RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 39


__ADS_3

Mobil Langit sudah sampai di kampus, Mentari takut takut untuk keluar, di depan sudah ada Biru yang sedang memasang decakan pinggangnya dan apalagi ? Hem... segerombolan senior mahasiswi pada bergerumuh di sekitaran satu meter dari tempat berdirinya Biru.


Mentari tuh paling tidak suka kalau mendapat bentakan, hatinya langsung terenyuh jika bentakan kasar yang ia terima dari Biru, Entah kenapa... tapi jika Biru yang menyinggungnya, hatinya menciut dan sakit.


"Ayo turun Mentari !"" Titah Langit langsung turun. Mentari tak bergeming di tempat.


Biru dan Langit kini sudah berhadap hadapan dengan mata tajam saling berbicara, membuat Mentari cemas dag dig dug, dan mau tidak mau ia harus keluar, Takut takut ada perkelahian hanya karena dirinya.


""Bos.!"" Mentari membuyarkan platat plototan antara Biru dan Langit. Biru menoleh, menarik nafas dan langsung membuangnya kasar.


Mentari menundukkan wajahnya menghindari tatapan Biru yang susah di artikan.


""Ma---!"" Ucapan takut takut Mentari terpotong saat Biru menariknya masuk kedekapan dada bidang itu.


""Maafkan aku, Petite ! Maaf, maaf dan maaf, jangan pernah lari lagi dari ku, maaf sekali lagi."" Sesal Biru, memeluk tubuh mungil Mentari, mengusap dan sekilas mencium sayang di pucuk kepala Mentari di depan Langit dan banyak mahasiswi yang sedari tadi diam menatapnya. Para mahasiswi senior tak percaya apa yang mereka lihat, Menatap penampilan Mentari dan kompak menatap penampilan sendiri.


Penampilan jelek bisa bisanya mendapatkan laki laki yang super tampan idaman para wanita berkelas. Mungkin begitu lah umpatan mereka....Syirik tanda tak mampu.


Mentari tertegun, ia pikir Biru akan marah marah lagi seperti biasanya, jika ia membuat kesalahan, tapi ini berbeda. Biru malah lembut terdengar dari suaranya saja....ah, ia seketika lupa jika dirinya sedang menjadi tontonan gratis di sebagian mahasiswa mahasiswi.


""Ehem."" Langit berdehem keras untuk menyadarkan aksi Biru yang membuat hatinya terbakar cemburu. ""Apa yang kalian lihat, ini bukan pertunjukan Romeo and Juliet, ayo pada masuk ke kelas ! kuliah pertama akan di mulai.!"" Langit melampiaskan kemarahannya di mahasiswi mahasiswa yang masih bergerumuh. Tidak mungkin ia melempar bogemannya ke Biru di depan Mentari, itu bukan sifatnya yang mengeluarkan kekerasan di hadapan seorang perempuan, apalagi perempuan yang menjadi incarannya.


""Bos.!"" Mentari pun meronta ingin di lepas dari dekapan Biru, Malu di lihat orang banyak.


Biru melepaskan pelukannya.

__ADS_1


""Maafkan Aku, Ok ?"" Ulang Biru yang belum dapat respon dari Mentari.


Mentari mengangguk. ""Aku akan masuk !"" Ucapnya cepat cepat dan segera membelakangi Biru yang wajahnya nampak merah malu.


Biru menarik tangan Mentari dan seketika tubuh mungil itu kembali menghadapnya lagi.


""Aku tidak bisa menjemput mu balik kuliah, nanti sore aku ada kerjaan penting !"" Biru melirik sekilas ke Langit yang masih setia di tempat.


""Eum, tidak masalah ! aku di kampus sampai malam, bos. Ada acara Jurit malam sebagai tanda akhir Ospek !"" Setelah berucap, Mentari bergegas pergi meninggalkan Biru dan Langit tanpa curiga dengan mata elang saling beradu itu.


Biru melangkah tepat di hadapan Langit yang dengan santai menyenderkan tubuhnya di body mobil sports miliknya.


""Aku mohon dengan sangat, jangan ganggu hubungan aku dan Mentari."" Biru meminta dengan kata baik baik, ucapan pun dengan sangat bertutur santun.


Langit tersenyum mengejek. ""Gue nggak janji.! Sebelum janur kuning melengkung, Mentari berhak untuk berpindah hati."" Sangutnya enteng.


Langit tak bergeming nan tak berkedip, seakan akan menantang. ia hanya menyeringai.


""Gue bahkan selalu mengalah di saat perselisihan antara kita yang dulu dulu, Tapi kali ini tidak akan gue biarkan Lo menghancurkan mimpi Gue yang ingin mendapatkan hati Mentari."" Tajam Biru dengan tangan mencekram kemeja grey Langit.


