RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 184


__ADS_3

"" Macet parah uih ?""


Langit, Satria, dan Farel di mobil mereka masing-masing menggerutu dengan kemacetan di depannya, mau putar arah terlanjur terjebak di tengah tengah kemacetan.


Senja menurunkan kaca jendela mobil, di beri delikan galak oleh Langit.


""Itik, ngapain ? mau apa ? tutup kembali !"


""Aku hanya penasaran, ada apa di depan sehingga bisa macet begini."" Dalam hati Senja ada rasa gelisah.


""Bukan kota namanya kalau tidak macet !"" Langit mencondongkan tubuhnya ke arah duduk Senja untuk menutup jendela yang setengah kebuka.


Di mobil Satria, Jum uring uringan karena kemacetan di depannya ini, masalahnya ia kebelet pipis, duduk saja seperti orang ambien, risih ! Satria yang melihat itu jadi geli sendiri.


""Yaaaak, Jangan mesem mesem Lo, ahh...Gue nyari toilet dulu ya.. Kagak kuat !""


""Tapi buruan, Ok ! di depan sana ada pom bensin, Tapi kalau nggak ketemu, pipisnya di botol saja, Jum."" Goda Satria dapat plototan seram dari Jum.


Jum buru buru keluar dari mobil Satria, mengambil seribu langkah Setelah kakinya itu menginjak trotoar jalan, menahan pipis itu penyakit, cuy !


Kasian amat ya, kecelakaan mobil di depan...Mana salah satu penumpangnya katanya wanita dalam kondisi hamil besar.


Jum berhenti melangkah, mendengar cakap cakap empati dua orang yang berbablasan dengannya, mendengar wanita hamil besar, pikirannya jadi parno tertuju ke Senja dan Mentari.


Ah, gue mikir apa sih ? Mereka pasti baik baik saja, kan di sampingnya pan ada para pamud super kerennya.


Langkah Jum makin di depan makin banyak orang terlihat sedang mengelilingi dua mobil di sisi kanan kiri yang baru saja tertimpa musibah. Kebelet Jum mendadak tertelan melihat keramaian di depannya. Kepo ? ia pun melangkah cepat ke arah mobil yang sedang berusaha di hancurkan kaca mobil itu.


Tubuh kecilnya begitu lincah menyela kerumunan di hadapannya.


Badan mobil yang tak asing di mata Jum, sedikit membuatnya shock. Mudah mudahan mobilnya saja yang mirip. Batinnya.


Praaaang....

__ADS_1


Tepat kaca mobil berhasil di pecahkan, Jum menjadi lemah tulang, melihat di balik jendela itu, Sahabatnya terpejam dengan darah bercucuran di kepalanya merembes ke wajah imut Mentari.


""MENTARI !"" Teriak Jum di tengah tengah kerumunan, Tidak ada yang memperdulikan itu, massa sibuk meng- evakuasi korban masuk ke Ambulance yang baru datang dari arah depan.


Jum panik bukan main, Rasanya.... Jantungnya pun tiga kali lebih cepat bekerja di dalam sana, Jum berlari ke arah Ambulance, Ia harus ikut menemani sahabatnya. Biru dan pengendara mobil satunya pun sudah di evakuasi di ambulance lainnya.


""Pak, tolong... biarkan saya ikut naik... Korban wanita hamil itu adalah kerabat saya.""


Pintu Ambulance yang hampir tertutup, di buka kembali untuk Jum naik tanpa adanya kata kata yang terdengar dari pria berseragam putih putih khas rumah sakit.


""Hiks...Hiks Tari ! Lo harus kuat...Lo harus mempertanggung jawabkan perut gede Lo ! Lo dengar kan ! Awas saja kalau Lo kenapa kenapa, gue beri Lo, hiks hiks...Sus, tolongin sahabat saya...dia harus selamat Sus !!!"


Satu Perawat wanita, memberi pertolongan pertama untuk Mentari. Perawat itu tak memperdulikan Jum yang sudah terisak isak berceloteh pilu, Suster mencoba segala kemampuannya untuk pasien yang sedang mengandung ini, Kecemasan suster ini pun menjadi dua kali ekstra..karena adanya nyawa pula yang ada di dalam perut wanita hamil ini, Oksigen sedikit dan darah rendah tetiba akan berefek buruk untuk cabang di dalam sana.


