
Benar, Senja menghampiri kamar adiknya...Biru sendiri yang membukakan pintu untuk Senja. Tatapan selidik pun tersirat ke penampilan berantakan Senja.
""Bi, Mentari mana ?""
""Di da----Apa ada masalah ? Apa Langit menyakiti mu ?"" Selidik Biru penuh ketajaman. Rahang itu pun sudah mengeras, Biru hanya menunggu pengakuan Senja...jika benar yang melakukan Langit, maka tak usah butuh ring Ostia lagi....Kamar hotel pun jadi untuk beraduh bogeman.
Senja mengumpati dirinya dalam hati. Kenapa ia lupa mengganti baju. Kalau Mentari melihat keadaannya seperti ini, adiknya itu pasti melayangkan seribu pertanyaan tak ada hentinya.
""Ah, ini....tadi---""
""Kami tadi main di pantai, jadi seperti ini lah !""
Langit datang menyela, Ia pun masih berantakan... basah tertular dari kain Senja yang digunakan sekarang ini. Senja hanya melirik malas tentang ucapan si mendung. Ia juga tak memberi tahukan masalahnya ke Biru apalagi ke Mentari...jadi ia membiarkan Langit berbohong sesuka hati.
""Ada apa ini ? kok pada di pintu ? ayo ma---Daeng, kamu kenapa ? Kaka ipar juga kenapa pada berantakan seperti itu, apa kalian--!
""Kami habis dari pantai....Daeng kesini mau minjem baju kamu, Baju Daeng semuanya belum di antar oleh bell boy, sedang di laundry."" Bohongnya memotong cercaan Mentari yang terlihat baru bergabung.
Langit mengulas senyumnya, tipis ! Si itik masih saja membelanya walaupun sudah di buat kecewa olehnya.
""Oh, ya sudah masuk lah, mandi di sini saja...Kaka ipar juga mau mandi di sini ?"" Tawar Mentari.
""Ah, mm...apa boleh ?"" Ragu Langit bertanya ke Mentari tapi mata itu bersibobrok dengan mata Biru yang seakan akan tidak mengijinkannya.
""Tidak boleh ! pergi lah ke kamar sendiri... baju ganti untuk mu tidak tersedia di sini !"" jutek Biru menjawab cepat sebelum istri imutnya yang baik hati ini mengijinkan.
Senja langsung menerobos masuk. Mentari hanya tercengir tak enak ke Langit karena perkataan Suaminya yang terdengar judes.
""Nanti aku kesini !"" Pamit Langit. ia tidak akan menyerah untuk membujuk Senja agar mau memaafkannya. Bodoh amat dengan tatapan tak suka dari Biru.
__ADS_1
Beberapa menit, Lagi lagi Senja mengumpati dirinya... Pakaian Mentari sangat lah tidak pas untuknya...kekecilan dan kependekan dress adiknya yang sekarang membalut tubuh tingginya. Sehingga kaki jenjang putih itu terekspos sampai di atas lutut.
""bodoh !"" Rutuknya mematuk di cermin kamar mandi. Seksi.... itulah yang terlihat sekarang dengan baju Mentari yang membalut tubuhnya.
Senja pun keluar dengan terpaksa memakai dress cantik tapi tak pas di tubuhnya, pandangannya selalu melirik penampilannya seraya berjalan terus. ""Tari, Apa tidak ada lagi bajumu yang sedikit lebih besar dari yang i---!"" Senja terdiam...Bukan Mentari yang ada di depannya melainkan si mendung. Mentari dan Biru sendiri lagi sibuk bermesraan di balkon kamar melihat pemandangan Tokyo di malam hari.
""Cantik !"" Celetuk Langit spontan. melirik tubuh seksi itu tak berkedip.
Senja tak merespon, matanya pun di bikin buta, Langit di anggapnya hantu tak kasat mata. ia masih marah... dengan santai ia mengeringkan rambutnya di hadapan Langit yang masih tak berkedip
"Itik, apa kamu lapar ? mau makan apa ? ayo kita makan malam di luar !"" Ajak Langit mendekat dengan suara lembutnya...inilah suara paling lembut yang selama ini di sembunyikan oleh sikap batu Langit.
Senja tak merespon, bukan mata saja yang tak di gunakan, melainkan telinga juga di tuli-kan. kenapa harus sekarang ia mendengar kelembutan itu? kenapa harus di peras dulu hatinya baru mendapatkan perhatian itu....Ego Senja kan sangat tinggi... Apakah ia harus memberi kesempatan untuk Langit....? dan apakah Langit juga benar benar mencintainya, seperti ucapannya, Tadi ? entahlah... biarkan waktu berjalan yang menjawab. tapi untuk saat ini....Ia malas untuk ber-argument alot.
