RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 41


__ADS_3

Huaaaaa


Mentari reflek berteriak tersentak terloncat, ada sosok misterius yang berdiri di depan kontrakannya dengan penampilan berhoodie hitam pekat, apakah Hantu Kampus yang mengikutinya sejak semalam.? Namun teriakannya terhenti, membekap mulutnya sendiri, tidak enak jika mengganggu kenyamanan tetangganya di jam tiga subuh.


""Si-si- siapa ?"" suara Mentari bergetar ketakutan, Benar benar hantu yang tidak ada respon.


""Iiiiih."" Mentari bergidik, bulu kuduknya berdiri. ""Hiks.. pergi !"" Isak Mentari mengusir Namun Si setan berhoodie malah mendekat, Mentari gemetaran sekucur tubuhnya dengan mata terpejam meneteskan air mata ketakutan.


"" Petite, ini aku, haha."" Biru terawa geli sudah berhasil mengerjai Mentari, ia datang di jam dini hari ingin membantu Mentari berbelanja sayur mayur di pasar, Tulus ! biar Mentari seratus persen memaafkannya masalah kemarin.


""Bo-Bos ? Anda kah itu ?"" Mentari menangadakan wajahnya di depan tubuh tinggi Biru. untuk melihat lebih jelas apa kah benar benar bos manjanya di balik topi Hoodie itu.


""Hahaha, iya ini aku ! kamu sangat menggemaskan petite.!"" Biru membuka topi Hoodienya, tertawa tertahan melihat ekspresi takut Mentari.


""Hiks, anda sangat keterlaluan, dari semalam sampai subuh orang orang pada suka menjahili saya dengan mengatasnamakan setan."" Mentari reflek memukuli dada Biru, Geram.


Biru menangkap kepalan tangan Mentari yang masih saja memukuli dadanya. ""Maaf, Siapa yang berani menjahili mu, eum. katakan ?!"" Peluknya hangat.


Mentari reflek membalas dekapan itu, untuk menenangkan rasa takutnya. Nyaman, Pelukan Biru membuatnya tenang, rasa rasanya ia mendapatkan perlindungan dari seorang laki laki yang sudah lama tidak mendapatkan dari pelukan hangat seorang ayah. Mentari hanya manusia biasa yang kadang kala ingin mendapatkan kehangatan dari orang yang tepat, apakah Biru orang itu... entah lah, biarkan waktu yang menjawab.


""Lupakan ! Bos ngapain di sini !"" Setelah tenang, Mentari melepaskan pelukannya.


""Mau menemani mu berbelanja sayur mayur dan menemani mu berkeliling jualan !"" Biru tersenyum teduh, mentoel hidung Mentari yang sedang melongo menatapnya.


Mentari menangadakan tangannya ke dahi Biru.""Tidak panas.!"" Gumamnya aneh. Bukannya kemarin Biru sangat tidak suka dirinya berjualan sayur mayur ? tapi kenapa orangnya malah berniat membantu.... Bodolah Pikirnya cuek.


""Kenapa melamun ? aku tidak sakit, apa salah jika menemani calon pacar atau istri berjualan.!"" Goda Biru dengan menundukkan kepalanya hingga di kuping Mentari.


Mentari menegang."" Calon pacar ? istri ?"" Lirihnya tersenyum geli Seketika terasa tiba tiba ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik hatinya. ""Kalau begitu, Let's go ! Buktikan pada ku jika anda calon suami yang bisa di ajak susah bersama, senang bersama !"" Mendengar ada lampu hijau, hati Biru berbunga bunga. ""Tapi jangan minta gendong di dalam pasar ya, di sana becek, bau dan berdesak desakan !""Godanya seraya menarik sepeda tua dari pak Rojali yang di pinjamnya.


""Cih."" Biru mencibik. ""Aku tahu yang namanya pasar itu ribet ! tapi aku bukan laki laki manja dan apa kamu yakin mau naik ini."" Tunjuk Biru kesepeda tua itu.

__ADS_1


Mentari mengangguk. ""Terus naik apalagi kalau bukan sepeda, jangan tawarkan naik mobil aku tidak mau dan bos rupanya tidak sadar kalau Bos itu memang manja."" Mentari menggoda, ia jadi rindu dengan kerjaannya dulu yang selalu menyiapkan pakaian ganti untuk Biru.


""Aku manja pun pilih pilih orang, hanya kepada keluarga ku saja, dan orang luarnya hanya manja kepada mu."" Biru mengedipkan mata seraya berdecak lembut. ""dan sepeda ini pun tidak masalah, malah lebih seru bisa berboncengan mesra."" Biru tersenyum menang, mengambil sepeda tua dari tangan Mentari yang sedang mencibik lucu tuh bibir mungil...Nantangin apa ? minta di sosor ! tapi ia sudah tidak berani lagi main sosor seperti bebek, bisa bisa Mentari malah kabur jauh darinya.


""Ayo naik !"" Titahnya yang sudah stay di atas sepeda besar jaman dulu.


"Yakin kah, Bos ? aku kasihan dengan sepedanya, takut remuk menahan beban anda."" Ujar Mentari menyayangkan sepedanya. ia ragu untuk naik.


""Mentari !!!"" Biru mendelik malas. ""Ayo naik, Nanti sayur mayurnya kehabisan, mau ?!""


""Tidak mau dong.!"" Mentari naik di boncengan belakang, memeluk perut Biru sebagai pegangannya agar tidak terjatuh.


