RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 121


__ADS_3

Biru langsung menyerbu pertanyaan ke dokter Farel atas kondisi istrinya. Senja dan Satria pun sama.


""Mentari sudah sadar, tidak ada yang perlu di khawatir kan lebih dalam, selain pingsan kena pukulan, Istri mu juga kekurangan cairan, badannya demam maka itu satu kantong cairan lagi terpasang sekarang, setelahnya...kalian boleh membawa dia pulang !"" Jelas Farel. Memberi kelegahan ke tiga kepala di hadapannya apalagi Biru yang langsung menghirup nafas banyak. "" Kalau begitu, saya permisi, Senja ! Bro.!"" Timpal Farel pamit tersenyum ke Senja dan menepuk sohib ke Satria dan Biru bergantian.


""Terimakasih, Rel."" Ujar Biru. di angguki Farel berlalu.


Senja dan Satria masuk. Biru enggan untuk masuk, karena merasa bersalah....ia malu akan kelakuannya yang tak terkontrol. Biru mematung di luar pintu.


""Tari !"" Lembut Senja menatap sayang dan prihatin adiknya.


""Daeng, Bang Satria.!"" Paraunya menyapa.


""Hai Wanita imut, sudah baikan ?" Tanya Satria. di balas senyuman manis oleh Mentari. ""Sudah, Bang.!""


""Daeng, Mmm...kalian kesini hanya berdua saja ?"" Mentari sebenarnya sibuk dalam hati menanya kan keberadaan Biru.


Senja dan Satria baru sadar kalau Biru tidak hadir di tempat.


"oh, kamu mau di jenguk dua kepala marga sekaligus dek, eum ?"" Canda Senja.


"Apa sih Daeng, tidak juga, Mm..Biru mana Daeng !"" Cengir Mentari dengan wajah pucat cerianya. ""Dan iya...Sampai kan salam maaf dan juga terimakasih saya ke Kaka ipar ya, Tadi Kaka ipar sudah menyelamatkan nyawa saya dari jatuhnya APAR, Tapi suami Tari malah salah paham dan berakhir begini lah."" Jelas Mentari. Seketika beraut sedih jika mengingat kejadian Langit di pukulun Biru yang tak salah apa apa.


Senja dan Satria saling pandang. Satria tersenyum bangga akan sikap Langit... Hatinya tidak lah seburuk itu. Puji Satria ke Langit.


Dua benda berat dalam satu hari terjatuh dengan tidak masuk akal akan jatuh tiba tiba dengan sendirinya. dan itu terjadi akan adanya Langit di tempat....apa ini rekayasa Langit ingin membuat kegaduhan. Dia kan memang ada niat buruk...Awas Lo Langit. Senja mencurigai Langit.

__ADS_1


"Ya sudah, Daeng pulang tak apa ya...Biru ada di depan kok, Kalau bisa marahannya jangan lama-lama ya sayang, karena ini hanya salah paham, Dan kedepannya, jaga diri mu lebih baik lagi, mengerti Mentari !"" Jelas di kira adiknya akan marah ke Biru perihal pukulan.


Mentari mengangguk takzim akan petua kakanya. ""Hati hati ya Daeng, Bang Satria tolong jagain Daeng Saya, ingat... tidak boleh berduaan terus ada setan nanti kata Om Radja, dan Daeng kan sudah punya suami. tidak baik Lho."" Cerewet Mentari menggoda. Senja memberi tatapan galaknya setelahnya pergi. dan Satria hanya tersenyum geli. Seperti Bukan orang sakit...Lucu.


Pintu kembali terbuka dan pelakunya adalah Biru yang berjalan menunduk dengan langkah pelan. Biru benar benar sangat menyesal dan malu akan kelakuannya.


Mentari menoleh dengan kedua alisnya terangkat melihat penampilan Suaminya yang berantakan dan tumben sekali mata nakal suaminya tak berani menatapnya, mata itu hanya tertunduk ke lantai.


"Apa kah saya harus menjadi lantai agar mau di tatap oleh suami ku ini ?"" Godanya dan berhasil, Biru langsung mendongak lurus ke wajahnya.


""Petite, maafkan saya ! maaf, maaf, maaf, dan maaf beribu maaf !"" Nada Biru terdengar parau sedih layaknya sedang manahan sesak dan air mata di hadapan istrinya. Ia menyesal akan kelakuan brutalnya.


