RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 221


__ADS_3

""Petil mau mama !""


Di rumah Kusuma, Petir Membuat keributan di pagi hari, anak Senja ini tidak mau di layani oleh pengasuhnya dalam berpakaian sampai sarapan pun di tolaknya.


Belakangan ini Senja dan Langit di buat deadline oleh pekerjaan masing-masing yang mengganti kan Chris yang sudah angkat tangan dari pekerjaan, padahal orang tua ini masih terlihat prima dan bugar, Tapi dengan alasan Chris lebih memilih bermain dengan cucunya dari pada harus berkutat di berkas berkas penting perusahaan yang selama ini ia bangun demi kelangsungan hidup enak anaknya, jadi biarkan Langit dan Senja yang sekarang bekerja keras untuk meneruskan usaha usahanya yang dulu dari nol sampai bercabang.


""Petir, Mama sedang ada meeting pagi pagi sayang, Papa mu juga ada urusan penting di pagi ini, jadi.... biar Opa yang mengurus mu ya !"" Lembut Chris dengan tangannya memberi kode ke pengasuh cucunya agar keluar dari kamar Petir saja. Cucu satu satunya ini memang nakal seperti Langit kecil, Yang tidak mau di sentuh oleh orang asing... Bahkan Petir sengaja membuat pengasuh pengasuhnya memundurkan diri karena tak kuat akan kenakalan cucunya.


""Petir sayang Opa kan ?"" Lembut Chris bertanya dengan wajah di buat memelas


Petir manggut-manggut menatap bola mata Opanya.


Walaupun nakal, Chris bisa mengimbangi anak kecil ini, anak kecil jika dalam mood buruk maka orang tua harus pintar pintar merayu lembut,bukan malah memarahinya dengan umpatan nakal lah dan sebagainya lagi.


""Kalau sayang Opa, Petir nurut ya, Kan kasihan Mama Papa yang sudah capek capek bekerja tapi Petir malah ngamuk. Jadi biarkan Opa yang memakaikan baju mu ya cucu manis Opa."" Rayunya dengan tangan Chris pun meraih minyak angin untuk Petir kenakan.


Melihat mata kesabaran Opanya, Petir malah merebut botol angin tersebut. ""Bial Petil Opa, Petil bisa kok !"" Gayanya yang main menumpang kan isi botol itu ke perut polosnya.


Chris terkikik geli akan tingkah bocah ini yang ego nya naik turun. Tadi saja marah marah dengan baju gantinya dia lempar kemana mana.


""Anak pintar, gitu dong ! Opa kan jadi Tersenyum !"" Puji Chris di hadapan berdirinya Petir.


""Tapi Petil mau mama, Papa juga ! Nenek Lose Kemana juga !"" Cerewetnya yang menginginkan Keluarganya berkumpul seperti Keluarga Triplets, irinya. Petir sering mendapat coletahan cerewet si Badai manja, kalau punya bunda itu enak, Mandi di mandiin, makan di suapin, Pakai baju di pakaiin dan tidurnya pun enak yang di ayun ayun dalam jarit kain.


""Nenek Rose, sudah tidak tinggal di sini.. Sudah di bawa lagi sama kakek Radja, Dan setelah sarapan bagaimana kalau kita jalan jalan. Setuju boy ?""


""Setuju, tapi ke lumah kembal ya Opa, Petil mau belkelahi ama Adai."" Pintanya dengan mimik begitu menggemaskan di mata Chris.


""Ralat ya sayang, bukan berkelahi tapi latihan..itu beda lho artinya.. tidak baik berantem sesama saudara, Mengerti Petir.""


Dan kepala kecil itu pun manggut-manggut saja. intinya yang penting ia main pukul pukulan yang di anggapnya Badai itu lawan yang manja tapi selama ini mereka imban dalam latihan. Badai kena tendangan kecilnya, Badai pun dengan mudahnya membalas pukulan jab kecilnya.


""Smart boy !!! Opa suka !!!""

__ADS_1


...****...


Di meja makan rumah Sunjaya, pagi ini terlihat penuh dengan keberadaan keluarga kecil Mentari yang sekarang tinggal di rumah mertuanya.


Vane dan Titan tentu saja tersenyum bahagia dengan adanya ke-lima orang yang ada di hadapannya. melihatnya saja sudah kenyang sendiri perutnya melihat tingkah si kembar yang penurut semua di bawa asuhan menantunya.


""Aaa, Oma suapi !""


Vane salah sasaran, Walaupun dari kecil ia turut membesarkan si kembar tapi ia sering salah kaprah, Topan di anggapnya Badai dan begitu pun sebaliknya.


""Oma, saya Uda besar !!!"" Tolak Topan.


""Aih, Oma salah rupanya, kirain Badai yang duduk di sisi Oma.""


