
Satria turun dari mobilnya setelah terparkir rapi di depan rumahnya, di hari sudah malam. Di dalamnya ada Senja, Mentari, Jum juga Bang Sam, mereka semua baru balik dari Lab Vero yang belum sempurna hasil dari racikan Senja.
Rumah Satria malam ini akan rame oleh orang orang tersebut. Kerena Mentari akan tinggal beberapa hari di rumah ini selama Biru turun tangan pergi ke Luar negeri menyusul Dito untuk mencari orang pembuat racun serta penawarnya. Biru memang mengetahui kalau Senja lagi berusaha membuat penawarnya tapi ia tidak mau mengambil resiko besar kalau Senja sampai gagal bin tidak cocok penawar racun tersebut. Mertuanya bisa akan benar benar menyusul Dewa.
Tadinya Mentari di suruh tinggal di rumah Besar Sunjaya atau di rumah Batara oleh Biru, tapi istri imutnya itu lebih memilih tinggal bersama dengan kakanya yang sudah tidak canggung lagi. Jujur.... Mentari masih saja canggung oleh orang tua Biru, apalagi Titan...iiih, tampan berkharisma di usianya tapi seram di mata polos Mentari.
""Wow, rumah Bang Sat bagus dan gueeede bingits !"" Binar puji Jum akan rumah besar bercat grey white di hadapannya. ini baru pertama Jum keluar rumah setelah datang dari kampung, hari kemarin. Kerja di RD pun belum di mulai.
""Hah, Siapa ? Bang-Sat ? kagak etis benar di kuping." Protes Satria akan panggilan singkat itu. Sebenarnya, Satria sudah terpesona dengan kulit hitam manis Jum di saat menghadiri acara pertunangan dan pernikahan Biru dan Mentari di kampung saat itu.
""Hahaha."" Mentari dan Bang Sam tergelak geli, Jum hanya tercengir kuda. Sedangkan wajah lelah Senja hanya datar datar saja, wanita semampai itu malah masuk kerumah duluan meninggalkan Orang orang yang terdengar berisik di kupingnya.
Baru juga beberapa langkah di ruang tamu ingin menuju kamar. Langit datang entah dari mana, main tarik tarik saja masuk menuju dapur.
""Issh, mendung ! apa apaan sih ?"" Sarkas Senja terkejut akan kelakuan kasar Langit. Untung adiknya masih di luar, Entah bagaimana nilai Mentari nantinya jikalau ketahuan kalau Langit sering kasar kepadanya.
""Dari mana Lo ? jam segini baru pulang ? Sedang apa Lo di luar sana ? ingat ! Lo itu masih berstatus istri gue, jadi Lo kagak boleh main api di luar sana !"" Langit masih kepikiran akan chat dari Satria, tadi sore.
__ADS_1
Senja menyerinyit, ia memeriksa suhu tubuh di leher Langit dengan punggung tangannya. heran, tumben amat si Mendung cerewet, pingin tahu aktivitasnya di luar sana ? ""Tidak panas ? tapi kenapa terdengar ada rasa selidik posesif di sini ?"" Goda Senja tersenyum geli di hadapan Langit. ia tak segan segan mengalungkan tangannya di leher Langit. Biarkan ia berperilaku rendah seperti ini, toh tinggal beberapa hari lagi ini, ia bisa berdekatan dengan suami nyebelinnya tapi bodohnya ia bisa jatuh hati.
""Posesif ? Cih, naksir aja kagak ?!"" Langit melepas paksa lingkaran tangan Senja yang berbelit di lehernya. mendorong Senja dengan sedikit kasar ""Gu--""
""Yaaak, Pak--Kaka ipar kasar sekali ke kakaku."" Pergok Mentari yang tanpa sengaja melihat kelakuan kasar Langit, ia kedapur berniat akan membuat minuman untuk semuanya. Bang Sam juga Jum dan Satria pun seketika masuk ke dapur setelah mendengar suara Mentari yang naik oktaf. Langit terkejut melihat begitu banyak orang di rumah Satria, apalagi melihat Mentari yang tetiba ada. Apa Biru juga ada ?
