RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 197


__ADS_3

KYAAAA


Keesokan paginya, Rose terpekik saat menyadari posisi tidurnya begitu intim bersama Radja. Ia reflek mendorong wajah Radja agar menjauh dari tubuhnya lebih tepatnya di wajahnya. Pantas saja tidurnya anget anget jahe gimana gitu, ada yang meluk ternyata. Batinnya malu.


Sontak Radja terperanjat kaget mendapat serangan telapak tangan di wajah mempesonanya..Eaaaa!!! Tapi walaupun terperanjat kaget, Tangannya masih setia memeluk Rose, tak ingin lepas.


""Apa sih Rose ?!"" Linglung Radja.


""Apa...Apa ? Lepassss Radjaaa !"" Pekik Rose tertahan dengan suara berbisik, takut takut Mentari di belakangnya terganggu dalam tidurnya yang terbilang masih di pagi buta.


""Lepas ? baju ? aih...belum mukhrim Rose, kita KUA dulu."" Radja masih tak sadar, ngomong pun ngaur yang di dalam otaknya semalaman terkuak sudah di telinga Rose.


""Aiihh, Otak kamu banyak kerikilnya ya ? ngeres !!! Bukan baju yang di lepas, Tapi tanganmu dari tubuh ku, Lepaaas !!!""


""Tangan aku kan di buat bantal oleh mu, Jadi mana bisa gerak."" Radja semakin menggoda, Nenek satu ini ternyata bisa tersipu-sipu meong juga Rupanya. Lihatlah wajah bantalnya... Sudah merah merekah.


Cetaaaak


Cubitan keras jatuh di kulit Radja dari tangan Rose yang berkuku lentik, Rose merah ternyata kesal atau memang malu ? entah, Radja tak dapat membacanya.


Radja pun melepaskan tangannya yang memeluk erat perut Rose, meringi memamerkan rasa sakitnya yang di buat buat lebay agar si murah durjam eh si murah hati ini iba kepadanya, siapa tahu setelah di cubit maka akan dapat elus elusan sayang dari si tersangka.


""kulit ku pasti melepuh Rose."" Rengeknya minta di manja.


""Ck, lebay...Kulit badak mana bisa terluka."" Rose segera menarik tubuhnya untuk duduk, melirik ke samping kanannya. Aih... Mentari kemana ? Sudah bangun rupanya.


Sementara yang di cari Rose berada di dalam kamar pribadi Biru, saat Mentari tertidur di bahu Biru, Suami idaman itu menaruh Mentari di kamar pribadi mereka, dan berakhir lah Mereka berlima tidur satu ranjang di king size itu dengan posisi berdesak desakan.


Biru dan Mentari tidur di antara sisi ranjang agar si kecil tidak terjatuh. Si bungsu Badai tidur dalam pelukan Mentari tanpa mereka berdua sadari, Si princess Pelangi tidur di atas tubuh Biru dengan posisi tengkurap di dada lebar itu. Si datar Topan tidur di tengah-tengah mereka dengan posisi paling rapi.


Dan pemandangan itu di tangkap oleh mata Rose yang sekarang berair haru, Akhirnya mereka bersama-sama walaupun masih sedikit berbeda. Batin Rose lega dan berpikir positif, Anaknya pasti sembuh dan akan selalu bahagia di sisi Biru, suami idaman anaknya.


Kepergian Rose, Mata Topan yang pertama kali terbangun, melirik ke sisi Badai sekilas dan melirik ke sisi Pelangi sedikit lama karena melihat adiknya itu dalam posisi yang sangat lucu, Tidur di atas Ayahnya. Eits.... Tunggu dulu, Di sisi Badai, ada tangan besar yang memeluk adik Bungsunya. Cepat cepat ia bangun dari berbaringnya.

__ADS_1


""Bunda ?"" Lirihnya Tersenyum hangat.


""Senyum mu sangat mempesona, Boy !"" Sedari tadi, Biru sudah terjaga terpejam sadar, cuma ia terlalu malas untuk bangun, ia menikmati momen indah yang pertama ini, Yaitu tidur berlima dalam satu ranjang. Ada kehangatan tersendiri yang menyeruak di hati Biru, Damai... itulah yang ia rasakan.


""Ayah, ada Bunda ?"" Lirihnya memberi tahu kan dengan polos.


""Ayah tahu !"" Sahut Biru berbisik, Tersenyum senang melirik ke wajah Mentari yang masih damai dalam tidur hangatnya.


""Boy, Geser sedikit, Pelangi mengotori dada Ayah, lihatlah !"" Biru tersenyum geli akan ulah tidur Pelangi yang membuat peta alami di bajunya. Di taruhnya di atas kasur tubuh kecil itu dengan pelan pelan.


