
Canda tawa terdengar berisik dari pekarangan rumah Batara, Tersangkanya adalah Mentari dan Senja yang antusias menonton para suaminya sedang latihan bela diri Muay Thai bersama dalam duelnya. ada juga Gema dan Gemi pun. si kembar itu berduel bersama untuk mengetes kemampuan bela diri mereka.
Rose dan Radja menyaksikan kegaduhan kecil itu dari atas balkon khusus untuk bersantai di hari libur seperti ini.
""Si kembar ! apakah mereka tidak punya pasangan, Radja ? Selama aku tinggal di sini, Mata ku tak pernah menangkap mereka membawa orang lain ke rumah ini ?"" Rose tersenyum kecil melihat Gemi memberi Jab tepat di wajah Gema. Gerakan cantik. Batinnya.
""Entah lah, Mereka masih asyik dengan kesendiriannya, aku tak pernah memaksakan kehendak mereka maunya seperti apa ? apalagi Gemi, Anak ku itu ratunya Muay Thai, kebanyakan pria di luar sana pada takut dengan-nya.""Mata Radja tak lepas di wajah Rose yang tersenyum kecil melihat mantunya berduel kekuatan.
""Kamu sendiri ? di tinggal Dewa bertahun tahun, kenapa masih asyik dalam ke jandaanmu, tidak laku kah ?!"" Radja sedikit mencandai.
Pertanyaan ini yang di pilang Radja dari dulu..keluar sudah karena Rose memilih topik yang pas untuk memancingnya.
Bola mata Rose menatap penuh Radja seratus persen yang tadinya hanya sibuk melihat ke arah anak anak di bawah sana.
""Tidak laku ? haha"" Rose tertawa kecil mendengar ledekan Radja. ""Dulu, aku terlalu sibuk membesarkan anak anak ku yang masih kecil, setelah Bang Dewa meninggalkan kami, Tidak ada hari tanpa bekerja bagiku, Laki laki yang mendekati pun menjadi ilfil sendiri karena apa ? Karena aku tak perduli satupun dari mereka...Dan selain anak anak..aku juga masih sangat mencintai Bang Dewa."" Rose mengadakan pandangannya ke atas langit... berharap salam rindunya bisa di dengar oleh Dewa, di alam sana.
Nyeeees, Darah Radja seakan Ingin berhenti mengalir. Rose masih setia dengan adik ku, Bodoh kau Radja.. Selalu berujung mencintai mantan mantan adik mu sendiri.
""Kamu ternyata bodoh Rose ! Kenapa kamu masih menjaga hatimu untuk Dewa, Yang jelas jelas tidak akan pernah hadir di dunia ini, anak anak mu sudah pada besar bahkan sudah ada yang menanggungnya, Jadi bukalah hati mu untuk orang lain ? Tatah lah hidup kembali dengan pria lain !"" Harap Radja menggebu-gebu.
""Hei hei hei ! Kenapa kamu yang sewot...Aneh ! Tapi oke...gue tegaskan ke kamu Kaka ipar ! Di sini...."" Rose menekan tepat di dadanya. ""...Nama Dewa tak pernah tergantikan ! Dan sampai kapan pun itu..Dia terus ada di hati ku.""
Nyeeees dauble dauble Nyeeees, Jantung Radja yang sekarang beku terasa. Kok rasanya sakit ya....Dewa selalu beruntung dalam hal percintaan. Batinnya.
""Kamu sendiri sekarang menduda, kenapa tak berkeluarga lagi ?""
__ADS_1
""Aku... Tidak ada yang mau ! Bahkan kamu pun sepertinya kagak mau kan ? jadi di luaran sana pun akunya kagak laku !""
Radja mendramatisir kesendiriannya. Rose tertawa geli yang di anggapnya lucu, Seorang Radja Batara kagak laku, Tidak mungkin... pikirnya.
Tak ingin melanjutkan pembicaraan yang di anggapnya konyol , mata Rose kembali menunduk kebawah, Di matanya... Biru memberi gerakan Jab tak terbaca ke Langit. Dan Senja yang melihat suaminya terkena pukulan dari Biru, melotot sewot ke Mentari yang menyemangati Biru. Bahkan Senja menarik rambut panjang adiknya.
Astaga daeng, Kau membuat ku sakit !!!!
Calon bayi ku menginginkan agar rambut mu di tarik, Mentari. Senja tersenyum kecil.
Aih, mana ada...Jangan mengkambing hitamkan si cabang ya ...Ssssth, Aneh !!! Sini aku pun mau menarik rambut mu, Daeng !!!