""Sebenarnya daeng dan Langit akan ber---""
""Yang kamu lihat hanya salah paham, bukan seperti itu !"" kelit Langit.
Senja menganga menelan kembali pengakuannya ke Mentari. Kenapa si mendung ini malah memotong ucapannya yang akan mengakui jikalau di antara mereka akan ada perpisahan. Senja sudah capek untuk bermain, semakin dalam larut ke permainannya sendiri, maka semakin dalam pula luka yang akan ia terima, kelak. Karena si mendung ini hatinya sangat dingin untuk di masuki. Senja menyerah... masalah rumah tangga adiknya akan niat jahat Langit, biarkan saja Tuhan yang melindungi tali suci pernikahan itu, jodoh tidak akan kemana... jikalau sudah takdir bersama, maka sekuat badai pun yang menerpa maka tetap...mereka yang berjodoh akan di takdir kan.
""Huff.""Nafas gusar lirihnya, Senja pun menyibukkan dirinya langsung untuk mempersiapkan teh untuk Langit. Mentari dan Jum mendekat, ingin membantu. sementara Bang Sam dan Satria keluar menyusul dari dapur tanpa satu kata pun.
""Daeng !"" Curiga Mentari.
""Eum !"" Senja melirik dengan senyum palsunya. Nanti sayang, biarkan kita fokus ke sembuhan Amma terlebih dahulu, baru daeng akan mengakuinya. Batinnya.
__ADS_1
""Daeng, apa benar yang di katakan Tari ?"" Tanya Jum ikut penasaran juga. Belum apa apa, Jum langsung ilfil takut sendiri akan kelakuan pria kota. Tapi di sini Jum, melupakan kebaikan dan kelembutan Biru memperlakukan Mentari-sahabatnya. kalau sudah ingat itu, ia ngebet kepingin nyari wong kota untuk di jadikan suami.
""Ngomong apa sih kalian, ayo bawah cemilan itu keluar Mentari, Jum ! kamu buat minuman dingin untuk Satria dan juga Bang Sam, Daeng duluan mau memberi kan teh ini ke suami daeng.""
Mentari dan Jum saling pandang, sejurus.... mereka kompak mengedipkan bahu.
Senja meletakkan teh di hadapan Langit yang sedang mengotak atik hp di samping Satria, tanpa permisi.
""Sat, Minuman buat Lo nyusul, sedang di buat oleh Jum, buat Lo juga Bang Sam."" Jelasnya. ""Gue tinggal dulu ke kamar !"" Pamitnya tanpa sapa ke Langit.
Langit yang merasa tidak di indahkan, merasa kesal sendiri apalagi saat Melirik Satria yang tersenyum manis ke Senja. ia tidak suka itu...Di sini...Senja masih istrinya, pikirnya tak tahu diri.
""Aaaarg."" Kaget Senja jatuh tak seimbang masuk kedalam pangkuan Langit, Kakinya tersandung oleh kaki Langit yang rasa rasanya sengaja mengait jenjang kakinya.
""Hati hati dalam berjalan, untung ada gue, kalau tidak, bisa sakit panta* Lo itu."" Ejeknya. padahal itu adalah kesengajaan di buat olehnya, ia ingin membuat hati Satria tersenggol. Tidak tahu saja si Langit ini, Satria diam diam bersorak yes ! mudah mudahan ini pertanda kalau Langit sebenarnya sedang cemburu atas isi chat kibulnya tadi siang.
""Ehem, kalau mau bermesraan di kamar Napa, gue iri nih.!"" Sindir Bang Sam. Memprediksi kalau Senja sudah kalah dalam permainannya sendiri.
__ADS_1
Senja buru buru bangun dari pangkuan Langit, Pipinya tak bisa di bohongin di mata orang-orang kalau pipi itu sedang blush on alami. Ia malu sendiri... Sementara Langit di mata Senja, Biasa biasa saja...Masih menyebalkan !
""Huh...Ah, pipi Bodoh... Jantung Bodoh... kenapa selalu jedag jedug kalau bersentuhan dengan Langit...Gila Lo Senja.... siap siap menangis darah setelah obat sudah jadi."" Rutuknya lirih, berjalan cepat melewati Mentari dan Jum yang menyapanya, yang baru keluar dari dapur.