
""Iiih...tadi...tadi...a..ad..iih."" Mentari bergetar masih ketakutan dengan posisi masih duduk memeluk lututnya.
""Tadi bukan setan tapi teman Lo sendiri, tadi tuh si Zidan."" Arkan menatap tajam ke arah Zidan, gara gara menjahili Mentari Jurit malam-nya tertinggal sendiri dari kelompok lainnya.
Zidan tersenyum kikuk."" Maaf, Mentari ! tadi gue cuman iseng, maaf ya !"" Ujarnya bersalah. ""Gue kira Lo itu pemberani tapi.... ternyata Lo takut beneran."" Imbuhnya. Mentari masih menetralkan tubuhnya yang masih bergetar. tak merespon kata maaf dari Zidan.
""Ayo kita lanjutkan lagi, kita sudah tertinggal jauh dari kelompok lain."" Arkan masih saja berketus ria. ""Jangan jadi wanita cengeng tidak ada setan' di sini, jika pun ada---.!""
""Setannya akan kabur melihat kak Arkan yang jutek dan ketus."" Sambung Mentari. Gelak tertahan dari enam sekawan menyambut kelempengan Mentari.
Seketika Mentari berdiri, Benar kata senior ketusnya itu, ia tidak boleh cengeng, anak Rantau kudu kuat dari segala masalah apapun.... tapi masih takut !
""Hem."" Malas Arkan, Mentari memang lempeng polos tidak seperti wanita wanita lainnya yang mempunyai sikap basa basi. Otak gadis di depannya itu sangat lurus selurus jalan tol. Hipertensi muda yang akan menyerangnya di waktu dekat jika ia terus meladeni anak polos ini.
Perjalanan mencari bendera jurit berlangsung dengan Mentari masih di bagian belakang, Gadis itu sebenarnya masih takut, tanpa sadar Mentari memegang ujung jaket Arkan yang berjalan di depannya. Arkan merasa berat untuk berjalan mendapat tarikan ujung baju. Ditariknya tangan Mentari agar gadis polos nyebelin itu berdampingan dengannya, biar ia tidak merasa tercekik di tarik terus jaketnya. Heemm...lama lama Arkan yang akan kehilangan nyawanya dan gentayangan di gudang arsip tersebut dari ulah Mentari yang tanpa sengaja mencekiknya.
Duahg..
""Aaargh..""
barisan depan, Galang tak sengaja menyenggol rak dan tanpa sengaja pula menjatuhkan satu Arsip. Para wanita di kelompok Ayam sayur pada jerit. Tapi yang paling heboh Mentari yang entah apa lagi yang ada di belakangnya, ujung bajunya rasa rasanya ada yang menarik sehingga ia tidak bisa melangkah.
""Aaarg...aaargh..."" Mentari menjerit dengan tubuh mungilnya berloncatan heboh tak lupa matanya ia pejamkan agar mata polosnya tak menangkap sosok berambut panjang berbaju putih dengan bolong di bagian perut, iiihhh....seram. ""Zidan, jangan iseng lagi ah, Aku cekokin mengkudu, mau.?!"" Kesalnya masih berlompatan.
__ADS_1
""Gue di depan Mentari !"" Protes Zidan, ia sudah kapok menggoda Mentari. Repot nanti.
""Berarti setaaaan, Aaargh !"" Mentari semakin Histeris, bukan Zidan ! Siapa dong ? kali ini benar-benar setan gentayangan, Batinnya takut berkekuatan puncak.
""Shut up, Mentari !"" Bentak Arkan galak. Arkan melirik ke belakang, Baju Mentari hanya tersangkut paku yang menonjol dari rak arsip yang sudah sepuh.
Mentari tak menghiraukan Arkan yang membentak galak, yang di belakang lebih seram menakutkan dari pada mulut Arkan yang selalu ketus. Pikirnya.
Arkan pusing berurusan mulut berisik Mentari yang selalu berteriak di suasana malam hening di dalam gudang. Jengah ! Arkan tanpa izin menggendong tubuh mungil Mentari layaknya seperti karung beras di taruh di pundak kekar berototnya. ia berjalan santai dengan Mentari masih tak mau diam dari mulut sampai pergerakan tubuh, Gadis ini sangat cocok menjadi Sariosa, pikirnya.
""Hahahaha."" Kelompok Ayam sayur terbahak melihat Mentari di perlakukan seperti anak kecil oleh Arkan.
Sementara Mentari meronta menggerakkan kakinya menendangi perut berotot Arkan. "Kak turunin."" Sekarang tangan Mentari yang memukul punggung Arkan. ""Kenapa aku di pikul seperti karung beras ? Lambung ku terasa tidak enak, isinya akan keluar jika terus di posisi ini !"" Cerca Mentari.
