
Biru dan Mentari berjalan di koridor rumah sakit dengan Mentari hanya mengekor langkah Biru tak ingin berjalan beriringan. Seperti perjanjian sebelumnya, Mentari akan menemani Biru untuk memeriksa sakit kepala Biru yang aslinya hanya akal akalan si Sagara saja. Modus kok pakai banget.
""Aduh.!"" Konyol Biru menepuk jidatnya, ia belum membuat kesepakatan oleh Farel perihal dramanya nanti. Kalau ketahuan Mentari cuma bohongan sakitnya....bisa nambah marah Petite-nya, Bagaimana pun Mentari harus memaafkannya. Dengan cara apapun walaupun beralibi, Licik kah ? Tentu tidak...Bisa di bilang licik kalau caranya merugikan orang, tapi ini demi hati dan demi meluruskan sipipa bengkok kembali lurus semula ia pun memilih cara ini. jadi harap di bedakan !
Mentari sigap merangkul pinggang Biru dari samping. ""Apa sakitnya pindah ke jidat, Bos ? bukannya yang kebentur kepala bagian belakang kan ? apa sangat sakit. ?" Polos Mentari yang salah tangkap tepukkan jidat Biru.
""Sakit ?"" Gumam Biru menautkan alis, Sedetik engeh..ia mengangguk menimpali kepolosan Mentari. Menang lagi...dapat rangkulan pinggang di sepanjang jalan menuju ke ruangan dokter Farel.
Sesampainya di ruangan Dokter Farel.
""Ada apa ini ? apa Lo sakit Bi ? Kemarin kemarin si manis cewe, sekarang si manis brownies ? kalian memang soulmate !"" Cerewet Dokter Farel membantu Mentari mengambil alih tubuh segar bugar Biru. Biru menyikut lengan Farel. ""Aduh, orang sakit sikutannya sakit benar ?"" Celetuk Farel tak mengerti kode itu.
""Bos saya sedang sakit kepala dok, gara gara kebentur angkot katanya sih bisa bisa gagar otak !"" Jelas Mentari. ""Tolong sembuhkan sakit itu, katanya bisa bahaya!""
""Hah ?"" Kaget Dokter Farel menganga, Luar biasa sekali gedoran itu...pasti ada udang di balik batu, pikirnya seraya menatap Biru yang terlihat mengedipkan mata, kode keras. Dokter Farel menahan tawanya agar tidak lepas seraya menendang kaki Biru di bawah meja, Ajaib sekali ide teman somplaknya.
Biru melototi Dokter Farel, Kalau Lo tidak bantu gue mendramatisir, Gue ketok kepala Lo pakai stetoskop. Begitulah arti dari plototannya.
""Ayo dok, Beri bos saya penanganan, apa gitu ? masa cuma lirik lirikan doang, apa pengobatannya melalui telepati ?""
Dokter Farel semakin tergelitik geli, Gadis Biru sangat lah manis dengan tingkah polosnya... Telepati obat dari gagar otak ? Mana bisa ? paling bisa menyembuhkan kegilaan Biru tuh pakai suntikan lemah syaraf. Dokter Farel memutar kursinya sekilas memunggungi Biru dan Mentari, melepas senyum gelinya yang tertahan.
__ADS_1
""Ayo kita mulai periksa gagar otak itu ?"" Farel bukannya memeriksa dengan benar malah menarik suntikan ukuran besar untuk mengerjai Biru, di mainkannya suntikan itu untuk semakin menggoda Biru. ""Ayo perlihatkan ****** mu."" Wajahnya pun terlihat serius, Biru yang meminta berdrama, ia hanya lawan drama yang baik.
Biru menelan salivanya yang mengering, jika tidak ada Mentari sudah di pastikan Farel mendapat hadiah ketokan.
""Dok, Suntik pant*tnya nunggu saya keluar dulu."" Malu Mentari. Bisa tercemar matanya melihat kolor ijo plus kulit di area sensitif Biru.
""Tidak....tidak... tidak ! aku tidak mau di suntik ! Gila. bisa bisa aku mati dapat suntikan segede itu ! Gue belum ngerasain menyuntik anak gadis orang.!"" Tolak Biru seraya menahan pergerakan Mentari untuk tidak meninggalkannya.
"" Kampret Lo, Farel !"" rutuknya dalam hati yang melihat wajah geli Farel.
""Ish..Bos ! Bos harus di suntik, jika bos tidak sembuh, maka Bos akan mati ! tidak akan pernah bisa menikah ! malam pertama ! punya anak ! punya cucu !"" Bujuk Mentari. Farel semakin geli melihat dou orang konyol di hadapannya. Satu lempeng polos percaya saja dengan alibi Biru, Dan yang beralibi sekarang tidak bisa berkutik di makan alibi sendiri.
