
""Saya terima nikah dan kawinnya Roselia Armita Wahab Binti Adam Al Wahab dengan emas kawin 500 gram emas dan seperangkat alat sholat di bayar tunai.""
Radja menjabat tangan pak penghulu dengan suara tegas nan lantang.
""Bagaimana saksi ? Sah ?"" Kata pak penghulu.
""Sah !"" Sahut sang koor dan para keluarga inti yang menyaksikan.
Alhamdulillah
Dan Rose pun menyium punggung tangan Radja yang sudah sah menjadi suaminya dan di balas kecupan hangat di dahi Rose oleh Radja.
Kompak mata itu melirik ke orang yang terlentang sakit di atas brankar. Yaapp... Pesta dan rencana rencana yang sudah di atur apik oleh keluarga akan pernikahan Radja dan Rose tidak lah sesuai ekspektasi mereka. Bima tetiba terkena serangan jantung dan meminta pernikahan segera di laksanakan sebelum tubuh renta itu terbujur kaku, pintanya. Dan Risma yang sebagai pasangan hidup Bima ikutan sakit karena shock yang tetiba Suaminya jatuh sakit parah.
Di ruangan rumah sakit, Di sinilah....Di hadapan Bima dan Risma, Radja dan Rose melangsungkan akad nikahnya yang hanya di hadiri inti Keluarga saja.
Di tengah-tengah berliburannya mereka di pantai, Tetiba Mentari dapat kabar buruk dari Gemi kalau Bima-kakek mereka tetiba abruk karena penyakit jantungnya yang memang di deritanya selama beberapa tahun belakangan ini, kambuh.
Entahlah...Radja beserta keluarga juga Rose harus bahagia di hari ini atau tidak ? Yap, Harusnya mereka sih bahagia dengan pernikahan ini, Tapi di sisi lain, Mereka juga bersedih melihat Bima dan Risma dalam keadaan sakit.
Hening sesaat setelah pak penghulu dan para saksi meninggalkan ruangan, Biru dan Langit yang biasa kompak menggoda Radja dalam situasi ini, Nampak mingkem sedari tadi dengan rangkulan terpatri di sisi istrinya masing-masing.
""Kita keluar yuk Sayang ! kita beri ruang untuk mereka." Ajak Langit ke Senja.
Biru Mentari serta Gema Gemi pun mengekor langkah Langit Senja. memberi ruang untuk Rose dan Radja bersama kedua orang tua yang sedang dalam terbaring sakit. Tegar beserta keluarga kecilnya pun ada di antara mereka yang baru tiba dari luar negeri bersama Arkanas.
""Kak Dja, Mbak Rose...Kami pamit untuk pulang dulu, Nanti saya kesini lagi untuk menggantikan kalian menjaga papa Mama.""
Radja mengangguk tanpa menoleh, Rose pun hanya tersenyum kecil sebagai Jawaban atas kepamitan Tegar beserta keluarga kecilnya.
""Kamu juga pulang lah Rose, Minta Biru atau Langit untuk mengantar mu pulang. Sedari semalam kamu tidak istirahat kan, jadi pulang lah, aku tidak mau kamu malah sakit juga.""
""Biarkan aku di sini Dja, bersama mu menjaga Papa Mama !"" Mohon Rose.
""Baiklah !""
__ADS_1
...******...
""Ayah !""
""Bunda !""
Si Triplets menyambut kedatangan Ayah Bundanya yang baru turun dari mobil di pelataran rumah mewah Sunjaya.
""Anak anak Bunda !"" Senyum manis terpatri di bibir Mentari seraya menyiumi satu persatu pipi ke-tiga anaknya, Walaupun hatinya Bersedih akan sakitnya kedua orang tua Amang-nya, Tetap di hadapan ke-tiga anaknya kudu wajib Tersenyum.
Vane dan Titan pun baru terlihat dari dalam rumah.
""Anak-anak kalian main dulu ya di dalam atau di rumah Kak Dibi, Oma mau bicara dengan Ayah Bunda kalian sebentar.!"" Ujar Vane. Ketiganya menurut manis tanpa satu katapun berjalan menuju ke teras rumah Al Miller.
""Ada apa Mah !"" Penasaran Biru. Biru dan Mentari di giring masuk kedalam rumah oleh Titan dan Vane.
Kedua orang tua ini belum menjawab, duduk di sofa tamu. Biru dan Mentari pun lirik lirikan seraya menaruh bobotnya masing-masing di kursi.
""Apa ada yang penting Ma, Pa ?"" Seru Mentari penasaran dengan wajah serius kedua mertuanya.
""Benar nak, Kami kesepian di setiap hari weekend !"" Memelas Titan.
Biru dan Mentari kembali saling pandang, namun bibir itu masih tertutup rapat.
""Tari, Mau ya... lagian biar mama juga banyak bergerak dengan adanya si Kembar, hitung hitung membantu kamu merawat anak anak kalian, kamu kerja di RD BATARA lagi tak apa kok, atau melanjutkan kuliah kamu yang sudah di tinggal hampir empat tahun. Mama tidak mau mati kesepian lho sayang----!""
