
Setelah bebersih dari keringat sehabis latihan bela diri, Biru ikut bergabung di meja makan bersama yang lainnya.
Mentari dan Senja juga Rose datang dengan membawa makanan di tangan untuk semua, hari libur ini mereka gunakan untuk sekedar berkumpul bersama di rumah Besar Batara.
""Ayo kita makan !"" Rose sudah menata semua masakannya di meja makan. Ia melayani piring Mertuanya, Bima dan Risma secara bergantian. Radja menanggalkan piring kosongnya pun ke Rose, berharap Rose mau melayaninya.
Gemi menangkap gerak gerik manja Papanya yang tidak biasanya. Smirk geli pun terulas. Aku mendukungmu papa ! Batinnya tersenyum tipis. Ia mengerti, Tiap orang harus memiliki pasangan hidup, baik sudah tua maupun masih muda Bukan ? Gemi tidak lah egois yang dengan seenak jidatnya melarang Papanya untuk memilih pasangan lagi.
""Cukup ?"" Tak curiga, Rose dengan senyum ramah melayani piring Radja. Iya ikhlas...Dalam benak Rose, ini lah cara untuk mengganti masa masa dulu, dimana dirinya dan Dewa tidak pernah merasakan dalam situasi saat seperti ini.
""Terima kasih ! Sepertinya Lezat untuk di lihat, Eh di nikmati, maksudnya !"" Ralat Radja yang sebenarnya ingin memuji perangai Rose.
Ibu dari dua anak itu, hanya Mengedipkan bahunya, cuek. Dan memilih duduk tenang setelah mengisi piringnya sendiri. Risma dan Bima tersungging geli kompak dengan gelengan kepala untuk Radja.
Senja dan Biru hanya mengaduk aduk isi piringnya. Kalau Senja dalam keadaan tidak nafs*, Beda dengan Biru....Hulk Mentari itu sedang menahan rasa mualnya dan juga perih di bibir. Dan Langit yang melihat Senja cuma mengaduk saja, Menarik piring Senja dan memberikan suapan paksanya. Ia tidak mau melihat Senja semakin lemah dalam kemabukannya.
""Hulk ayo di makan ! Biar aku suapin !""
Mentari menyodorkan satu suap ke arah mulut Biru, Memang itu kebiasaan Mentari, kata Hulk-nya, mualnya berkurang kalau suapan itu berasal dari tangan istrinya, Entahlah... Mentari pun kagak mengerti, itu modus atau sesungguhnya. Tapi Mentari suka kalau Biru pun manja kepadanya.
""Aku bisa sendiri sayang, makan lah yang banyak."" Tolak Biru lembut untuk pertama kalinya. selain mual, ia pun menghindari makanan yang bisa menimbulkan perih di bibirnya yang terluka karena ulahnya sendiri.
Mentari menyerinyit, pas detik itu pun...ia baru menyadari kalau bibir Biru sedikit aneh terlihat.
__ADS_1
""Hei, Bibir mu terluka ? kenapa ?""
Penuturan Mentari menimbulkan mata ke arah Biru kompak, Reflek Biru memegang bibirnya sendiri. Ketahuan ! Batinnya. "" Ini ya...mm, Tadi terkena Jab dari Langit waktu latihan bela diri."" Biru mendelik ke Langit, Seakan-akan minta bantuan. Namun yang di lirik kagak paham.
""Aku...Mana ada ! Yang ada aku yang terkena Jab mu, Lihat lah rahang ku, sedikit memar !"" Tepis Langit akan tuduhan Biru. Karena Mentari sudah melototi nya seram, Lebih seram dari pada delikan Biru.
Saolaah...Kagak bisa di ajak Kompromi amat si Ulat...Batin Biru ingin menjitak kepala Langit. Namun jauh di tangan.
Pfufufu... Mentari hanya bernafas berat, membiarkan Biru untuk tidak makan.
Makan siang pun berlangsung cepat, Biru beranjak menyusul Mentari yang terburu buru meninggalkan tempat makan.
""Jangan mengikuti ku, Hulk !""
""Cibikkan bibir mu !"" Pinta Mentari. memaksa tubuh besar Biru untuk duduk di bangku taman. ia berniat untuk mengobati bibir suaminya.
