
Bel berbunyi tanda istirahat untuk para MABA yang melaksanakan ospek. Mentari duduk berselonjor untuk merilekskan kakinya yang pegal sedari tadi berdiri. Ayam sayur kelompoknya masih setia bergabung tidak seperti kelompok yang lainnya sudah pada bubar untuk mencari kesenangan masing masing.
""Yo...Yo..Yo.., kite ngantin yuk.!"" ajak Dio dengan gaya Dj-nya
""Traktir ye.!"" Sahut Mile penuh harap.
""Ok, Gue traktir asal Lo jadi bini gue, di tambah satu pintu kontrakan nyak elu jadi milik gue, bagaimana ?"" Sahut Dio, becanda. Mile anak juragan kontrakan.
""Mati aja Lu, njirt.!"" Cerocos Mile.
""Hahahaa...""
Semua tertawa, Mentari ikutan tersenyum memperlihatkan pipi bolongnya.
""Beeh.... lihat lihat teman kita yang rantauan dari sulsel manis juga, Zid.!"" Bisik Galang di angguki Zidan yang sedari tadi memang memperhatikan Mentari yang hanya sesekali berbicara.
""Eum, dari tadi gue juga perhatiin, nyuk. senyumnya beeh, nusuk nembus ke hati."" Balas bisik Zidan ke Galang. Galang menyadarkan Zidan yang hampir meraih pipi bolong Mentari.
""Tangan di kondisikan, nyet. anak orang itu main belai belai pipi aja Lo."" Suara Galang memberhentikan Dio dan Mile melempar candaan.
Mentari pun ikut menoleh ke samping tepat adanya Galang dan Zidan dengan alis terangkat.
""Yang MABA namanya Mentari, siapa ?""
Sadewa datang datang mengagetkan kelompok Ayam sayur. Mentari yang di sebut namanya menangadakan tangannya ke udara.
""Oh, Lo."" Mentari mengangguk.
""Ada apa ya kak Sadewa Abi Kusuma."" Bingung Mentari. apa dirinya membuat kesalahan sehingga dirinya di khususkan di cari begitu.
Tia dan Mile sudah mengeces cepat cepat berdiri di sisi Sadewa. dengan mata tak mau berkedip. penginnya si peluk tapi takut di hempaskan.
""Aku juga mau di cariin dong kak."" Genit Tia yang paling seksi antara cewek di kelompoknya.
""Mile, nama aye Mile anak pak Rojali dan nyak Titin yang terkenal punya kontrakan di daerah Tebet. kak Dewa boleh ngontrak gratis asal Mile jadi-----!"" Cerewet Mile yang genit di tarik oleh Dio. Sadewa terkekeh Geli dengan kelakuan MABA juniornya.
Tia sendiri di tarik oleh Galang untuk jangan malu maluin, Sementara Asmi duduk santai dengan mulut mengemil terus di belakang Zidan. Tidak perduli apa yang terjadi yang penting makan. Pantas Gendut.
""Lengkap amat manggilnya !"" Kekeh Sadewa menyahuti Mentari. ""di panggil salah satu dosen kita, pak Langit. Lo di suruh ke ruangannya."" Jelasnya.
__ADS_1
Mentari mengangguk. ""Ruangannya di mana.?""
Sadewa bukannya menjawabnya malah menyuruh langsung untuk mengikutinya.
Sampai di depan ruangan pak dosen. Mentari masuk sendiri setelah di persilahkan dari dalam oleh sang empu ruangan.
""Ada apa ya, pak ?"" Canggung Mentari setelah memberikan salam sopan.
""Duduk lah."" Ujarnya.
Mentari pun duduk dengan mata meneliti wajah pak dosen di hadapannya yang lagi sibuk dengan laptopnya.
Langit hanya mengerjakan yang tidak penting di laptopnya. Sengaja menahan Mentari di ruangannya. Menunggu gadis itu bersuara duluan.
""Kalau tidak ada yang penting saya akan keluar saja, pak !"" Gondok Mentari tertahan.
""Tunggu. !"" Cegahnya. Mentari kembali duduk. ""Sebelumnya jangan panggil Gue pak ! jika cuma berdua, Panggil Langit saja."" Langit tersenyum manis dapat anggukan Mentari, penurut Pikirnya. ""dan kalau boleh tahu, Lo dan Biru punya hubungan apa ? tidak mungkin adiknya kan, Biru anak tunggal. Pacarnya kah ?"" Cerca Langit begitu kepo.
Mentari mengangguk lalu menggeleng. ""Saya asistennya, kata Bos Biru saya pun Cabe-nya yang pintar. memang kenapa pak ?"" Polos Mentari membuat Langit menelan ludahnya cepat dengan pengakuan Mentari yang blak blakan mengakui dirinya sebagai Cabe.
""Wow, Si Biru bisa saja nyari Cabe yang polos. Gue kira laki itu pria baik baik, ternyata muna.""
Mentari mengangguk polos. ""Kalau cuma sekedar pertanyaan tidak penting, Saya pamit saja ya p-----
""Langit."" Tekan Langit agar Mentari memanggil Nama saja.
