RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 130


__ADS_3

Berbeda dengan malamnya Biru dan Mentari. Demi membuat Sena percaya seratus persen kalau rumah tangga mereka sedang dalam masa di ujung tanduk. Mentari dan Biru benar benar pisah rumah. Mentari tinggal sendiri di apartemen milik peninggalan Dewa, Sementara Biru tetap menetap di unit apartemennya sendiri.


Aih, menyiksa kalau begini terus ! Biru mencoba untuk tidur dengan guling di dalam dekapannya, berkhayal kalau yang sedang di peluknya adalah tubuh Petitenya.


Ah, Dito juga lama amat sih kerjanya di luar Negeri. Belum ngasih kabar sampai sekarang. Dumelnya menginginkan cepat cepat mengakhiri akting konyol yang terasa menyiksanya, yang tidak bisa lama lama berjauhan dengan Mentari.


Padahal Dito saja jika di hitung hitung jam, baru sampai di negara panda itu dalam kira kira dua jam-an kurang lebih. Sementara tugas Dito lumayan berat di sana, harus mengelabui privasi rumah sakit yang entah apa hukumannya jikalau ketahuan untuk membobol kedop data Sena. di tambah Dito di seberang sana juga harus mencari tempat produksi obat herbal berbahaya itu untuk di hancurkan atas perintahnya.


Biru mendail kontak Mentari dari rebahannya. Berbicara dalam video call mungkin mengurangi rasa rindunya yang gunung itu. padahal belum dua puluh empat jam mereka berakting berpisah, tapi....beeeh, rindunya sudah dua gunung berbukit tinggi... padahal ia rindu akan bukit kembar milik Mentari. Mesumnya.


Tut...Tut... Tut...


Di layarnya hanya berstatus memanggil saja bukan berdering, Pertanda Petite lagi dalam mode irit Kouta.


Istri bos kok menyedihkan sih ! Dengusnya akan kebiasaan buruk Mentari yang selalu menonaktifkan data nya kalau sedang tidak di butuhkan.


Biru pun bangkit kasar dari rebahannya. Bodoh amat dengan anak buah Sena, Gue beri Lo pada kalau di jam larut begini masih mode mengintai istri gue. Kesalnya sendiri seraya menyambar Hoodie tertutup untuk berkedok nantinya, ia berniat pergi ke gedung apartemen istrinya. Biru tidak akan bisa tidur sebelum bermesraan terlebih dahulu bersama Mentari, Mentari sudah menjadi candunya.


...****...


Sampai di gedung apartemen Mentari, Mata Biru mengerlyatkan matanya setelah keluar dari lift, ia melukis smirk setannya saat ekor matanya menangkap sosok menyebalkan minta di beri hadiah bogeman. Dua orang masih setia mengikuti istrinya.


""Tidak bisa di biarkan lama lama, bisa bisa istri gue malah dalam bahaya."" Biru mendekat dengan jalan santai songongnya, ia akan memberi pelajaran kepada dua kepala botak cilok ini.


""Hay, mau hadiah ?"" Ujar Biru. Belum sempat kedua kepala botak bersuara, Biru sudah memberi mereka gerakan mematikan di area tengkuk orang tersebut secara bergantian dengan pergerakan cepat seperti angin.


""Baru segitu sudah KO."" Biru menendang nendang kecil anak buah Sena dengan songong untuk memastikan mereka itu sudah pingsan apa belum. ia pun menghubungi anak buahnya untuk membereskan kecoa tersebut. dan menyuruh anak buahnya untuk menyamar sebagai pengganti orang yang sudah terkapar di lantai ini.

__ADS_1


""Dengan menelusup kan anak buah gue kan, Jadi mudah urusan ku untuk mengetahui pergerakan Sella atau siapa pun dia. Tunggu saja gilaran mu !"" Gerutu kesal Biru ke orang yang sudah menjamah zona nyamannya.


Biru sudah berada di depan pintu unit apartemen milik Mentari, mengetuk pun sudah. Tapi kenapa tidak ada respon dari dalam ? Sejurus kemudian ia menepuk jidatnya konyol. Kenapa tidak langsung membukanya saja ? kan ia tahu kode pintu ini.


Sementara Mentari di dalam sedang getar getir saat mendapat ketokan pintu di malam larut begini. Semakin waspada saat Mendengar tombol di luar sedang ada yang mencoba menerobosnya.


Dengan Takut takut, Mentari sudah bersiap siaga memegang sapu di tangan sebagai senjatanya kalau orang yang di luar bisa berhasil melewati pintu berpinnya, Mentari tidak menyadari kalau pinnya itu sudah di ketahui oleh Biru dari awal jadi ia tidak berpikir kesana. Awas ya, saya beri jurus ala ala Mentari Chan.


Ceklek....


Bugh...""Ni Rasain !"" Mentari menyerang langsung bagian punggung lawan karena ia tadinya bersembunyi di balik pintu yang baru di buka oleh Orang ini alias suami sendiri.


""Aduh..""


Bugh...""Rasain lagi."" Pindah ke bokon* lawan, Rasa panik takut membuatnya tak sadar siapa yang di pukuli.


