
Sementara di pagi hari kediaman Biru.
Mentari melenguh di dalam pelukan Biru dengan tidur di atas lengan Suaminya. pergerakannya membuat Biru terbangun pula, yang semalaman hampir terjaga karena menjaga dan mengompres Mentari sampai subuh tiba.
""Pagi sayang."" Senyum Biru dengan sedikit mengibaskan tangannya yang terasa kebas karena kepala Petitenya terlalu nyaman tidur di sana.
""Pagi."" Mentari menarik langsung tubuhnya untuk duduk. Namun kembali di tarik oleh Biru sampai rebahan. ""Saya mau mandi, lalu menyiap kan sarapan"" Dingin Mentari menjelaskan. Biru menyerinyit, mengingat racauan istrinya semalam.
""Hem, Biarkan saya yang menyiapkan sarapan, kamu tidak boleh mandi dulu, masih demam, apa lagi kerja."" Tolak Biru tidak mengijinkan dengan kelembutan. ""Dan kamu kenapa eum ? biasanya tak dingin kepada ku, Apa saya punya kesalahan yang tidak ku sadari, Jelaskan lah, dan maaf kan saya kalau saya punya salah."" Biru mengungkung pergerakan Mentari yang bermimik cemberut sedih.
""Apa maksud racauan mu semalam.... Jangan khianati aku ! siapa yang mengkhianati mu, Sayang ?"" Tanyanya mengintimidasi.
""Minggir lah, tuan Sagara... tubuh mu berat !"" Mentari enggan untuk mengeluarkan uneg-unegnya. Biarkan Biru sendiri yang berpikir.
""Tidak mau, ayo katakan ada apa, dulu ?"" Kekeuh Biru.
"Minggir, saya mau kerja. !"" Mata Mentari memberi tatapan dinginnya. Membuat Biru semakin yakin kalau istrinya ini sedang ada masalah.
""Petite, kamu membentak ku.!"" Sedihnya. ""Salah sa---?""
""Kemaren kamu sedang bermesraan dengan wanita lain di Cafe. Salah atau tidak ?"" Ketus Mentari, ceplos sudah keluar yang di tahannya Sedari malam.
Biru berpikir sejenak, memang dirinya ke Cafe kemarin bersama Dito. Tapi...
""Hahaha, oh, ternyata istri imut ku sedang ngambek cemburu."" Biru malah menggoda dengan tertawa geli. membuat Mentari dongkol.
Mentari mendorong dada Biru agar segera menjauh."" minggir lah, nafas ku sesak."" Bohongnya.
Biru tak menghiraukan, ia malah menciumi istrinya selebar wajah itu yang masih ngambek. Ternyata istrinya lucu juga kalau ngambek...bukan lucu lagi, melainkan seram.
""Sagara !"" sentak Mentari. Biru semakin nakal langsung melamu* bibit mungil itu.
""Dengar ya istri ku, wanita kemarin itu salah orang, Dia mengira saya itu adalah kekasihnya yang datang datang meluk saya. Begitu sayang ku, kalau tidak percaya maka tanyakan lah ke Dito."" Biru tersenyum manis saat Mentari langsung menatapnya yang tadinya enggan melihat wajahnya.
__ADS_1
" Benar ? apa kamu tidak berbohong ?"" Tanyanya. ada kelegahan di hatinya.
""Sumpah, saya rela mati sekarang juga kalau saya berbohong."" Sumpahnya bersungguh sungguh. percuma juga hidup kalau dirinya di Jauhi oleh Mentari, apalagi membayangkan kalau Mentari sampai minta pisah. Amit amit ya Allah.
""eum, percaya...Saya percaya dan maafkan saya juga karena sudah meragukan mu."" Sesal Mentari memeluk leher Biru sampai tubuh Biru semakin menghimpit istrinya. ia kembali menetes kan air matanya, Entah lah...ia jadi cengeng jikalau menyangkut Suaminya.
Biru bernafas lega, Dan berharap kejadian kemarin memang wanita itu salah orang...ia jadi curiga... kenapa wanita itu main peluk saja, dengan alasan konyol...dan kenapa pas sekali dengan mata istrinya langsung melihat kejadian itu.... mesti di selidiki. ujarnya dalam hati.
...****...
Langkah Senja yang sedang berkeliling di lorong produksi parfumnya seakan ada yang mengikuti. Saat ia melihat kebelakang... tidak ada siapapun.
""Aneh, apa perasaan saya saja kali ya, atau itu Hanya karyawan ?"" Gumamnya dan semakin mempercepat langkahnya masuk ke ruangan inti Lab pembuatan racikan parfumnya. Di dalam sudah ada Satria, Langit juga Bang Sam.
