
Keesokan harinya, Biru segera bangkit dari sisi tidurnya Mentari sebelum wanitanya ini bangun. Ia tidak mau membuat kesan buruk lagi yang sebelumnya sudah di juluki Om Cabu* oleh istrinya sendiri.
Namun, setelah matanya itu terbuka lebar-lebar..ia malah di kejutkan oleh ketiga anaknya yang menatapnya tajam tepat di hadapan wajahnya, apalagi mata Topan yang seakan akan sedang menakutinya.
""Kalian membuat ayah kaget !"" lirih Biru terkejut, Telunjuknya pun ia taruh di bibir pertanda agar si kembar jangan berisik. ""Kesini sama siapa, tumben pagi pagi sudah ada di sini ?!"" Lanjutnya dengan masih nada pelan, turun dari brankar berupaya bergerak tanpa ada tekanan gerak untuk Mentari yang masih terpulas. ia pun beranjak ke sisi sudut ruangan, duduk di sofa.
Si Triplets mengikuti langkah ayahnya, belum menjawab pertanyaan sang Ayah.
""Kenapa kalian seperti orang bisu, eum ? kalian sariawan Boy, Princess, Little boy ?"" Tangan itu meraup tubuh kecil Pelangi dan mendudukkan di pangkuannya.
""Jangan tium tium Pelangi, Ayah !"" Pelangi memanyunkan bibirnya pertanda sedang merajuk ke Ayahnya ini yang sangat curang... Ayahnya enak enakan tidur berdua bersama Bundanya dengan ayahnya memeluk Bundanya tadi. Sementara mereka di suruh pulang semalam bersama Om Ditonya dan berakhir tidur di kediaman Batara. curang kan sang Ayah ?Kompak mereka merajuk cemberut, apalagi Si bungsu yang paling manja di antara mereka.
""Kenapa eum ? apa Ayah punya salah, Maaf kalau begitu ?"" Biru memasang wajah memelas agar sang anak luluh, Ia sangat paham akan semua sifat si kembar karena dari bayi setiap hari waktunya lebih banyak untuk si Tripletsnya dari pada kerja. Kerjaannya selalu di no duakan dan di percayakan ke Dito...ia hanya ke kantor jika memang sangat penting, dan memilih kerja seraya berada di sisi si kembar.
""Ayah culang !"" Rajuk si Bungsu, Badai.
"" iya !" Timpal Pelangi meronta kecil turun dari pangkuan Ayahnya dan memilih duduk di dekat pelindungnya, Topan.
""Boy !"" Bingung Biru meminta pejelasan ke Topan yang mempunyai sifat singkat padat jelas tak bertele-tele.
""Kami marah ! Ayah tidur bersama Bunda tanpa ada ngajak kami !"" Jelas Topan.
Sudut bibir Biru terangkat geli, anak anak pintarnya, cemburu ternyata. Di otaknya seketika ada lampu yang menyala. berencana untuk membuat Mentari selalu di sisi mereka berempat, Jika tidak menggunakan taktik cerdik...Mana mau Mentari tinggal satu atap Setelah keluar dari rumah sakit, pikirnya yakin.
Biru tidak terlalu masalah kalau Mentari saat ini melupakannya, Ia cukup senang jika Mentari mau dekat ke anak anaknya sendiri dalam kondisi yang lupa ingatan... Pokoknya rencananya harus berhasil...agar anak anaknya bisa tidur dengan Bundanya setiap malam.
""Triplets nya Ayah, Dengar baik baik ya ! dan lihat baik baik. Kalian mau dekat sama Bunda kan ?"
Pelangi dan Badai kompak mengangguk, Si Sulung masih datar.
__ADS_1
Biru mengeluarkan drawing nya Pelangi di tas punggung anaknya yang selalu membawa alat itu dengan alasan Pelangi suka ngegambar .
Biru berniat menjelaskan kesehatan Bundanya yang sekarang lupa ingatan, Walaupun Tripletsnya masih kecil, Biru akan menjelaskannya kesehatan Mentari di versi anak kecil, Biru tidak mau menyembunyikan hal apa pun ke anak anaknya yang ada sangkut pautnya ke bahagian si kembar. ia berharap anak anaknya mengerti.
""Ayah gambal apa ?"" Pelangi bersuara, ayahnya dengan cekatan bercoret ria di alat favoritnya.
""Itu kan otak manusia ?"" Si Topan ber IQ tinggi menyelidik gambar itu namun tetap saja, raut wajahnya datar.
""Yap, Kamu jenius Boy !""Tangan Biru mengacak-acak rambut Topan, heran ke anak pertamanya ini, kepintarannya mungkin turun dari Mentari yang di juluki Ensiklopedia oleh teman kampusnya dulu, Tapi dalam hati Biru berdoa agar kepolosan Lempeng Akut Mentari jangan sampai turun ke anak anaknya.
