ? hebat sekali kau ini wanita sialan Cabe-Cabean , Pelakor kecil . apa yang sudah kau berikan ke suamiku hah ? Hingga rela terluka demi dirimu. Pelakor ! Hebat sekali kau ini."" Cacian itu berangsur menjambak rambut panjang Mentari dengan sangat kuat. Membuat sang empu meringis nan menahan tarikan rambutnya agar tidak putus.


Gemi di sini serba salah dan bingung, ingin membela siapa, ia tidak tega melihat adik gadis di hadapannya di caci dan di Jambak oleh mamanya, tapi Mentari pantas untuk itu. Sementara Arkan langsung menorbos menahan Nan_tulangnya saat keadaan sudah tidak kondusif.


""Ayo Gem, kita bawa mama mu dari sini, bisa hancur rumah sakit ini, jika terus di sini, bantu aku, kak ku."" Arkan menarik paksa tubuh Raisa dengan kuping berdengung terus mendengar cacian merendahkan Mentari, di sini Arkan tidak membela Mentari jika benar Boneka manisnya menjadi duri rumah tangga pamannya.


Mentari Shock dan menangis ! Seumur hidupnya tidak pernah di caci sampai senista itu. Kata kata Cabe cabean dan pelakor masih menari nari di otaknya. Ia bingung dengan kata Cabe cabean, bukannya Bos Biru-nya itu menjelaskan arti gaul cabe itu positif di kala itu kepadanya, Tapi mendengar dan melihat mimik Raisa saat mengatakan Cabe cabean, ia jadi mempertanyakan lagi arti kata tanaman itu.


Pelakor ? Mendengar kata caci itu, ia semakin sesak, dan menangis sesunggukan, bahkan tubuh mungil itu tidak berada lagi di atas brankar melainkan merosot ke lantai dengan lutut di dekapannya seraya terus terisak. ia bukan pelakor, tapi ia juga tidak ingin memberi tahu mereka bahwa ia adalah bagian dari keluarga besar mereka. Bukan apa apa, ia hanya tidak mau ada caci yang keluar dari para mulut pedas tentang Ammanya. ia paling tidak suka jika Ammanya di hina orang. biarkan saja mereka menghinanya sampai ke ubun-ubun, tapi jangan sampai hinaan itu jatuh ke Ammanya, Mentari tidak akan ikhlas lahir batin sampai kiamat, jika Surganya di cela.


Mentari ingin pulang kampung saja jika terus tersiksa, hidup di Rantau tak semudah mengembala kambing. Ia butuh pelukan hangat dari Ammanya, Satu satunya penghangat dirinya.

__ADS_1


Tinggalkan Jejak ikhlas, lahir batin sampai kiamat....Pinta Mentari lho ya....šŸ˜‰šŸ™


__ADS_2