
Mentari masih sesunggukan tak mau berhenti di dalam dekapan Biru hingga setelan suit itu sedikit basah terkena air matanya. Biru sendiri heran dan bingung, ini gadis saking sakit perih di tangan atau ada rasa sakit lain, sudah di Nina-ninain agar berhenti terisak tapi semakin kencang saja suaranya.
""Hey...tenang lah petite, katakan apa masih perih."" Elus Biru di punggung Mentari, masih setia memeluk hangat.
""Mereka sangat terlihat bahagia bos, Mereka hidup tanpa ada beban, mereka hidup bergelimang harta tapi mereka sangat pelit di mintai berobat sedikit saja tidak mau, apa berobat ginjal itu menghabiskan aset satu perusahaan bos.? Aku kecewa bos, Sangat kecewa...Amang ku...Hiks..Hiks..Amangku meninggal karena sakit tanpa ada pengobatan medis karena kami orang miskin dan hina di mata mereka, mereka tidak mau menolong kami bos di saat kami mengemis di kala itu, aku tidak suka dengan mereka Bos. Aku kecewa bos !!!"" Racaunya mengadu tak sadar, rasa sesak yang tak bisa di tahannya malah meluap keluar sendiri uneg-unegnya.
Biru merenggangkan pelukannya, mundur mengambil jarak sejengkal dari hadapan Mentari. Menatap selidik wajah sembab itu.
""Apa yang kamu katakan tadi eum ? siapa mereka yang kamu maksud ? ayo katakan, aku akan memberi pelajaran ke mereka, Siapa mereka. ?""Tanya Biru meraup wajah Mentari dengan kedua tangan besarnya. Rahangnya pun seketika mengeras Mendengar uneg uneg Mentari yang terdengar memilukan.
Mentari menggeleng cepat di dalam raupan tangan Biru. ia baru sadar betapa bodoh dirinya yang meluapkan uneg unegnya. membocorkan rahasianya ke Biru sama saja Skakmat. Bos-nya ini akan pasti bertindak langsung jika di beri tahu, Bosnya ini tipe langsung bergerak tanpa banyak bacot., ia tidak mau di akui ataupun mengakui keluarga Batara sebagai keluarga besarnya. Bila perlu ia akan memotong namanya Hanya Mentari Putri saja tanpa ada embel-embel memakai Batara di belakangnya, itu demi menghilangkan jejak, agar tidak di sakiti oleh mereka semua. Takutnya.
""Lupakan Bos, Lupakan perkataan yang melantur dari mulut ku ini, mungkin gara gara sakit perih di tangan makanya aku melantur."" Kilahnya, ia kembali memeluk Biru untuk mencari perlindungan di sana. Mau memeluk Radja Batara lagi tidak akan bisa dan jangan sampai melakukan hal bodoh itu lagi.
Dengan berpikir keras, Biru terdiam memberi ketenangan untuk Mentari. ia tahu Mentari berkilah...Ia sudah hafal benar si gadis lempeng ini, jika hanya mendapat luka perih di tangan maka tidak mungkin Mentari berlebihan, Sedih.
Di ambang pintu, Arkan cemburu ke Biru yang bisa memeluk tubuh mungil itu dan ia juga mendengar uneg uneg Mentari. ia semakin curiga dengan Mentari, ada yang ganjal di sini. Siapa maksud dari mereka ? dan Amang ? kata itu kok selalu di lepaskan dari mulut Mentari, dan mengingat di mobil box, Mentari pun memanggil tulangnya dengan panggilan Amang, Apa Mentari anak Tulangnya , Oh.... tidak ! Tulang ku punya selingkuhan dan berakhir punya anak, dan itu Mentari, Terkahnya. Dan Arkan pun menggeprak Kepalanya konyol, Menerima pekerja tanpa membaca dulu CV Mentari di kala melamar kerja. Besok ia akan mengecek CV Mentari, ia belum tahu nama belakang Gadis ini.
Arkan masuk menghampiri Biru dan Mentari.
__ADS_1
" Mentari, Kamu sampai di sini saja bekerjanya.!"" Ucap Arkan.
Mentari melirik sekilas, ia nambah menangis cengeng dan semakin tenggelam di delapan Biru, ia pikir Arkan memecatnya gara gara membuat malu di dalam ballroom.
