RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 93


__ADS_3

Biru masih setia bersembunyi dibalik pohon, ia terlalu menikmati kekonyolan Mentari yang mendumelin anak kambingnya.


""Berisik amat sih, embek ! Ayo makan rumput yang banyak....nih, nih.. !"" Mentari menyibukkan diri agar tak menghalu kalau ada Biru di dekatnya, ia menyodorkan rumput secara paksa ke anak kambingnya... Lepasain Mak gue dari cancangannya, Gue mau ny*s* ! itulah isi suara anak kambing Mentari yang menolak untuk makan, Sedangkan induk kambingnya berteriak embe embe seraya meronta dari tali, Tapi sang empu kambing tak mau mengambil resiko. jika terlepas takut takut di omelin nanti yang punya kebun kalau kambingnya berulah lagi.


""Iya...iya, saya lepas !tapi jangan merusak tanaman orang ya ! kasian akunya mbek, di omelin plus ganti rugi...hutang tak lunas lunas kalian malah berulah... kalau nakal saya akan menjual mu, kalian akan menjadi kambing Kurban , mau ? di sate dan di gulai ? hah !"" Mentari mendumel, melepaskan semua tali yang mengikat enam ekor kambingnya. Ia pun kembali duduk di bawa pohon rindang dengan peluh di pelipisnya. Biarkan embenya nyari kehidupan sendiri, Mentari mau menghalu dulu.


Biru cekikikan, membekap mulutnya dengan geli. Mentari tak pernah berubah selalu konyol dan lucu di matanya, itu yang di rindukannya dari Mentari.


""Bos Biru lagi apa ya ?"" Monolognya dengan pandangan menangada ke atas langit silau seraya tangan satu menumpu dagunya, melamun.


""Bos Biru mu ada di sini, petite !""


Mentari menoleh, terperanjat kaget dengan mulut mangaga dan tangan mengelus di dada saking terkesiapnya. Ada Biru yang tetiba duduk di sampingnya. Mentari Speechless lama, tanpa berkedip menatap Biru yang tersenyum manis ke arahnya, Nyess... Senyuman itu membuat hatinya kembali jedag jidug seakan mulai hidup kembali.


""Nyata tidak sih ?"" Mentari menggelengkan kepalanya, takut takut hanya halu saja. "" Masih ada ?"" Mentari pun menjawil ujung hidung Biru dengan keras.


"""Bos ? kau kah itu ?"" Tanyanya kemudian.


""Iya Petite !"" Biru mengangguk dengan tangan nakal Mentari masih bertengger di ujung hidungnya, membiarkan.


""Bos ! Tabok saya dari mimpi indah ini, Bos ! Takut takut cuma halu doang, takut takut saya sebenarnya menekan hidungnya si embek, atau takut takut saya sebenarnya menekan hidung mancung kak Senja.. ah, Saya sudah gila rupanya, mana mungkin Bos ada di sini ? di kampung !"" Wajah Mentari menampakkan kebingungan. terlihat bodoh !


Biru tersenyum manis, menepis lembut tangan Mentari yang bertengger nakal di hidungnya. Mana mau Biru menabok keras Petite-nya yang di cintainya dalam, Dari pada di tabok mendingan di kecup bibir mungil itu, Nakal nya. dan benar saja....Biru memajukan wajahnya, sehingga tak ada jarak lagi... Bibirnya bertemu dengan Bibir mungil Mentari.


"" Mmmp..!!"" Mentari membalas kecupan dalam bibir seksi Biru tanpa sadar. Saking rindunya, ia lupa sekarang ada di mana melakukan ciuman penuh ***** tersebut. Untung yang menyaksikan itu hanya enam ekor kambingnya saja, kalau orang kampung... makin jelek nama Mentari di buatnya sendiri.


Nafas tersengal-sengal mereka terdengar saling mencuri udara dengan rakus saat ciuman dalam penuh kerinduan itu terlepas. dua pasang mata itu bersibobrok dalam, menggambarkan mereka benar-benar saling merindukan satu sama lain, tak ada suara cukup lama, hanya ada Nafas dan juga mata yang saling pandang, diam memuja satu sama lain.

__ADS_1


""Sudah sadar kan Petite kalau kamu sedang tidak bermimpi ?"" Biru merentangkan tangannya agar Mentari masuk ke dekapannya.


Mentari merespon, memeluk erat erat tubuh Biru dengan terus mengendus rakus harum maskulin dari tubuh kekasihnya itu, Cinta memang dahsyat daya letupnya sampai Mentari yang tadinya tak pernah berekspresi peka dengan hal berbau perasaan kini berubah sudah, saat nama Biru sudah bertengger manis memenuhi hati dan pikirannya.


"Saya merindukan mu Bos ! sangaaaaaaat pakai seru panjang."" Rengeknya manja. Sejurus kemudian Mentari mengambil jarak dari tubuh Biru. Pria itu menaikkan satu alisnya, Atas sikap Mentari yang mengambil jarak.


""Kalau rindu ayo sini peluk lagi, jangan di lepas nanti saya bisa pergi lagi."" Goda nya.


Mentari menggeleng. ""Saya pasti bau kambing, jadi jangan mendekat."" Ilfill Mentari sadar diri.


