
Malam pun tiba, Rencananya besok Mentari serta keluarga kecilnya akan menemui keluarganya dan keluarga suaminya untuk temu kangen juga sekalian memberi kejutan kepada keluarganya jika dirinya sudah sembuh total, Tapi kata Biru....Besok tidak usah pergi ke rumah besar Sunjaya, karena Vane-Mamanya menemani Titan pergi keluar negeri dalam perjalanan bisnis.
Ceklek
Mentari membuka pintu kamar pribadinya setelah dari kamar anak anaknya. Biru yang habis mandi baru keluar dari kamar mandi menuju walk in closet di buat terkejut, Bukan apa apa, ia tidak mau Mentari melihat di badannya begitu banyak bekas luka sayatan demi sayatan yang di buatnya sendiri selamah tiga tahun ini. Biru sadae, cepat atau lambat Mentari akan melihat itu, Tapi untuk saat ini..ia belum mau Mentari melihatnya, Karena di pastikan seratus persen, kalau istrinya ini pasti akan marah. Tak apa Mentari hanya marah, yang penting jangan bersedih...itu yang paling Biru benci, Membuat dan melihat Mentari bersedih.
Orang orang pada tidak tahu dan tidak pernah melihat satu luka pun di tubuhnya karena Biru selalu memakai pakaian serba panjang tertutup, ia tidak pernah menggunakan celana santai pendek lagi di dalam rumah, tapi ini..oh, Astaga...ia hanya menggunakan handuk melilit di pinggangnya. Cepat cepat ia berlari masuk ke walk in closet.
Tapi pergerakannya yang terburu buru itu membuat Mentari malah aneh yang tadinya hanya sempat melihat punggung Biru berlari.
""Aih, Dia kenapa ?"" cemasnya menyusul Biru masuk ke walk in closet.
""Hulk, ada masalah ?""
Mentari hanya bisa berteriak di depan pintu kaca buram karena pintu itu di kunci, tumben tumbenan si Sagara ini berbuat aneh aneh ? mencurigakan ? Apa Biru sekarang menjaga jarak darinya, apa Biru membatasi hal intim darinya ?
Nah Kan, Mentari jadi kemana mana pikirannya, Karena biasanya Hulk nya ini tak pernah malu di hadapannya berganti baju pun dulu Biru santai santai saja, Tapi tadi kelakuan Biru sudah seperti gadis perawan saja, malu malu.
""Tidak !""
Lima menit di depan pintu menunggu, Biru sudah ada di hadapannya lengkap baju piayama panjangnya.
""Ada apa Petite ?!"" Alis Biru terangkat satu dengan wajah mencondong di depan wajah Mentari yang menatapnya tak berkedip dengan tangan istrinya itu berdecak di depan perut, siap mengintimidasinya.
""Anak anak sudah tidur ?"" Cepat cepat Biru mengalihkan pertanyaan.
""Sudah !"" Singkat padat jelas Mentari.
""Kalau begitu, kita juga tidur, aku rindu dengan candu ku ini, tiga tahun lho !!!"" Kodenya keras.
""Eits...No hon hon, berdarah darah !"" Warning Mentari pun tak kalah keras, berjalan ke sisi tempat tidur berlawanan dengan jalannya Biru yang sudah berangsur naik ke peraduan.
""Iya.."" Lemas Biru. memeluk mesra Mentari yang baru berbaring di sampingnya. ""Tapi di gesek tunai boleh mureeen !"" Lanjutnya menawar.
""Itu namanya pelecehan, Sabar !"" Kepala Mentari sudah bertengger nyaman di lengan Biru. Membalas pelukan suaminya sampai wajah itu berada di dada Biru yang saling berhadapan.
""Hulk, apa ada sesuatu yang tak boleh aku lewati, apa kah aku sudah di batasi ?"" Mentari masih curiga.
__ADS_1
""Kalau di batasi, maka posisi sekarang ini tidak ada Petite, Yang namanya batasan itu saling memunggungi, Tidur lah jangan sampai di bawah sana malah On."" Kelitnya, Ia tahu maksud Mentari atas kelakuan anehnya tadi.
