
Dipertigaan malam, Biru membuka matanya yang memang hanya terpejam bohong di samping tidurnya Mentari yang sudah terlelap nyenyak sepertinya.
Bantal guling sebagai pembatas ia singkirkan perlahan. Yes, berhasil tanpa Mentari sadari. Biarkan ia seperti maling malam ini, maling endus !
Di angkat nya Kepala Mentari perlahan untuk berbantalkan di lengannya, Nyaman sekali di posisi ini, ia bisa menghirup aroma Mentari lagi yang sudah lama di idam idamkannya.
Tak apa hanya sekedar posisi ini, tak apa ia belum bisa memiliki Mentari malam ini, ia mengerti akan situasi yang sekarang Petite nya masih dalam tahap memaafkannya, ia tahu Mentari nya tidak akan tega memusuhinya dalam waktu lama lama, Ah...ia harus melakukan sesuatu agar ngambek Mentari nya tidak berlarut-larut.
Triplets dan Amma. Batinnya yang akan membantunya agar Mentari mau segera kembali lagi masuk kerumahnya.
Puas menghirup aroma Mentari, ia sekarang menatap dalam wajah terlelap itu, penampilan istrinya banyak berubah, Sederhana tapi masih saja terlihat mempesona, Pantas saja para pekerjanya gilaaa akan inner beauty Istrinya apa lagi dalam keadaan hamil, Istri mana pun terlihat bersinar dalam kehamilannya.
Maaf kan Ayah ya Nak, Ayah nyaris membunuh mu, sayang ! Batinnya mengelus pelan perut Mentari, ia senang akan menjadi Ayah lagi.
Hais.. Kagetnya saat Mentari bergerak dalam tidurnya yang takut ketahuan sudah melanggar peringatan Mentari, ia berpura pura terpejam Namun bibir itu tersenyum di kala Mentari hanya mencari posisi nyaman, dan posisi itu membuatnya hangat karena Mentari malah memeluknya erat yang mungkin di kiranya guling. Perlahan mata nya pun terpejam nyenyak, Sangat nyenyak karena pelipur hati nya sudah ada di dalam pelukannya.
Pagi pun datang, Mentari terbangun dari tidurnya, ia langsung menarik cepat tubuhnya untuk duduk, gelagapan karena matahari sudah silau masuk ke dalam kamar kecilnya.
mbok Darmi, aduh... Tari kesiangan. Gegasnya beranjak yang kesiangan untuk membantu mbok di dapur. Jam segini mah para pekerja proyek lagi sarapan di warungnya, Tapi ia baru bangun, kasihan mbok Darmi. Batinnya bersalah.
Sebelum keluar kamar, ia melupakan sesuatu, semalam Biru.....? Orang nya sudah tidak ada ! Gumamnya mencari.
Langkah Mentari terhenti di saat mendengar suara Biru di warung bersama mbok Darmi sedang mentitah para pelanggan warungnya.
"" Setelah pada sarapan di harapkan pada mencuci piring dan gelas masing masing ya... belajar mandiri itu patut, jangan hanya mau di layani walaupun ini warung makan, Mengerti semuanya !""
__ADS_1
Mengerti Pak Boss !!! Koor dari pegawai lepas proyek menjawab takzim.
Astaga, Mana ada pelanggan di suruh nyuci piring sendiri. Mentari tepuk jidat akan kelakuan Biru, Memang sih nantinya piring piring akan bersih tanpa capek capek, Tapi kan sudah tugas pemilik warung untuk mendapatkan kotoran pelanggan.
Mbok Darmi malah terkekeh-kekeh melihat orang proyek sarapan rapi tanpa ada neko neko ngecengin Neng Mut nya.
Biru sudah seperti pengawas warung, salah sikit pekerjanya maka ia siap memberi.
"Kalau sudah selesai sarapannya di harapkan langsung ke proyek, bekerja bersungguh sungguh dan pasti akan mendapat upah minimum dari saya."" Janji Biru Membuat pekerja harian ini tersenyum takzim dan teratur masuk ke area proyek berada.
Serasa tidak ada kerjaan untuknya, Mentari ingin beranjak untuk bersih bersih bagi tubuh nya.
Kok ? Aneh Mentari di saat baru menyadari kalau kancing baju tidurnya terbuka dua di bagian atas.
Hah, Ia hanya menghembuskan nafasnya cepat di saat menyadari ada tanda laknut saat mengintip daging balon nya. Kelakuan orang ! Dengusnya.
Langkah Mentari kembali tertahan di kala mendengar suara mbok Darminya. Ternyata suaminya yang menggantikan tugasnya di dapur. Senyum pun terlukis untuk punggung Biru.
""Jangan sungkan mbok, Saya malah ingin berterima kasih ke Mbok yang sudah menjaga istri saya selama berada di sini !"" Tulus Biru duduk di kursi samping mbok Darmi.
""Oyah mbok ? Selama Mentari di sini apakah Istri saya kesusahan mbok ?""
""Susah untuk makan si nggak atuh Pak, pan ada Majikan saya yang menanggung semuanya.""
