
Ceklek
Mentari membuka pintu ruangan Biru tanpa mengetuk pintu sebelumnya, Ia terpaku di tengah tengah pintu, saat matanya melihat salah satu staff perempuan Biru sedang menghela hela kemeja Biru yang nampak kotor.
Jika di lihat dari belakang, Orang akan menganggap itu adalah posisi intim yang sangat mesra.
Biarkan saja !
Mentari mendengar penolakan itu dari bibir Biru. Namun sang Staff masih keras kepala masih ingin membersihkan kemeja Biru menggunakan tissue.
""Sampai tissue habis pun, Noda itu tidak akan hilang.""
Suara sindiran Mentari berhasil membuat dua orang saling berjauhan. Sang Staff terlihat gelagapan.
""Maaf ibu Mentari, tadi saya tidak sengaja mengotori pakaian pak Biru.""
Mentari hanya mengangguk dan memberi kode kepada sang Staff untuk meninggalkan ruangan.
Sementara Biru, Suaminya nampak cuek akan kedatangannya.
Hening sesaat, Mentari segera menyiapkan makanan yang di bawahnya dari rumah untuk makan siang suaminya dengan tenang dan inilah rutinitas sehari-harinya pun.
""Tadi, jangan salah paham, aku yang salah sudah menabrak dia dan berakhir begini."" tunjuk Biru ke kemeja putihnya yang terkena tinta.
""Aku percaya, cinta ku tidak lah sedangkal itu yang hanya begitu saja maka aku akan marah marah, jadi tanpa penjelasan pun tak masalah bagiku."" Sahut nya.
""Eum, benar ! karena aku tidak ada affair dengan staff ku, beda dengan kamu !"" Biru kembali mengingat bayangan foto itu. ""Taruh saja makanannya, aku belum lapar."" Lanjutnya kembali menyibukkan diri akan berkas berkas di hadapannya.
Aku yang lapar Hulk, kita biasanya makan siang bersama dalam piring dan sendok bersama pun.
""Makan sekarang, jangan sampai sakit ! kalau kamu tidak punya tenaga, bagaimana caramu membuktikan kalau aku ini Penghianat ulung atau Penghianat di hianatin orang, buka mulut mu."" Mentari keras kepala, maju ke sisi duduknya Biru dan melayangkan satu sendok makanan.
""Ish, aku bilang aku tidak ingin makan ! aku lagi tidak nafs* makan ! menyingkir lah."" Dingin Biru menolak yang sebenarnya emosinya tak ingin menyakiti Mentari secara fisik, ia Takut...Takut kalau Mentari di hadapannya maka tanpa sadar ia bisa saja menyentuh istrinya dengan pergerakan kasar.
Praaaang...
__ADS_1
Pergerakan Biru yang tetiba berdiri dari kursi, tak sengaja menyenggol lengan Mentari sehingga piring yang berisi makanan merajai lantai di bawah sana, piringnya pun seketika pecah, beling berserakan di kedua sisi kaki Mentari yang untungnya menggunakan flat shoes.
Dan sekarang, kerja keras ku pun berakhir di lantai, sabar lah Mentari. Suami mu dalam hati kecewa kepada mu. Batinnya bersedih, air mata ia tahan mati matian yang sebenarnya sudah berkaca-kaca.
""Aku ti--!""
""Maaf kan aku sudah mengganggu mu, kalau sudah lelah, katakanlah Hulk ! Aku pamit"" Ambigunya berpesan.
Tanpa berniat membersihkannya, Mentari meraih tasnya, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Biru yang hanya begitu saja sudah menangis. Aku masih sabar Hulk, jangan terlalu dalam menguji ku, kesabaran ku ada batasnya, jika kamu menyuruh ku, pergi...maka aku akan pergi walau pun dengan berat hati. Batinnya kembali menoleh kebelakang yang sialnya Biru malah Memunggunginya tanpa berniat memandang nya barang sedikit pun.
""Kenapa foto itu selalu menghantui ku jika Mentari di hadapan ku. aku benci dengan diri ku sendiri, aku mencintainya tapi aku tidak bisa menerima penghianat.""
Biru mengamuk, meninju ninju tembok setelah bayangan pintu tertutup rapat. Mengabaikan buku buku tangannya yang sudah terluka.
...****...
""Siang pak !"" seorang Staff hotel keamanan di ruang kontrol cctv menyapa Langit yang mungkin akan mengobrak Abrik data seperti Nata dan Dito Serta Biru sebelumnya.
""Siang, aku lagi butuh ruangan ini, Kalian pergilah."" Sahut Langit duduk di depan layar menggantikan sang Empu.
""Eh, tunggu dulu...Satu bulan lalu, tepatnya malam pernikahan pak Gema waktu itu, apa ada tamu yang mencurigakan, atau apa pun itu yang menurut kalian aneh di mata, data data masih lengkap kan ?""
