RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 79


__ADS_3

""Selesai. !"" Gumam Mentari menaruh pakaian ganti Biru di atas ranjang. Ia pun ingin melangkah keluar namun ter- urungkan karena suara Biru yang baru dari dalam kamar mandi.


Mentari berbalik, Matanya membulat melihat penampakan dewa Yunani nyasar menggunakan handuk terlilit saja. Namun aslinya ia tidak memperhatikan dada dan perut sixpack itu melainkan memperhatikan lengan kiri kanan Biru yang bertatokan nama Mentari. Astaga si bosnya ini ? Namanya merajai di lengan kekar Biru.


""Astaga Bos, Bos menato nama saya ? Apa sebegitu sulitnya Bos mengingat ingat hutang piutang ku ke Bos sampai lengan kiri kanan sebagus itu di kotori dengan tatto bertuliskan nama saya. heran saya ! Hp canggihnya minta ampun kepenuhan kapasitas kah untuk mencatat ? Sedikit Saran nih, mencatat hutang atau segala sesuatu hal penting bisa di notes kan, ini malah lengan bagus bagus di kotori."" Mentari memutar matanya ke atas. Perasaan sewaktu Biru membuka baju di hadapannya ia tidak melihat itu, Sudah rabun kah matanya ?


""Ck, Kamu itu ya, tidak ada perhatian perhatian nya sama saya, Kemaren dan bahkan tadi kamu kemana saja sayang, baru melihat ini, eum ?"" Biru menjawil gemas ujung hidung Mentari.


""Dengar ya Petite, Kalau saya tidak akan di anggap lebay oleh mu nanti, Bahkan saya malah ingin menato nama kamu di Jantung saya, hati saya, bahkan di aliran darah saya pun akan saya tatto jikalau itu memungkinkan, bisa. Saya itu sangat mencintai mu, Petite. makanya saya ingin setiap saat mengingat mu dengan cara melihat lengan kiri kanan saya.""


Mentari mengangguk saja menanggapinya seraya memberikan baju ganti untuk Biru kenakan, Biru meraihnya dengan penuh wajah semberinga... Oh, beginikah punya istri kelak, Baju pun di siapkan...


" Kalau Saya sih tidak usah menato segala hanya untuk mengingat Bos."" Gerutu Mentari.


Biru menaikkan satu alisnya, penasaran dengan kata kata santai lugu ala Mentari.


"" Masa sih ? jadi apa yang kamu lakukan untuk mengingat nama saya ?"" Biru penasaran setengah mati dengan jawaban Mentari untuk mengingat dirinya.


"" Gampang ! Di otak saya nama dan bayangan Bos sudah melekat permanen bin akut di sana, jadi saya tidak perlu melakukan tindakan apapun lagi bukan ? Simple.""

__ADS_1


Biru memegangi dadanya yang jedag jedug, rasa rasanya Jantungnya mau melompat keluar saking Speechless nya. Biru jantungan gan mendengar jawaban lurus bin jujur Mentari. Mungkin begini ni rayuan cinta ala ala orang lempeng, terdengar sederhana dan santai tetapi mengena ke rulung jiwa. Biru mendadak ingin melompat lompat keudara saking senangnya, Wajahnya memerah karena tersipu malu. Astaga... kelakuannya sudah seperti remaja alay hanya mendapat sepotong rayuan dari Mentari sudah seperti itu.


"" Lho Bos, wajahnya kembali memerah, Di segerakan ke Dokter Farel lho Bos, Saya takut ini benaran penyakit Sindrom Stevens-jhonson."" Mentari menyentuh dahi dan wajah Biru dengan lembut, Membuat sang empu wajah semakin jedag jedug.


""Saya tidak sakit petite, Saya begini karena terbuai oleh rayuan dari mu tadi."" Biru mengabsen seluruh wajah Mentari dengan kecupan penuh sayang, Sekilas ia mencuri bibir mungil itu, melamutnya dengan gemas, Namun Mentari mencubit pinggang polosnya menggunakan kuku lentiknya membuat tersadar dari aksinya. Entah kapan kuatnya ia bisa menahan hasrat laki lakinya. Bahkan ia sudah terbuai mimpi semarak kehidupannya nanti saat ia pulang mencari nafkah sudah di sambut ceria oleh Mentari juga anak anaknya, Kapan itu...Ia sudah ingin mengakhiri masa lajangnya yang tak menentu.... Tapi, Oh.... Astaga, Petite-nya masih belum siap.


