RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 49


__ADS_3

Mentari mengendap-endap masuk ke dalam pantry dengan mengambil jalan pintas lewat bagian belakang restoran, Sudah di pastikan jika lewat depan, maka akan ketahuan oleh Arkan, si bos ketus. Mentari terlambat.


Mentari mendesah lega, si bos ketus tidak terlihat di pantry. ia pun masuk ke dalam khusus loker, sang teman berbagai staff yang melihat Mentari, hanya menggeleng geli dengan tingkah keterlambatan Mentari.


""Ehem.!"" Dehem Arkan yang entah kapan ada di belakang Mentari yang sibuk mengobrak abrik isi lokernya mencari baju waiters.


Mentari menoleh dengan cengir kudanya. ""Eh..pak Ar-kan.!"" Sapanya gagap dengan ekspresi menggemaskan di mata Arkan.


""Kamu telat, kan?"" Todong ketus Arkan.


""Tidak pak, saya tepat waktu kok, jam delapan teng saya sudah berada di pintu masuk


samping dan sekarang baru lewat lima menit doang."" Bohong Mentari tersenyum pipi Bolong.


"" Kamu tahu tidak kesalahan kamu itu ada dua, pertama kamu sudah telat, ini tuh jam delapan lewat sepuluh menit, sedangkan jam delapan pas sudah harus mulai bekerja, dan kesalahan ke dua, kamu sudah membohongi saya yang mengaku ngaku tidak telat, So ! kamu saya hukum."" Arkan langsung menarik tangan Mentari untuk mengikutinya, mengabaikan tatapan selidik para staffnya.


Mentari sendiri hanya pasrah mengikuti langkah tarikan Bos ketusnya. Tapi ada yang aneh dengan suhu kulit tangan Bos-nya, Panas ! Apakah pak ketus sedang sakit ?


Sesampai di ruangan Arkan. Pria itu melepaskan cengkraman lembutnya di tangan Mentari. Beringsut menghempaskan tubuhnya di sofa panjang sudut ruangan dengan posisi tengkurap. Namun Arkan kembali duduk, membuka kancing kemejanya, membuat Mentari bingung, sejurus kemudian Bingung plus bergetar ketakutan, ini si bos ngapain buka bukaan memamerkan roti sobeknya, Mentari omes..!


""Eh, pak ! mau ngapain, jangan macam macam ya.!"" Galak Mentari menodongkan pulpen yang di raihnya di meja Arkan.


""hahaha..""Arkan tertawa geli. ""Senjata kok pakai pulpen, apa kamu mau menggambar upin ipin di tubuh sixpack ku, silahkan ?!"" Goda Arkan menarik pulpen di tangan Mentari dan langsung memberi titik tinta di pipi bolong gadis itu jika tersenyum. Mentari getar getir, siaga.


""Aku butuh bantuan mu, Tolong kerikin saya, rasa rasanya, tubuh ku menimbulkan rasa tidak enak, mungkin masuk angin.!"" Timpalnya. Arkan kembali tengkurap.


Mengelus dada lega, ternyata butuh di cap merah punggung si bos ketus, Mentari sekilas melirik isi meja, sudah ada koin lengkap dengan soulmatenya, minyak angin. ia pun yakin jika Arkan benar benar butuh bantuan.


Dengan ragu ragu, Mentari memulai memberi tato alami kerangka tulang berulang tengkorak di kulit punggu Arkan.

__ADS_1


""Ish...aww.. pelan pelan dong Mentari ! kamu jadi cewek kasar amat sih !"" Cibik Arkan. ""Merah tidak ?" Timpalnya bertanya.


""Merah, melebihi buah semangka.!"" Malas Mentari. "isinya, ya ! bukan kulitnya !"" Sebelum di protes Arkan, Mentari melengkapi tuturannya.


Di balik rasa perih yang di timbulkan gerakan koin Mentari, Arkan tersenyum senang, demi apa...demam yang di rasakan tubuhnya, tapi hatinya merasakan gejolak senang tersendiri.


""Sudah.!"" Mentari beringsut menjauh dari tubuh Arkan yang masih tengkurap.


""Kalau memberi pertolongan tuh, jangan setengah setengah dong, Tanggung ni...punggungku rasanya minta di pijit, biar anginnya kabur minggat."" Sudah di kasih jantung, rupanya Arkan minta hati, atau mungkin ginjal....Hebat !


Dengan polos, dan demi cepat selesai, Mentari tak banyak kata...kacung harus menurut, yang penting bekerja di dalam batas kewajaran.


""Agak sedikit kencang Mentari, tenaga mu sangat tidak terasa !"" Pinta Arkan dengan mata terpejam menikmati kelembutan tangan Mentari.


""Begini.?"" Tekan Mentari sepenuh tenaga. Lama lama Mentari malah ingin menoyor kepala Arkan jika masih banyak maunya.


Zila, pacar Arkan adik dari Sena, sekretaris Biru di perusahaan Sunjaya grup. Sama, anak kuliahan namun berbeda universitas dari pacarnya, Arkan. Berniat untuk memberi kejutan untuk Arkan, malah datang datang di kejutkan dengan pemandangan yang membuat sakit hati. Yang Aslinya hanyalah salah paham.


Arkan sendiri hanya datar, tidak memperdulikan ekspresi marah calon tunangannya. lebih tepatnya tunangan paksa dari kedua pihak orang tua.


