RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 36


__ADS_3

""Sayur....sayuuuur..!""


Setelah kepergian Biru dari rumah Mile kemarin, Mentari yang melihat gerobak sayuran yang terbengkalai tidak terpakai di samping rumah Mile seketika mempunyai ide cemerlang. ia meminta ijin meminjam gerobak itu dan akan berkeliling berjualan sayur mayur dengan modal uang yang di temukan di dalam tas lusunya.


Hem... Nambah hutang lagi di Bos Biru ! Begitulah Mentari berceloteh setelah mengetahui jika isi tasnya ada beberapa lembar duit dan smartphone yang sebelumnya ia pegang. Siapa lagi yang menaruhnya kalau bukan bos bak malaikat itu, baik tampan pula, bukannya ia tidak bersyukur, tapi sungguh kedepannya ia Cuma takut jika ia dapat masalah yang tak terduga atau ia tidak mau di cap orang sebagai parasit.


Mentari bangun di dini hari sebelum subuh untuk ke pasar membeli sayur mayur dengan memakai sepeda goes buntut milik Babe Rojali pula yang sama sama tak terpakai dan...di sinilah Mentari di pagi pagi berembun menjajalkan sayuran di perkomplekan mewah sebelah gang kontrakannya.


""Sayur... Sayuuuur.!"" Seru ulang Mentari seraya terus mendorong gerobak sayurannya. Hidup di kota keras harus be smart menjalankan hidup, tidak ada kata malu di list hidupnya jika memang pekerjaan itu halal bin berkah, amin.


""Sayuuuur...Sayuuuur, masih segar alias fresh fresh fresh."" Ceria Mentari memanggil isi rumah orang orang yang mungkin masih bergelut di dalam selimut.


Belum ada tanda-tanda orang yang berminat, bahkan perkomplekan mewah kok seperti kuburan masih sepi.


Mentari berhenti di depan salah satu rumah mewah memandangi rumah itu seraya berkata. ""Enak benar ya jadi orang kaya, bangun di siang bolong, Terus bangun bangun di meja makan sudah ada berbagai macam makanan menantinya. Nah, aku ! sebelum subuh harus bangun tidur cepat cepat mencari nafkah, Kata Amma di kampung sih, 'Mentari....ayo nak bangun cepat cepat, jangan sampai ke duluan ayam jago berkokok nanti rejekimu di patok ayam, berabe !' " Mentari tersenyum rindu jika mengingat Ammanya berceloteh membangunkannya. dan dengan jahil ia sering menggoda ammanya, ia akan berucap. Nanti Mentari sebelih tuh ayam kalau berani berani mematuk rejeki ku, Amma ! Bangunnya lima menit lagi, Ayamnya tidak akan berkokok cepat, ayam jago itu takut bersuara sebab akan ketahuan persembunyiannya, ayam jagonya takut di tangkap dan takut di jadikan sabung Ayam. jadi ayam jago hari ini tidak akan berkokok.


""Amma....sehat sehatki di sana, Mentari rindu sekali ka' !"" Gumamnya dengan suara medok khas logat daerahnya.


Mentari membuang nafas sesaknya.""Semangat Mentari. anak rantau harus kuat tidak boleh cengeng.!"" mengusap setetes air mata rindu yang tanpa sadar main jatuh saja. ia pun siap siap untuk kembali berjalan lagi.


""Sayur... sayuuuur."" Pekiknya kembali.


""Berisik, Gue siram pakai air, mau ?""


Mentari terkesiap, mengusap dadanya yang seperti akan mau copot tuh jantung, saat suara bariton bersuara dari balik pagar rumah yang di perhatikan sedari tadi, mengejutkannya.


""Kak Arkan ?"" Lirihnya menatap Arkan yang sudah mengagetkannya.

__ADS_1


""Jangan berisik di depan rumah gue, Cabe !"" ketus Arkan.


Merasa memang berisik, Mentari hanya pasrah di ketusin. ""Maaf kak ! mau beli sayur ? Cabe juga ada, sayurnya masih segar lho, Ni juga bagus untuk orang yang sering marah marah, bisa menurunkan penyakit Hipertensi."" Mentari menyodorkan sebungkus timun ke arah Arkan di balik pagar.


Arkan mendelik horor. ""Lo pikir gue penyakitan Hipertensi arteri apa, sampai di sodorkan begituan.


