RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 155


__ADS_3

Pagi pun datang, Senja terbangun dengan kepala berat, terasa.


""Uh."" Lenguhnya seraya memegangi kepalanya yang berdentam. rambutnya seakan ada yang memilin milin kecil, ia pun melirik ke sisi berbaringnya. ""Hais !"" kagetnya Langsung menarik tubuhnya untuk menjauh dari Langit yang begitu dekat dalam tidurnya.


"" Pagi, Sayang !"" Goda Langit tersenyum manis. Dengan cepat, Langit kembali mendekap tubuh Senja dan langsung memeluknya seperti guling nan erat.


""Apa sih ? Lepas !"" ketus Senja, aneh dengan kelakuan Langit yang berubah beribu ribu persen.


""No !"" Tolak Langit "" Maaf kan dahulu, baru aku lepaskan !" Negonya memaksa.


""Maaf ?"" Senja tersenyum mengejek. "" Maaf untuk apa ? dan yang mana ?"" Kelit Senja, malas. Senja bukan lah orang yang gampang melupakan sesuatu, apalagi sudah menyangkut hatinya yang masih sakit ulah si Mendung ini... walaupun ia masih mencintai Langit, Tapi jangan harap dengan gampang mendapat kata maaf darinya....Ia akan memaafkan si Mendung, Tapi nanti...ia mau melihat bagaimana cara Langit memperjuangkan kata maaf itu.... Wanita jangan terlalu cepat untuk luluh hanya karena sudah ada kata maaf, Nanti orang itu bisa ngelunjak, dengan berpikir...Nanti juga di maafin...!


""Ayolah Senja... Sungguh aku menyesal. Dan sungguh, aku pun mencintaimu dari jauh hari.""


Lagi lagi Senja tersenyum mengejek. "" Dari jauh hari ? Cih, Hebat ! Cinta tapi tega beralibi menguji cintaku sampai patah seketika. Dengar ya Langit... Wanita mana yang tidak sakit melihat perjuangannya di sia siakan...Aku rela nyemplung ke dalam laut untuk memberikan keinginan mu, Tapi dengan santai... hasil perjuanganku kamu berikan ke wanita lain tepat di depan mata ku, itu sangat sakit, sungguh...Aku lebih suka jika kamu membuangnya kembali dari pada memberikan ke wanita lain....ah, sudahlah...ayo kita siap siap untuk pergi dari sini, lebih cepat lebih baik."" Dingin Senja, menggigit lengan Langit agar terlepas dari pelukan Langit.


""Senja, hey !"" Langit mengejar langkah Senja yang akan masuk ke kamar mandi. ia salah tebak... Lebih cepat lebih baik. "" aku tidak akan mau berpisah dengan mu, Kemarin kemarin kamu meminta untuk kita memulai dengan lembaran baru bukan ? jadi ayo... sekarang aku yang minta itu dari mu ! Dan jangan pernah kamu menimbulkan masalah baru, Jangan pernah coba coba untuk mengatakan perceraian di depan papa ku, Apa kamu lupa hah ? papa ku punya penyakit jantung !"" Warningnya tajam.


Senja tetiba berhenti, Langit yang tak tahu pergerakan itu berhenti, menubruk punggung Senja.


""Berisik !"" Bentak Senja membungkam kecerewetan Langit, Setelahnya ia kembali melangkah tapi tetiba tubuhnya melayang keudara.


""Langit ! turunkan aku !"" Bentaknya memukul mukul dada Langit, meronta. Langit tak bergeming. Pria itu terus berjalan ke arah kasur lagi. Menjatuhkan tubuh Senja ke kasur empuk tersebut.

__ADS_1


""Mau ngapain ? jangan macam macam atau--- mmmmppp.""


Langit mendung sekarang sudah menumpahkan badainya, Ia menerkam tubuh Senja dengan sentuhan-sentuhannya yang bisa membuat Senja terbang menari ke gugusan bintang bintang.


""Langit jangan lakukan ! ku mohon atau tidak ada kata maaf lagi untuk mu !"" Pintanya bergetar seraya terus meronta. Ia memang mencintai si mendung ini, tapi ia belum siap menyerahkan mahkotanya, ia masih ragu... ragu karena hatinya sudah di patahkan oleh Langit sebelumnya dan ini bukan waktunya untuk melakukan penyatuan, ia berniat menunggu hatinya pulih terlebih dahulu...Tapi ini..Oh, Tidak !


