RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 153


__ADS_3

""Air ? ""


""Dahaga.""


Mentari memulai permainan, cepat ia menunjuk Senja. dan Kakanya itupun dengan cepat membalas. peraturannya....Siapa yang menjawab maka orang itu berhak mengeluarkan pernyataan baru atau melanjutkan pertanyaan semula. Senja menunjuk Langit untuk memberikan jawaban kelanjutan pertanyaan Mentari. ini baru permulaan....melayang kan kata pertanyaan masih banyak waktu, pikirnya nanti saja.


Tapi....Si mendung tak merespon cepat, Mata dan otak Langit terfokus ke gerak gerik Senja yang begitu enak di lihat malam ini, tanpa make up dan rambut setengah basah itu membuatnya berpikiran omes kemana mana... **** natural..


""Hahaha, Kaka ipar...! hukuman pertama untuk mu !"" Mentari tertawa ceria, ia menyodorkan satu gelas wine ke hadapan Langit untuk di minum dalam satu tenggak tanpa ada di sesap atau apalah itu...Panas panas tuh tenggorokan.


Permainan di mulai kembali, Biru yang memimpin pertanyaan. ""Cinta ?"" Tunjuknya ke Mentari.


""Bahagia !"" Sahut Mentari, menunjuk acak ke Langit.


"" Di taklukan !"" jawab Langit penuh maksud melirik senja seraya Telunjuk itu pun mengarah ke Senja.


""Sakit hati, patah, kecewa, hina, hancur, buruk !"" Senja menarik segelas wine untuk menghukum jawaban yang asal ceplos tak nyambung darinya....tapi itu lah yang ia rasakan sekarang tentang Cintanya.


""Daeng, kenapa minum itu ?"" Protes Mentari. harusnya kan yang Senja minum adalah air putih saja...tapi Daengnya dengan santai menenggak wine berasa aneh itu dengan santai seakan sudah terbiasa. Mata pada tertuju ke Senja yang pembawaannya tenang.


""Lanjut kan pertanyaan baru."" Santainya yang dapat tatapan aneh ke tiga pasang mata. Langit tahu maksud Senja perkataan pilu itu...ia tahu kalau jeritan hati Senja benar adanya kata kata tersebut. dan itu ulahnya...


Maaf, Batin Langit menyesal, Sebenarnya ini nih yang membuat Langit mempunyai hati batu yang keras....Jatuh cinta bisa membuatnya lemah dan cengeng, berbelit...Tapi hatinya malah jatuh cinta sampai ke dasar, di buat oleh si itik ini yang pembawaannya susah di tebak.... kemarin kemarin mepet terus ke dirinya, Tapi sekarang.... lihat saja si itik ini, Acuh kepadanya...iya sih, di sini dirinya yang salah perihal di tepi pantai, tadi. Tapi kan...ia hanya mengetes saja cinta si Itik licik ini, tidak masalah dong ? ...dan ia kan sudah minta maaf, juga sudah menyatakan balasan cinta Senja... butuh apa lagi coba si itik ini ? butuh di perjuangkan...Ok, Fine..! Akan saya perjuangkan !


Permainan semakin lama, Tidak ada yang tidak terkena hukuman, walaupun kata sederhana... tapi dalam keadaan tak tertentu dapat giliran lah yang kadang membuat jawaban tak nyambung. Mentari kembung akan lima gelas air putih di perut. Senja menenggak wine sudah lima gelas, Kepala itu sudah mulai pening sedikit. Biru dan Langit sama skors..... Empat gelas Wine. Namun karena sudah biasa, no problem untuk mereka.

__ADS_1


Lama lama pertanyaan mengarah ke hal pribadi akan jawaban masing-masing seperti yang di tanyakan Senja dan Mentari tanpa ada janji tapi terdengar kompak....""Cinta pertama ?"" Mereka kompak bertanya dan juga kompak menunjuk para suaminya.


Dengan refleks para pria itu menjawab...""Shanum.""


Hening seketika, Senja dan Mentari kompak terkejut dengan jawaban yang di dengarnya dari para mulut kereflekan sang Suami. Pertanyaan mereka dalam diam masing-masing.... apakah Shanum ini adalah wanita sama yang mereka maksud ?


Biru dan Langit saling besibobrok dengan umpatan kasar masing masing merutuki kebodohannya sendiri sendiri....Nama wanita inilah awal dari permusuhannya, dulu ! Tapi biarkan saja...Shanum adalah wanita masa lalu yang mereka cintai, itu dulu... sekarang yang penting wanitanya ada di depan mata masing masing sekarang ini.


""Sangat kompak !"" Sindir Mentari. Wanita imut ini terdengar sinis... entah kenapa rasanya tidak suka dengan nama itu... Mentari menarik gelas asal asalan untuk menghukum dirinya yang terpaku terdiam tak menjawab pertanyaan diri sendiri saat Biru spontan menunjuknya, ia meneguk segelas Wine...siapa cinta pertamanya...? Jangan di tanya lagi, si lempeng Cinta pertamanya Ya...si Sagara sendiri, Bahkan ciuman pertamanya pun ya...si Sagara Tengil modus ini yang mengambilnya secara paksa, dulu.