"" Saya merayu Bos. ?"" Mentari menunjuk dirinya sekilas dan Terakhir menunjuk dada Biru dengan telunjuk itu menempel di kulit dada Biru. Lagi lagi Biru seakan tersetrum, Bisa klepek-klepek kehilangan nafas ia di lantai seperti ikan nyasar butuh air kalau Mentari terus menyentuhnya.


""Kapan itu ?"" Heran Mentari, bahkan ia tidak pandai merayu. Gila aja merayu Bos yang kadang kala mesum nyuri nyuri bibirnya, Bersikap biasa saja Bibirnya sudah bengkak apalagi merayu, bisa koit masa depannya. dan akhir akhir ini, Mentari juga sering melihat Bosnya tersenyum senyum sendiri seperti orang sinting, mana mau ia merayu orang aneh begitu.


Biru memperhatikan wajah kebingungan dan bibir bengkak yang masih terlihat basah Mentari, membuat Biru gemas sekaligus bercampur kesal setengah mati. Giliran menjabarkan otak Ensiklopedia berjalan bisa sedetail detailnya, Tetapi giliran menganalisa diri sendiri malah tidak peka sama sekali, Sungkem euy ! Biru nyerah tidak mau menjabarkan kebingungan Mentari, bisa panjang urusannya kalau ber-argument terus masalah Rayuan.


Mentari melongo, sejurus kemudian ia hanya mengedip kan bahu. Terserah bos wae lah !


Trrrrrt....Trrrrrt...


"" Petite, Tolong dong bukain pintu, itu pasti sekretaris saya datang membawa berkas untuk di tanda tangani, Saya memakai baju dahulu.""


Mentari tiba tiba parno mendengar sekretaris datang ke unit Biru. Sena kah ? Cih, Tidak ada profesionalisme sama sekali, kerja kok di apartemen.

__ADS_1


"" Sena kah itu, bos ? Kenapa tanda tangan saja sampai nyamperin ke Apartemen Bos, Tidak bisa menunggu di kantor saja kah ? Emang dasar Bos ini, bos manja ber VVIP premiere."" Mentari mendadak kesal, ia mengira yang di luar itu Sena-sekretaris yang secara pribadi datang menemui Biru mengatas namakan pekerjaan kantor. Coba ia tidak ada di sini, Pasti Sena dan Bosnya berduaan tuh di dalam unit.


""Kamu Cemburu ke Sena Petite ? Kamu tidak usah cemburu sayang, Itu bukan Sena melainkan sekretaris baru yang di kirim Papa ku dari pusat. Sudah ah, Wajahnya jangan di tekuk begitu.""


Biru mengacak acak rambut hitam Mentari dengan gemas. Hatinya senang bukan kepalang saat Mentari punya rasa cemburu berlebihan.


""Hah Cemburu ? Siapa yang cemburu ? Saya hanya tidak suka mendengar nama itu apalagi datang ke sini pas ada saya di sini pula."" Mentari nambah sewot di kira cemburu oleh Biru.


""Itu namanya cemburu sayang.""


Biru mengulum senyumnya, Takut takut Mentari malah semakin sewot kalau tahu dirinya di tertawakan. Terserah Mentari saja mau ngeles atau memang tidak peka dengan kelempengannya. Yang penting Biru tahu ternyata gadis polosnya ini begitu mencintainya, Rupanya !


""Ah, sudah lah...saya akan bukain pintu, tapi kalau itu Sena saya akan usir ya ? dan bos jangan marah akan hal itu...Dan kalau mau bertemu dengannya jangan di sini, tapi di kantor saja... menjunjung tinggi profesionalisme dalam bekerja itu... Indah !"" Gerutu Mentari beranjak pergi menyisakan Biru yang sedari tadi menahan senyum geli.


""Bukalah sayang, Di luar itu sekretaris ku adalah seorang laki-laki. Dan...oh... ternyata kalau kamu cemburu menyeramkan juga, bisa marah marah pula, Tapi aku suka !"" Gumam Biru tersenyum manis seraya membalut pakaian ke tubuhnya cepat cepat, Ia lupa... kalau sekretaris laki laki ini tukang menggombal.


Awas saja milik dari atasan mau di gombali pula, Ku kutuk kamu !


...*****...

__ADS_1


Jempol ah...!😘


__ADS_2