Senja menepis tangan Langit yang menyentuh lengannya. Tepisan itu terlihat mata Biru dan Mentari yang baru bergabung.
Mentari menatap Kakanya dan Langit bergantian dengan tatapan selidiknya.
""Daeng akan balik besok, Kasian bang Sam dan juga Satria...mereka kualahan tanpa adanya kami...Selain itu, Daeng juga ada hal penting yang akan Daeng selesai kan bersama Pa-- maksud ku Om Chris.... sangat penting ! itu yang kami permasalahkan ! iya kan Langit ?!"" Tanyanya penuh maksud.
Langit tersentak mendengar nama papanya, apakah maksud Senja, hal penting itu adalah masalah perpisahan. Tidak bisa di biarkan.
""Oh, itu. kami pun sebenarnya sudah merencanakan ini, pekerjaan ku pun lagi deadline ...Biru pun sama !"" Setuju Mentari. Senja bernafas lega.
Langit yang prustasi tujuh putaran di sini... dengan kata hal penting yang di ucapkan Senja. Ia tahu maksud Senja tertuju kemana. ""Itik !"" lirihnya pelan dengan suara putus asa.
""Ok, jadi sebelum kita pulang besok siang... bagaimana kalau malam ini kita habiskan waktu bersama dengan permainan...di sini saja..tak usah keluar."" Mentari berjalan ke bar mini yang ada di sweet room kamarnya. Fasilitas kamar pilihan Biru memang lengkap.
""Permainan ? apa itu Petite ?"" Tanya Biru mengekor langkah istrinya, Senja dan Langit pun mengekor. Langit akan menurut yang penting ada Senja di sampingnya. ia akan membuktikan cintanya ini....apa pun caranya.
__ADS_1
""Kata dan ketepatan...harus reflek menjawab tidak boleh berpikir lama..."" Jelas Mentari. Senja tersenyum geli...ia mengerti permainan yang di maksud adiknya....ia dan Mentari sering melakukannya bersama di saat masih di kampung.
""Aku rindu permainan ini sayang ! siap kan perut mu untuk meminum air.... perut mu akan kembung !"" Ledek Senja. karena hukumannya adalah.... siapa yang berpikir lemot dan tidak tepat juga padat dalam jawabannya...maka di haruskan untuk menghabiskan segelas tinggi air putih sekali tegukan...dalam satu kata kesalahan.
""Hohoho, lihat saja nanti, siapa yang akan kembung !"" Balas ledek Mentari menyiapkan banyak gelas di atas Pantry bar mini. Langit dan Biru mendengar kan seksama.
""Apa airnya boleh di ganti dengan ini."" Raih Langit ke botol wine yang lengkap di lemari bar.
Senja dan Mentari saling melirik... mereka tidak biasa dengan minuman beralkohol.
""Tunggu... tunggu dulu... contohkan ! Contoh kan permainan yang kalian maksud itu."" Tanya Biru. ia tidak setuju kalau istri nya harus menenggak minuman beralkohol... istirnya kan dalam program hamil, jangan sampai meminum minuman beralkohol tinggi.
""contohnya... Gunung !"" ujar Mentari dalam satu kata.
""Besar !"" sahut Senja cepat, karena peraturannya harus ringkas padat dan cepat.
"" Terjal !"" Balas
""Mendaki !""
""Banyak buaya !"" Salah Mentari, Sengaja. dapat hadiah jitakan dari Senja. Biru dan Langit tergelak kecil.
""Dasar bodoh, mana ada buaya di gunung...yang ada buayanya mati kekeringan..."" Aneh Senja dengan keceplosan asal asalan Mentari.
""Cih, aku tahu...itu kan cuma umpama dalam kesalahan....apa mau aku jabarkan yang katanya kehidupan buaya...kata Kak Sadewa-sepupu dari kak Langit...kalau buaya yang ada di darat itu pintar mengaum gombal...Ia kan Kaka ipar...?"" Lempengnya masih saja mengingat sugesti Sadewa di masa masa baru mengenal Langit, di kala itu.
Langit yang di tanya garuk tengkuk dengan wajah bodohnya...Ini si lempeng Mentari minta di tabok, otak lurus paralon kok masih ada saja sih tak hilang hilang... kenapa pakai buka kartu segala lagi di hadapan Senja... Lihat lah ulah Mentari...Senja sudah menatap horor ke arahnya. Biru apalagi...mata itu seakan menghujam keras ke tubuhnya.
"" Ayo mulai permainannya !"" Langit mengalihkan kelempengan si adik ipar....bisa runyam nanti. " khusus aku dan Biru, hukumannya adalah minuman ini !"" Langit menuangkan Wine ke beberapa gelas.
__ADS_1