""Ni, otak ide sudah datang... profesional dong...!"" Protes Ketus Langit. Mau bekerja tak mengerti akan racikan oil macam macam haruman bunga dan oil Nilam harus di apakan.
""Maaf !"" Lirih Senja. Entah kenapa, hatinya berubah menjadi tidak enak saat di lorong depan. Ia yakin...ada mata yang sengaja memperlihatkannya. Senja menangadakan matanya saat ada gerakan kardus tiba tiba di atas rak tepat di atas posisi Langit berdiri.
Bugh...
Praaaang...
Kardus di atas rak tinggi, terjatuh menimpa punggung Senja. Harusnya yang terkena adalah Langit...cuma Senja reflek dari berdirinya berlari mendorong kursi beroda yang di duduki Langit. tapi naas, Senja yang tertimpa kardus yang berisi botol botol cantik parfum hasil rancangannya.
""Itik, Senja, Bos cantik !"" Pekik Langit, Satria dan Bang Sam.
""Aww ! hais !"" Senja merasakan punggungnya berdenyut sakit, cuman di tahannya. Ia kembali mendongak menatap rak kardus yang rapi tak ada angin tapi kenapa bisa terjatuh. Pikirannya jadi parno, padahal tidak mungkin kardus itu jatuh dengan gampangnya hanya karena angin...memang di tempat duduk yang di duduki Langit adalah tempatnya bekerja dalam bereksperimen dalam meracik Sample ide parfumnya.
""Lo tak apa ?"" Langit ingin membantu Senja berdiri. Namun Senja menolaknya karena masih sakit di bagian punggungnya.
Satria dan Bang Sam hanya diam dengan kecemasan akan punggung Senja. Pasti sakit. pikir mereka.
""Naik Bodoh !"" Ada kecemasan juga di nada Langit. Senja terluka karena menyelamatkan dirinya. Ia berjongkok menyuruh Senja naik ke punggungnya. Karena kalau ia meraup tubuh Senja dan menggendong tubuh semampai itu dari depan maka Pasti punggung itu akan semakin sakit tersentuh oleh tangannya yang menggendong.
__ADS_1
""Naik."" Pinta Langit Lembut saat Senja hanya diam tak bergerak. jujur...Senja merasakan sakit karena isi kardus itu berisi berat.
"Baiklah ! Antar Saya pulang saja, perasaan ku tidak enak." Jujurnya. Langit langsung berjalan saat Senja sudah berada di punggungnya. Namun ia kembali berbalik. ""Bang Sam, tolong rapikan kardusnya dengan benar... jangan sampai ada kejadian seperti tadi lagi, membahayakan."" Titah Langit tegas.
Bang Sam mengangguk takzim. ""Baik, pak !""
Senja meneliti orang yang sekarang menggendongnya, dengan senyum tipis tak sadar.
...****...
Hari ini Mentari menurut manis, tidak berangkat bekerja karena larangan dari Biru. ia merasa bosan di rumah tak ada yang bisa di kerjakan.
Mentari tersenyum manis tiap langkahnya dengan rantang kecil berisi makanan untuk makan siang Suaminya. Ia ingin memberi kejutan ke Biru dengan cara mendatangi kantor itu. Ini pertama kalinya ia datang ke gedung itu selama menjadi nyonya muda Sunjaya.
sapaan sopan berdengung di telinganya, Rupanya Suaminya itu sudah mengumumkan bahwa dirinya adalah istri dari pemilik kantor ini.
""Bang Dito !""
Dito yang berjalan di lorong sepi berhenti, menengok keasal suara.
""Ibu Bos !"" Sopan Dito, sedikit terkejut akan kehadiran istri Bosnya.
""Suami saya ada kan di ruangannya ?"" Nada itu penuh dengan kesopanan. hatinya tidak pernah tinggi sombong dengan apa yang di milikinya sekarang.
""Ah, Bos ya ! Bos tidak ada, beliau ada di pabrik, Turun tangan atas produk baru yang akan di luncurkan dalam bulan ini."" Jelasnya sopan.
"Oh, Ya sudah... terimakasih ya Bang Dito. Saya akan ke sana, sekalian mau melihat produk baru kalian. !"" Pamitnya berlalu pergi. dan langsung mengambil jalan pintas sepi menuju ke pabrik yang terhubung dari kantor suaminya.
Dito sendiri langsung berlalu terburu buru karena tugas dari Biru sudah menunggunya.
Sekarang giliran Lo, Mentari...
Dari belakang , Langkah Mentari ada yang mengikutinya tanpa sepengetahuan wanita itu, Wajahnya begitu apik tersembunyi dengan pakaian hitam, hanya mata tajamnya yang terlihat, Seraya melangkah...Orang Misterius ini memperhatikan lorong pintas yang benar benar sepi dari orang karyawan kantor maupun karyawan bagian pabrik.
__ADS_1