Mentari tersenyum tipis, melambai Biru yang mematung di sisi brankarnya. ""Saya mau di peluk !"" Manjanya seraya menarik tubuhnya perlahan yang masih terasa sakit akan bagian bahunya yang dua kali terpental ke tembok.


Biru langsung memeluk erat tubuh istrinya tanpa akan tahu kalau ia lagi lagi membuat Mentari merasa kan sakit. ""Saya takut Petite, sangat takut kamu kenapa kenapa karena ulah saya sendiri. maafkan saya, Petite !"" Sesalnya tak berhenti.


""Iya, tapi jangan erat erat, badan dan nafas saya tidak bersahabat sekarang.""


Biru seketika melepaskan pelukan eratnya. dan menggantikan kecupan demi kecupan ke selebar wajah istrinya.


""Aww."" Spontan Mentari terpekik, setelah Biru mengecupnya sayang, Tangan kekar Biru berhenti memegang kedua bahunya, dan salah satu bahunya terasa berdenyut.


""Kenapa ?"" Biru langsung memeriksa bahu Istrinya dengan cara membuka satu kancing baju longgar khusus pasien. ""Petite, bahu mu...? apa ini ulah ku juga ?"" Tanyanya kembali bersalah saat melihat bahu itu memar berwarna ungu kebiruan.


Mentari mengangguk. "" Satu kali terhempas pergerakan hulk ku, satu kali terpentur karena tarikan dari pak Langit agar saya terhindar dari jatuhnya APAR."" Jelasnya agar Biru tidak salah paham lagi ke Langit.

__ADS_1


"" APAR ? Jatuh sendiri ?"" Tanyanya terkejut dengan pikiran tidak masuk akal. Biru semakin curiga ke Langit yang merekayasa semuanya. Tidak mungkin bisa terlepas jikalau bukan ada tangan jahat.


"" Iya !"" Mentari melirik tangan Biru yang terlilit perban medis. Ia meraih tangan itu dan mengecupnya sekilas. "" Apa ini ? Kamu melukai diri sendiri, eum ? Apakah kamu sudah bosan menjaga ku, Sayang ? kalau kamu pun terluka siapa yang akan menjaga Istri mu ini ?"" Mentari menjawil keras pipi Biru hingga merah. sebagai hukumannya.


Biru tersenyum teduh. ""Saya sangat mencintai mu, Mentari ! Tetap lah bersama ku sayang, maka hari dan kondisi apapun akan selalu baik dan indah walaupun hidup ku dalam keadaan sakit ataupun lagi susah.""


""Manis amat si suami ku ini. Sini saya peluk lagi. dan janji akan seperti ini terus.. tetap menjadi Hulk yang menyeramkan."" Godanya dalam dekapan hangat itu. Mentari malah tidak marah sudah mendapat pukulan Suaminya yang tidak sengaja... Justru ia bangga akan Biru yang terlalu mencintainya sehingga murka hanya karena melihat Langit menyentuh kulit Tangannya.


...****...


Biru keluar dari ruangan Mentari saat istrinya itu sudah terlelap istrihat. Ia sengaja tidak memberi kabar tidak bagus ini ke Rose atas perintah Senja. Di luar ruangan sudah ada Dito, tangan kanannya.


""Dit, Mana laptopnya yang saya minta.""


""Ini Bos, barangnya.""


Biru meraihnya, duduk di kursi tunggu dan langsung mengoprasikan. Ia mengecek CCTV tepat di lorong kejadian.


Dito pun terlihat memperhatikan rekaman video itu, Mereka memicing dan saling pandang saat tidak mendapati hal mencurigakan di sana.


""Ini bukan CCTV aslinya Dit, sial ada yang sedang bermain main di belakang kita."" kesal Biru menutup rapat laptopnya dengan kasar. Ia menyadari kalau rangkap keamanan CCTV nya sudah di retas oleh seseorang. Matanya dan mata Dito hanya melihat Mentari di selamat kan oleh Langit dengan menit dan detik separuh rekaman video sudah di potong bin di hapus oleh seseorang.


Biru, Lo memang nggak bisa di remehin...Lo begitu jeli menyadari permainan halus gue... it's ok, no problem...Gue akan lebih bermain cantik lagi di belakang kalian.


Lagi lagi, Suara hati itu terucap lirih dari kejauhan duduknya Biru dan Dito dengan pakaian misteriusnya.

__ADS_1


__ADS_2