Senja yang di tunjuk Langit pun untuk menjawab pertanyaan dari mulutnya sendiri... Terdiam saat mendengar nama yang sama Biru ucapkan, Tangannya begitu reflek menarik segelas Wine... sudah enam gelas, kepala semakin berputar tapi masih bisa bertahan dan sadar apa yang di ucapkan oleh orang orang di hadapan hidungnya ini.


""Petite, jangan minum ini !"" Rebut kasar Biru, namun terlambat... Mentari sudah menghabiskannya dengan sekali teguk. tenggorokan Mentari panas seketika, Kepala pun rasa rasanya langsung aneh...ia begitu Cemen dengan alkohol.


""Apanya ? gue cuma minum air putih... nggak masalah dong, Hanya kembung doang ?"" Nah kan, agak meracau tuh jawaban si itik. Langit hanya menggeleng gusar.


""Shanum ? Biar ku tebak ! apakah wanita ini satu ? Apakah wanita ini awal dari permusuhan kalian ? Beruntung sekali wanita itu, Shanum.... namanya saja sudah syahdu, terdengar. Pasti orangnya pun sangat cantik dan hebat ! iya kan Hulk, Iya kan Kaka ipar ? ayo jujur."" Cerocos Mentari menuntut jawaban.


""Petite, Jangan ungkit yang dulu dulu, itu masa lalu...cinta monyet !"" Tanpa sadar, Biru mengakuinya.


Senja menopang dagunya dengan manik hitam, terlihat sayu menatap wajah Langit. ""Hahaha, Jadi ini alasannya kamu meno---!"" Senja langsung tertunduk mabuk ke dalam Pantry Bar mini. Membuat Langit bernafas lega, tuturan itu tidak sampai selesai... Menolak Cintaku. Itulah yang akan keluar dari setengah kesadaran Senja. Bisa bisa... Mentari akan mencercanya jika penuturan itu kelar dari mulut Senja.


""Itu hanya masa lalu ? Tapi kenapa kalian masih saja bermusuhan, eum? Ayo jelaskan...eits, biar ku tebak dulu....itu karena kalian masih memuja wanita itu kan ? kalau bukan seperti itu, harusnya kalian berbaikan dong...tidak ada lagi yang namanya permusuhan tak jelas."" Si lempeng pintar ini, sangat berniat untuk membuat kedua pria di hadapannya, berbaikan. Bagaimana pun caranya... Mereka harus berbaikan walaupun harus mengorek masa lalu kedua pria ini... biarkan mereka tersinggung sampai ke dasar dasarnya, bila perlu Mentari akan mencongkel otak Langit dan Biru untuk membuang awal masalah mereka bermusuhan.


""Petite / Mentari !"" Kompak Langit dan Biru. Terlihat mereka sangat gusar dengan penuturan tajam Mentari.

__ADS_1


""Apa ? Aku benar kan !"" Tukas Mentari kembali menarik Wine namun cepat cepat di cegah oleh Biru.


""Petite, kami tidak musuhan lagi kok, iya kan Langit ?"" Tangan Biru menahan tangan Mentari yang kembali ingin meneguk Wine, Kakinya Menendang pelan Langit di bawa sana, agar Langit membantunya.


Senja kembali mendongak, mata merah itu menyapu selebar wajah Langit dalam diam seribu bahasa.


""Iya, kami sudah baikan... tidak musuhan lagi!"" Tukas Langit menimpali penuturan Biru, ia juga tidak mau dapat desakan dari Senja. Lagian... benar kata Mentari...masa lalu biarlah terkubur.. Tidak ada salahnya bukan, sekarang hidup berdamai...Ia akan memulai lembaran barunya dari awal...tanpa ada musuh, penuh dengan kata Cinta, Tentunya harus bersama Senja.


""Buktikan !"" Mentari masih tak percaya hanya dengan cicit kedua pria ini saja.


""Bi !"" Ujar Langit melayangkan tangannya untuk saling berjabat. Biru menyambutnya dengan senyum tipis.


""Pelukan dong !"" Tengil Mentari mentitah.


Dan kedua pria itu berpelukan macho saling menepuk pundak, berbaikan dengan sepenuh hati terbuka. Mentari tersenyum puas akan kelakuannya.


""Hahaha, Shanum ? apakah cantik ? Ayo nilai lah Mendung ! Aku dan wanita mu itu, Siapa di antara kami yang lebih Cantik ? pasti dia kan ?!"" Racau Senja melantur kemana mana, Wanita itu pun naik ke atas kursi yang di dudukinya membuat semuanya terkejut. Spontan Langit berdiri dan menahan tubuh tinggi itu yang sempoyongan di atas kursi.


""Ayo kita pergi, kamu sudah mabuk !"" Langit tanpa beban menggendong bayi besarnya. ""Bi, Tar, aku ke pergi."" Pamitnya, di angguki Biru. Mentari tersenyum geli akan kelakuan Senja yang mabuk.


""Kamu akan mendapat hukuman ku, aku sudah melarang mu untuk jangan minum sedikit pun alkohol itu.""


Tak mau dapat ocehan panjang lebar, Mentari naik kepangkuan Suaminya, tangan itu pun sudah melingkar di leher Biru. ""Marahnya nanti saja, aku pusing...atau aku akan minum satu gelas lagi agar meracau seperti Daeng."" Goda Mentari.


""Cih, jangan harap sayang ! ini hukuman mu."" Serang Biru lembut di bibir mungil itu, membelit satu sama lain dalam dekapan itu.

__ADS_1


__ADS_2