RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 170


__ADS_3

Ting


Ting


Ting


Tiga chat berturut-turut masuk ke dalam layar bening Vane, Orang tua Biru itu malas malasan untuk meraih benda pipihnya, Ganggu saja, Dengusnya. orang lagi berjibaku di depan meja rias dengan masker kecantikan di malam hari, ini malah ngeganggu bingits . Kantor asuransi apa sih yang masih mencari mitra di malam hari ? Minta di sembur apa ?


Titan sampai melirik kesibukan Istrinya dengan dahi mengkerut. Biasanya si Vane manja ini paling sigap seperti petir jikalau masalah layar bening mengeluarkan bunyi Tinang tinung ini malah di anggurin, Mana berisik lagi tuh layar bikin gagal fokus saja yang sedang berkhayal indah.


""Ma, Handphone mu berisik... Silent gih ! ""


Dan tanpa menoleh ke Titan, Vane hendak mensilent, Namun terurungkan saat tak sengaja melihat nama si pelaku yang membuat hpnya berisik.


Biru ? Tumben sekali Chat doang, biasanya tuh anak satu langsung nelpon, aneh. Vane hanya bisa ngebatin, Berbicara sedikit maka masker Wajahnya akan retak.


Vane menghitung satu sampai lima di dalam hatinya, baru ngeread chat chat Biru yang isi nya Foto. Foto ? Foto gambar USG, Se....Se... Tunggu dulu ! Ni titik titik kehidupan bayi dalam kandungan ? Punya siapa coba ? Apa maksudnya si Sagara ku mengirimkan ini ? Menghibur kah ? Atau mengejek mamanya sendiri ?


Kembali meread chat selanjutnya... Calon cucu cucu Mama lagi menghangat di perut mantu Mama, Istri tercintaku. Tulis Biru di seberang sana.


Owh, Cucu ? Mentari hamil ? Gumamnya belum engeh, kembali mematuk matuk penampakan wajahnya yang seperti hantu dengan masker bengkoang di wajah.


Tapi Tunggu dulu ! Ada yang salah ni di sini ? Tapi apa ? Hamil ? Calon Cucu cucu Ma--?


""Whaaaaaaat ?""


Retak sudah masker kecantikannya ragara terkejut dengan suara memekik di pendengaran Titan.


""Apa sih Ma ? berisik tahu nggak !"" Kaget Titan mendengus kesal. Vane bangkit dari kursi riasnya. Menarik Titan untuk berdiri. Ia memperagakan gerakan memutar dengan kedua tangannya, Reflek di pegang kuat oleh Titan agar si imut istrinya ini tak terhempas ke dinding.


""Paaaa, Mama senaaaaang !"" Putaran itu berubah menjadi gerakan dansa agresif, Titan hanya mengimbangi si istri centilnya ini belum tahu permasalahannya apa.


""Senang sih senang, Tapi wajahnya di bersihkan dulu tuh, Lihatlah putih putih dari masker mama mengenai baju ku !""

__ADS_1


Dan si Vane manja ini malah sengaja memeluk erat tubuh Titan, Wajahnya malah di sundel sundel kan ke baju bagian dada Titan.


""Ma !!! Astaga ! masih waras kan?""


"" Saolaah Pa, Mau marah juga, tak perduli aku..Yang penting aku mau dapat cucu, Gilanya di tunggu sejenak.. Kita akan punya cucu, dan Katanya Cucu cucu ! Akhhh.. Senangnya hatiku, Anak ku tidak salah pilih istri yang punya bibit turun temurun bisa kembar....Kaka ipar Meca dan Kaka ipar Fina, Aku dua langsung, kalian hanya satu yang masih di perebutkan sampai sekarang ini. "" Bangganya dengan memukul mukul dadanya seperti gorila yang akan beraksi.


Titan tersenyum lebar nan bahagia mendengar mantunya akan memberikan cucu kembar, membidik kunci mobil hendak menghampiri kediaman Biru di malam hari.


""Eeeeh, Papa terhot di ranjang dan si cool cool di luaran sana, Mau Kemana hah ?""


""Mau ke rumah Biru dong, Mau nengokin anak mu yang lagi teler doyong itu, Tidak enak tahu ma dalam keadaan Morning Sicknees, Papa kan pernah merasakan, dan Si mama tidak pernah."" Titan mengusap usap bajunya yang memutih ulah dari masker Vane.


"" Ck, Baru segitu bangga, ngeden lebih sakit tahu nggak, Dan kalau mau pergi...coba saja ke sana ! Wong Biru dan Mentari pasti sudah tidur, papa akan menggangu mereka, besok baru kita kesana pangeran ku."" Jelasnya berlalu menuju kamar mandi.


...****...


Dua insan di atas peraduan dengan posisi mesra, Biru memeluk lembut perut Mentari, Sesekali di usap dan di ciumnya sayang. Bahkan si calon Pamud alias Papa muda ini mengajak cabangnya berbicara membuat Mentari geli dengan kelakuan suaminya.