Langit menepis tangan Biru dari kerah bajunya. ""Hahaha."" Tawanya. Langit benar benar menyebalkan di mata Biru. ""Lo tahu gue Sagara, Gue harus dapat apa yang gue inginkan.! Jadi walaupun Lo ngomong baik baik di hadapan Gue, Tetap tidak bisa ! Jika hati Gue minta A harus A bukan B. Paham"


""Langit !"" Geram Biru ingin melayangkan tinjunya, Tapi tertahan takut membuat kampus semakin ricuh dan berimbas namanya jelek di telinga Mentari. ia hanya meninju angin kosong. Percuma berbicara panjang Lebar dengan orang yang berpikiran selalu ingin di atas langit.


Tak ingin tersulut emosi lebih memuncak parah, Biru berbalik menuju ke mobil berniat meninggalkan Langit yang masih terlihat santai di matanya.

__ADS_1


Langit menyeringai menghentikan langkah Biru dengan berkata. ""Jika ingin berkelahi tanpa gangguan, datang lah di Ostia Club, Kita bertarung di sana, yang menang bebas mendekati Mentari dan yang kalah harus mundur dengan cara tidak terhormat tanpa ada kata protes apa pun.""


""Gue terima tantangan Lo, Siap siap saja, mundur secara tidak terhormat, Ulat gatal." Biru menjawab tanpa berbalik, ia terlalu muak dengan wajah yang sok berkuasa itu. Ring Ostia Club tunggu aku, Batinnya.


Sementara malam di akhir Ospek Mentari, Gadis itu sudah mendapatkan pembagian kelasnya, Hari Lusa ia akan mulai kelas pertamanya, Mentari mengambil kelas Sore, ia berencana bekerja paru waktu di pagi menjelang waktu masuk kuliah, Entah di mana tempat kerja itu, ia pun belum tahu, yang ia lakoni saat ini untuk menyambung hidup...ya hanya sebagai penjual sayur mayur dulu. Anak Rantau tidak selamanya enak hidup di kota orang, ingat itu !


""Ssssst... pfhuuuuu.!""


Mentari meremang takut, bulu kuduknya ia elus, tak berani melirik kebelakang setahunya di belakang itu tidak ada orang, dirinya di posisi paling belakang dari barisan ayam sayur, Siapa yang sedang bersuara aneh dan meniup halus tengkuknya di belakang.


Sumpah.... Mentari takut dengan namanya Setan. Di masa kecil ia sering mendapat dongeng aneh aneh dari kakaknya jika ia tidak mau tidur maka kakanya itu bercerita kalau anak nakal yang masih terjaga di malam hari akan di datangin hantu dan hantu itu muncul di bawa kolong tempat tidur. dan dongeng itu selalu muncul di otaknya jika berada di tempat gelap seperti sekarang ini, di gudang tua sedang melakukan jurit malam bersama teman teman kelompok Ayam sayur dan di temani satu Kaka seniornya, dan tak beruntungnya kelompok ayam sayur itu mendapat rekan senior yang bermulut ketus, Arjun Arkanas atau sering di panggil Arkan.


""Mentariiii. !"" Zidan yang jahil memanggil nama Mentari dengan sangat di horor hororkan. sengaja mengerjai Mentari yang ada di depannya setelah bersembunyi di sela sela rak Arsip. ""Aku datang.!"" imbuhnya horor.


""Aaaargh.... aaargh.. Hantu ! Setan ! Jin ! Tuyul ! kuntilanak apa pun itu ! pergi ! pergi !"" Mentari menjerit hebat, ia berjongkok gemetaran dengan kedua lutut ia peluk.


Arkan yang berada di depan Mentari, Mendesah kasar, Sementara Kelompok Ayam sayur seketika berhenti dan berbalik ke suara Mentari yang menjerit mengisi ruangan gudang Arsip tua.


Arkan melirik tajam ke arah Zidan yang sedang cengir kuda dengan tangan berbentuk V. Berjongkok setara dengan tubuh mungil Mentari yang sudah seperti Bola siap di gelindingkan.


""Mentari, hey ! Sadar lah !"" Arkan menepuk lengan Mentari yang masih meracau mengusir jenis jenis dedemit.


""Aargg, Setan ketus !"" Mentari spontan mengumpati Arkan setelah mendongak dengan cahaya senter mengekspos wajah tampan Arkan. dan pelaku senter jahil itu si Dio. Arkan tidak terima di katain setan ketus oleh Mentari si Cabe cilik.


""Gue makan Lo, Aaarm !"" Ketus Arkan dengan wajah di seremin ke hadapan wajah Mentari sehingga wajah itu hanya berjarak satu jengkal saja.

__ADS_1


Bugh...Tonjok tangan Mentari reflek, Ayam sayur kecuali Mentari terbahak di tengah gelap gulita gudang Arsip saat Arkan terduduk dengan wajah teringis sakit.


VOTE , BUNGA BUNGA 🌹🌹😘


__ADS_2