RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 107


__ADS_3

Pramugari cantik, pribadi...dari pesawat milik keluarga Abraham sudah menginstruksi kan agar para penumpang segera duduk di tempat masing-masing dengan sabuk pengaman segera di harapkan untuk di kenakan karena pesawat sebentar lagi akan Take off menuju ke kota tujuan, yakni Metropolitan.


Biru dan Mentari terakhir naik, kebingungan akan duduk di mana ? Kabin memang ada yang kosong, Satu di samping Senja dan satunya lagi di kabin milik Langit, Sementara Biru tidak mau duduk berpisah dari Petite-nya. Ia mau duduk satu kabin, agar bisa selalu menjaga Mentari di mana pun itu dan apa pun itu, seperti sekarang...Biru menangkap seringai misterius dari Langit.


""Dit, Tempat saya mana ?"" Teriak Biru.


Dito yang akan menyahut, langsung tertelan di sela oleh pramugari.


""Di sini pak, masih ada yang kosong."" Tunjuk Pramugari itu ke kabin Senja. "" Bapak dan ibu silahkan duduk di tempat yang kosong."" Pramugari pun menunjuk sopan ke kabin Langit.


bibir Langit melengkung tajam. ""Saya tidak mau duduk bersama laki laki."" Seru Langit ke pramugari.


""memang seharusnya begitu pak, Laki laki dan perempuan harus bersebelahan karena kita tidak tahu bahaya kedepannya, Jadi bapak tolong geser ke dekat jendela sebagai jagah jagah kalau ada bahaya bapak harus sigap membuka jendela tersebut dan saling membantu. ibu bisa duduk di sini. Dan bapak bisa duduk di kabin belakang sini."" Jelas sang pramugari menyuruh Mentari duduk di dekat Langit dan Biru di suruh duduk di dekat Senja.


""Saya yang akan pindah, nona Cantik ! Jangan pisahkan duduk mereka, dia dia ini adalah pengantin baru, masih panas panas kok di pisahkan."" Goda Senja ke Biru dan Mentari. Namun sebenarnya ia hanya mengikuti kelicikan Langit yang sengaja ingin memisahkan tempat duduk adiknya dan Biru. Senja bukanlah gadis kampung yang polos seperti adiknya, Dia juga punya kelicikan tersembunyi dari wajah lugunya yang kapan kapan akan di sematkan jikalau itu sedang di butuhkan. Jadi kelicikan harus di balas kelicikan bukan, untuk melumpuhkan kelicikan buruk Langit yang pernah di dengarnya kalau Langit berniat menghancurkan rumah tangga adiknya, maka terpaksa ia harus pasang badan untuk melindungi adik kesayangannya, apa pun caranya Langit tak boleh menang.


""Terimakasih Kaka ipar cantik !"" Puji Biru akan pengertian Senja.


""Ck, Kaka ipar ? benar sih ! tapi kamu lebih tua jadi jangan panggil saya Kaka, Senja saja. Sebentar lagi Kamu itu ubanan, Heran saya akan Mentari yang memilih suami yang berumur."" Tukas Senja pedas. Beranjak ke kabin Langit.


""Ya, Petite...Kakamu nyebelin sayang.!"" Rengek Biru. beranjak duduk di susul Mentari mendaratkan bokon*nya.


""Hahaha, Dia memang nyebelin ! baru tahu ?""


Biru mengangguk. Mematuk wajahnya di manik Mentari yang sedang menautkan alis ke arahnya. ""Coba nilai Petite, Apa kah Saya sudah tua ? tapi perasaan wajah saya tetap begini begini saja dari dulu, malah sering di katain Brownies.!""Biru Ada ke ilfilan jadinya, tentang perkataan Senja. Jangan sampai ada yang mencibirnya saat sedang berjalan jalan dengan Mentari yang berbunyi... Om Om menggait wanita muda.

__ADS_1


""Umur boleh merajai mu Sayang ku, Cinta ku ! Tapi ke tampanan no satu ! mengalahkan ABG ABG di luaran sana !"" Goda Mentari memainkan rahang Biru ke kiri dan ke kanan untuk menilai Suaminya ini.


""Pintar merayu ya sekarang ? tapi saya suka, haha...ada kemajuan tapi jangan minta di jabarkan kamu merayu di mananya ya ?."" Biru tergelak memajukan wajahnya, sehingga dahi dan dahi Mentari bersentuhan.


""Saya belajar dari mu, Sayang !"" Balas Mentari menggoda. ""Yang begini pun saya belajar dari mu !"" Mentari memperagakan kedipan mata yang sering di gunakan Biru untuk menggodanya. Biru hampir mencium gemas istrinya ini namun tertunda karena adanya pramugari yang tetiba datang mengganggu.


""Maaf, mengganggu bapak, ibu ! di harapkan segera memasang sabuk pengaman. Lima menit dari sekarang kita akan Take off."" Sang pramugari jadi tersipu sendiri, melihat adegan romantis di hadapannya ini.


Sementara lima menit yang lalu, Saat Senja ingin berpindah kabin di dekat Langit. Langit sengaja duduk berselonjor agar Senja tidak duduk di sampingnya, Tapi bukan Senja namanya jika begitu saja menyerah, Gadis itu main duduk di pangkuan Langit sehingga membuat pria itu risih dan segera menarik kakinya turun dari kabin dan mendorong Senja untuk duduk di kursi dengan kasar. Senja tersenyum jumawa Seraya tersenyum geli.... Senja di lawan...Lo jual gue beli !