""Eum, Selamat malam !""
""Malam."" Balas Biru menghujami pucuk Mentari dengan kecupan menenangkan istrinya ini.
Mentari bukannya terpejam malam mendongak menatap mata elang Suaminya. ""Aku mempercayai mu.""
Cup. Tersenyum manis dan mengecup bibir Biru sejenak dan kembali menikmati nyamannya di dalam dekapan dada Suaminya.
...*****...
Di pertiga malam, Senja terpekik hebat dalam tidurnya yang masih terpejam. Langit yang tidur nyenyak pun di buatnya terbangun.
""Itik, Kamu kenapa sayang ? Hey bangun.."" Langit menepuk nepuk pipi Senja untuk membangun kan istrinya yang bergumam jelas meminta tolong.
Senja terbangun, keringat menguasai sekitaran wajahnya, mengingat ingat mimpinya yang di kejar kejar oleh binatang buas.
""Ini, minum dulu ! Kamu mimpi, mimpi apa eum ? kenapa kamu terus minta tolong ?" Langit memperhatikan tangan Senja yang gemetaran hebat, seakan akan ucapannya juga tidak di dengar oleh Senja.
""Oh, eh..i-iya...Ada apa ?""
""Minum dulu ?"" Langit pun menghela lembut tengkuk Senja, membantu Senja memegangi gelas yang di tengguk abis oleh Senja. Setelah melihat istrinya tenang, ia pun mulai bertanya akan mimpi Senja yang membuatnya penasaran.
""Tadi, mimpi buruk ? mimpi apa ?"" Dengan lembut, Langit mengelap lembut wajah Senja yang lembab, mengurai anak rambut Senja ke belakang telinga yang menjuntai menutupi sedikit mata. Itik cantiknya ini masih terlihat linglung dan ketakutan, rupanya.
""Kalau tidak mau bercerita, maka tidak usah, ayo kita tidur lagi, ini masih jam tiga malam.""
Langit pun menghela kepala Senja untuk tidur di lengan kekarnya.
""Aku tidak mau tidur lagi, Nanti mimpinya kembali lagi mengejar ngejar."" Senja menggigit gigit kecil bibir bawahnya.
""Sebentar !""
Langit menarik bantal Senja, menepuk nepuknya sebentar dan membalikkan bantal itu. ""Nah, tidur lah ! kata zaman dulu jika bantal nya sudah di balik maka mimpinya pun akan berubah indah, coba lah ?""
""Tidak mau, bagaimana kalau kita tukaran bantal saja, Tidak usah di balik, Biar kamu saja yang lanjutkan mimpi ku yang terjatuh hampir di makan binatang buas kalau sudah tahu ujung mimpinya seperti apa baru kamu menceritakannya ke aku, nanti.""
__ADS_1
Langit tersenyum kecil mendengar ucapan konyol istrinya, Sungguh jika si Itik ini dalam mode innocent maka tidak akan ada yang tahu jika sebenarnya perangai asli dari Senja adalah monster cantik yang galak, jahil nan licik luar biasa yang bisa men-skakmat lawan tanpa ampun.
""Kenapa malah tersenyum senyum gaje begitu ? Bisa ?""
Bibir merah di hadapannya ini sudah melekuk kesal akan senyuman ejeknya. Shiiiitt ! Di bawa sana malah On di waktu yang tidak tepat.
""Aku tidak tahu Itik, Tapi sebagai saran, bagaimana kalau kita bercinta saja, mungkin Setelahnya mimpi buruk mu akan menjadi mimpi bercinta, indah kan. Wannan try, babe ?""
Dan Langit pun mulai Tersenyum licik. Laki laki gito lhoo, sudah di ciptakan dari Sononya tukang modus. Lihat saja matanya yang nampak tulus membantu Senja. padahal memang modus untuk yang ingin menuntaskan birahinya. Cicak di dinding saja sampai menyahut saking takjubnya akan kemodusan dari seorang Langit si penggila sepak bola dalam kamar.
