
Petite, jangan !
Biru berteriak dari kejauhan pas kaki jenjang itu melangkah keluar dari Lift, Ia terkejut melihat pemandangan yang tidak enak dipandang mata elangnya. Petite-nya di rendahkan oleh orang lain, Sebagai suami, ia saja tidak pernah menyuruh istrinya untuk mencium kakinya. Sebagai suami pula yang berhak atas segalanya di diri Mentari, ia tidak pernah melukai kulit istrinya secuil kuku pun. Tapi ini.....Sena sialan begitu lancang menyuruh Petite-nya bersimpuh memohon...Benar benar bosan hidup si Sena, Sella Siapapun itu. Kali ini Biru tidak akan menunggu kedatangan Dito lagi... Inilah akhir dari kejahatan Sena. Biru menyesal....Dulu ia hanya menghukum Sena dengan membuat Sena merasakan rumah sakit Jiwa, harusnya dulu ia memberi kan rumah terakhir untuk Sena yakni liang kubur.
Mata Biru begitu menghitam gelap, seraya berlari kecil ke hadapan kumpulan Mentari, ia menggelutukkan giginya saking kemarahannya begitu mengubun.
Mentari sendiri tak jadi bersimpuh, ia kembali berdiri tegak Setelah melihat kedatangan Suaminya, Suami yang paling hebat bagi Mentari.
Di dalam hatinya, Sena sebenarnya ingin kabur ketakutan, dari bangku sekolah, ia sudah mengenal Biru... yang seram mengaum seperti singa jika sedang di usik apalagi ini...ia sudah menyenggol si Sagara ini dengan terang terangan. Bak sudah terlanjur basah maka Sena akan sekalian mandi kuyub saja. Ia akan melawan Biru sebisa mungkin walaupun ia sebenarnya sudah di kepung. Hanya kartu As-nya lah yang kini ia harapkan agar selamat dari mautnya Biru. Tapi biarkan saja.... Biarkan Biru menyiksanya atau pun membunuhnya sekali pun, ia tidak akan menyesal akan kelakuannya yang gila ini.... Karena ya...Sena memang gila....gila akan obsesinya ke Biru, Cinta yang selalu di impikan sejak masa di bangku sekolah putih abu-abu, Sampai sekarang....Biru tak pernah memandangnya walaupun di beri kode kode hangat darinya. itu yang membuat Sena marah, membuat Sena hilang akan pikiran logikanya.
""Sena !"" Geram Biru mencekal kuat rahang Sena tanpa ada rasa ibah sekali pun. Mentari ngeri melihat perangai sisi lain dari Biru saat ini, menyeramkan.
Sena meringis, pandangannya mendongak dalam ke wajah Biru. "" Hay sayang ku !"" Sena masih sempat-sempatnya tersenyum merayu. seakan tidak merasakan takut sedikitpun.
""Lo---!"" Biru tak bisa bicara di buat kelakuan santai Sena. Tangannya berangsur mencekik Sena yang tadinya mencekal rahang itu.
Nafas Sena tersendak, kedua bodyguard bebal hanya bisa menelan ludahnya masing masing.
""Hulk, lepaskan !"" Cegah Mentari menarik kuat tangan Biru ysng menempel di leher Sena. Tapi Suaminya ini masih kekeuh ingin membuat Sena kehabisan Nafas. ""Jangan ! ku mohon, Sena harus hidup untuk membuat Amma ku sehat kembali, hiks...hiks, ku mohon ! Amma---!""
""Apa maksud perkataan mu, Mentari !"" Tangan Biru reflek melepaskan cekikannya.
"" Uhuk uhuk, uh... Sangat mengasyikkan !"" Sena bersuara seakan mengejek Biru dan Mentari.
__ADS_1
""Sena memiliki penawar racun yang di konsumsi Amma, Tolong berikan kepada ku Sena !"" Pintanya memohon lagi.
Biru malah tersungging tajam, jadi ini maksud Mentari yang sempat berlutut di hadapan Sena. Seketika ia mengerti.
""Kalian, Tolong bawa Ular ini ke markas."" Titah Biru ke anak buahnya. "Kurung dia dan beri dia pula racun herbal yang sudah di konsumsi oleh mertua saya !"" imbuhnya lagi. Sena melototkan mata. Biru menginginkan dirinya seperti Amma Mentari, Ah, Sial ! Lumpuh menderita dan lama lama meninggal !. ""Bi, jangan Bi ! hukum mati saja gue sekalian dari pada harus menderita seperti Ammanya Mentari."" Takut Sena yang tahu efek racun herbal tersebut.
""Tidak, Senjata Lo harus Lo nikmati sendiri. dan perlahan lahan Lo akan mati, seperti keinginan Lu itu !"" Final Biru. mungkin jalan ini pun akan membuat Sena jerah. Biru pun mengibaskan tangannya untuk mengkode anak buahnya pergi membawa Sena yang berontak. ia akan mengurus Sena setelah hari duka ini berlalu.
""Bi, Jangan Biru ! jangan lakukan ini !"" Teriak Sena di selah geretan paksa dari anak buah Biru. Biru tak merespon, bahkan melirik pun, tidak. Membuat Sena semakin benci. dan kembali tertawa seperti orang gila.
