
Mentari baru saja menyelesaikan meeting nya dengan klien barunya di temani Gema di luar kantor, tepatnya di Cafe yang memiliki VIP room . Kaka dan adik sepupu ini memang terlihat kompak dalam pekerjaan... layaknya seperti Radja dan Dewa di eranya. itu yang di pikiran polos Mentari tidak pernah menilai buruk orang kecuali keburukan itu sudah terpanggang di mata...jelas ia akan mengaum.
""Kak Gema ! Setelah ini, Saya langsung ke kampus ya ! tidak apa apa kan, saya pulang lebih dahulu" Ujar Mentari, mengingat jadwalnya di kampus pun lagi deadlines.. Berbicara pun Seraya mengunyah makanannya, terburu-buru.
""Eum... Sisanya serahkan padaku !"" Tepuk Gema akan pucuk kepala adik sepupunya. dan setelahnya malah Gema yang pergi duluan meningkalkannya.
Mentari memicing, menatap punggung Gema yang akan keluar dari VIP room . Seketika ia mengingat laporan keuangan dari Gema yang mendapatkan keganjilan angka angka di sana.
Ah, tidak mungkin kak Gema memalsukan laporan keuangan, buat apa ...? Herannya. akan memeriksa ulang kembali. Nanti.
Tak ingin lama lama, Mentari pun beranjak keluar room, matanya tak sengaja mendapati orang yang berpostur mirip Biru di salah satu kerumunan pengunjung Cafe... Oh, Astaga...apakah itu Hulk ku ? Berpose mesra.! hah, tidak mungkin ! bersama.... Entah, Mentari tidak tahu... siapa perempuan cantik itu. Hati Mentari getar getir...Semoga saya hanya salah orang. Harapnya.
Saat Mentari ingin menghampiri, tetiba... dirinya di tubruk oleh seorang pria bertubuh atletis dengan penampilan kasual santainya. Hampir tubuh mungilnya itu terjerembab jikalau pria ini tidak langsung menahan pinggangnya, penuh posesif.
Pengunjung dan Biru pun melihat adegan itu, tapi Biru tidak melihat wajah perempuannya yang tertutup badan kekar sang Pria.
""Maaf mba !"" Sang pria tak banyak berbicara, Setelah meminta maaf, ia pun pergi dengan seringai misteriusnya. Mentari pun hanya cuek...tak curiga apa apa, bahkan ia tidak mengabsen betul bentuk wajah itu.
""Aih, Hulk...Mana ?"" Heran Mentari. Tadinya kan ia melihat jelas postur yang mirip Suaminya ada di antara pengunjung. Tapi... sekarang hanya ada kekosongan.
Mengingat akan ada kelas dalam beberapa menit lagi, Mentari terpaksa meninggalkan cafe tanpa mencari orang yang berpostur tubuh suaminya. Dan Mentari juga menepis hal buruk yang timbul tetiba di otaknya.
Itu bukan Hulk ku, itu mungkin orang lain yang sekilas mirip saja... Tepisnya tak mau curiga.
...*****...
Saat di jalan, Mentari yang ingin ke kampus seketika berubah haluan menuju kantor Senja. saat menerima telpon dari Bang Sam. Mentari mendengar kabar burung dari Bang Sam jikalau kakanya itu telah menikah dengan pria tidak normal alias mempunyai penyimpangan seksual bin Ga*. Senja memang buka bukaan cerita dengan Bang Sam, yang sudah di anggap sahabat pun oleh kakanya Mentari itu.
__ADS_1
""Bang Sam."" Sapa Mentari yang baru sampai di Lobby. Sahabat rasa saudara itu menjemput langkahnya.""Mana si daeng ?""
""Di Lab ! sedang meracik ide wangi wangiannya.""
Bang Sam pun menggiring Mentari masuk, menuju ke tempat Senja berada. tapi langkah Mentari dan Bang Sam terhenti saat melihat Satria dan Langit, dari belakang seakan akan telah berciuman di pojok ruangan. Namun jika di lihat dari dekat... Langit sedang membantu Satria meniup mata sahabatnya itu yang sedang kelilipan.
""Idih... Macho macho, tapi kelakuan Ga*."" Cibir Bang Sam... padahal dirinya pun sama, tak tahu diri.
Bang Sam langsung memotret adegan mesra Langit dan Satria. Padahal Ia dan Mentari hanya salah paham saja.
Mentari dengan langka sedang menghampiri Langit dan Satria.
""Pak Langit. Bang Satria ?"" Ujar Mentari dengan tatapan jijiknya.
Langit dan Satria menoleh ke samping, dengan tangan Langit masih bertengger mengatup kedua rahang Satria.
""Me-Mentari !"" Sapa Langit tersenyum kikuk. Satria hanya tersenyum sopan menyapa Mentari.
