RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 55


__ADS_3

Plak...


Tamparan keras dari tangan lentik istri pak Radja, Raisa. Membuat Mentari tersadar dari kebodohannya yang tidak bisa menahan diri melihat Ciplakan Amang-nya. Mentari sih, sudah tahu Amang-nya ada di balik-papan (peti mati) masih saja berharap akan hidup, jadinya kan dapat hadiah cap lima jari di pipi. ini semua karena rindu ingin melihat Amang-nya lagi.


""Siapa kau hah ? seenaknya peluk peluk suami orang ? kau kenal dia Bang Radja? siapa gadis kecil ini, apa dia wanita mu di luaran sana, hah ?"" Semprot Raisa istri Radja terdengar logat Bataknya, wanita itu pun menatap Selidik ke Suaminya-Radja yang mematung tak menjawab, ada rasa aneh yang menyelimuti hati Radja ke Gadis yang berdiri di hadapannya, ia seakan teringat dengan adik kembarnya saat melihat lesung pipi Mentari.


""Ma-ma-ma..af, Nyonya ! Sa--saya salah orang, Sa--saya pikir beliau adalah Amang saya...Maaf sekali lagi ?"" Gagap Mentari, Dadanya sesak.. sehingga bersuara pun terdengar bergetar, rasanya Mentari ingin segera kabur dari acara ini, tapi ia bukan pemakan gaji buta, kerjaan masih berlanjut sebagai penjemput tamu di susul nanti akan menjadi waiters.


""Amang, Tari menemukan Keluarga mu, Mereka terlihat keluarga yang bahagia, hidup penuh bergelimang harta, Tapi membantu mu dalam berobat ginjal waktu itu pun tidak mau ada yang bantu, Dan kembaran mu bagaikan pinang di belah dua. tapi entah dengan hatinya, apakah baik seperti mu, Amang ."" Lanjutnya dalam hati, seketika mata polos itu memancarkan rasa sakit hati tersendiri jika mengingat masa masa kesakitan Amang-nya.


""Uda dengar kan ! Gadis ini mungkin rindu dengan Amang-nya jadi jangan marah marah dan berakhir mempermalukan satu keluarga Batara !"" Lerai Radja tegas ke istrinya. Menyudahi keganjalan untuk saat ini, dan Mentari pun menguatkan lututnya untuk memimpin mereka masuk ke Ballroom. Namun satu keluarga itu menatap punggung Mentari tidak suka yang berjalan di depan, kecuali Radja.


Mereka keluarga Amang tapi amang sudah meninggal, berarti mereka pun bukan keluarga ku...iya, mereka bukan Keluarga ku, mereka orang asing, hanya orang asing, Ompung doli (kakek) dan Ompung boru(nenek) ini pun bukanlah nenek Kakek ku begitu pun kembaran Amang ku, dia bukan Tulang ku ( paman) . anak saja tidak di anggap apa lagi aku, cucu yang hanya seorang anak dari perempuan yang tak berpendidikan. Keluarga ku hanya Amma dan kaka di kampung, tidak ada yang lain. iya.... tidak ada yang lain. Jadi anggap mereka tidak ada Mentari.!!!


Mentari terus bergumam untuk memperingati diri sendiri agar tidak berperilaku bodoh dan tak tahu diri seperti tadi, Sekarang hanya bekerja lah yang ia ingin di utamakan di tempat ini, Ia akan mengabaikan Semuanya, dan itu lebih baik untuknya... Pikirnya.


Saat Mentari ingin membantu Bu Bina dan waiters lain, Arkan datang dan langsung menarik tangan Mentari ke tempat sepi dan tarikan itu pun terlihat oleh Biru. Pria brownies itu pun mengikuti langkah Arkan, Dan itupun tak luput dari pengawasan oleh Titan.

__ADS_1


""Waah...Cari ribut Lo, Petite ku kenapa terlalu menurut sih."" Ujar Biru.


Titan mendengarnya dan tersungging miring.


""Karena Gadis yang kamu gilai itu, murahan..! tadi saja gadis itu memeluk presider dari Batara. apa arti dari itu adalah gadis baik, Sagara sayang ?"" Sindir Titan.


Biru berbalik menatap papanya dengan datar, jika orang lain yang menghina Petite-nya langsung di depan hidungnya....Mati Lo. ia percaya seratus persen dengan Mentari si manis polos lempeng itu tidak mungkin macam-macam yang akan nakal di luaran sana. Di Pepet olehnya saja tidak mau, apalagi dengan Om Om tua seperti si RADJA BATARA alias si mantan dosen killer-nya dulu. Pasti ada masalah sampai Mentari memeluk si Mantan dosen killer itu. tebaknya.


Di sisi lain.... Mentari dan Arkan berada di pantry.