""Hust, Mama ngomong apa sih, jangan bicara seperti itu...Tari setuju dengan usul mama dan papa untuk tinggal di sini, Yap benar...Tari butuh bantuan Mama untuk merawat si kembar karena mungkin belakangan ini Tari akan banyak mondar mandir ke rumah sakit untuk Kakek dan nenek Risma. Tapi masalah kerja dan kuliah rupanya masih dalam tahap pikir panjang dulu. Ya sudah yah...malam ini pun Tari akan tinggal di sini... Tari pamit ke kamar ya Pa, Ma, Hulk aku duluan.!"" Wajah Mentari begitu pucat karena kelelahan, beranjak dengan reflek memegangi pelipisnya yang menandakan ia sedang pening.
Biru yang melihat pergerakan reflek itu pun, berangsur pamit di hadapan orang tuanya yang Tersenyum puas dengan pengertian Mentari yang mau tinggal di rumah besarnya...inilah yang di tunggu tunggu oleh Titan dan Vane, keramaian, rumah mereka yang tadinya sunyi senyap seperti tak berpenghuni, jika tidak ada Dibi-cucu Meca Fina maka sepi sudah hidup Vane selama di tinggal kerja Titan, Namun Sekarang Dibi sudah bersekolah maka kesepian itu menusuk jiwa tuanya. dan sekarang Alhamdulillah Biru beserta keluarga kecilnya mau meramaikan rumahnya.
...****...
""Ish, Pelangi nggak cuka kak Dibi.""
Di rumah sebelah kanan, Pelangi memerengut kesal ke Dibi yang sedari tadi menciumi pipi chubbynya. padahal anak cantik Mentari itu sudah memberi peringatan kalau Dibi tidak boleh menciuminya tanpa ada ijin darinya.
__ADS_1
""Hahahaha, kamu itu pacar Kaka ! Terserah kaka dong, mau cium ciumin pipi bakpao mu ini."" Goda Dibi. Reflek Pelangi bersembunyi di belakang tubuh kecil Topan yang hanya cuek dengan mainan rubik penghasa otak.
""Diam !!!""
Badai yang malah membentak, terganggu oleh perseturuan Pelangi dan Dibi, anak bungsu Mentari ini sedang memecahkan puzzle puzzle besar milik Dibi yang memang sekarang mereka berempat ada di kamar Dibi.
""Baiklah, Kaka Dibi diam...Tapi, Hap...""
""Hahahaha, ampun...ampun...!""
Dibi yang hanya beralibi akan diam, malah menangkap tubuh kecil pelangi yang bersembunyi di belakang Topan, menggelitiki Pelangi sampai anak kecil ini terbahak.
"Pengganggu !!!""
Duaghhh.
Topan kesal, konsentrasinya terganggu apalagi rubiknya yang sedari tadi ingin di pecahkan hampir terjatuh karena ulah Dibi, Di lemparnya Rubik itu tepat mengenai jidat Dibi yang sedang bercanda dengan Pelangi.
""Yaaaak, bocah kulkas rusak !!!"" Umpat Dibi berdecak pinggang.
Pelangi yang mengerti Perangai asli Topan yang tidak mungkin diam untuk tidak membalas, Segera berdiri di tengah-tengah Dibi dan Pelangi seraya tangan kecil itu merentang sebagai penghalang. .
Badai ? Bocah satu ini cuek bebek masih setia dengan puzzle puzzle yang di anggapnya adalah puzzle tersusahnya yang biasanya sangat mudah di pecahkan.
""Jangan belantem, Pelangi nggak cuka !"" Lerainya ke Dibi dan Topan, Memainkan mata bulatnya yang seperti rubah ketajamannya sehingga bulu mata itu berkedip cantik dengan irama kedipan matanya.
"" Ayo pulang ke rumah Oma !"" Mata sinis Topan terpancar ke tubuh tinggi Dibi, pertanda belum berakhir. Namun Dibi bukannya marah malah tersenyum geli, menggoda.
""Kaka Dibi."" Tangan Pelangi menyuruh Dibi untuk duduk di kursi meja belajar. Topan sudah beranjak keluar.
""Jangan nakal ya ! Pelangi nggak cuka ada yang ini !"" Lembut Pelangi perhatian. ke sudut memar di jidat Dibi karena terkena ujung rubik besar ulah Topan. Tangan kecil itu pun mengelus lembut jidat Dibi.
Dibi yang suka kelembutan hati Pelangi jadi Tersenyum hangat, ini kah rasanya punya adik ? Batinnya yang menganggap Pelangi sebagai adiknya sendiri...mau punya adik sendiri, Mamanya-Bintang selalu berkata jika melahirkan itu sangat sakit.
""PELANGI...BADAI !!!""
__ADS_1
Nah lho, nah lho...Angin Topan sudah ribut... Ke-dua nama ini seketika ngacir keluar dari kamar Dibi.