""Mana ada Sayang ! Kasih ku tidak akan terbagi , Hanya untuk mu seorang..!"" Biru sengaja menjeda.


""Kok gitu ? Terus maksud mu, Si cabang tidak akan dapat kasih, gitu...cih jahat sekali ?"" Cebik Mentari.


""Haha, Tentu dapat dong ! Kasih untuk mu kan berbeda.. Kasih ku ada unsur yang berbau Testosterone dari ku yang bergerak seperti neraca kereflekan. Seperti kesetrum manjah manjah gimana gitu. "" Biru menoel noel dagu Mentari, menggoda. Yang di toel datar datar lempeng. ""Kalau buat si cabang ini "" elusnya di perut Mentari yang masih terlihat rata. "" Kasihnya ke bapak-an, Jadi berbeda dong. Mengerti sayang ?""


""Eum sajalah, ayo kita tidur sebelum kamu Hoek hoek lagi."' Ledek Mentari. Biru setuju akan itu, berbaring dengan posisi kepalanya tepat di sisi perut Mentari. Menyilak baju itu dan dengan santai manja menenggelamkan wajahnya di perut Mentari yang berposisi miring ke hadapannya. Kenyamanan terindah !


...****...


Jam dini hari, Langit di buat kualahan oleh Senja yang minta ini dan itu akan makanan yang harus mirip dengan rasa masakan Ammanya. Nah.... masalahnya di sini, Setiap tangan pengelola masakan kan pasti berbeda rasa dong.. Walaupun resep sama...tapi percaya deh....pasti ada celahnya.


""Silahkan tuan putri ! di makan ya sayang ! ini penuh perjuangan lho !"" Langit menghidangkan semangkuk sop panas di hadapan Senja yang terlihat kurusan karena selain Hoek hoek, Senja juga kurang tidur. Selalu terjaga di pertengahan malam sampai subuh baru tidur, Bangun pagi lanjut ke pekerjaan.


Sikap batu Senja tak bisa di kalahkan Langit yang selalu istrinya itu ingin bekerja.

__ADS_1


""Terimakasih, ku harap sama sih ya !"" Cicipnya ke makanan tersebut.


""Bagaimana ? Sama tidak ? sama punya Amma, kan ? Sama dong ? Kan Aku di bantu Amma langsung dari layar di tengah malam begini. Live streaming."" Bangganya.


""Eum, Sama ! Sama kuahnya saja ! Sepuluh buat Amma, Lima buat kamu mendung."" Ejek Senja menggoda tapi begitu lahap menyantap sesuap demi sesuap. ""Terimakasih !"" Lanjutnya tersenyum manis.


Langit menggeleng geli melihat istrinya begitu lahap memakan masakannya. Ia meraih tissue dan membersihkan sudut bibir Senja yang sedikit kotor. Senja melirik sejenak. Matanya intens menatap dalam wajah Manly Suaminya.


""Aku mencintaimu !"" Ungkap Langit dengan suara lembut. ""Terimah kasih sudah memberi warna di hidup ku, yang sedari lama... rasa bahagia ini tak kurasakan."" Imbuhnya.


""Hohoho, Pintar ngegombal rupanya, Ok...aku beli seribu deh !"" Canda Senja dengan alis naik turun jenaka.


""Ck, Selalu menyebalkan...di romantisin malah di anggap modus."" Cibiknya. Senja tersenyum geli melihat bibir cemberut itu.


""Jangan seperti anak kecil, mendung. ingat umur.. sebentar lagi akan tua, punya buntut."" mulut Senja memang tajam, tak ada romantisnya. Namun di lubuk hatinya, ia senang dengan pengakuan Langit dan perhatian Langit yang sabar dalam menghadapinya yang sedang mabuk hamil ini.


Gue beli dua ribu dah... Batin Langit.


""Eh Itik ! Dari dulu pun aku punya buntut lho ?""


""Hah ?""


""Iya, mau lihat !"" Langit sengaja memutar mutar handphonenya di atas meja. Senja melirik itu, di otaknya... Apakah Langit sudah punya anak hasil celap celupnya dulu di masa si mendung ini nakal ? Bagaimana tampan anaknya si Mendung ini di layar ? Wajah Senja berubah ubah sekarang. Merah dan memucat.


""Iya gue mau lihat, bagaimana rupa buntut Lo itu."" ketusnya.


Dan Langit dengan senang hati, memperlihatkan buntutnya yang di bawah perut di hadapan mata Senja.


""Hais...Langit menduuuuung !"" Pekik Senja memalingkan wajahnya, malu.


""Hahahaha, Skor 1:1 Itik."" Tawa Langit pecah, berhasil menggoda Istrinya. "" Mau merasakannya sayang, Ekor ku sudah lama berpuasa lho.


""Hais, Mesum melulu !""

__ADS_1


__ADS_2