RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 65


__ADS_3

" Stooooop...! Mentari atau gadis ini adalah anak adik ku, adik kembar ku, DEWA BATARA.!""


Hening.... Saking heningnya suara nafas saling terdengar sahut sahutan setelah Radja mengungkapkan kata kata pengakuan itu, Mereka semua mencerna perkataan Radja dengan seksama kecuali Arkan yang sudah tahu. Vane dan Titan pun tidak menyangka, Ternyata Radja-relasinya punya saudara kembar ?


Mentari yang jadi topik hangat pun terkejut hebat, kok bisa identitasnya terbongkar ? Kini Mentari menatap Radja dengan susah di artikan.


""Maaf tuan Radja, apa yang anda katakan ? mungkin anda salah orang mengenali ! bagaimana bisa anda mengatakan itu ?!"" Kilah Mentari. Walaupun dagunya di angkat tinggi tinggi tapi Suaranya bergetar menahan gugup saat mengatakan itu, jujur...ia tidak mau berada lama lama di antara mereka, Ia kecewa dengan penolakan saat Dewa-amangnya meminta bantuan dana medis di kala beberapa tahun yang lalu. andai ia tahu jika makan malam yang di maksud Radja adalah niat membuka identitasnya maka ia akan menolaknya.


Biru sendiri masih shock mendengar pernyataan Radja. ia membiarkan Mentari lepas dari pelukannya yang meronta pelan dan mendekat ke hadapan Radja.


"Mentari Putri Batara ? Nama mu, nama lengkap mu, Kan ?"" Lembut Radja.


""Eum betul tuan ! itu nama ku, BATARA margaku, Mirip dengan marga anda, tapi marga kan bisa saja sama atau mirip ! BATARA-ku


marga dari keluarga miskin dari desa terpencil, Sedangkan Marga anda lihat sendiri, bak raja di dalam istana.""Jelas Mentari menekan semua kata katanya. dan setelahnya, Mentari melirik sendu kakek neneknya yang meneliti wajahnya, intens.


""Permisi ! Saya pamit !"" Lanjutnya cepat tak ingin lebih lama lagi.

__ADS_1


""Tunggu !"" Cegah Radja. ia nampak kecewa dengan sikap Mentari yang tidak mengakui identitas aslinya. Kenapa ? Bahkan ia tertampar saat ponakannya itu memanggilnya dengan kata 'Tuan'. Dingin sekali !


""DNA ? apakah surat DNA juga bisa mirip dan sama hasilnya walaupun beda darah. ?!"" Radja membuka lebar lebar hasil DNA milik Mentari dan Dewa di hadapan Mentari yang mau beranjak. Mentari meraihnya dengan senyum kejut di bibirnya. Skakmat...ia tak berkutik untuk berkelit lagi. Tangannya ikut bergetar membaca hasil tersebut. Kapan surat ini di buat ? Tanya dalam hati.


Tegar, Bima dan Risma-ompungnya mendekat ke hadapan Mentari, mereka penasaran bukti DNA yang di miliki Radja. Apakah Valid ?


"" Iya, Inong... Gadis ini adalah anak dari kak Dewa, lihat lah buktinya !"" Mata Tegar berkaca kaca, tak dapat di pungkiri saat melihat wajah manis ini begitu berbeda merulung hati kecilnya. Ternyata... keponakannya.


""Jadi kamu cucu ku ? anak dari Dewa ku ? Lesung pipi mu begitu mirip punya Dewa dan mata mu pun sama. Astaga...kau sudah besar begini ! Apa kabar mu, dimana Dewa, sayang ? apa kabar anak bandel ku itu, apakah sehat.?"" Risma-Neneknya, meraih tubuh mungil itu sekilas dan kembali menatap dalam wajah Mentari yang begitu manis.


Dada Mentari langsung menegang, Bahkan kematian Amang nya selama bertahun-tahun pun tidak di ketahui oleh mereka semua, Miris sekali rasanya orang yang di kucilkan itu.


Risma melepaskan kedua tangannya dari bahu Mentari, lemas... bahkan neneknya itu langsung menangis keras. Bima dan Tegar berusaha mati matian menahan tangisnya, Radja sebagai kembarannya meneteskan air matanya tanpa Isak , Sesak... seakan tercekik di leher mendengar adik kembarnya yang nakal sudah meninggal dunia....selamanya tidak akan pernah lagi memeluk kembarannya itu.


""Kenapa kalian tidak membawanya kerumah sakit. ?"" Radja bahkan rasanya ingin mengubur dirinya sendiri karena terlalu santai tidak pernah mencari adiknya setelah kepergiannya dua puluh tahun yang lalu. jangan kan mencari, memberi kabar pun tak niat sama sekali.