"" Majikan ? Siapa mbok ?"" Bingung Biru.
__ADS_1
"" Bang Sam atuh pak, Beliau kan majikan mbok yang sengaja menaruh mbok di mari untuk menjaga Neng Mu--mentari, Kami jualan sebenarnya untuk menghilangkan keboringan saja, bahkan Neng Mentari tidak pernah mengambil upah hasil warung, Neng Mentari hanya mengambil modal pertama untuk di balikin ke Bang Sam yang di pinjamnya, hasil nya malah buat mbok semuanya, Kata Neng Mentari untuk biaya sekolah anak Mbok saja di kampung, Alhamdulillah untuk mbok yang di pertemukan Neng Mentari, Sudah dapat gaji dari Bang Sam dapat pula penghasilan dari warung, jadi... mbok yang harus berterima kasih ke Neng, Neng Mentari yang malah membantu perekonomian keluarga Mbok yang susah di kampung. Keluhan Neng ya cuma ntu, Rindu keluarganya apalagi ke anak kembarnya yang lucu lucu itu, tiap hari kan Bang Sam mengirim video si kembar melalui hp mbok. Si Neng pasti berujung nangis dalam diamnya kalau sudah menonton video nya."" Jelas panjang lebar mbok Darmi. Melirik ke arah Biru yang sedang menatap lurus lurus ke depan.
""Soal kandungan nya mbok ? Bagaimana, sehat kan mbok ?""
""Kandungan si Neng untuk belakangan ini mah sudah stabil. Tapi di awal bulan pertama tinggal di sini, Si Neng lemah, pernah si Neng mengeram sakit karena perutnya keram luar biasa, untung malam itu ada Neng Mile nginap di sini dan membawa nya cepat ke rumah sakit, Hampir keguguran di Saat itu pak kalau tidak segera di tangani oleh Dokter besar."" Ungkap mbok Darmi membuat Biru sedih luar biasa karena di saat sulit nya Petitenya ia tidak ada di sampingnya untuk sekedar menemani.
Penderitaan mu lebih dalam dari pada penderita ku, Mentari. Hanya kata maaf yang bisa ku lakukan untuk saat ini.
""Terima kasih ya mbok, terima kasih banyak atas jasa mbok untuk istri saya, ya sudah mbok, saya ke proyek dulu sebentar, nanti sore saya akan balik ke sini."" Pamit Biru.
""Iya pak, Tidak ijin si Neng dulu pak ?""
Biru menggeleng. ""Tidak mbok...Kasian dia masih tidur nyenyak. Titip ijin aja ya mbok, Assalamualaikum !""
Waalaikum salam. Mentari ikut menjawab di dalam persembunyiannya, ah.... mungkin sudah cukup ia bersikap cuek ke Suaminya yang terlihat lemas sedih, bahu itu melorot di saat mbok Darmi menceritakan kesulitannya selama ini yang ia alami, Lagian buang buang tenaga juga untuk menghakimi suaminya yang terlihat menderita pun, Buang buang waktu pun juga dalam aksi cueknya yang sebenarnya ia sudah memaafkan Biru, melupakan masa lalu dan membuka kebahagiaan baru itu mungkin yang terbaik, demi semuanya..demi kebahagiaan anak anaknya yang mungkin akan berdampak buruk jika ia terlalu lama perginya, Ia juga sudah Rindu berat Ingin menciumi anak anaknya, memeluk sayang dan juga ingin bertemu Ammanya.
Yap... Mentari akan welcome setelah Biru pulang dari proyek. Ah, tak sabar ia ingin melihat senyum manis Biru lagi.
Kita mandi yuk sayang, biar wangi !!! Gumam Mentari ke calon bayinya. "" Nanti Bunda perkenalkan ke semua keluarga mu, apa kamu tahu, kamu akan punya tiga saudara yang cantik dan tampan tampan, tapi nakal seperti nya. Pasti kamu akan di sayang oleh mereka kalau kamu sudah melihat dunia ini."" Gumam nya terus dalam langkahnya di mana kamar mandi sederhana nya berada.
Sore pun tiba... Mentari duduk anggun di warung seraya menunggu Biru pulang dari proyek. Suaminya kan cakap akan pulang sore hari, tapi sudah jam lima lewat, Biru belum terlihat, Bahkan orang proyek sudah pada pulang dari warung nya.
Mata Mentari tertuju ke orang yang sedang berlari ke arah warungnya dengan tergesa-gesa.
""Ibu Boss, itu---hu..hu, Pak Boss...pak Boss dalam keadaan tidak baik baik."" Lapor orang ini yang Mentari kenal sebagai pekerja proyek.
__ADS_1
""Suami saya, Suami saya kenapa, ada apa ?!"" Panik cemas Mentari, ia segera melangkah cepat. kalau tidak mengingat janinnya yang rentan bahaya maka ia mungkin akan berlari secepat kilat di mana proyek sedang berlangsung.
Halo pak Boss....Ibu Boss sudah beranjak ke sana. Lapor si orang lewat via telepon.