Mentari mengangguk manis. "" Ya kali...Kak Arkan kan tukang sewot. jadi bisa saja kan darah Kaka terus memompa cepat naik ke otak, Leher kaku, Hipertensi deh gejalanya !"" Ceplos Mentari polos dengan teori medisnya.


Arkan benar benar akan mempunyai penyakit Hipertensi jika gadis di depannya selalu muncul di hadapannya, pikirnya. Gadis ini wajahnya saja yang manis tapi mulutnya seperti sambel pedas berlevel 30.


""Pergi nggak, atau gue siram benaran !"" Arkan dengan cepat menarik selang bekas peranti menyiram tanaman. ia hanya perlu memutar keran air saja.


Mentari yang mendengar dan melihat ancaman dari si mulut ketus seketika ngebirit mendorong gerobak sayurannya dan kembali berteriak, tak perduli dengan peringatan Arkan yang katanya ia berisik. Wong dagang keliling yang harus berteriak.


""Sayur.... sayur, sayurannya ibu...ibu... bapak.. bapak, masak...masak.!"" Suara Mentari seakan tak pernah habis berteriak terus.


"" Eleuh...eleuh, ana wong dagang sayuran kih, manih nemen nemen nemen ayu e !"" Medok seorang ibu ibu paruh baya baru keluar dari pagar dengan khas daerah apa, entahlah Mentari tidak tahu dari mana itu pemilik bahasa.


""Ibu, sayurannya ibu ! masih segar bak perawan masih belum tersentuh, tapi nama saya Mentari bukan ayu e !"" Konyol Mentari tersenyum ramah.


Arkan, dari depan pagar rumahnya, memperhatikan Mentari yang sedang berinteraksi ramah dengan si pembeli yang satu demi satu pembantu tiap rumah mendatangi gerobak Mentari. Senyum misterius muncul di bibirnya seketika.


*****


Biiiiippppp....


Biru meklakson Mentari di depan rumah kontrakannya, Petite-nya masih belum keluar, yang keluar malah penghuni kontrakan sebelah kiri dan kanan, putri semua ! Termasuk Mile dari seberang jalan ikut penasaran, Siapa sih pagi pagi sudah bikin rusuh telinga di area wilayah kontrakannya. biasanyakan adem adem aja.

__ADS_1


""Ya ampun, Si Tampan milik Mentari, Ganteng ganteng tukang rusuh."" Mile menghampiri mobil Biru, mengetuk kaca mobil itu. dan dengan cepat, si empunya langsung membuka kaca.


""Apa ?"" Jutek Biru.


Beh, minta di tabok tuh mulut. gerutu Mile dalam hati.


""Si bapak Bos, ngapain pagi pagi bikin penghuni sini pada tutup daun kuping ? berisik tahu nggak ?"" Semprot Mile.


Biru memutar matanya malas.


""Saya mau cari Mentari, Tolong panggilin !"" Songongnya dengan nada perintah.


""Mentari tidak ada, dia lagi keliling komplek sebelah lagi mider sayur mayur, pak Bos !"" Malas Mile menjelaskan.


Biru langsung membuka pintu mobil dan turun berdiri di hadapan Mile.


""saya tidak salah dengar kan ?"" Biru mengusap daun telinganya, siapa tahu ada conge yang bikin kupingnya budek.


""Tid----! Tuh orangnya, datang."" Tunjuk Mile ke Mentari dari arah yang masih sangat jauh.


Biru mengikuti arah tunjuk tangan Mile. Wajah tampannya tertekuk sedih, tidak rela jika Petite-nya menjadi tukang sayur keliling, ia bisa menghidupi gadis itu walaupun belum bersatus istri, tapi keras kepala gadis itu terlalu tinggi melebihi tingginya Burj Khalifa.


""Keras kepala, Gue cium di tengah jalan tahu rasa !"" Gerutu Biru berlari menghampiri Mentari.


""Aku bantu !"" Biru langsung mendorong gerobak sayur milik Mentari.


""Bos ! yaaak !"" Protes Mentari kesal. Lagi banyak yang beli eh bosnya datang datang main tarik pergi tuh gerobak. kan kabur tuh calon pembeli, mana pada menggerutu lagi si ibu ibu, hancur sudah usahanya.

__ADS_1


Ngambek On, Mentari berjalan cepat meninggalkan Biru yang masih mendorong gerobaknya.


Like Vote, bunga bunga 🌹


__ADS_2