""Lo, Sialan ! waiters kegatelan, Arkan adalah tunangan gue, Bisa biasanya Lo menggodanya, Pelakor !."" Maki Zila beringsut ingin menampar Mentari yang sedang tertohok tidak peka dengan keadaan, apa apaan wanita seksi di hadapannya. Kenapa dirinya di sebut kata pelakor, Apa dirinya seperti Yuni di sinetron orang ketiga, pelakor ? tapi kan ia tidak merasa merebut laki orang, pacar ataupun teman. ia merasa lempeng lurus saja hidupnya tidak pernah mengganggu hubungan orang.


Arkan sigap berdiri menangkap tangan Zila yang sudah mengudara ingin menampar pipi manis Mentari. Arkan memasang tubuhnya untuk melindungi Mentari. ""Mentari ! kamu boleh keluar, lanjutkan pekerjaan mu, dan terimah kasih kerokan dan pijatannya."" Ucap Arkan masih mencekal kuat tangan kurang ajar Zila. Zila memberontak ingin menjambak rambut Mentari namun tangannya kembali di cekal kasar oleh Arkan.


""Permisi.!"" Santai Mentari yang masih bingung dengan seribu mimik wajah wanita ini.


...****...


Sore hari pun tiba, Mentari berjalan ceria masuk area koridor kampus... Namun Ada yang aneh dari tatapan mahasiswi terhadapnya. Apakah wajah manisnya di tumbuhi tompel ? atau matanya ada tiga ? Ah.. entah lah, Cuek.

__ADS_1


Namun langkah Mentari terhenti, saat ada suara wanita mencemoohnya yang sukses membuat para penghuni Kampus menontonnya dengan tatapan mencerca. Dirinya di katai pelakor oleh wanita yang tadi pagi di ruangan bos ketusnya-Arkan.


""Hey... Waiters gatal, pelakor !"" Cemooh Zila, calon tunangan Arkan. berniat datang kali ini ingin membuat malu Mentari di seisi kampus. pembalasan.


""Tuh kan, apa gue bilang...jika Mentari itu cewek tidak benar, buktinya kemarin kemarin pak Langit pun di godain, mereka kan pernah berciuman di ruangan kesehatan, bahkan kadang kala gue melihat Mentari di antar jemput oleh orang yang terlihat tajir, mana tampan pula. pasti itu sugar Daddy-nya. Dan satu lagi, Galang gebetan Tia pun di embatnya,kan kasihan si Tia-nya"" Serena, katanya, prima Dona Kampus yang tidak menyukai Mentari, mulai menebarkan gosip busuk.


Dan Trada..Bisik bisik para mahasiswi pun mulai menimpali respon negatif. Bahkan Tia sekarang menatap dingin Mentari.


Mentari menatap Tia, berharap agar tidak mempercayai gosip itu. Namun Tia melengos langsung. Membuat Mentari harus mengklarifikasi yang tadinya ingin mengabaikan. Buang buang energi saja di tubuh mungil Mentari.


""Dengar ya para hadirin penonton semua termasuk kamu-Tia, Saya dan Galang tidak punya hubungan apapun, Kami sering mengobrol bersama itu hanya sekedar membahas tentang makalah saja tidak lebih.....""


Dan Galang, sayup sayup mendengar namanya di sebut dan pembahasan menarik beringsut mendekat di kerumunan. ""Benar ! kami tidak mempunyai hubungan khusus."" Timpal Galang menyela, tersenyum hangat ke arah Mentari. ""dan kamu Tia, Mumpung aku tahu isi hati kamu sebenarnya, aku akan mengatakan semuanya, Yang benar adalah aku juga menyukai mu dari semenjak kita masih duduk di bangku SMA, dan aku bahkan sering menggoda mu tapi kamu hanya mengabaikannya dan hal itu yang mengurungkan niatku, singkat cerita....So, apa kamu ingin menjadi kekasih ku ? dunia akhirat ku ?""


Galang berjongkok di hadapan Tia dengan tangan mengudara berharap Tia mau menggapai dan menggegamnya.


Dengan malu malu, Tia mengangguk. ""Aku mau !"" Membalas tangan Galang dan di sambut tepuk tangan serta suit suit para saksi.


Dan dengan kata lain, di balik penghinaan untuk Mentari...tanpa sengaja sudah mempersatukan cinta dua orang yang selalu kucing kucingan.


Mentari beralih menatap Zila. "" Masalah kata pelakor ! Apa mbak seksi ini punya bukti akurat dengan tuduhan tak berdasar anda, Mbak ? Bagaimana kalau kita membahas UU berikut penjamahannya tentang dasar pencemaran nama baik !"" Tantang Mentari mulai ingin melakukan trik menggunakan otak polos yang penuh di isi akademis.


Zila tertunduk dengan wajah menggelap marah, ia tahu maksud Mentari yang ingin mengambil jalur hukum, ia tidak punya bukti kuat bahkan Arkan saja tak memperdulikannya. Dengan hentakan kaki, ia beringsut pergi dengan gigi saling beradu menahan kesal dan malu memuncak.


Suara sorak Sorai kembali terdengar menyoraki kepergian Zila. Sarena pun alon alon mundur kabur.


"" Merepotkan !"" Dumel Mentari.


Vote dan bunga bunga 😘

__ADS_1


__ADS_2