Biru tersenyum senang, menunduk sekilas ke arah tangan Mentari yang berada di perutnya, ia rela bangun di jam dua pagi asalkan mendapat pelukan terus dari Mentari.


""Ayo bos berangkat. !""


Biru langsung menggoes sepeda tua itu dengan wajah semberinga, senyum senang di bibirnya tak luntur luntur walaupun di sapa angin dingin dini hari.


""Sangat.!"" Jujur Mentari.


""Kalau tidak mau dingin, coba deh peluk lebih erat lagi.!"" Modus Biru.


Mentari menurut polos, memeluk erat tubuh Biru dengan wajah menempel di tubuh belakang Biru. Hati Biru bersorak ria dengan kecepatan goesnya sengaja di pelankan....Kapan lagi punya kesempatan sedekat itu, pikirnya modus.


******


""Sayur.... Sayurnya, ibu...ibu..!"" Kali ini yang berteriak si pria dewasa berwajah brownies. Mentari hanya tersenyum geli melihat mantan bosnya menjadi tukang sayur dadakan.


Pertahanan hatiku untuk tak memikirkan kekasih dulu akan runtuh jika Anda terus bertingkah manis seperti ini. Batin Mentari menatap lekat wajah Biru yang sedang mendorong gerobak seraya berteriak menjajalkan dagangan.


Biru menoleh dengan alis terangkat satu. ""Ada apa ? aku cocok tidak jadi tukang sayur ?""

__ADS_1


Mentari menggeleng. ""Tid--?!"" Jawabnya terjeda. Ada mangsa memanggil.


""Sayur. !"" Teriak dan lambai ibu cantik paruh bayah yang berdiri di depan rumah milik Arjun Arkanas. Mungkin ibu seorang senior ketus nan jutek Mentari.


Biru dan Mentari mendekat dengan dorongan bersama gerobak tersebut.


""Butuh sayur apa Bu ?"" Ramah Mentari tersenyum manis.


""Di borong ya Bu. ?"" Imbuh Biru menawarkan dengan seikat kangkung di sodor paksa kehadapan sang ibu.


Mentari melototi Biru dan sang ibu yang melihat kekonyolan dua orang di depannya terkekeh geli.


""Boleh, ibu pilih yang ini, ini, dan itu."" Tunjuk sang Ibu ke beberapa sayur, ibu yang di prediksi Mentari adalah ibunya Arkanas, Secara wajah mereka ada kemiripan.


""Kalian masih terlihat muda ? apa pasangan suami istri ?"" Kepo ibu Arkan, rasanya wajah pria di hadapannya tidak asing di matanya. pernah melihat tapi entah di mana.


""Bukan Bu, tapi calon !"" Jawab Biru cepat, Mentari hanya mendelik....apa Jare sang Bos saja, Pasrahnya jika jodoh di syukuri, bukan jodoh di pelet ta i ayam...eh di ikhlaskan.


Sesih tanya kekepoan ibu Arkan terhenti saat para ibu ibu kompleks yang biasanya cuek dengan belanja sayur di tukang gerobak pada datang menghampiri gerobak Mentari dengan penampilan baju jogging semua.


Arkan pun yang penasaran dengan keributan di luar pagarnya, seketika mengintip dari atas balkon. ia tersenyum melihat sayur-mayur Mentari di borong oleh para ibu ibu kompleks yang tadinya hanya berjoging, Namun senyumnya Luntur saat matanya mendapati sosok seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya di tutupi topi hoodie. tidak bisa terlihat dari kejauhan.""Apa itu, Sadewa ? atau....?"" Gumamnya bertanya dengan mood yang tiba-tiba buruk.


Sementara keadaan Biru. ""Hua, Hua, Hua.!"" Biru seperti monyet mengamuk saat mendapat cubitan pipi dari ibu ibu yang satu persatu meningkalkan gerobak setelah berbelanja. Pipinya sudah merah jadi korban keganasan tangan tangan keriput. Sudah hampir bau tanah juga masih saja genit, Cebiknya dalam hati. Mentari terkikik tertahan terlihat dari bibir yang sengaja di gigit bagian bibir bawahnya.


""Kembaliannya buat si mas tampan saja, Ok ! Tapi.....cup !"" Si tua nenek nenek lebih parah dari sekedar cubit, Oh No... pipinya di perkosa oleh bibir tua yang tidak bertanggung jawab, main pergi saja setelah mendapatkan kesucian pipinya, Petite-nya saja belum pernah mencium pipinya malah di duluin oleh nenek keriput....Pipi Biru butuh di sucikan pakai kembang tujuh rupa, Segerah.


""Buahhahahah."" Mentari melepaskan tawanya setelah gerobak sepi dari pembeli, Gadis itu sampai mengeluarkan air mata di sudut matanya. "" Besok masih mau berjualan tidak ?"" Goda Mentari bertanya.


""Mau sih tapi....iih."" Biru tidak mau kejadian tadi terulang, di genitin pakai kedipan mata, pipinya di cubit gemas, di toel bagian pinggangnya dan lebih parahnya ia di sosor bibir keriput, Biru mengusap kasar sebelah pipinya.


Mentari kembali tergelak geli. ""Sini aku bersihkan."" Usap Mentari menggunakan ujung jaket rajutnya.

__ADS_1


VOTE dan Like bunga'bunga


__ADS_2