""Petite, Kamu semakin seksi saja ! apalagi sedang marah ! kita ke kamar saja yuk !"" Biru mencoba mencandai dengan rayuannya. Matanya pun tak lupa berkedip jenaka.
""Tidak ada ya ! Rayuanmu kagak mempan..Aku tidak suka melihat ini "" Tunjuknya di bibir Biru yang terluka. "" aku baru sadar kalau aku memang menikahi Hulk raksasa seperti mu, aku tahu...ini pasti hukuman bodoh mu tersendiri yang tersebabkan karena adanya bentakan keras untuk ku yang seharusnya aku memang pantas untuk di marahi."" Sembur Mentari marah dengan tingkah emosional suaminya. ""Cibikkan bibirmu, Hulk !"" Pintanya kembali. Biru malah menggeleng dengan senyum manisnya.
""Aku suka kalau kamu memarahiku dengan adanya dominasi perhatian, aku sepertinya rela deh terluka tiap hari demi mendapat perhatian lebih dari mu !"" Biru kembali merayu. Tangannya berangsur mengusap lembut perut Mentari yang berdiri marah di hadapannya.
"Yaaak, jagah bicara mu ya tuan muda Sunjaya, Kalau kamu terluka dalam kesengajaan sendiri, Lagi. maka aku akan berpuasa bicara dengan mu."" Ancamnya tak suka dengan penuturan Biru yang asal nyamplak saja.
__ADS_1
""Aku tidak suka melihat mu sakit atau tergores Hulk, Begitu pun dengan mu terhadap ku kan ?! jadi jangan bicara sembarangan."" Suara Mentari mulai lembut mencondongkan wajahnya ke hadapan wajah Biru, Meniup niup sayang ke bibir Biru. Padahal Biru sebenarnya tak terlalu menghiraukan luka kecil itu, Ia merasakan perih jika hanya terkena makanan khusus saja seperti berasa pedas, misalnya. Tapi... Disini, Biru berusaha untuk mendapatkan Sesuatu.
"" Minta di kecup Petite, Di tiup atau di obati antiseptik kagak mempan deh, Pakai saliva mu pasti cepat sembuh, percaya lah dan cobalah?! "" Biru kembali memodusin kenaifan Istrinya. Rasa rasanya, hidupnya akan hambar tanpa sehari saja menggoda kekasih halalnya.
""Begini kah ? Cup ! Apakah sakit !"" Kecupnya singkat.
Yaaaak di kecup doang.
""di jila* sayang !" pintanya nakal. Mentari bergidik ngeri. Ni laki sebiji nafs* nya kagak ketulungan. Batinnya.
Apakah harus di tempat terbuka begini ? Batinnya malu, Matanya pun menangkap keberadaan Senja dan Langit di balkon paviliun sedang menatap mereka dari atas.
""Jangan di sini, banyak mata... Malu. kita kekamar saja !"" Ucap Mentari berlalu. Biru di belakang meninju udara bersorak Yes dalam hati, sedikit melirik keberadaan Langit dan Senja. Terimakasih bro !
Di kamar, Mentari dengan polos langsung mengobati bibir Biru dengan cara yang di inginkan suaminya.
Call me Egg Hand kalau si Sagara ini kagak menang banyak... Batinnya nakal panas dingin sudah merinding tak kuat menahan hasrat yang tetiba muncul.
Seraya bertukar saliva dengan lembut, Tangan Biru sudah menjalar kemana-mana di tubu* Mentari yang semakin hari semakin montok saja, bahkan buah yang menggantung di tubu* Mentari semakin menggoda saja untuk di sesap.
"Hulk, kamu memang nakal... Sumpah !"" Mentari baru engeh kalau Biru menginginkannya di siang bolong begini.
""Nikmati saja sayang, ini hari libur untuk bekerja...tapi tidak untuk yang satu ini... kamu membuat ku kecanduan...ini...ini...dan ini, semuanya halal untuk ku... untuk di jamah selama aku mau."" Biru mengecup titik lemah wanita untuk membangkitkan hasrat tepat di Curug leher belakang telinga Mentari. Tangannya pun sudah bermain lembut di bukit kembar.
__ADS_1
Dan di siang bolong itu terjadilah suara ah uh ah dengan saling piling pilingan satu sama lain... bersyukur di setiap kamar mewah rumah Batara di beri pereda suara... kalau tidak ! tahu sendiri suara Laknat mereka akan terdengar sampai keluar.