Satria yang merasa penumpang spesialnya tak kembali kembali, jadi cemas ! Jalanan kembali terkendali, Tapi kenapa Jum belum sampai juga. Ia pun mencoba untuk menghubungi Jum melalui teleponnya.


""Halo, Kamu di mana ? buruan ke---!""


""Jum, Jangan berca--!""


Tut tut tut.


Shi*, Umpat Satria...Ia kembali menelpon Jum namun tidak tersambung, Pikirannya hanya tertuju ke Langit, Ia pun memberi chat pendek tentang musibah yang dialami Mentari dan Biru yang masih belum di cerna betul oleh otak Satria. Tidak mungkin ! Batinnya tak percaya...Tapi itulah manusia, Sehebat hebatnya manusia jika tuhan sudah memberi kiamat kecil untuk kita, maka Percayalah...Kun fayakun.


Langit seraya berkendara, membuka chat dari Satria, setelah membaca...ia pun melirik Senja dengan tatapan teduh. Ia tidak mau membuat shock istrinya, jadi air mukanya ia atur setenang mungkin.


""Kita kerumah sakit !""


Senja langsung mendongak lurus lurus penuh ke wajah suaminya.


""Buat ?""


Langit tak menjawab, Ia mengetik pesan untuk Gema, Farel, Anita dan juga Titan sakaligus. Kembali menatap wajah penasaran Senja sesekali dalam kemudinya.

__ADS_1


...****...


Malam malam di rumah Batara, Gema tergesa gesa menuju ke kamar Rose untuk memberi tahukan kabar buruk yang di terima dari Langit.


Radja yang melihat itu, menghentikan langkah panjang anaknya. ""Ada apa ?"


""Mentari dan Biru kecelakaan !""


Praaaang.


Rose yang baru keluar dari kamarnya bermaksud untuk mengambil segelas air putih di dapur, terkejut sangat ! Anaknya kecelakaan ? Jantung orang tua itu seakan berhenti berdetak Mendengar kabar buruk ini, Anaknya terluka ? Dan otomatis tiga sekaligus nyawa yang akan terancam, Mentari dan calon twinsnya. Sesak terasa di dada Rose.


""Gema ! Ap- Apa kamu tidak bercanda nak ?"" Sekujur tubuh Rose bergetar hebat, bahkan kakinya melemas seketika, hampir terjatuh kalau Radja tidak sigap menahan kedua bahu itu.


""Tidak, Mak ! Lebih baik kita kerumah sakit untuk memastikannya."" Gema segera beranjak menuju kamarnya untuk sekedar menarik jaket juga kunci mobilnya.


""Rose, kendalikan diri mu, atau aku tidak akan mengijinkan mu ikut !""


Mendengar penekanan Radja, Rose yang shock berat segera mengatur nafasnya dengan benar dan teratur...Tapi tidak bisa ! Nafasnya mulai berat di iringi tetesan air bening yang berguling begitu saja dari kedua matanya.


""Hiks, Hiks... Radja... Mentari ! Tolongin anak ku Dja ! Tolongin !""


Radja mendekap tubuh Rose yang tersedu-sedu pilu, sekedar ingin menenangkan Rose, Tapi jujur...ia pun merasa takut akan musibah ini.


...****...


Di kediaman Titan pun tak kalah paniknya, Vane bahkan pingsan dalam histerisnya. Titan yang melihat istrinya tidak terkendali dengan sangat terpaksa meninggalkan Vane dalam penjagaan Meca dan Fina juga Bintang...Hanya Titan seorang laki-laki di sana, Vero dan Gion serta Dirgan tidak berada di rumah besar, mereka ada tugas masing-masing dalam kerjaannya masing masing pun.


Halo...Dito, Biru mendapat musibah... Selidiki apa yang terjadi sebenarnya !


Baik, Tuan ! Laksanakan.


Titah lewat komunikasi singkat itu terdengar marah tertahan. Hati Titan getar getir mendengar kabar buruk yang menimpa anak semata wayangnya.

__ADS_1


__ADS_2