RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 42


__ADS_3

Ostia Club pukul 20:00 WIB...


Malam Minggu pun tiba...Biru sudah sampai di bangunan khusus petarung bebas untuk menjabat tantangan dari seorang Langit Syaputra, dengan penampilan Jogger shoes, Jogger pants dan hanya T-shirt hitam ketat tak berlengan membalut tubuh berototnya.


Biru mengedarkan mata elangnya untuk mencari sosok Langit di antara banyaknya petarung bebas dan penonton yang siap sedia bersorak hanya demi money.


Tidak ada udara segar di ruangan itu, Hanya bau alkohol dan asap tembakau yang menyeruak, Dan pengunjung lainnya terlihat bengis semua tuh penampilan.


""Sagara ?!"" Kode dari Langit dari samping ring.


Biru menoleh tersenyum sinis dan melangkahkan kakinya lebih masuk menghampiri si Langit, Si pentolan ketua geng tawuran di masa Putih abu abu. Biru menampilkan senyum sumirnya, Tangannya sudah gatal gatal ingin berbaku hantam. Alright! Mari kita ramaikan pesta adu otot ini.


""Se..Se...Se, Tunggu dulu, ini kalau tidak salah Biru kan ? Mantan ketua Club Moge di masa masa kuliah kita dulu yang terkenal santun di dalam area kampus tapi aslinya pshyco di luar area aman. Eetdah, Lama tidak jumpa bro, apa kabar ? Lo dari dulu gini gini aja ya, awet muda ! Lo pasti ngemilin Formalin melulu ya, jadi tetap saja terlihat brownies ! Lo ngapain di sini, jangan bilang Lo mau menjadi petarung di arena ini ? Nantangin siapa Lo di sini."" Satria Kurniawan, teman semasa kuliah menghentikan langkah Biru dengan menyapa girang dan mencerca riang sederetan pertanyaan.


""Dia datang menerima tantangan gue.!"" Langit yang penasaran dengan obrolan si Satria teman somplaknya dengan Biru si musuh mendarah daging, menghampiri, Bisa bisanya si teman sekaligus asisten somplaknya bertos ria dengan si Biru tua.


"" Wuanjiiir...Jadi si duo banteng akan beradu otot di mari, ya ? Woekelah... Gue mah sportif orangnya, Satu sohib semasa kuliah, satu lagi sohib somplak di masa sekarang, Gue dukung yang menang aja deh. Ok! FTV yang berjudul duo pejantan tangguh akan mengudara di arena Ostia."" Satria pun mengambil ancang-ancang untuk mencari kursi strategis tapi berbalik lagi, ia masih penasaran akut.

__ADS_1


""Tapi tunggu dulu, Kalian akan bertarung demi memperebutkan apa coba ? tidak mungkin uang kan, secara kalian tuh aslinya CEO semua, Oh.. Kalian pasti memperebutkan Gue, Sorry ya, Gue tidak suka Batangan man, Gue masih doyan bolong bolong sempit."" Satria meringis setelah berucap konyol, dua tangan kekar berjamaah menggeprak kepalanya. Biru dan Langit melototi teman beda genre sakarang.


""Njirlah, Ah.!"" Satria cengir kuda dengan tangan mengelus kepalanya.


""Dari jaman kuliah sampai jaman maju begini, bacot Lo tidak pernah di filter nyuk, Jangan IOS ponsel yang Lo Upgrade melulu, tapi tingkat bacot Lo juga harus naik standarisasinya. Kalau bisa di SNI sekalian."" Decih Biru.


""Buset dah, Lo pikir gue helm apa, Di label SNI segala. Atau mungkin Jangan jangan Lo naksir Caem Caemnya Langit ya, Bi ? ampe rela Lo terimah tantangan si Langit bos somplak gue di singgasananya.""


Satria yang jago mengorek orek info, mulai melancarkan aksinya yang menyerempet pertanyaan berbahaya. Langit kembali menggeprak kepala Satria. Satria hanya cengengesan bak orang bodoh.