Mentari terdiam, tidak bisa mencegah kemarahan Biru kali ini, ia terdiam serba salah di sini, kalau Sena meminum pula racun itu, maka otomatis Sena pun membutuhkan penawar racun yang katanya cuma ada satu di tangan Sena. Ammanya bagaimana ? Oh, Tuhan...nafas panjang seseorang engkau yang menentukan. Beri kesempatan untuk Ammaku. Doanya prustasi saat ini.
""Pasti ada jalan sayang, kita tunggu Dito balik dari sana, mudah mudahan ia sudah menemukan pembuat herbal ini dan bisa meminta penawarnya. Sena itu walaupun di ancam akan di tembak Kepalanya, percuma ! ia tidak akan kekeuh dengan kejahatannya ...dia itu keras kepala licik pula. "" Ujar Biru merangkul pundak Mentari untuk menenangkan istrinya.
""Bergerak cepat ! Lima hari dari sekarang, itu waktu yang di ujarkan Sena !"" Mentari menepis tangan Biru dari pundaknya, berjalan lemah ke dalam unitnya.
Masih di hari yang sama, Senja dan Langit sudah berada di perjalanan menuruni gunung yang terjal, Kaki kaki harus kokoh menapak agar keseimbangan tetap terjaga.
""Itik...hos, hos, hos ! Istirahat dulu, Tenaga gue hampir hilang, Laper...haus lagi."" Keluh Langit yang sedari tadi tubuhnya tidak mendapat asupan makanan.
Senja menurut manis, duduk di samping Langit yang rebahan asal asalan di tumbuhan liar.
""Jangan tiduran, Lihat daun yang tepat sebelah kanan mu, itu adalah tumbuhan gatal, kulitmu akan merasakan terbakar nanti."" Jelas Senja.
__ADS_1
Langit melirik penasaran tumbuhan yang di maksud Senja. ""Masa ? nggak percaya gue.!"" Ujarnya menarik cepat tubuhnya. di dalam hatinya, ia percaya juga, takut ke tumbuhan tersebut.
Senja terlalu capek untuk meladeni Langit. ia sibuk mengotak Atik ranselnya. ""Ni ambil, makan lah !"" Berinya sebungkus roti ke Langit.
""Ah, Lumayan janggal perut."" Langit langsung membuka pembungkus tersebut dengan cepat melahap pelan. ""Lo, kagak makan ?""
"Habiskan saja cepat jangan banyak tanya, gue nggak mau ngebuat orang mati kelaparan karena bersusah payah membantu gue sampai di sini."" Jelasnya. padahal ia pun Laper, tapi ia hanya membawa satu roti...jadi biarkan Langit saja yang memakannya.
""Oh."" Singkat Langit, namun matanya melirik ransel Senja yang masih terbuka yang sudah tidak ada makanan lagi, Hanya ada tumbuhan penting di dalam sana. Langit membelah dua makanan tersebut yang sudah tergigit ujungnya. ""Sepotong berdua !"" Berinya ke Senja.
Senja menoleh ke makanan tersebut. ""Makan saja, Dan buruan...gue nggak punya banyak waktu untuk duduk di sini, Amma gue lagi butuh ob---""
Langit menyumpel sepotong kecil masuk kedalam mulut Senja yang sedang berceloteh. ia tersenyum geli dengan wajah konyol Senja. ""Berisik, makan itu ! kalau mau selamat sampai tujuan maka harus ada tenaga terlebih dahulu."" Ketus Langit akan penolakan Senja. ""Kalau Lo pingsan di jalan, bagaimana coba ? gue tinggal di sini, tahu rasa Lo !""
""Eum terima kasih !"" Malas Senja akan petua Langit. ""Dan di bahu Lo ada ulat bulu yang menempel !"" Jelasnya jujur.
""Hah, seriusan ?"" Jijik Langit melirik bahunya. ""Aarg, itikkkk, buanganin !""
Senja tersenyum geli, menahan cepat tangan Langit agar kulit kota itu tidak tersentuh langsung akan bulu bulu beracun gatal itu. ""Jangan di sentuh pakai tangan. diam ya !"" Senja menarik selembar daun, mendekat kan ke ulat bulu yang sedang bergerak hampir menyentuh kulit Leher Langit.
""Iih, kok Lo kagak takut atau pun jijik sih ? kebanyakan wanita kan gitu !"" Tukas Langit bergidik.
""Tapi gue bukan wanita yang manja seperti mereka, dari kecil mainan mata gue ya ulat apapun itu, Apa Lo lupa, gue punya kebun bunga sendiri di kampung yang pernah Lo tendang dan rusak...gue pecinta tumbuhan dan otomatis ulat seperti itu sering gue temuin, Ah... sudah lah... kelamaan di sini urusan kita tidak akan kelar. dan Lo akan semakin lama bersama gue yang Lo benci itu, Lo kepingin cepat pisah kan, Jadi ayo kita balik."
__ADS_1
Langit terdiam, melirik punggung Senja yang mulai melangkah. Hatinya Sempat kagum dengan kepribadian Senja yang kuat tak cengeng, Tapi... Mendengar penuturan terakhir Senja, kok rasanya ada yang aneh... Apakah harus senang akan berpisah dengan Senja ? atau perasaan aneh itu malah menolak untuk berpisah. ?
""Ah...itu perasaan lega, bukan perasaan tak rela."" Tepisnya, Harinya pasti akan lebih baik lagi jika si itik ini sudah terhempas jauh dari hidupnya. pikirnya.