Mentari terkesiap, pak ketus ini pun ternyata keluarga dekat mereka. Mentari lagi lagi hanya bergumam di dalam hati seraya menahan tangannya yang sakit di cekram kuat oleh Arkan.


""Sa_saya...Ta_di, Tadi saya hanya salah mengenali pak, saya kira bapak pengusaha tadi atau tulang anda adalah Amang ku, mereka mi__ iya... Hanya itu kok. maaf sekali lagi pak, saya tidak ada maksud apa pun ! Masalah Cabe ? apa pak Arkan butuh Cabe ?."" Kegugupan Mentari malah membuatnya bertanya Absurd tentang Cabe. ""Mumpung ada di pantry, ini..! Cabe Rawit apa Cabe merah ?"" Mentari meraih kedua jenis cabe sekaligus melayangkan ke hadapan Arkan, memberi.


Arkan melengos, Menjambak rambutnya frustasi. ia bingung harus tertawa atau marah ke gadis lempeng ini. Mendengar pertanyaan konyol Mentari masalah Cabe, haduuu..Gue masukin kantong juga Lo, Boneka Manis, keluhnya. Namun apa tadi Gadis ini kata ? AMANG ? Pikir Arkan panggilan itu kan khusus dari keturunan Sumatera, Bukannya Mentari katanya dari Sulawesi ? Mencurigakan !


""Kamu keturunan Sumatera ?"" Interogasi On, Arkan menatap dalam Mentari yang menganguk dan menggeleng seketika.

__ADS_1


" Jawab yang be--""


""Eh, lepaskan... enak banget Lo, main cekram tangan milik punya orang. Lepaskan tangannya !!!"" Potong Biru galak, tidak sepadan dengan wajahnya yang brownies. Biru menarik Mentari ke sampingnya. Mentari bernafas lega ada mantan Bosnya yang menyela pertanyaan Arkan. Mentari tidak mau mengakui jika ia keturunan Sumatera dari BATARA. Amang-nya sudah tidak ada ini, tidak ada gunanya lagi.


""Milik Anda, tuan Sunjaya ? Begitu, eum ? tapi maaf, mungkin itu berlaku di luaran sana, tapi di sini, Gadis ini adalah pekerja saya, jadi wajar kalau saya memarahinya. Tadi dia melakukan kesalahan dengan bertingkah tidak sopan ke salah satu tamu di sini." Lawan Arkan ketus. ia pun tidak terima jika Mentari di cap sebagai milik pria singa tapi sayangnya sangat berkarisma ini, Hemm..Kalah Gue.! cibiknya.


""Yaak, Tidak ada yang boleh memarahinya walaupun dia salah, karena Mentari adalah milik ku, milik Sagara jadi...JANGAN pernah membentak apa lagi mencengkeram dia sampai tangan terlihat merah begini, Mengerti ?"" Tukasnya penuh dengan peringatan dan terselip nada mengancam. Dengan tangan Mentari langsung di raihnya lembut.


Mentari bertambah pusing, ini duo orang tampan tapi sama sama singa jika mengamuk harus di lerai, kalau tidak segera berhenti beradu alot maka di pastikan pantry akan menjadi ring Ostia.


""Stooop.!!!"" Teriak Mentari menghentikan Biru dengan cara mendekap tubuh kekar tinggi Biru yang hampir melayang kan tinjunya ke Arkan. dan Arkan pun sama, Kepalannya terhenti yang hampir meninju punggung Mentari. Dan Biru hanya meninju angin saja untuk mengobati kekesalannya ke laki laki ingusan di hadapannya ini.


Mentari melepaskan pelukannya. ""Kalian kenapa sih ? Apa untungnya beraduh jotos, tolong jangan ribut hanya karena saya...bahkan saya mencap diriku sendiri sebagai Si tukang masalah malam ini. Dan anda pak Arkan, maaf sekali lagi tentang keluarga anda tadi, terserah anda selanjutnya mau mencap saya orang apalah itu, saya tidak perduli. Dan Anda Bos Biru... Kenapa anda ada di sini ? jika Tuan Titan tahu...maka masalah lagi bagiku. Permisi ! dan satu lagi, kalau mau lanjut beradu jotos rianya, maka tahu tempat, ini pantry buka ring tinju. Double permisi. ""


Mentari berlalu meninggalkan duo pria itu setelah menunjuk dada mereka satu persatu. Terlalu jengah dengan situasi yang menegangkan dan mengejutkan baginya. Mentari benci bertemu mereka semua.... keluarga besar Amang-nya. Mereka orang kaya tapi pelit di mintai biaya medis waktu itu oleh Amang-nya. BENCI !!!


tinggalkan jejak šŸ™šŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2