Biru mendelik ejek ke Langit. ""Seharusnya pertanyaan itu Lo lempar ke Langit. !"" Biru meninggalkan dou laki laki itu menuju ke ruang ganti yang di isi petarung petarung junior.


Seraya menunggu Biru, Langit terlihat mengetik pesan di ponsel pintarnya. dengan senyum licik terlukis.


@Langit


[Mentari, Lo cepat datang di alamat ini, Jln ******* Ostia club, Si Biru lagi dalam keadaan luar nalar.]

__ADS_1


Setelah di read, Langit kembali tersenyum licik, kali ini ia punya rencana licik yang bagus. Jika dirinya tidak bisa mendapatkan Mentari, Biru pun tidak boleh mendapatkannya. Pfhuuuuu...si piala bergerak kali ini akan merasa hancur tanpa di raih olehnya dan oleh Si Biru. Hebat ! Langit menepuk tangannya, Senang dengan idenya.!


Ini dia, si penerima tantangan sudah siap. Biru menaiki ring di susul oleh Langit di sisi kiri. Satria berdecak pinggang berdiri di luar ring seraya menggeleng bingung dengan kedua temannya yang mungkin lagi bergeser otak jernihnya. Bisa bisanya bertarung hanya demi cewek, Woy.. Cewek banyak bro di luar sana. Cibiknya, wislah... apa Jare ning kono, bae ! Aku hanya penonton yang akan menghebohkan udara ostia.


Setelah si seksi UFC girl pembuka acara turun dari ring dan di susul wasit memberikan aba aba untuk mulai. di imbuh dari sorak piawai oleh sang pejudi petaruh. Biru dan Langit pun sudah siap dengan kuda kudanya masing-masing.


""Sportif !"" Ucap Biru mengingat kan perjanjian awal, yang kalah harus mundur untuk mengejar meraih hati Mentari. Biru langsung menyerang dada Langit.


""Tentu !"" Sahut Langit sinis. Serangan Biru di tangkis remeh oleh Langit. Langit melakukan aksi yang sama, Menyerang dada. Satu sama...Biru pun menangkis dengan mudah namun serangan balasannya membawa hasil, Langit terkena tendangan tak terkira dari Biru yang jatuh pas di tulang keringnya. Denting....Langit meringis sakit, Biru sangat gampang menemukan titik lemahnya.


Serangan demi serangan terjadi, Tidak ada yang mau saling mengalah dengan keadaan fisik sudah pada lebam babak belur apalagi Langit yang sudah mengeluarkan darah dari lubang hidungnya alias mimisan selalu di serang tonjokan oleh Biru. Biru sendiri hanya memar biru keunguan di rahangnya, Fisik Biru memang tidak menjanjikan seorang petarung hebat. Tapi jika jiwa pshyconya di usik, maka ia tidak akan tanggung tanggung menghabisi nyawa lawannya.


""One, Two, Three, four, Five, six....""Sampai beberapa jam pertarungan, Hitungan wasit pun sampai Ten terdengar menandakan akhir kekalahan dari Langit yang sudah tidak sanggup bangun setelah mendapat serangan melumpuhkan dari Biru di bagian tengkuknya sampai Langit memuntahkan cairan bening dari mulutnya namun kekuatan seorang langit tidak di remehkan oleh Biru. Biru sendiri hampir tumbang setelah mendapat serangan melumpuhkan di bagian dadanya, ia merasakan di bagian Jantungnya terasa sesak dan sakit.


Di luar gedung, Mentari mengamati gedung Ostia itu dengan tatapan aneh. Tempat apa ini ? Gumamnya, Seram ! Apa maksud pak dosen tampan itu menyuruhnya kesini ? di luar nalar apa yang dilakukan oleh Bos manisnya itu di tempat aneh, seram dan terlihat mencengkeram itu.


Tak ingin bertanya tanya sendiri, Mentari memberanikan diri untuk melangkah masuk dengan langkah penuh kewaspadaan, demi Biru ia memberanikan diri padahal dalam hatinya ia sangat menciut dengan hal hal yang berbau tempat seram.

__ADS_1


LIKE, VOTE DAN BUNGA BUNGA 🌹😘😘😘


__ADS_2