Langit tak merespon, mencoba membuka kain demi kain yang menempel di tubuh semampai Senja dengan paksa. tenang Itik tak ada apa apanya.


Maaf, aku harus melakukannya karena aku tidak mau kehilangan mu...


""Hiks...hiks, Jangan lakukan !"" Senja menangis, kini tubuhnya sudah di tindihi Langit yang sudah sama sama polos. Tubuh yang sedari kemarin kemarin menggoda Langit kini akan di garapnya.


""Aku mencintaimu Senja."" Langit tak perduli tangisan itu, Dalam rontaan Senja, ia terus-menerus memberi sensasi rasa unik ke tubuh Senja agar wanita yang sekarang di bawah tubuhnya ini menjadi takluk dan pasrah. Tapi Senja sama sekali tak mau diam dengan berontaknya. Langit tanpa sadar sudah membubuhi surat perpisahan telak dari Senja terlebih dahulu karena lagi lagi Senja mendapat kekecewaan. dan kini.... kekecewaan itu sudah benar benar jatuh ke dasar.


""Aaaargh, Sa---Mmmp !""


Langit begitu menikmati tubuh indah Senja, pangutan Langit berhasil membungkam mulut Senja yang berteriak kesakitan....Kini Senja hanya pasrah dalam air matanya yang menetes, rasa perih di bawah sana tidak lah seberapa dibandingkan perih di dalam hatinya. Kini Senja kembali membenci orang yang sekarang menikmati tubuhnya karena kejadian ini.


Dua kali kenyataan, Langit menarik kata kata penghinaannya ke Senja. Saat membuktikan bahwa wanita yang licik cerdik ini rupanya masih suci belum di jamah oleh pria satu manapun. Dan ini pertama kalinya, Langit menikmati darah Virgin dari kesekian kalinya ia pernah bercinta satu malam bersama wanita wanita di luaran sana.


"Aku mencintaimu Senja, dan tubuh mu sangat enak di nikmati "" Ujarnya ambruk lemas di sebelah tubuh Senja yang tak berdaya, hancur.


""Aku membenci mu !"" Dingin Senja sangat tersorot kekecewaan di matanya. beranjak tertatih menahan perih di intinya serta perih di hatinya... Sempat tadi ia berniat memberi kesempatan untuk Langit, tapi kini....hilang sudah kesempatan itu.

__ADS_1


Dengan begini, kamu tidak akan pernah pergi dariku...


...****...


Jam berganti demi jam, pesawat internasional yang di tumpangi empat kepala itu sudah Landing Sempurna.


Senja sama sekali tidak mengeluarkan suaranya ke siapa pun, baik ke Mentari, Biru apa lagi Langit yang menjadi permasalahannya. Mentari dan Biru tidak curiga karena Senja sangat pintar berkedok menyembunyikan masalahnya sendiri.


Jemputan anak buah Biru dan Langit pun sudah stay patuh dengan mobil masing masing.


""Gue duluan !"" Pamit Biru ke Langit dan Senja. Di angguki serta di iya kan Langit.


""Daeng, bye !"" timpal Mentari. Senja hanya mengangguk pelan.


""Ayo kita pulang !"" Ajak Langit membukakan pintu mobil. Namun Senja malah berjalan ke arah Taksi yang sudah stay mencari penumpang.


""Senja, mau kemana ?"" Tahan Langit di lengan Senja.


""Lepaskan tanganmu !"" Tekannya sangat, dengan mata marah.


""Baiklah !"" Langit mengalah, ia tahu Senja lagi marah besar kepadanya, biarkan Senja tenang terlebih dahulu.


Senja Akhirnya pergi duluan menggunakan Taksi. Langit cepat cepat naik ke mobil jemputannya. ""Ikuti Taksi itu."" Titahnya ke anak buahnya.

__ADS_1


Bukan jalan pulang ke rumah Chris atau pun rumah Satria, Rumah Batara juga bukan. yang di tempuh Taksi yang membawa Senja... Entah mau Kemana, Langit tidak tahu, namun laju itu selalu mengikuti kendaraan yang di tumpaki Senja.


Berhenti di depan kantor pengadilan, pak !


__ADS_2