""Hem !"" Desis Topan tidak suka dengan tangan Biru yang selalu menggodanya. ""Aku sudah besar !"" Tekannya seakan tidak suka di manja.
""Mana ada, Tadi Topan kan di mandiin nenek Rose !"" Goda Pelangi.
""Pakai baju pun di bantu Tante Gemi."" Timpal Badai tengil, tidak suka dengan sok dewasanya Topan, Kan mereka kembar beda berapa menit saja... Jadi di antara mereka kan sama, masih bocah. pikir si Badai.
""Haha-mmpp !""
""Diam ya ! jangan berisik...Dan perhatikan gambar Ayah. Anggap saja ini itu otaknya Bunda kalian yang mana di dalamnya ada sebuah ingatan atau di sebut memori ?"" Jelas Biru pelan pelan agar anaknya bisa mencernanya. ""Tahu kan memori otak itu apa ?""
""Tahu Ayah, Memories sensory."" Topan Langsung menyahut akan otaknya yang cerdas.
"" Short-term memories."" Timpal Pelangi dengan suara cadelnya.
"" Long-term memories."" Si Bungsu Badai pun tak mau kalah mengeluarkan pengetahuannya.
Glek... Mulut Biru melongo tertohok dengan mata sana sini bergantian menatap wajah polos si kembar, Anak anaknya di usia Balita sudah tahu cara kerja memori otak, yang memori setiap manusia terbagi tiga memories seperti yang di jabarkan anak anaknya. Astaga....Biru hanya tau kecerdasan si sulung Topan, tapi kedua anaknya yang lainnya pun tak kalah pintarnya cuman tidak di perlihatkan.... Sungguh ajaib gen dari Mentari, karena Gen dari dirinya..Biru mengaku kalah dari Mentari yang cuma satu kekurangan istrinya itu... Lempeng !!!
""Entah dari mana kalian belajar, Ayah belum sempat mengajarkan kalian teori itu. Ta---!"
__ADS_1
"Jangan bertele-tele Ayah.""
Si Topan sungguh malas ke ayahnya yang kelamaan akan menyampaikan apa, yang membawa teori teori aneh untuk di dengar oleh mereka.
""Baiklah !""
Biru pun menjelaskan secara detail tentang kesehatan Mentari yang sesungguhnya, Tanpa bertele tele memakai drawing lagi, Karena Biru yakin, Ke-tiganya akan mengerti apa itu lupa ingatan, tiga bagian Memories otak manusia saja sudah paham, ya... pasti si Tripletsnya pun akan paham masalah Bundanya, pikirnya.
""Hahaha !""
""Sssstth, diam pelangi ! Kenapa kamu malah tertawa, eum ? ada yang lucu kah ?""
Biru kembali membekap lembut mulut gadis kecilnya, entah apa yang lucu yang tadinya serius mendengarkan penjelasannya tentang penyakit istrinya dan juga rencananya bersama si kembar.
""Jadi Ayah tidak di cayang Bunda lagi, hihihi !"" Ledeknya. Badai pun nyengir kuda, membuat Biru ingin mencubit kasar kedua anak anaknya ini, Tapi di sayangkan... Mereka adalah anak anak tercintanya. Sabar.... Batinnya melengos.
Sementara Topan langsung beranjak ke arah peraduan Mentari.
""Ais, Boy.. jangan di gang----!""
Biru telat menghentikan Topan, Anaknya itu sudah melancarkan aksinya yang naik ke brankar dengan bantuan kursi, berbaring di sisi Mentari dan memeluknya sayang. Walaupun tak banyak bicara, Biru tau kalau anak sulungnya sangat menyayangi dan merindukan kasih sayang Bundanya... Topan hanya manja ke Mentari yang mungkin saja tak dapat respon baik dari Mentari yang lupa ingatan. Batinnya takut kalau Mentari menolak kemanjaan Topan yang selama ini tidak mau di manja olehnya dan oleh siapapun di dalam keluarga.
Mata Mentari berangsur terbuka, terganggu dengan adanya tangan mungil yang menyentuh inci kulitnya.
""Selamat pagi Bunda !!!"" Ramah Topan. Pelangi dan Badai mendengar suara Topan menyapa Bundanya yang sudah bangun. berlomba beranjak ke sisi brankar yang di rebahin Mentari.
""Selamat pagi Bunda !!!"" Senyum manis dari Pelangi dan Badai.
""Selamat pagi anak anak manis."" Sambut Mentari dengan khas suara bangun tidurnya, Bibir itu pun tersenyum manis, ia mengingat jika si bocah bocah ini haus kasih sayang seorang ibu, maka mau tidak mau ia yang masih SD harus menerima panggilan Bunda dari ketiga bocah lucu di hadapannya. Ah... paling keluar dari rumah sakit pasti sudah tidak bertemu... Pikirnya.
__ADS_1
Semoga rencana ku bersama Triplets berhasil agar kami bisa berkumpul satu atap walau sedikit kecerdikan di sini...