RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 123


__ADS_3

Satpam rumah keluarga Batara terkejut dengan kehadiran nona manisnya datang bersama suaminya di tengah malam.


""Malam pak !"" Sopan Mentari.


""Malam nona, tuan !"" Takzim Sang Security.


Mentari di ikuti oleh Biru pun berjalan ke arah teras.


Radja yang masih terjaga mengintip keluar saat mendengar suara mobil terparkir langsung berjalan dengan Langkah panjang menuju pintu utama membukakan pintu untuk Mentari dan Biru.


""Om, Amma mana ? apa sudah tidur ?."" Mentari tanpa menatap lawan bicaranya, bertanya menggebu dengan langkah terus masuk tak berhenti menuju ke kamar Rose.


Biru dan Radja saling pandang sekilas. Heran.


""Sudah ! katanya sedikit lemas ! di bujuk agar periksa saja tapi dengan ketus Amma mu menolak dan berkata akan sembuh setelah meminum obat dari mu."" Jelas Radja. Merasa aneh akan kelakuan Mentari malam ini yang tetiba datang di malam hari pula.


""Obat ? dari saya ?""


Mentari terkejut setengah mati, ia tidak pernah sama sekali memberikan obat apa pun itu ke Ammanya. Sekarang langkahnya bukan sekedar berjalan lagi melainkan berlari menelusuri anak tangga.


Biru dan Radja semakin heran akan tingkah Mentari.


""Petite ! Awas jatuh !"" Tegur Biru. Mentari menulikan pendengarannya.


Biru dan Radja pun mengikuti Mentari. Keluarga yang lain tak ada lagi yang terjaga.


Braaak...


Mentari membuka pintu dengan tidak sopan, keras.


""Amma !"" Panggilnya. Rose tak bergeming dari terbaring damainya. dan itu membuat Mentari menjadi semakin cemas akan hatinya yang tidak tenang.

__ADS_1


""Amma mu tidur sayang ! jangan ganggu dia !"" ujar pelan Radja agar janda adiknya tidak terganggu.


Mentari memastikan kalau Rose hanya tertidur nyenyak, Ia curiga... Ammanya ini tidak lah seperti kebo yang kalau ada keributan maka dengan santai tidak terganggu.


""Amma ! Amma ! hiks !"" Tangan Mentari bergetar hebat saat ia menyadari kalau tangan Rose sedang berkeringat dingin dengan wajah begitu pucat.


Biru dan Radja yang tadinya di ambang pintu seketika terkejut saat Mentari langsung terisak.


Biru memeriksa denyut nadi Rose. Radja pun mendekatkan kupingnya di dada Rose untuk mengecek detak jantungnya, sebelumnya Radja sudah memeriksa hidung Rose yang terasa lemah akan nafasnya.


""Kita bawa kerumah sakit !"" Biru langsung meraup tubuh mertuanya tanpa beban berat sedikit pun.


""Om, Amma Kenapa Om, hiks..Om, Amma tidak kenapa-kenapa kan ?"" Racaunya sesak dan cemas.


""Entahlah lah sayang, kita akan tahu di rumah sakit."" Ada rasa salah di diri Radja, satu atap dengan Rose tapi tidak mengetahui keadaan adik iparnya itu.


...*****...


Matanya sudah menangkap semua marga Batara di lorong. Senja berlari kecil untuk bisa segera sampai ke mereka.


Itik, Astaga...Awas jatuh ! Di dalam hati Langit tak sadar sudah mengkhawatirkan Senja.


Pas, Saat Senja tepat di posisi keluarganya, Sang Dokter keluar dengan wajah tidak bersahabat.


""Dok, bagaimana keadaan Amma saya ?" Kompak Senja dan Mentari, yang lainnya harap harap cemas mendengar jawaban Farel.


Farel melirik sekilas Biru. ""Amma Rose, mengalami lumpuh saraf total, Otot ototnya tidak berfungsi lagi, walaupun bergerak sedikit saja, bahkan saraf dari mata pun terganggu, beliau susah untuk membuka matanya dan lebih parahnya efek racun yang di konsumsi beliau mengaruh ke detak Jantungnya yang tidak stabil."" Jelas hati hati Farel. Ia pun berat menjelaskannya kondisi ini ke Batara, tapi harus bagaimana lagi... inilah kenyataannya.