""Sungguh ? Wah kalau begitu ayo, Tapi saat bercinta aku akan membayangkan wajah Pon nawasch, Lee Min-ho, atau David Beckham pun boleh, agar saat bermimpi bercinta nanti ya salah satu dari mereka bertiga yang akan datang dong, Asiiiikk ! Ayo mendung, aku mau !"" Senja semberinga bertepuk riang..air muka yang tadinya ketakutan sudah hilang entah kemana. Dasar itik mesu* !!!
""Tidak jadi !""
Wajah Langit saat ini sudah memerah menahan emosi saat Istri liciknya ini menyebut nyebut nama pria lain untuk di jadikan objek bercintanya. Double shiiiitt ! ia malah terjebak dengan kata katanya sendiri, sialan !!!
""Yaaah, kok tidak jadi, padahal aku sudah ada kandidat baru ini seperti... Ronaldo pemain sepak bola itu, Salman Khan di versi mudanya eh nggak ah, versi mudanya kurang berisi malah lebih seksi versi tuanya, ah satu lagi..Paul Walker, ek Ding...Doi kan sudah meninggal. Seram juga kalau membayangkan bercinta sama o--!""
""BERHENTI MENYEBUT KANDIDAT PRIA LAIN YANG ADA DI OTAK MESU*MU ITU ITIK. !!!"" Marahnya.
"" Listen to me carefully, woman ! Di saat bercinta dengan ku, kamu hanya boleh ngebayangin rasa aku, menyebut nama aku, Paham kamu !""
Wajah Langit sudah bukan merah lagi, melainkan sudah menghitam rasanya, hatinya panas terbakar Mendengar Istrinya akan menyebut nama pria pria lain saat nanti sedang tubuhnya yang menyatu. penghinaan mana lagi yang melebihi ini ? Egonya langsung berteriak-teriak.
""Yakin nih tidak jadi, Ya sudah kalau tidak mau, kamu tuh aneh mendung...Tadi memberi solusi, malah mundur sendiri...marah marah tetiba, kamu tuh punya penyakit gangguan disodiatif ya ? Benar ya tidak jadi, baju piyamanya tidak jadi terbuka dong, eum ?."" Senja menaik turunkan alisnya sambil menurunkan kelapak kain di bahunya. Ia hanya membeli kemodusan dari seorang Langit. Cih...Gue di modusin...maaem tuh ego ! Gelaknya dalam hati. Tapi melihat raut wajah emosi suaminya jadi nggak tega juga. Ah Bodo, sesekali wanita tuh jangan mau di modusin, lagian kalau mau minta jatah tinggal minta saja, tidak usah pakai embel embel memberi pertolongan. kan kewajibannya adalah melayani suaminya kapan pun juga di saat menginginkan tubuhnya ! Lanjutnya membatin.
Melihat bahu mulus di lampu tamaran, kalung Langit naik turun, Piyama Minions bisa terlihat seksi juga kalau istri Cantiknya yang mengenakannya. Langsung saja ia menyerang Senja tanpa ba bi bu lagi, masalah ego di kesampingkan dulu, yang penting kepuasan nafs nya terlepas.
"""Panggil nama ku, Itik."" Dalam nafasnya yang tersengal senggal di kejar nafs di atas tubuh Senja yang di nikmatinya habis habisan, mata itu mendamba akan kecantikan alami yang di miliki Senja.
""Langit Khan, Eh Langit Shyaputra Kusuma, Puas !!!"" Senja masih menggoda rupanya dalam keadaan piling pilingan begitu.
""Pu-puas...Ahh, Lihat mata ku Senja, Dengar...hanya aku yang bisa dan boleh menikmati dan memiliki jiwa raga--mu Ahhh.!!!
Dan Langit pun dalam erangan khasnya menumpahkan segala hasratnya di dalam tubuh Senja yang masih di tindihinya. berangsur turun setelah mengecup dahi Senja penuh rasa cinta.
""Terima kasih sudah memberikan segalanya untuk ku."" Ucapnya dan Senja hanya membalas suara Langit dengan pergerakan tangannya, memeluk tubuh polos itu dan terpejam cantik, Semoga mimpi buruknya hanya bunga tidur doang !!!
__ADS_1