""Pak Langit ! Saya dengar pak Langit itu Ga* ya ?!"" Ceplos Mentari to the point. "" Tadi saya pun, melihatnya, iiih....pak Langit kok gitu sih..Bang Satria juga, ih. !"" Semprot Cerca Mentari, Galak. "" Terus menikahi Kaka Saya, apa maksudnya coba ? hah ? kata nya Cinta dan Sayang kepada Kaka Saya, tapi kok kelakuannya gila ! kan kasian Kaka saya yang tidak bisa merasakan apa itu MP. Padahal enak Lho pak, rasanya ? Biru saja ketagihan ! Coba deh."" Polosnya memberi arahan ke Langit. padahal tanpa di kasih tau pun, Langit sudah sering merasakan nikmatnya berzin.
Satria hanya tersenyum geli atas semprotan Mentari yang panjang Lebar mencibir Langit. Langit langsung tertunduk malu... Aduh, ini kanapa malah bocor ke Mentari sih ? Si itik, ember juga ternyata.
"Bang Satria juga ! kenapa masih mengganggu pak Langit, Bang Satria kan tahu, kalau beliau sudah punya istri sekarang. Tobat Napa !"" Mentari memukul keras kepala Satria menggunakan buku pengantar tebal pelajaran bisnis. ""Rasain !"" Bukan hanya sekali, tapi Mentari memukul Satria berkali kali.
""aduh, aduh.... Mentari istri terimutnya Sagara ! Sudah dong, Sakit ni....!"" Ampun Satria, bersembunyi di belakang tubuh Langit. Langit tersenyum geli tertahan melihat Satria di pukuli oleh perempuan kedua yang sempat mengisi hatinya.
""Tidak, saya belum puas ! Bang Satria itu pelakor tau nggak, Saya sarankan ya... mending Bang Satria menjalin hubungan saja bersama Bang Sam, saya dukung kalau Bang Satria bersama dengan sahabat saya.""
__ADS_1
Bang Sam langsung tersipu mau, Setuju pakai banget akan ide Mentari. Mengedipkan mata genitnya ke arah Satria yang di balas kedipan bahu jijik oleh Satria. ini semua karena Lo, Langit...sialan lah...ah, hidup gue jadi jijik begini sih. Stres Satria.
""Stop, Stop....Stooop !"" Langkah Mentari yang masih agresif ingin memukul pelakor laki laki, di hentikan oleh Langit dengan cara menahan tangan Mentari. Senja yang baru keluar dari ruangan, melihat tangan adiknya di pegang oleh Langit, seketika murka.
""Ada apa ini. ?" Suara tegas Senja mengheningkan ruangan.
Langit spontan melepas pegangan lembutnya di tangan Mentari. Masalah datang...!
""Daeng, Tadi saya melihat mereka berciuman...Tapi saya sudah menyemprot mereka."" Adu Mentari polos. Senja melirik Bang Sam yang sedang tersenyum bodoh. Maaf Senja, gue keceplosan memberi tahukan ke Mentari, saking terkejutnya Mendengar pak Langit tampan ini adalah ga* seperti gue.
""Ngomong apa kamu dek ! ngaur di siang bolong !"" Kelit Senja. Jangan sampai ketahuan kalau pernikahan ini hanya pura pura baginya.
""Mereka ga* Lho Daeng, Sumpah...saya lihat mereka ciuman penuh kemesraan."" Ungkap Mentari menggebu-gebu. Mentari kasihan akan nasib kaka tersayangnya ini.
""Mana ada sayang !"" Kilah Senja. mendelik tajam ke arah Langit, agar mulut tajam itu kali ini diam dahulu agar adiknya tidak curiga. ""Percaya sama daeng, yang Kamu lihat itu hanya salah paham, Percaya ya !"" Jelas lembut Senja. Ia tidak mau kekonyolan Langit sampai ke kuping Rose. bisa bahaya akan kesehatan otak tua Ammanya.
""Saya hanya percaya akan penglihatan mata saya tadi...!"" kekeuh Mentari.
""Mau bukti, kalau daeng ini adalah wanita paling bahagia yang sudah menikahi mantan dosen mu ini ?"" Senja tahu otak penjabaran milik adik lempeng nya ini.
""Eum, jabarkan dengan pergerakan, bukan hanya lisan saja."" Tantang Mentari.
Langit getar getir, saat Senja tersenyum manis kepadanya seraya berjalan ke arahnya.... sedikit dikit.... Langit bisa membaca seringai senyum manis itu...dan biasanya Senja akan kumat liarnya.
"" Ni buktinya..!"" Senja dengan santai dan dengan tenang, mencium mesra bibir Langit penuh kemesraan dalam waktu sedikit lama.
Langit membelalakkan matanya, si itik menciumnya...tapi kok ada dag Dig dug yang tetiba terasa di jantung Langit.
__ADS_1
Huuu....demi apa ? Ciuman pertama gue hilang sudah di bibir Langit mendung ini. Awas kau Langit...ini gara gara ga* bohongan mu.