RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 30


__ADS_3

Melihat Mentari berdansa dengan Langit, musuhnya. Biru seketika meradang, tanpa sadar ia mencekal kuat kedua sisi pinggang Sena, Sehingga wanita seksi itu meringis kesakitan.


""Bos, Sakit.!"" Bentak Sena tertahan, ia tidak mungkin berceloteh toa, Malu, banyak tamu.


Biru tersadar, melepaskan tangannya dari pinggang Sena, menghentakkan tangan Sena dari lehernya dan mengakhiri dansa bodoh itu. beranjak ke table bartender.


""Berikan Wine yang terenak.!"" Biru duduk di table bartender. dengan cekatan, Bartender mendorong segelas koktail wine fortified ke arah Biru. Enak tapi mempunyai kadar alkohol tertinggi.


Biru meraihnya, menyesap lagi dan lagi. ""Gue nyesal bawa Lo kesini Mentari."" Lirihnya kesal


Praaaaang...!


Biru sengaja membanting gelas cantik bekas wine yang sudah tandas di minumnya.


""Tuangkan lagi."" Titahnya ke Bartender, Tak perduli dengan semua mata menatapnya, bahkan musik dansa tadinya sempat berhenti. Namun dengan gerakan tangan dari Langit seketika berbunyi lagi. Langit sendiri tak perduli dengan Biru, ia begitu asyik menikmati dansa bersama dengan Mentari.


Mentari sendiri ingin lari dari hadapan Langit, risih dengan tangan posesif yang masih berada di pinggangnya, Sedari tadi ia ingin lepas dari tangan nakal itu tapi selalu di tahan oleh Langit.


Proot...proot.. preeeet.


Mentari terkentut kentut. sengaja, memaksa perutnya mengeluarkan gas beracun alamnya demi ingin bebas dari dosen gila tapi tampan sueeeer, sebelas dua belas dari bos-nya. Suara kentutnya memang tidak terdengar terkalahkan dengan suara musik tapi baunya itu lho.... Langit sampai tutup hidung langsung. dan automatis tangan Langit terlepas dari pinggang Mentari. Gadis itu menggigit bibir bawahnya agar tidak terlepas tawanya.


""Mentari, kamu ngentut ya ?"" Langit masih menekan hidungnya.


""Iya pak ! perut ku sakit, baunya sedap kan, bau telor rebus. !"" Mentari ingin terbahak namun di tahannya. ""Aku ke toilet dulu ya pak, panggilan alam menerkamku sekarang.!"" Bohongnya berlalu pergi tapi salah arah malah menuju ke arah Bos Bembe-nya.

__ADS_1


""Jorok ah, ganggu saja ! lagi mengendus harum tubuhnya juga, ini malah di kasih bau kentut., bener bener gadis lempeng polos, tahan ke' sampai selesai dansa.!"" Langit menggerutu meninggalkan lantai dansa menuju ke toilet. ia sudah tidak perduli dengan Mentari yang akan menghampiri Biru. Kumur kumur dan menyemprotkan parfum ke arah hidung yang terpikir saat ini.


"Bos.!"" Biru menoleh ke tangan Mentari yang sedang berada di bahunya. Namun Biru tak merespon dan tidak mengindahkan Mentari yang berdiri di sisi kursinya duduk.


Mentari membuang nafas berat, di acuh kan. ""Ayo kita pulang."" Rengeknya menarik ujung baju Biru. Namun sedikit pun tenaganya tidak bisa menggeret tubuh kekar itu. Biru masih setia menyesap Rose Wine-nya.


""Bos.!"" Ketus Mentari menarik gelas yang berisi alkohol di tangan Biru.


""Sini balikin.!"" Dingin Biru ingin meraih gelas wine itu tapi Mentari langsung meneguknya sekali tegukan tanpa di sesap sehingga tenggorokannya seperti terbakar.


""Bodoh.!"" Sentil Biru ke jidat Mentari. Gadis itu sedang memegang leher tenggorokannya.


""Bos panas, dan....dan..."" Mata Mentari seperti buram layaknya di terbangin burung burung aneh. Segelas wine beralkohol tinggi membuatnya langsung mabuk. ini pertama kalinya ia mengkonsumsi alkohol ber-fortified.