""Maaf pak, di mata kami tidak ada hal aneh sih, dan data cctv satu bulan ini sekarang di ambil semua oleh pak Nata dan pak Biru, semalam. Jadi mungkin data yang anda cari mungkin ada di beliau beliau."" Jelas dari mereka.
""Nata dan Biru ?"" Jari jemari Langit seketika berhenti mengotak atik tombol keyboard.
""Iya pak !""
""Oh, mereka jeli ternyata !"" Gumamnya.
...*****...
Hari ini Senja malas bekerja, waktu malasnya Hanya di gunakan untuk mengajak Petir jalan jalan, dan anak ini sangat senang dapat perhatian penuh darinya. Sekarang mereka berada di dalam Mall yang tumben banget gedung ini ramai, mungkin karena ada model model yang sedang berlenggok lenggok di atas catwalk.
Langkah Senja di hadang oleh seorang wanita glamor yang mungkin Wanita ini adalah peserta catwalk acara, dan ia pun sangat paham siapa orang yang menghadangnya.
__ADS_1
""Minggir !"" Ujar Senja ke Shanum.
""Hai anak manis, siapa nama mu ?"" Shanum tak memperdulikan Senja, ia berjongkok mensejajarkan tinggi Petir.
Petir yang di tanya, melengos mendongak menatap Mamanya. dapat senyum misterius dari sang mama, artinya mamanya ini membebaskannya dalam bersikap.
""Nama ku, Petil !"" Sebelum menjabat tangan Shanum, Petir mengambil mainan di saku chinonya, berbentuk serangga yang tekstur nya sangat menggelikan jika tersentuh tangan.
""Aaargh, iiiiih..kecoa... kecoa...kecoa."" Shanum terloncat jijik saat mainan itu menyentuh kulit tangan nya dan berloncatan jijik beberapa kali dengan tangan ia kibas kibaskan.
""Hahahaaha...sepelti Mumunnya kak Dibi ya ma ?"" Petir terbahak bahak akan kenakalannya, Pergerakan Shanum di samakan dengan monyetnya Gilang.
""Kamu nakal sayang, tapi mama suka ! ayo kita pergi di sini tidak ada yang menarik !"" Tarik Senja di pergelangan kecil Petir.
""Bagaimana dengan rumah tangga mu, apakah bahagia seperti dulu, Senja ?""
Senja berhenti melangkah dan Kembali berbalik penuh ke Shanum.
""Kamu sangat baik menanyakan kebahagiaan ku rupanya, tapi di telinga ku kok terdengar Ambigu ya... apakah ada udang di balik batu ? atau sudah melempar batu sembunyi tangan ?" Selidik Senja mengintimidasi.
Shanum tersadar dari keceplosannya, ia menggigit kecil daging bibir bagian dalamnya.
""Iyaaa...aku datang !"" Shanum berkelit, melihat teman sesama model melambai nya adalah pertolongan dari wanita tenang dan cerdik seperti Senja, Salah sedikit saja... mungkin Senja mencurigai nya. Batinnya yang belum menerima ada laporan perceraian baik Mentari maupun Senja.
""Maaf, aku harus bekerja !"" Shanum beranjak dengan air muka sudah berubah.
""eh, tunggu dulu.."" cegah Senja mencengkeram erat pergelangan tangan Shanum, Sangat erat sehingga kuku kuku lentik nya menacap di kulit mahal Shanum.
""Senjaaaa, kamu melukai kulit mulus ku, sialan !"" Berontak Shanum.
""Oh, maaf ! aku akan Merenggangkannya. tapi tidak untuk melepaskan nya, Karena aku hanya membeli Cegatan kamu tadi yang menghadang ku, aku hanya ingin bertanya, apa maksud kamu bertanya seperti tadi eum ? apa kamu lagi berkucing kucingan di kehidupan ku, Shanum ? katakan !" Tekannya. dan Senja semakin curiga akan air muka Shanum semakin pias saja.
""Apa sih Senja, aku tidak mengerti apa yang kamu sedang bicarakan. Lepas ! aku sudah di tunggu !""
Dan Senja pun terpaksa melepaskan tangan itu, saat teman Shanum benar benar berteriak, menunggunya.
__ADS_1
Teror foto dulu adalah kelakuan Shanum, apa mungkin ini adalah salah satu ulah Shanum juga ? ah...sial ! harus di selidiki.
Senja mengumpat kasar, ia melupakan rubah di atas catwalk itu, Jika benar ini ulah mu Shanum, maka aku akan menghancurkan karir mu di dunia permodelan mu, tidak ada ampun lagi bagi mu. aku akan mencari Buktinya. Batinnya yang tak mau gegabah karena menuduh orang tanpa bukti itu sangat susah membungkam cicit lawan.