RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 241


__ADS_3

Pagi menyerang mahluk bumi, Satria mengerjapkan matanya berkali-kali, Merenggangkan otot ototnya, Namun saat tangan itu ingin bergerak, serasa susah untuk bergerak.


""Gemi !!!!""


Terkesiap pakai banget, Saat mendapati Gemi dalam dekapannya dengan shiiiitt, mereka dalam tubuh Naked di dalam selimut berdua. Tidak usah bertanya ada apa ? Karena Satria sudah paham betul kalau mereka dalam situasi habis melakukan itu bersama. Tapi kenapa harus Gemi, korban ketidak sadarannya dalam pengaruh alkohol ? Hidupnya akan tambah sulit lagi kalau sudah berurusan nama Batara. ia kan sudah kepingin menjuah dari nama klan itu, ini malah bertambah runyam saja.


Gemi pun tersadar dalam tidurnya, rasa rasanya tulang berulangnya seperti mau copot saking remeknya badan ini setelah pertempuran semalam.


""Mi, Gue--Gue minta maaf, Gue nggak tahu kenapa berujung seperti ini, yang gue ingat saat kita bertemu di club saja dan setelahnya----!""


""Lupakan saja apa yang sedang terjadi antara kita hari ini, Kita tidak usah mempermasalahkannya Karena kita melakukannya saat sama sama tidak dalam kesadaran jernih.""


Tentu saja Gemi tak mau menyalahkan Satria, wonge ia pun dalam keadaan menginginkan pelepasan dan sialnya ia tidak tahu kenapa begitu ? Cuma ia sadar betul kalau semalam melakukan bersama Satria tanpa ada paksaan dari pria ini. Dan Gemi tercubit hatinya di saat bibir itu mendesah menikmati tubuhnya tapi dengan santai, Satria meracau nama perempuan lain. Dan ia tidak mau baper untuk menangisi yang sudah hilang, anggap saja malam tadi telah membuang sial tapi sialnya malah Satria yang jadi lawannya. Great *sce*nario, isn't it ?


Gemi hanya berharap agar kejadian malam tadi tidak ada hasilnya di dalam sana karena di saat ini, ia sedang dalam masa masa suburnya karena baru beberapa hari lalu ia selesai kedatangan tamu.


Satria terdiam. memperhatikan punggung Gemi yang beranjak menuju kamar mandi hanya menggunakan selimut asal asalan membalut tubuh sekal itu dengan jalan tertatih-tatih. kenapa Satria menyebut Gemi berperangai sekal karena tubuh wanita itu seperti atlet wanita yang kebanyakan berolahraga berat, namun sangat pas untuk kepribadiannya yang terkesan misterius.


Namun pertanyaannya, Kenapa wanita itu terlihat santai saja, tidak ada mimik sedih apa pun di air muka anak dosennya, Biasanya gadis di luar sana setelah melakukannya secara pagi pagi sang gadis akan membuat drama, tapi Gemi tidak. Apa kah Gemi sering melakukannya bersama pria lain ? Cih. Bahkan Gemi tak ada malu malunya sama sekali yang sangat santai menarik selimut yang di gunakan oleh mereka, dan berakhir ia sekarang terlihat polos di atas kasur, otomatis tadi Gemi melihat tubuhnya ini dong.


Ck, Ck, Ck, Gue pikir dia wanita baik ba---Hais, noda darah. Satria meralat ucapannya, Saat ingin beranjak dari kasur, ia melihat sebercak darah di kasur dengan cairan bening lainnya di sana.


Shiiiitt, Gue yang pertama ? Tidak ada kebanggaan di hatinya, hanya rasa bersalah dan khawatir. Bagaimana kalau Gemi menuntutnya Setelah ini. sungguh...ia tidak ada niatan untuk menikahi Wanita khas Pertiwi lagi, ia berniat akan meninggalkan kota ini beserta kenangannya dan akan pergi ke tempat kelahiran orang tuanya saja.