""Ayo di mulai, dan anda Ade manis tidak boleh keluar tetap di tempat, pasien butuh di temanin dalam penyuntikan ini, saya takut jika pasien yang terlihat bugar ini mengamuk seperti harimau, berabe jika pawannya tidak ada."" Dokter Farel tentu saja menahan Mentari, bisa babak belur wajah berkharismanya jika di tinggal berdua saja bersama Biru.
Tubuh Mentari menegang membuang wajahnya saat Biru semakin menurunkan celana jeans panjangnya. Jangan lihat...jangan lihat...jangan lihat kulit bagian itu. Mantra Mentari dalam hati. mengusir otak omesnya untuk pergi dari otak polosnya.
Ahaaa... Dokter somplak Farel pun seketika punya ide untuk menurunkan kekesalan Biru kepadanya. ""Ade Mentari, Tolong berdiri dari kursinya, bantu saya mencekal pasien Lion ini. takut berontak malah sakitnya pindah ke gagal hati."" alasan tak berbobot dokter Farel pun keluar asal asalan. dan anehnya Mentari menurut manis demi kesembuhan Biru.
Biru reflek memeluk perut Mentari yang berdiri mematung di hadapannya saat Farel sudah berdiri dari kursinya dengan suntikan siap pakai di tangan.... Tidak usah di tidurkan di brankar khusus pasien konyol satu ini, di kursi pun jadi menancapkan suntikan berjarum sedikit besar.
Mentari memejamkan matanya, ia pun sebenarnya takut jarum suntikan selain tidak mau melihat area terlarang Biru.
__ADS_1
Dokter Farel tersenyum geli mendapat hiburan di luar jam kerjanya. ia begitu menikmati drama lucu khusus FTV demi cinta, rela sakit gagar otak.
""Aaaargh.."" Jerit Biru di dalam perut Mentari, Dokter laknat Farel menancap suntikan segede suntikan hewan tanpa perasaan sama sekali. Awas saat bertemu di lain keadaan...Gue balas Lo. Dumel Biru dalam hati.
""Mentari, tolongin aku, sakit ini, ah."" Adunya manja dengan semakin mengeratkan pelukan.
""Sabar ya bos ! paling semalaman doang akan merasa linu di ******, besok sembuh. gagar otaknya hilang, dan kedepannya anda bisa merasakan kenikmatan pernikahan nanti, betul kan pak dokter ?""
Farel mengangguk angguk seperti robot mainan dengan wajah bak tanpa dosa berhasil menggoda Biru.
""Tapi walaupun sudah di suntik, Ade manis harus tetap berada di dekat pasien Lion ini ya, untuk memantau hasil dari suntikan tadi, beri pasien perhatian banyak, jangan bikin pasien terlalu banyak berpikiran berat, inti saran saya...buat pasien senang dan turuti semua keinginan pasien dalam hal positif, ingat positif bukan yang berbau meminta ranjang...jika minta ranjang maka tendang saja alat tempurnya."" Jelas Farel sedikit membantu alasan Biru yang entah gara gara apa sampai teman kuliahnya ini rela berpura-pura sakit kepala.
Biru sedikit menurunkan kekesalannya untuk Farel atas saran yang bagus untuk dirinya, aah senangnya... Mentari akan terus ada di dekatnya untuk mempertanggung jawabkan gagar otak akibat menolong kepala Mentari.
""Kenapa bos saya minta ranjang pak dokter, waktu saya kerja jadi asisten pribadinya, Bos sudah punya ranjang kok, gede dan empuk pula ! apa ranjang bos minta di ganti, apa bos Biru pun akan minta ganti rugi ke saya....Hm... hutang lagi.""
Dokter Farel terkikik geli...kode kode kata ranjang tidak di mengerti oleh gadis manis ini, bahaya besar... untung yang berada di dekatnya laki laki yang bisa menghargai harga diri wanita. Nilainya ke Biru.
""Tidak petite, lupakan kata ranjang, aku bisa beli sendiri ranjang sekaligus tokonya, yang penting satu, kamu harus ada di dekat ku, tidak boleh marah marah ataupun ngambek lagi gara gara perkataan aku malam itu, itu hanya candaan saja, kamu mau kan memaafkan aku, ingat kata dokter barusan kan, harus membuat aku senang dalam hal positif. Mengerti !""
""Eum baiklah.."" Seperti biasa, Mentari menurut manis, demi kesembuhan anak orang, rasa kecewaannya di hempaskan. tapi walaupun berada di dekat Biru, sebisa mungkin akan mengingatkan dirinya agar tidak jatuh cinta ke orang yang begitu tinggi di gapai... takut jatuh di ketinggian itu, bisa koid nanti.
__ADS_1
Vote dan bunga bunga ššš