Biru terbahak, ia menarik tangan Mentari paksa masuk kedalam pelukannya. "Hahaha, kamu masih konyol Mentari, mana ada kamu bau kambing, eum ! kamu masih wangi bayi, sssh.. lihat lah.."" Biru mencium jurug leher Mentari, mencuri wangi harum dari khas minyak bayi di padukan bedak bayi yang menyatu sehingga ada wangi khas tersendiri. ""Saya pun sama Petite. sangat Merindukan mu !"" Nakal Biru memberi tanda di leher Mentari.


""Issh, Bos ! Sana menjauh !"" Bibir Mentari mencibik cemberut. ""Merah tidak ?"" Pegangnya di leher.


Biru mengulum senyum. ""Tidak, sayang !"" Bohongnya geli, padahal sangat merah.


Sunyi....Tiba tiba ada rasa canggung yang menerpa masing-masing, Biru sibuk merangkai kata kata untuk melamar Mentari sekarang juga entah kenapa ia malah gugup dan kelu. Sementara Mentari sibuk dengan pikirannya sendiri, Kenapa Biru ada di kampungnya, apa mau nagih hutang kepadanya... Mampus ! ia tidak punya uang sama sekali ! bagaimana coba ? Dan satu lagi...Biru akan tinggal di mana di kampungnya ini yang penuh peraturan ketat. Mau menyewa hotel... jangan harap di kampung Mentari ada tempat sewa penginapan. adanya Villa bohongan alias rumah rumah sawah bertebaran di persawahan luas penuh dengan tanaman padi. Bagaimana ini ? Jangan sampai membuat Bosnya ini dalam kesusahan.


Lagi lagi Biru mengecup mesra bibir Mentari namun sekilas saja. ""Cerewet !"" Tukas Biru.


""Terus jauh jauh kesini mau apa, eum ?"" Mentari tak berani menatap mata Biru lagi, ia malu dengan keadaannya yang tak ada apa apanya.


""Mau apa saja ! Tapi...ssshh, tunggu dulu !"" Biru penasaran dengan katanya ! Mentari pernah di lamar orang beberapa kali dari cerita Jum di sepanjang perjalanan menuju ke Padang rumput.


""Apa ?""


""Kenapa kamu di lamar orang sampai berkali-kali, eum ? apa kamu nakal di sini ? apa kamu sering tebar pesona ? apa kamu centil, Petite ?"" Cerca Biru penuh dengan Posesif.

__ADS_1


""Eum, Saya nakal dan centil di sini... "" Bohongnya dengan sengaja di jeda. Biru melotot dengan pengakuan Mentari. ""Tapi nakal dan centilnya ke kambing ku sendiri, hahahaha.!"" Gelaknya. Biru menyentil dahi Mentari yang tertutup poni tebal.


""Issh, Nakal !"" Biru ikut tergelak, dengan mata tak lepas dari wajah ceria Mentari yang selalu menghipnotis dirinya akan kepolosan wajah manis itu.


""Dan satu lagi yang ingin saya tanyakan ? apa arti Bembe itu yang sesungguhnya, eum ? Katakan !"" Selidik Biru, namun aslinya ia sudah tahu artinya yaitu kambing, Biru hanya ingin dengar pengakuan Mentari.


""Ah..itu ya ?...mm, apa ya ?"" Mentari menggigit bibir bawahnya dengan kepala menggeleng tak mau menjawab. " Mampus ! ketahuan kalau dulu saya sering memanggilnya kambing."" Batinnya.


""Mentari ?"" Tekan Biru. Mentari masih menggeleng, kekeuh !


""Kambing ! itukah ?""


Mentari tanpa sadar mengangguk bodoh, dengan cepat menggeleng kemudian.


""Ni rasakan, Gadis nakal..jadi kamu mengumpati saya dengan peliharaan mu, eum ?""


""Hahaha, maaf Bos ! "" Mentari tergelak ceria dengan tangan Biru menggelitik telapak kakinya yang tadinya duduk berselonjor di rerumputan.


""Tidak mau !"" Biru menghentikan aksinya, mengalihkan pandangannya lurus lurus ke depan, pura pura ngambek


""Ah, bos ! begitu saja ngambek....masa jauh jauh ke kampung halaman saya hanya menanyakan arti kata bembe sih..."" Mentari berpindah tempat duduk ke hadapan Biru, menghalangi pandangan Biru yang lebih senang menatap pemandangan alam dari pada melihat ke arahnya. Padahal Biru hanya modus.


""Baiklah saya minta ini."" Syarat Tunjuk Biru ke bibirnya. meminta Mentari yang menyosornya.


""Ish, nakal ! Sini anak manja."" Goda Mentari mengecup bibir Biru memakai kuncup jari jarinya saja. dan beranjak kabur memeriksa kambingnya yang tak terlihat di mata. Jangan sampai merusak kebun orang lagi...berabe.


""Yaak, mana ada manja ! Awas kamu Petite.!"" Kejar Biru menghampiri Mentari yang sudah jauh.

__ADS_1


""Mentariiiii...Amma, Amma mu, pingsan... gara gara melihat hantu Amang mu !"" Jum datang dengan nafas habis lari maraton.


Mentari berhenti dari kejaran Biru, Sedetik berlari cepat ingin memastikan tuturan Jum.


__ADS_2