""Mentariiiiii !!!"" Teriak Lerai Rose dari atas, anaknya itu berdiri di atas kursi taman panjang dengan berdecak pinggang menggeretek Senja. tak tahu keadaan dirinya yang sedang hamil.
Sini daeng, aku mau rambut mu... hahaha !
Yang di cemaskan masih setia bercanda dengan Senja duduk tak bergeming mendongak tinggi Mentari tepat di atas kursi panjangnya yang di pijari Mentari. Senja pun kagak engeh... jika aksi adiknya itu bisa saja fatal. Senja malah bertambah menggoda Mentari dengan mulut pedasnya.
""Mentari !"" Bentak Biru keras membuat istrinya itu terkejut oleng dari kursi, hampir terjatuh kalau Biru telat satu detik saja...maka bugh sudah.
Rose dan Radja lari berhambur dari atas ke bawah, melihat itu.
""Kamu itu kenapa hah ? apa kamu lupa kalau kamu sedang hamil ? kalau kamu jatuh bagaimana nanti ? Kalau anak ku terluka bagaimana coba ? kalau bertingkah dan bertindak itu harus di pikirkan sebelumnya, Jangan terlalu bertingkah seperti anak kecil yang bod----!""
Bentakan ocehan kereflekan dalam kecemasan Biru terhenti, Sadar ! Ia meringis dalam hati...menyesal sudah memarahi Mentari dengan nada emosional tinggi. Dan lihat lah sekarang ! Istrinya hanya menunduk dengan bibir bergetar meminta maaf dalam kelirihannya. Air matanya pun jatuh cengeng begitu saja.
__ADS_1
""Maaf !"" Lirihnya kembali tak berani menatap semua orang yang ada di hadapannya.
""Bi...aku pun minta maaf, Kami Bercanda tidak tahu diri... aku masih saja menganggap adikku itu masih Mentari kecilku, Aku lupa diri kalau aku menggoda adikku yang sekarang mengandung."" Sesal Senja mengaku salah. Karena pikirnya ini bermula darinya.
""Bi, jangan terlalu emosi ! Lagian Mentari dan bayi mu kan baik baik saja !"" Timpal Langit menengahi.
Si Kembar hanya diam tak mau ikut bersuara, takut takut malah salah berucap. "Ini yang gue benci jika harus mempunyai keluarga kecil di saat ini, Kalau gue jadi Mentari di sentak sentak begitu, sudah ku tabok si BIRU menggunakan gerakan Muay Thai ku."" Batin Gemi.
Rose dan Radja baru bergabung setelah berlari menuruni anak tangga yang panjang bagi Rose.
""Mentari !!! Jagah tingkah konyol mu, Jantung Amma yang hampir copot kamu bergerak bodoh di atas kursi. Kalau jat---!""
""Yaaak...! Radjaaa !"" Rose belum selesai nyap nyap tapi sudah di geret masuk oleh Radja yang tahu kalau Mentari menunduk dengan air mata cengengnya. Yang lain pun menyudahi aktivisnya di luar meninggalkan Biru dan Mentari yang masih diam membatu.
""Maaf kan aku !"" Biru menenggelamkan kepala Mentari di dadanya. ""Aku su---!""
""Hiks...Hiks...Hiks, Aku minta maaf ! Aku hampir lalai menjaga kandungan ku, aku masih saja bertingkah seperti anak kecil...Maafkan aku hiks...hiks, Aku sangat tidak pantas untuk menjadi istri mu atau pun seorang ib--- Hmmmpp.""
Biru langsung membekap mulut asal istrinya dengan bibirnya. Ia tidak suka mendengar ucapan Mentari yang berucap.. aku tidak pantas untuk menjadi istri mu, atau pun seorang ibu. Telinganya langsung berdengung sakit mendengarnya, hatinya bahkan meringis sakit di dalam sana, mendengar kesesalan Mentari. Sungguh....tadi dirinya tak sadar dalam berucap yang sudah membentak bentak Mentari di hadapan orang.
"" Maaf kan aku Petite, Bibir ku memang harus di hukum saat ini."" Batin Biru dengan Mentari masih dalam pelukan eratnya, Ia tahu mungkin hormon kehamilan membuat Mentari menjadi cenderung lebih sensitif. Bibir bawah itu sudah berdarah di gigitnya sendiri sebagai hukuman untuk dirinya yang sudah membuat Mentari meneteskan air mata kesedihan.
Mentari yang masih di dekap Biru, tidak tahu akan tingkah gila suaminya dalam menghukum bibir pedasnya sendiri.
Cepat cepat Biru mengusap kasar bibirnya yang sudah berdarah, ketika Mentari mendongak ke wajahnya, ia tidak mau Petitenya mengetahui aksinya yang menghukum diri sendiri dalam diamnya.
__ADS_1