""Boy mandi dulu ya Yah !"" Topan turun dari ranjang. Biru menyusul.


""Ayah yang mandiin ya, Boy ?!"" Goda Biru yang pasti anak kecil ber otak sok dewasa itu, menolak.


""Boy, sudah besar !"" Ketusnya berlalu.


Biru tersenyum kecil, memperhatikan punggung anaknya yang berangsur menghilang dari balik pintu kamar mandi, Mata itu pun beralih ke wajah cantik Istrinya.


""Amma ?""


Rose menoleh yang sedang berkutat di hadapan kompor, Radja pun ada di sana sedang menikmati secangkir kopi favoritnya dari buatan tangan Rose.


""Bi, mau kopi ?"" Tawar Rose. Biru menggeleng sopan. ""Biar Amma yang bikinin sarapan buat kalian."" Lanjut Rose.


""Baiklah !"" Biru duduk di kursi sebelah duduknya Radja. ""Om, Satu kamar ! bukan muhrim, ck...ck...ck...! Ketiganya adalah seta*"" Godanya berbisik ke Radja.


Uhuk uhuk uhuk


Tersedak kopi, Radja terbatuk-batuk mendengar ejekan dari Biru, Rose pun berbalik penuh, menatap Radja yang masih batuk batuk, segera menarik air segelas untuk di berikan ke Radja.


""Minumlah, Kalau sedang ngopi tuh jangan seraya melamun, ampasnya mematikan !"" Ledek Rose tapi raut wajahnya begitu panik. menepuk lembut tengkuk Radja sekilas dan kembali berkutat lagi di depan kompor.


"" Cieee !"" Biru kembali menggoda, dari dulu ia tahu keinginan Radja yang menaruh hati ke ibu mertuanya, cuma ia tidak ada waktu untuk sekedar menggoda mengingat ada masalah berat yang terbeban di hidupnya. Setelah sekarang, nyawa Istrinya akhirnya tertolong, sifat tengilnya yang sudah hilang kembali lagi.

__ADS_1


""Rose, ini airnya kok rasanya pahit ya !"" Radja gondok di goda Biru, saat mengatakan pahit ia melirik wajah tengil Biru.


""Mungkin mulut mu yang banyak dosa, mureeen !""


""Hihihi. !"" Biru terkikik tertahan mendengar jawaban nyamplak mertuanya.


""Ck."" Malas Radja akan kedua orang di hadapannya ini, Menyebalkan... Pikirnya.


Dari arah lain, Topan datang dengan gaya datarnya. menarik kursi dan duduk di bundaran meja makan. "" Pagi !"" Sapanya. Di raut wajah itu tidak ada mimik seperti anak kecil pada umumnya, membuat Radja menatap Biru dan Topan secara bergantian.


""Nyebelinnya mirip !"" Lirih Radja aneh dengan anak pertama Mentari yang tidak ada senyum basa basinya sama sekali.


""Wah, Cucu nenek sudah tampan ! Siapa yang mandiin sayang, Bunda ?"" Rose memberikan segelas susu di hadapan Topan. ia lupa kalau cucu pertamanya sekarang tidak suka susu. ""Ayo di minum ? biar pintar !"" Ujar Rose.


""Ck, nenek ! Pertanyaan Topan ! Apa ada anak sapi yang menjadi sarjana ? Kata orang minum susu sapi akan membuat kita pintar, Tapi anak sapi saja tidak pintar pintar !"" Celetuk Topan menolak meminum segelas susu.


""Hahaha, Lucu kamu Boy ! Maaf kan nenek, Nenek pikir kamu tuh Badai, Eh Topan toh.. makanya sayang, di jidat Topan tuh harus di tandai apa gitu biar nenek tidak salah orang."" Rose kembali menggoda cucu kakunya, menciumi pipi Topan kiri kanan.


""Nenek !"" Rengutnya cemberut.


""Boy !"" Tekan Biru agar bertingkah sopan.


""Iya Ayah ! Nenek, maaf !""


""Maaf ? untuk apa sayang, Kamu tuh cucu nenek yang paling segalanya. Jadi anak pintar, bangun kan adik adik mu dan ya...Bunda mu sedang apa ?""


""Sini !"" Topan memberi syarat ke Rose, agar Rose mendekat ke arah telinganya.


Dan Rose pun menurut, mendekat.


""Bunda di kamar mandi, menjerit minta tolong ke Topan untuk di ambil kan roti, jadi ambilkan roti buat Bunda Nenek !""


Hahaha, Rose terbahak membuat Topan aneh akan tingkah Nenek ini. Biru dan Radja bingung di sini dengan mulut menganga kompak.

__ADS_1


__ADS_2