Senja dan Mentari sebagai anaknya, melemas. Biru langsung menangkap Mentari yang hampir terduduk lemas dengan Air mata sudah menetes deras.


Sedangkan Senja masih terlihat bodoh akan kabar buruk ini, Bagaikan mimpi. Senja masih berdiri tegak, penasaran akan efek racun. ia belum paham dan belum bisa mencerna, Racun apa ? dan siapa yang melakukannya ? Tangannya mengepal erat.

__ADS_1


""Racun ? maksud dokter Farel, Amma saya keracunan ? keracunan apa ? kenapa bisa ?" Cerca Senja menahan sesak di dadanya. ia melirik semua anggota Batara yang semuanya hadir, Bahkan Arkan juga Zila ada di antara mereka. tatapannya itu seakan sedang menuduh Keluarganya sendiri.


""Racun ini bekerja tidak sekaligus pada racun umumnya."" Farel melirik papan kecil berisikan kertas laporan tes darah Rose. "" karena efeknya itu secara perlahan melumpuhkan saraf tertentu, jika terus di konsumsi dalam jangka waktu lama...maka beginilah hasilnya, Lumpuh dan untungnya masih belum mengenai jantung seratus persen...tapi walaupun begitu, Amma di nyatakan kritis, kami sudah memasang kan alat bantu medis khusus untuk beliau.""


Hancur, Hati Senja dan Mentari semakin remuk mendengar musibah yang begitu tetiba menampar seluruh tubuhnya, bahkan rasanya darah mereka berdua seakan membeku...Amma yang mereka sayangi kritis tak jelas.


""Siapa yang memberi Amma ku racun dari salah satu dari kalian, hah ?"" Marah Senja ke semua Batara, Bima dan Risma pun di lirik tajam dari tatapan murka Senja.


""Kalian tega sekali melakukannya, hiks...hiks..apa maksud kalian.!"" Mentari pun sama, Menuduh anggota keluarga Amang-nya.


""Apa yang kalian pikirkan sayang, kami tidak sejahat itu, kami tulus dengan kalian...Kami juga menyayangi Amma mu layaknya anak kami, pengganti Dewa bagi kami."" Risma membela diri. ia tidak terima di tuduh atau di curigai oleh kedua cucunya.


""Amma kan rutin minum obat herbal yang kamu kirimkan Mentari, apa itu penyebabnya..dari penjelasan dokter Farel kan... perlahan lahan kalau masih di konsumsi maka akan fatal, dan setiap Amma minum obat darimu...Amma selalu mengeluh lemas dan juga lebih cepat tidur.""


Penjelasan Gema berhasil membuat mata tajam Senja teralihkan ke Mentari yang menangis di rangkul oleh Biru.


""Sini."" Senja menarik tangan adiknya dengan kuat. Mentari terkejut begitu pun yang lainnya. ""Obat herbal apa yang kamu berikan ke Amma, Hah ?"" Bentak Senja. ini yang pertama kalinya Senja begitu marah memuncak ke adiknya.


""S-saya hiks...hiks...ti----!""


Plak


plak


Dua kali tamparan keras mendarat sempurna ke pipi Mentari dari tangan murka Senja. Senja gelap mata... pikirannya tidak jernih. dan pergerakannya itu berhasil membuat orang terkejut setengah mati... Seorang Senja yang penyayang keluarga memukul adiknya sendiri yang belum sempat menjelaskan satu kata pun.


Biru dan lainnya terpaku ikutan sakit melihat situasi yang tidak diinginkan.


""Hiks...ini salah ku, semuanya salah ku, PUAS !"" Setelah berucap Mentari berlari pergi tanpa arah tujuan, ia begitu terpukul...sangat terpukul ! Amma yang di sayanginya sepenuh hati telah sakit parah...dan kini....Kaka yang begitu di agungkannya, telah menuduhnya bahkan memukulnya untuk yang pertama kalinya.


Konek Biru seakan eror, ia baru tersadar saat Senja meraung dengan tangan memukul tembok secara kuat. Biru berlari mengejar Mentari. Sementara Senja di tarik Radja kedalam pelukannya yang masih meronta ingin melukai tangannya yang sudah reflek memukul adiknya. ia menyesal telah menampar adiknya, ia tahu tidak mungkin adiknya tega meracuni Ammanya sendiri.

__ADS_1


Menyenangkan... bercerai berai lah kalian.


__ADS_2