Bugh...Bugh...Bugh ..""Rasain jurus sapaku."" Mentari terus memainkan sapunya ke tubuh orang yang sedang berhoodie hitam tertutup sampai ke kepala lawan, ia tidak fokus dengan suara yang sedang beraduuuh ria meringis.


""Aduuuuh ! Petite...Petite ! Stop ini aku sayang. Suami mu yang paling Tuampan, cakep dan manjaaaaaa hanya kepadamu saja !"" Biru cepat cepat membuka topi Hoodienya saat Mentari masih saja menggebu Ingin memekulinya.


""Hah ? Hulk ? kamu ? sa---- Uh, hampir saja pedang kramat mu saya sodok pakai sapu sayang."" Cengir Mentari merasa bersalah sudah memukuli suaminya.


Reflek Biru melihat ke tubuh bagian tengahnya, menggeleng ngeri, No..No..No..."" Aduh, Sayang ! kamu ternyata membahayakan juga, kita belum punya anak lho, kalau pabrik produksinya pecah, bagaimana coba ?"" Ngeri Biru akan keadaan si Otong-nya kalau tadi berhasil di serang Mentari pakai gagang sapu. berabe, koid !


""Hahaha, maaf !"" Mentari tergelak seraya berhamburan ke dekapan suaminya yang lagi cemberut. ia juga merindukan napasnya ini. ""Ngapain kesini, eum ? kangen ya ?"" Godanya memainkan alisnya naik turun.


Biru menggeleng geleng. ""Siapa yang kangen, ke PD-an. Hulk mu kesini mau numpang makan ?"" Candanya menjeda.

__ADS_1


""Makan ? Oh, kirain kangen ! nanti ya, Istri mu akan membuat kan ma---!""


""Makan kamu sayang !"" Tengil Biru langsung meraup tubuh mungil Mentari tetiba.


""Hais, nakal ya ! untung jantung ku kuat, kalau tidak ! bisa bisa mati muda karena jantungan"" Pukul pelan Mentari di bahu Biru, sejurus kemudian ia mengalungkan tangannya di leher Biru sebagai topangannya. ""Tidak ada ya nakal nakalan malam ini ! kamu saya hukum karena membuat ku cemburu pas kamu berada di dalam lift bersama Sella. idiiiih...ininya bekas kulit Sella !"" Delik Mentari ke tangan Biru yang tadi siang sempat memapah wanita lain. ""Turunkan saya !"" Pintanya dengan mengguncangkan kakinya.


Biru tersenyum geli seraya terus berjalan ke arah kamar. ""Wajah mu sangat nikmat di makan sayang kalau lagi sedang cemberut begini, menantang untuk di taklukan !" Godanya. Menaruh tubuh Mentari dengan sayang kelembutan di atas ranjang. Setelahnya Biru ikut dalam peraduan itu.


""Hulk, jangan lama lama ya ! Hatiku tidak tega memperlakukan mereka dengan tidak baik, apalagi ke Daeng, ini pertama kalinya saya membuat hati daeng kecewa."" Nada Mentari terdengar berbeda lagi, serius dan tersirat kesedihan di sana. Memeluk Biru dan menyembunyikan wajahnya di dada Suaminya.


""Tidak akan lama sayang, Nunggu Dito pulang membawa bukti dari dua rumah sakit yang ada di Cina, Satu keterangan kesembuhan Sena dan satunya lagi keterangan tentang operasi wajah Sena, dan lebih pentingnya...Saya sudah mengetahui siapa orang yang sudah menjadi sekutu Sena.""


Biru berhenti memainkan rambut Mentari saat istrinya itu mendongak cepat dengan wajah penasaran. ""Siapa ?""


""Tante Raisa, mantan nyonya Batara !"" Jelas Biru.


""Sudah saya duga ! hanya dia yang tidak suka dengan Amma. Hukum dia untuk ku."" Marahnya ke Raisa, Mentari kembali menyembunyikan wajahnya di posisi yang selalu membuatnya nyaman, Dada Biru.


""Suami mu ini tidak bisa menghukumnya langsung, karena dia di bawah hukum kepolisian, kita hanya bisa menambahkan waktu hukumannya saja di sana.""


""eum, itu tidak masalah !"" Lirih Mentari mulai mengantuk karena efek sentuhan Biru yang mengelus kepalanya.


Biru nampak berpikir sedikit lama sebelum bertanya ke Mentari. ""Sella ? Hukuman apa yang pantas untuk dia, Sayang ?""


Tidak ada respon. membuat Biru menundukkan pandangannya. ""Yaak, pulas ! aih, kita belum terbang ke gugusan bintang bintang sayang, tapi kamu sudah di alam mimpi.""


Perlahan, Mata Biru juga sudah sepat...tak membutuhkan waktu lama ia terpejam menyusul Mentari ke alam mimpi, karena hatinya langsung damai setelah orang yang di peluknya sekarang ini ada di hadapan mata dengan keadaan baik baik saja.

__ADS_1


__ADS_2