""Kenapa masih berada di sini ? pergilah ! anggap saja kita tak pernah melakukannya."" Gemi baru terlihat dari kamar mandi, membuka lemarinya dan menarik asal asalan kaos oblongnya yang king size, melempar kaos tersebut untuk Satria gunakan, karena tidak mungkin Satria kembali menggunakan baju bekas muntahannya. ""Pakai itu, Baju mu sudah aku buang, sangat menjijikkan."" Tukasnya.


Satria diam, namun memakai kaos Gemi yang sialnya ngetat berasa membalut tubuhnya, bagi Gemi itu pakaian terbesarnya, Tapi bagi Satria, itu adalah baju terseksi di tubuhnya.


Gemi beranjak menarik seprai putihnya, membuang seprai tersebut masuk kedalam tong Sampah. Dalam hatinya, ada rasa sedih juga melihat darah bekas selaputnya sudah membekas di kain itu, ia tidak menyangka kalau kesuciannya di ambil oleh orang yang bukan siapa-siapanya, pacar bukan, calon suami apalagi... Mungkin kebanyakan wanita di bagian barat sana tentu Kevirginan itu sudah tidak penting lagi, Tapi tidak untuk dirinya, yang tinggal di negara bagian timur, Yang mana Kevirginan masih di permasalahkan dan masih di junjung tinggi oleh sebagian wanita.


""Apa Lo yakin nggak apa apa Gemi ? apa ini pertama kalinya bagi Lo ? kenapa Lo nggak mengelak sih, apa Lo juga dalam keadaan tidak sadar kah ?"" Cercanya prustasi.

__ADS_1


Gemi memutar matanya malas. Satria ini bodoh atau apa ? pertama, Tentu saja. Bahkan Gemi tahu kalau Satria melihat bercak darah tersebut.


""Gue dalam keadaan sadar. Puas ! Tapi...tubuh gue menginginkan Lo, Kenapa ? Entah...itu yang gue bingung kan juga. Otak gue menolak tapi tubuh gue yang merespon welcome. dan tenang saja, gue nggak akan minta pertanggung jawaban Lo. anggap saja ini hanya kecelakaan saja. Dan Gue mohon Pergilah Sat ! Gema pasti dalam perjalanan kesini karena setiap gue nggak balik kerumah, dia pasti mastiin keberadaan gue di sini, jangan bikin keadaan bertambah runyam.""


Gemi mendorong paksa punggung Satria, ia sungguh takut kalau Gema dan Radja tahu apa yang sudah terjadi, Kembarannya itu sangat overprotektif menjaganya.


Satria yang di usir paksa, mau tidak mau menurut, ia juga tidak tahu harus bersikap seperti apa untuk menyikapinya. Bukan ia tidak tahu diri, habis enak begitu saja melepehkan, Tapi harus bagaimana lagi, Gemi hanya whatever, Oke kalau begitu, ia akan menuruti Gemi saja.


""Tunggu dulu !""


Satria kembali berbalik yang sudah berada di ambang pintu. ""Apa ?""


""Kalau lagi en* en* tolong kondisikan mulut Lo itu, menggempur wanita lain tapi menyebut irama nama wanita lain, kan kasian banget jalan* Lo nanti, dia yang muasin Lo, Tapi nama calon Kaka ipar gue yang Lo sebut sebut, haram hukumnya karena wanita yang Lo idam idamkan akan menjadi istri orang sebentar lagi, paham pak Satria ?."" Ketus Gemi, tanpa menunggu jawaban Satria yang melongo, pintu sudah tertutup braak.


Di depan pintu lift, Satria menunggu pintu itu terbuka, saat pintu sudah terbuka, ia di buat kaget, Gema dan Jum yang berada di dalam lift tersebut yang sialnya Mereka sepertinya mau menghampiri unit Gemi. benar kata Gemi. Batinnya.


""Lo !"" Selidik Gema, Jum tanpa sadar mencengkeram erat ujung Jas Gema untuk sekedar meminta perlindungan, Membuang wajahnya saat Satria meliriknya.


""Lo di sini Sedang apa ?"" potong Gema.


"Ngapain aja !"" Satria mengalah, ini bukan saatnya untuk berbicara ke Jum, secara wanita yang di cintainya itu sangat terlihat takut melihatnya. ia pun melangkah masuk ke dalam lift yang di tahannya sedari tadi.