Arkan tak bergeming, ia terus berjalan kedepan agar jurit malamnya cepat berakhir, jika Mentari di harapkan berjalan sendiri, maka sampai subuh pun mereka masih di dalam gudang.
""Sumpah ! isi lambung ku akan muncrat jika terus di gendong terbalik, jangan salahkan aku kalau punggung mu terkena cairan kuning."" Batin Mentari mual.
""Aargg !"" Malam ini Mentari terlalu banyak berteriak. Tiba tiba Arkan membalikkan gendongan tubuhnya berganti menjadi gendongan ala bridal style. Mentari di anggap patung manekin yang enteng oleh Arkan. Mata remang remang cahaya Arkan tak sengaja menatap dalam wajah cemberut Mentari, Menggemaskan, batinnya yang baru sadar jika Mentari di pandang dari dekat sangat lah menyejukkan mata, Manis.
""Turunin tidak !"" Ronta Mentari, Gadis itu tak ingin berpegangan sama sekali di bagian tubuh Arkan. Arkan tersadar dari lamunannya, Namun kerontahan Mentari seperti di gigit semut tak ada efeknya tenaga lemah itu dari tubuhnya.
""Cuit....Cuit...! Kak Arkan. ! Mentari ! awas ada yang marah lho!"" Goda Tia.
__ADS_1
""Ehem...Neng Tia mau aku gendong."" Galang kembali modus busuk. Tia menggeprak kepala Galang.
""Mile di samping Lo ada penampakan, putih putih meloncat.!"" Goda Dio.
""Aaargh.!"" Mile Histeris. Spontan berlompat ria kepunggu Dio, dan Dio dengan senang hati menggendong Mile layaknya anak monyet yang bergantungan di punggung induknya. Taktiknya berhasil... tidak seperti Galang yang mendapat timpukan.
""Azmi ! jangan bilang Lo juga mau di gendong ya ! tidak ada yang akan mau, secara badan Lo kaya gajah, Gendut !"" Cibir Zidan tak pakai hati.
Bugh..
Azmi menginjak kuat kaki Zidan. Tersinggung di katain gajah, padahal walaupun dirinya tukang ngemil tapi badannya tidak termasuk gendut tapi semok di tambah pipinya yang Chubby, Menggemaskan. ""Gue juga ogah Zid, di gendong oleh mu, tak ada kekuatan dan tenaganya jadi laki, Cemen, bleeek !"" Mulut Azmi begitu pedas mempertanyakan keperkasaan seorang Zidan. ia pun berlalu mendahului Zidan untuk menyusul Arkan dan Mentari berjalan di depan.
Zidan yang tak mau di katain tidak mempunyai tenaga seketika menarik ujung belakang baju Azmi. Azmi berbalik, sedetik kemudian ia menjerit sebab Zidan tiba tiba menggendong Azmi. Jadilah mereka menggendong para wanita di kelompok itu, kecuali Tia yang ogah ogahan di sentuh kulitnya oleh Galang.
Sementara Mentari yang masih di gendong oleh Arkan semakin merinding mendengar teriakkan Azmi di belakang, Entah kenapa temannya itu, tapi ia semakin takut di buatnya, Tangan yang tadinya tidak mau berpegangan di tubuh Arkan reflek mengalungkan tangannya di leher Arkan dengan wajah di di tenggelamkan di bidang dada Arkan.
Arkan tersenyum tipis dengan tingkah adik mahasiswi ini, Sangat lucu di saat sedang ketakutan, jika sedang sadar tak ketakutan tingkah pintar pintar bodoh polosnya, Astaghfirullah nyebelin tingkat dewi Yunani.
""Turun dan buka matamu."" Ketus Arkanas yang sudah berhasil keluar dari gudang Arsip.
Mentari membuka mata, sudah ada pencahayaan lampuh. ia pun melepaskan tangannya dari leher sang senior ketus.
""Huuu.. Nyebelin ! Main gendong gendong saja, Mentari kan bukan anak kecil bisa jalan sen-----!""
__ADS_1
""Hantu ! sini ! temploki Mentari !"" Potong Arkan dongkol, Mentari kumat lagi cerewet nyebelinnya.
""Aaargh, k----"" Mentari reflek mendekat kehadapan Arkan namun tak sampai menempel, hanya satu jengkal jarak wajah pucat ketakutan Mentari dengan dada bidang Arkan. Tapi Jarak itu berhasil membuat Arkanas jedag jedug jantungnya saat menghirup aroma anak anak dari tubuh Mentari yang sebelumnya tidak tercium pas digendong sebab debu gudang mengalahkan aroma menenangkan itu. Bedak bayi....Arkan tersenyum geli, Mentari bukan hanya polos dalam bertutur tapi tubuhnya pun seperti anak anak yang masih menggunakan produk bayi. Gotcha umpatnya Kediri sendiri.