""Yaak, tuh kan nambah nangis !"" Biru menyalahkan Arkan.
""Pak Arkan mecat saya, Pasti gara gara membuat perabot pecah dan mempermalukan nama restoran. Hiks....hiks, maafkan saya. !"" Mentari seakan sial malam ini. Iri dengan keluarga bahagia orang, plus di pecat pula. Astaghfirullah adzim. ingatnya ke pencipta. ia Harusnya tidak boleh iri dengan kehidupan bahagia orang, Dosa dan hanya membuat hati dengki saja.
Arkan garuk tengkuk, Si boneka manis salah paham.
""Saya tidak memecat mu ! maksud saya kamu pulang saja jangan lanjutkan untuk bekerja malam ini, tangan mu terluka. Itu !"" Tekannya menjelaskan agar Mentari tidak kejer lagi. ""Ayo ! Saya antar pulang !"" Imbuhnya.
"Milik dari Hongkong ! Apa Lo suaminya atau pacar ? atau sedarah ?"" Tantang Arkan mendesah kasar.
""Gue calon suaminya ! masa depannya ! Mau apa Lo ?"" Tengil cap Biru dengan sombong.
""Kalau Lo calonnya, Gue saudaranya, dan sebagai saudara, Gue tidak akan merestui Lo jadi calonnya, Mau apa Lo, hah ?"" Sahut Arkan asal asalan, Namun itu berhasil membuat Mentari terkejut hebat. Apa pak ketus ini tahu semuanya, Dari mana ? kok Bisa ? atau jangan-jangan dari CV lamarannya. mudah mudahan cuma ngasal.
Dengan jengah, Gadis itu Kepalanya akan pecah jika terus mendengar perdebatan alot si dou batu. Mentari berangsur turun dari pantry, sap. Tanpa sadar si Batu Biru di tinggal pergi oleh Mentari keluar dari ruangan Pantry, Bisa jadi patung batu aku kalau masih mendengar peralotan mereka. pusingnya.
__ADS_1
Setelah tersadar dari peraduan alotnya bersama Arkan jika Mentari sudah tidak ada di tempat, Biru bergegas keluar dari pantry ingin mengejar Mentari untuk mengantarkannya pulang.
""Mentari...!"" Panggil Biru dari arah tiga meter di lobby Ballroom. Mentari berbalik dan diam di tempat menunggu Biru menghampiri dirinya.
Namun....
Bugh.... praaang...
Gelap...
Gelap...
""Mentariiiii.!"" Teriak Pilu Biru berlari terus ke arah gadis itu.
"" Tulang...!!! Teriak Arkan pun tak kalah di belakang larinya Biru menghampiri.
Mereka bergantian berteriak, Saat kedua nama itu tertimpa pigura besar tiba-tiba jatuh terlepas dari dinding yang tadinya menempel sangat apik. Dan Gelap... Tulang atau Radja yang di panggil Arkan dengan lantang tertimpa pigura besar nan berat hanya demi menjadi tameng tubuh Mentari agar tidak tertimpa dan berakhir fatal, Entah ada apa dan kenapa Radja spontan merelakan punggungnya demi menolong Mentari, agar gadis itu tidak terluka parah akibat Pigura berkaca tebal, walaupun tubuh gadis itu pun terjatuh pas di dekapan tubuhnya dan mengalami benturan keramik keras kepalanya, tapi syukur ! pengorbanan Radja tidak sia sia untuk Mentari, Tapi keduanya yakni Radja dan Mentari kini sama sama tak sadarkan diri...Gelap. Benar ! Masalah malam ini untuk Mentari sangat panjang dan bertubi-tubi menimpanya setelah bertemu dengan keluarga Amang-nya.
Arkan mengangkat tubuh pingsan Radja dari atas tubuh Mentari yang pingsan juga yang di bantu oleh Biru. Dan Setelah tubuh mantan dosen jauh dari Mentari, Biru dengan cepat meraup tubuh mungil itu berlari ke arah parkiran untuk segera di larikan ke rumah sakit terdekat. Begitupun dengan tubuh pingsan nan terluka Radja yang di bawah Arkan sama sama akan di larikan ke rumah sakit.
__ADS_1
Tinggalkan dukungan seikhlasnya šššš¹