""Hehehe..bos, anda mempunyai tanduk, apalagi sedang tersenyum begitu. seperti badak bercula satu."" Mentari mulai melantur. Wong Biru lagi mendengus kesal di bilang Sedang tersenyum. Niat hanya ingin mengajak balik bosnya, kenapa dengan lancang ia tak sengaja meminum air beralkohol dan berujung malah mabuk. dosanya bertambah lagi Mentari.


""Bos, anda sangat tampan sekali ! tapi aku takut jika anda sedang marah marah, Seram seperti setan."" Racau Mentari. ""Hey, Bos aku tampan kan ?"" Mentari bertanya ke tamu yang di lewati Biru. dengan bodoh sang tamu perempuan menyahuti Mentari yang di dalam kendali alkohol.


Biru tersenyum geli, tak memperdulikan bekas teman sekolahnya yang menatap ke arah mereka. menghentikan langkahnya saat berhadapan dengan Langit yang baru datang dari arah toilet.


""Terimakasih pestanya bung, jikalau aku tak hadir di pesta ini maka aku tidak akan menggendong calon kekasih ku saat ini."" Senyum mengejek terlukis di bibir Biru, dan tak ingin lama lama melihat wajah Langit, ia langsung beranjak meninggalkan tempat pesta.


Langit mengepalkan tangannya dalam diam, memandang kepergian Biru dan Mentari. kok rasanya ia tidak suka jika Mentari sebegitu dekatnya dengan Biru. dirinya yang pertama kali bertemu dengan Mentari di pelayaran kapal penumpang dan memang di waktu itu ia sudah tertarik ingin mengenal nama Mentari, tapi gadis rantau desa itu menolak untuk berkenalan dengannya.


""Ok, Sepertinya kali ini aku akan bersungguh-sungguh untuk merebut gadis itu dari mu, Biru. bukan sekedar ingin menang dari mu atau apapun itu, tapi aku tertarik sungguhan dengannya."" Tekad Langit.

__ADS_1


Di jalan pulang...


Mentari terus menerus memandangi dalam wajah bosnya yang sedang mengemudi mobil dengan kepala berzig zag pusing. Sesekali bibirnya tersenyum gaje.


""Bos, pipimu kok gendut amat."" Mentari mencubit gemas hidung mancung Biru. Hidung di bilang pipi.


Biru menyingkirkan tangan jahil Mentari yang sedari tadi meracau terus.


""Lepas Mentari. aku sedang mengemudi.!"" Ujarnya.


""Aku mau bos bermain dengan itu !"" Tunjuk Mentari ke setir mobil. ""Itu sepertinya seru untuk di mainkan."" Mentari mencoba menyingkir kan tangan Biru di setir mobil.


""Ish, diam Mentari, aku sedang mengemudi, jika nabrak bagaimana, hah ?"" Bentak Biru menepis tangan Mentari.


Mentari cemberut. ""Bos sangat galak ? Aku takut dengan suara itu. !"" Mentari mendelik sinis. Tangan pecicilannya kembali ingin bermain di kemudi.


""Mentari."" Bentak Biru lagi dengan kaki menginjak pedal rem tiba tiba.


""Aduh."" Mentari ke jedut ke depan mengelus dahinya yang langsung membekas namun tertutup poni tebalnya. Biru sih lupa mengikat tubuh Mentari dengan seat belt.


""Maaf, Maaf ! dan Diam lah atau kalau tidak aku cium.!"" Ancam Biru menyeringai seraya berusaha memasang kan seat belt untuk Mentari.


""Seperti ini.!"" Mentari menarik rambut Biru bagian belakang sehingga wajah Biru mendongak ke atas wajah Mentari yang tadinya serius menunduk di sibukkan oleh seat belt yang ujung talinya di duduki Mentari. Mentari di bawa kendali alkohol menyosor bibir bosnya yang sering di lakukan Biru ke dirinya. Gara gara keseringan di cium terus, sedikit demi sedikit Mentari jadi ikutan piawai dalam beradu bibir dan lidah.


Biru dengan senang hati membalas ciuman bibir itu dengan sangat dalam dan rakus, kesempatan, pikirnya kapan lagi bisa menerima tawaran bibir mungil yang sudah menjadi candu baginya.

__ADS_1


Hutang berkurang lagi sebesar dua juta. Biru menarik layar pintar Mentari untuk mengurangi jumlahnya. sisa Empat puluh delapan ciuman dalam lagi. Hitung Biru menyeringai.


Like, komen, Bunga bunga, Vote dan Rete 5.... 😘


__ADS_2