""Iya Langit."" Canggung Mentari.
"Tunggu dulu, Gue belum selesai, bagaimana jika kita makan bersama seraya mengobrol ."" Tunjuk Langit ke kotak makanan yang sudah di pesan sebelumnya.
""Tidak terima kasih, aku ada bekal sendiri, tadi Bos Biru sudah membekaliku."" Mentari pun tak mau kalah dengan mengeluarkan kotak makanan kesukaannya yang di masakin oleh Biru.
""Ok, sabar..! Cewek pertama yang menolak ajakan makan bersama denganku. malu dong jika Biru tahu gue di kacangin oleh gadis polos tapi sudah jadi cabe."" Gumam Langit mengelus tengkuknya. Rasanya, dekat Mentari ia kurang bahan sendiri untuk menggoda, malah mati otaknya untuk mengeluarkan jurus ampuh menaklukkan wanita.
""Pulang nanti aku akan mengantarmu, bagaimana ? Mau. ?"" Langit mengedipkan mata genitnya.
Mentari mengobrak abrik isi tasnya lagi dan mengeluarkan obat tetes mata. ""Pakai ini pak eh Langit, biar mata anda tidak sakit lagi.! pulang nanti, bos Biru akan menjemput, katanya.""
Pfuuu... Sabar lagi, Langit membuang nafas beratnya, ini gadis kok tidak mengerti sama sekali jikalau dirinya sedang merayu memberikan tanda tanda ketertarikan. Biasanya kan, Wanita lain sudah klepek klepek cuma di kedipin doang. Ok demi memperlihatkan ke Biru jika dirinya selalu menang dari dia, ia akan berupaya untuk merebut cabe istimewa milik Sagara.
__ADS_1
""Oya, Mentari...! Lo sering di gigit semut nggak ?"" Langit kembali menggombal. Mentari menggeleng bingung, ini kok malah ngebahas serangga ?
""Tapi kok wajah mu manis banget deh ah."" Langit berkata jujur, memang menarik Gadis yang ada di hadapannya ini.
""Saya tidak manis pak, kemarin saya memeriksa kadar gula yang hasilnya cuma 85 saja, malah bos Biru yang kadar gulanya sampai 200 lebih."" Kata Mentari polos. Rayuan gombal Langit terpatahkan lagi. ini calon mahasiswi kesukaan dosen, pintar menjawab kuis yang lempeng jujur tidak bisa terbelokan.
""Buahhahahah....!""
Sadewa selaku sepupu dari langit terbahak yang berdiri di dekat pintu yang mendengar gombalan kaka sepupunya mati kutu bak di pites. Langit sendiri kaget, kapan Sadewa ada di ambang pintu. malu deh ah, wajahnya harus di sembunyikan di bawah pantat.
Sadewa mendekat ke arah dua orang itu.
""Eh MABA, Maksud ku Mentari ! Lo tahu tidak suara kambing bagaimana ?""
Tentu tahu Mentari itu mah, wong si penggembala kambing di kampungnya.
"" Mbeeek...Mbeeek."" Mentari menirukan dengan lantang tanpa malu dan tanpa curiga.
Sadewa terkekeh. ""Kalau kucing, tahu ?""
Langit kepingin menabok kepala Sadewa saat ini, tapi ia menjaga kesan baik di hadapan Mentari. dan ia penasaran, apa yang sebenarnya ingin di sampaikan oleh adik sepupu somplaknya itu.
"" Meong meong.!""
""Kalau buaya yang sering berjemur di darat, suaranya bagaimana ?""
Nah, Mentari bingung kalau hewan buas satu ini ! Boro boro ingin mendengar aumannya, melihat ekornya saja pasti orang orang pada pontang panting ngebirit kabur, jangan sampai buaya itu mangap lebar duluan, bahaya bisa di telan.
Mentari menggeleng kalah, iya tidak tahu bunyinya seperti apa.
""Kalau buaya darat itu seperti ini."" Sadewa mengedipkan matanya, mengulang mata genit dari Langit waktu menggoda Mentari. ""Terus kalau mengaum seperti ini 'Kamu sering di gigit semut tidak ? kok wajah mu manis amat deh ah.'"" Sadewa terbahak meledek Langit, perutnya ia pegangin sakit, saking tak sadar terbahak terus sampai sudut matanya berair.
Langit sendiri sudah menabok kepala Sadewa, tak sabaran, saking kesalnya oleh mahasiswa plus adik sepupunya itu.
""Saya permisi, pak ! waktu istirahat kami sudah selesai. !"" Mentari undur diri dengan wajah datar, rasa rasanya kedua pria di depannya aneh semua, Baru keluar dari rumah sakit jiwa kah ? pikirnya.
""Eh, tunggu dulu..!"" Cegah Langit. ""ini ambil, tolong kasih undangan ini ke Biru, sampaikan jangan sampai tidak datang."" Langit menyodorkan selembar undangan ke Mentari.
""Baik, pak ! permisi."" Pamit Mentari berlalu pergi.
__ADS_1
Suara Vote deh ah....š