""Kamu tak apa ?""


Jum tersadar akan suara Gema juga Sentuhan pria ini di tangannya yang sedari tadi mencengkeram erat ujung jas Gema.


""Apa ? A-aku tak apa ! ayo... silahkan pak Gema duluan melangkah.""


""Aku bilang jangan panggil aku pak jika dalam keadaan berdua saja, panggil aku mas, Abang atau apapun itu."" Gema melangkah dengan tangan itu menuntun Jum agar melangkah beriringan menuju ke unit Gemi. Jum tak merespon, pikirannya ada di Satria, sedang apa sang mantan itu di sini dalam waktu masih pagi pagi begini.


Gemi mengerang Kesal, Pintu kembali di ketuk. ia pun melangkah dan siap menyemprot Satria yang entah mau apa lagi.

__ADS_1


""Gue udah bilang, per--- Ah Bang Gem, Calon kaka ipar, ngapain kalian di sini ?"" Gemi salah sasaran, ia kira Satria yang balik lagi.


""Kenapa wajah adek tetiba pucat begitu, hah ? Dan siapa yang adik cetusin tadi.""


Nah, kan...Salakan pertama.


Gema menerobos masuk, di ikuti Jum yang Tersenyum manis ke Gemi.


"" adik kenapa nginap di sini, di telpon semalaman tidak di jawab, Apa adik ada macam macam ?""


Salakan kedua . Gemi menghitung poin, hanya diam mendengarkan sang Kaka yang overprotektif. Jum sampai melongo, Si pria irit bicara ternyata sayang Adik, rupanya.


""Kenapa kamar adek terlihat seperti kapal pecah, tak biasanya seperti itu, dan itu... kenapa seprai ada di tong sampah.""


Salakan ketiga. semoga Kaka melebihi papa ini tak menarik seprai, kalau itu terjadi, alamat mampus, ada baju Satria di dalam sana.


""Kenapa diam saja, Adek nakal ?"" Gema mensentil lembut dahi Gemi.


"" Abang nya aja nyap nyap ter--Eh, Ngapain abang narik seprai kotor itu."" Gemi langsung menepis tangan Gema yang hampir menghela kain tersebut. membuat Gema curiga, Jum hanya diam memperhatikan cengkrama adik kaka di hadapannya.


""Kenapa memang ?"" Tentu saja Gema kembali beraksi. Dan Gemi tak bisa apa..Tapi tetiba ada lampu terang yang menyala di otaknya.


""ish, Abang itu ya ! seprei ini tuh kotor, ada noda darah bulanan adek, Tapi kalau tak percaya, sini adek jabarin di depan mata Abang adek tersayang."" Gemi kembali menepis tangan Gema. ia tak mau kalau Gema melihat baju pria di dalam sana.""Kaka ipar, jelasin dong ke Calon mu ini, Kaka ipar kan pasti juga pernah mengalaminya kan, saat bangun tidur ada darah di mana mana kalau lagi dapat." Gemi minta pembelaan.


""Tenang saja Mi, Kalau tak percaya... tinggal Lo buka seprai itu dan letokin noda tersebut di tangannya, atau Lo suruh saja sekalian Abang Lo itu mencucinya, mungkin abang Lo menyayangkan kain mahal itu di buang.""


Salah kan ketiga. ada untungnya punya Calon kaka ipar tak mempunyai rem dalam bertutur. dan ahai...abang gue jadi asem tuh wajah tampan di suruh nyuci noda merah.


""Kalian itu ya, sama saja yang kerap kali ngebuat ku sakit kepala dengan kata kata unfaeda kalian. Nanti kalau sudah satu atap, jangan sering sering sharing ya, bisa bahaya kepala ku nanti. Dan kamu Jum, ayo kita berangkat kerja, sudah siang gara gara Gemi yang entah ada apa semalaman penuh aku mencemaskannya.""


Maafkan aku bang, Papa. Aku sudah gagal menjaga kepercayaan kalian.

__ADS_1


__ADS_2