Pergerakannya itu tak luput dari mata Chris akan ulah anaknya yang suka suka tidak bisa di atur olehnya, mungkin karena Langit kekurangan kasih sayang seorang ibu, yang sudah meninggal saat Langit masih berumur lima tahun. dan kematian ibunya itu membuat Langit menjadi liar tak tertentu. Pikir Chris. Chris baru melihat ada wanita yang memadai dan mengimbangi kekasaran anaknya dan wanita itu Senja.


Mentari adalah wanita pertama yang di inginkan anakku, Tapi bukan jodohnya.. melihat Senja, Wanita ini tak ada takutnya dengan Langit yang notabenenya sangat kasar. Dua wanita Batara yang menarik... Semoga Senja adalah jodoh dari Langit ku. Amin.


""Hais, Rose ! Sakit ni lengan ku. kamu kenapa ?"" Radja menyadari tangan Rose yang berkeringat dingin.


""Maaf !" Rose sadar, menarik tangannya cepat. ""S-saya tidak apa apa ?"" kilahnya. memalingkan wajahnya ke kabin Titan dan Vane yang sudah terpulas nyenyak dalam posisi mesra.


""Kalau takut maka pejamkan mata dan tidur, saat sampai saya akan membangunkan mu ! Tidur lah !"" Reflek Radja menarik kepala Rose untuk menyenderkan di bahunya. Tidak ada maksud lain, Hanya berniat menenangkan wanita adiknya ini.


Rose sendiri tidak menolak. Jujur....ia takut sekarang ini...jadi kerisihannya di kesampingkan. Menutup matanya perlahan dan mencoba membuang alam sadarnya sekarang.


Kebo juga ternyata. Radja memilih untuk terjaga dengan majalah bisnis di tangan milik Kemal yang sengaja menaruh pelajaran bisnis karena pesawat terbang pribadi ini kebanyakan di pakai untuk perjalanan bisnis. Jadi tidak heran.


Di sisi lain. Senja yang pertama kalinya pun naik pesawat menjadi mabuk udara. perutnya seakan di obok obok di dalam sana.

__ADS_1


Hoek...Hoek..


Senja tak kuat, menarik kantong plastik hitam yang sengaja di bawahnya untuk jaga jaga seperti sekarang ini, munta munta.


""Hais, jorok !"" Langit terperanjat kaget. Membekap wajahnya agar tidak melihat Senja mengeluarkan isi perutnya. ""Aduuuuh, Itik..sana ke kamar mandi gih...bau tau nggak ! Kamu hamil ya...sama siapa ? ternyata wajah mu yang lugu tak sepadan dengan kelakuan mu.!"" Tukas Langit tajam. Membuat Senja membola.


""Iya, saya hamil ! bersama udara pesawat...puas ! nih buat kamu !"" Tanpa takut, Senja menyodorkan plastik hitam yang berisi, isi perutnya di hadapan Langit. Senja tergelak atas perbuatannya.


"iiih, jijik ! Gue lempar dari pesawat juga Lo ! Sini gue lempar dari jendela.!"" Tangan Langit menganjam ingin membuka jendela.


Dengan berani lagi. Senja memepetkan duduknya di samping Langit dan berbisik. ""Buka saja, saya siap berloncat mati tapi tangan ini pun akan menarik mu agar kita mati bersama. Saya rela asal kau pun mati agar tidak ada lagi niat buruk yang menjamah rumah tangga adik saya ! Mengerti Langit mendung."" Bisik Senja penuh nada dingin.


"Saya tidak takut dengan mu, dan saya akan tetap menghancurkan Biru dan adik mu itu."" Balas bisik Langit tak kalah dingin.


""Buktikan dan saya pun akan buktikan, Lo mati..gue pun mati...Lo mati dengan keadaan mengenaskan dengan hati Lo yang busuk itu dan saya mati dengan keadaan tenang karena berhasil membuang duri beracun seperti mu di kehidupan adik saya."" Bukan gadis desa yang bertutur kata melainkan sifat batu dari Dewa yang menguasai keras pikiran Senja.


""Menjauh dari duduk saya !"" Entah kenapa Langit menciut nada intimidasi dari gadis itik kampung ini.


""Hahaha, Saya mau munta lagi mencium aroma parfum mu yang murahan itu."" Cibik Senja menjauh. ""Nanti saya akan membuat kan mu Parfum khusus pengantar mayat untuk mu."" Wajah Senja kembali berekspresi konyol.


""Aarg, menyebalkan !"" Langit membuang wajahnya ke arah jendela, memasang earphone di telinganya agar tidak mendengar tukas Senja yang selalu membuat hatinya dongkol.


Senja sendiri beranjak ke kamar mandi untuk membuang isi perutnya lagi sekaligus membawa kantong kresek bekasnya tadi.


Apa pun caranya, saya akan menyatukan mu dengan anak saya Senja. karena kamu seorang yang berani melawan kerasnya Langit. dan semoga saya berhasil membuat percikan asmara di antara kalian. Harap Chris dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2