Hahahaha, dan semua kepala itu tertawa bahagia, kecuali Topan yang datar tak suka di goda.


"Pagi semua, Pagi warnanya kaka !!!""


""Dibi, jangan nakal...Nanti pelangi minta pulang ke apartemen bagaimana eum, Biarkan dia tenang memakan sarapannya, Si kembar akan tinggal di sini selamanya jadi kamu anak nakal, tidak boleh nakal ke anak anak Uncle, Mengerti Dibi !"" Warning keras Biru. Anak Bintang itu tersenyum senang akan kabar bagus kalau si kembar akan bertetanggan dengannya, ah...tiap hari menjahili Pelangi adalah hobinya yang akan terwujud mulai hari ini.


""Ya sudah anak anak, Ayah berangkat kerja dulu ya ! Permisi semuanya !""


Setelah di jabat sopan dengan kecupan di punggung tangannya dari ke-tiga anak anaknya, Biru pun berpamitan ke orang tuanya dan Mentari yang melihat Biru sudah beranjak dari kursinya, segera mengekori langkah Suaminya dengan tas Kerja Biru di tangannya.


""Petite, aku kerja ya sayang ! Baik baik di rumah."" Kecup Biru di dahi istrinya setelah mereka sampai di teras.


""Jaga hati dan semangat, Hulk !!!"" Manis Mentari dengan salim di punggung tangan suaminya. di hadiahi Jawilan mesra di hidung runcing kecil itu.


...****...


"" Jum, Bapak jadi ragu kepada Satria !""


Uhuk uhuk uhuk.

__ADS_1


Jum yang sedang sarapan jadi keselak sendiri mendengar kata kata bapaknya.


""Iya !"" Timpal Ibunya pun.


""Kenapa kalian berpikir begitu ?"" Heran Jum.


""Lihat saja sampai saat ini, mereka tidak ada yang datang untuk melamar resmi kan, bapak sama Amma serasa buang buang waktu di kota ini, Untung pekerjaan bapak di ladang sudah Bapak titipkan ke Daeng Ammamu."" Tutur Pak Rahmat.


Jum terdiam tak bisa membela Satria, benar juga apa yang di ucapkan bapaknya, Satria memang terlihat serius kepadanya tapi pertanyaannya, kemana orang tua Satria yang sampai sekarang belum ada yang terlihat di negara ini, Tidak Setuju kah akan pilihan anaknya sendiri, atau Satria Ada teka teki hidup yang ia tidak ketahui. Ah....Jum jadi kemana mana otaknya.


"Sudah lah ! Bapak sama Amma jangan berpikiran buruk, jodohnya Jum siapa pun di depannya....akan Jum terima. Kalau Satria hanya bermain main saja, maka dengan terpaksa Jum harus menanti yang baru kan ! Enjoy your life, bapak ! Bye...Jum pamit !!!"" Santai Jum menampilkan senyum manisnya, berkedok di depan kedua orang tuanya.


Aku harus bicara serius sama Satria sepulang ngantor.


""Woman !""


Astaganaga...Ini bos atu mengagetkan saja ! Kesal Jum, saat membuka pintu apartemen, sudah ada Gema dengan gaya datarnya.


""Ah, Kirain pak Bos pengantar koran !"" Songong Jum, ini kan luar kantor jadi boleh dong sedikit jahil. Batinnya.


""Hem, Bagus.... masalah koran ya, Kamu harus belikan saya koran dari usaha mu sendiri."" Gema pun berjalan menuju arah lift meninggalkan Jum yang mendengus kesal di belakangnya, ia kesini memang sengaja menjemput sekretarisnya ini karena mereka tidak bekerja ngantor hari ini melainkan ke luar kota, mendadak.


""Kantor kan menyiapkan koran pak ! atau sudah tidak lagi ya ? kalau begitu bapak mau berapa lembar korannya, satu tumpuk, dua atau tiga..atau sepabrik."" Goda Jum bercanda.


""Satu lembar saja, Tapi koran lampau di mana penjajahan Belanda berhasil di depak oleh pahlawan kita.""


Nah lho, nah lho Mampus gue !!! Gue kejebak cuy, si kulkas di goda tak ada asyik asyiknya malah ngebuat gue susah. Batin Jum mendumel. Tangan itu pun memencet tombol lift number one.


""Hehehehe, piss pak, bapak harus melempar saya ke masa lampau penjajahan dulu, baru saya bisa mendapatkan koran yang anda inginkan, tidak perlu koran lagi pak, saya akan memperlihatkan langsung perjuangan pahlawan kita dengan cara ini !"" Jum dengan somplaknya menjawab seraya mengeluarkan handphone serbagunanya, meledek Gema yang ingin merekam gaya hebat para pahlawannya.


""Diamlah Woman, kamu seperti radio kusut !""


Hahahaha, gue cuma membelinya mas boss !!!

__ADS_1


__ADS_2