""Karena kami tidak mempunyai uang untuk berobat yang begitu fantastis biayanya, padahal di waktu itu Saya rela mengorbankan satu ginjal saya untuk amang, Tapi... walaupun ada Pendonor pas, tetap saja harus membayar biaya operasi yang mahal kan.? Amang bilang, Tidak perlu di bawah ke rumah sakit, Amang bilang sakitnya cuma di gigit serangga, sebentar juga akan sembuh sendiri, Amang bilang dia cuma mengantuk ingin tidur, tapi tidurnya sangat lama dan tidak bangun bangun lagi...hiks...hiks..hiks..""

__ADS_1


Akhirnya Mentari menangis juga yang ia tahan sedari tadi. Bahkan ia tidak sadar sudah menangis meraung Raung meratapi kepergian Amang-nya , Menangisi tahun demi tahun menjalankan hidupnya yang terasa berat hanya bertiga bersama Kaka dan Ammanya. Perempuan tangguh-Ammanya lah yang sekarang menjadi tulang punggungnya tanpa niat ingin menikah lagi, itu demi Dirinya-anaknya yang sedari kecil yang terasa kekurangan dari kasih sayang ayah dan kekurangan makan...its ok, itu bukan salah mereka 'masalah kekurangan' toh ia masih bisa bernafas tanpa ada mereka. Mentari hanya kecewa kepada orang orang tajir yang ada di hadapannya ini.


Radja pun sudah menangis pilu dengan mengusap wajahnya kasar, Menyesal...ia menyesal karena tidak bisa membantu adiknya itu, Ponakan manisnya ini ternyata sudah kehilangan Dewa-amangnya.


Mata Biru ikut bermozaik, mendekap kembali tubuh mungil Petite-nya yang masih meraung raung pilu. Biru tidak menyangka ternyata gadisnya ini begitu menderita luar biasa sekaligus kuat luar biasa.


""Kenapa kalian tidak menghubungi kami ? di waktu itu."" Tanya Tegar menghentikan tangisnya.


""Sudah, Amang ku sudah menelpon salah satu dari kalian, tapi Amang hanya mendapat kata kata yang menyakitkan, apa kalian lupa kata itu ?"" Mata Mentari mengerlyat mencari siapa kah suara yang ada di telpon itu. "" Uangnya pasti buat istimu yang tak berpendidikan itu, Bisa bisanya kau ini berbohong sakit parah hanya demi menafkahi anak istri mu."" Mentari mengulangi memori lidah tajam itu. ""Itulah kata katanya, manis buat kalian, nyesak buat Mentari kecil yang tidak sengaja mendengar pembicaraan itu. Dan asal Tuan tuan dan nyonya nyonya ketahui. Ammaku tidak serakus itu dengan harta, yang hanya demi harta sampai menyuruh suaminya mengemis ngemis... kalian salah besar, sangat salah menilai orang tua ku."" Suara itu mengebu gebu menggambarkan kekecewaannya.


Bima menunduk, Sesaknya bertambah pilu, ia memang pernah melontarkan kata kata itu saat Dewa menelponnya. Dan ia sebenarnya sudah memaafkan anaknya saat kepergian Dewa di tahun kedua . Darah lebih kental di bandingkan dengan air kan, Tapi Ego Bima lah yang tinggi, yang tak mau menjilat ludahnya sendiri. hanya itu...Dan ia MENYESAL !!!


""Bukan hanya Amang yang menelpon ke kalian, Mentari kecil pun mencoba diam diam menelpon ke no telpon istana kalian, dan itu tanpa sepengetahuan Amangku, Anak kecil ini memohon mohon bahkan menangis mengemis ke salah satu suara wanita, Hanya untuk apa ? mendapatkan pertolongan belas kasih dari kalian, tapi apa yang saya dapat dari jawaban pengemis kecil ini, penolakan keras yang saya dapatkan... Enyahlah kau ! Begitulah akhir dari kata-katanya. Miris kan anak kecil itu.! Menyakiti hati polosnya.""


Di ruangan besar itu, semuanya nampak menangis mendengar dalam diam masing-masing, ingin berbicara menenangkan Mentari tapi mereka pada mengerti....pasti sesak dan sakit jika mengalami peristiwa menyakitkan itu. Biru pun nampak tak bisa bersuara... Matanya yang bermozaik akhirnya tumpah juga.


Tidak ! Tidak semuanya nampak sedih....ada Raisa yang menyeringai senang dengan terpuruknya Mentari.

__ADS_1


Ibunya tak ku gapai anaknya pun jadi, kau harus menanggung dosa ibu mu yang merebut Dewa dari sisi ku. dan ya..... akulah wanita di balik telpon itu yang memaki maki di saat kau masih kecil. Begitulah arti dari seringainya.


Jejak lah...šŸ˜Ž


__ADS_2