RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 168


__ADS_3

Sore ini, Biru dan Mentari mampir ke rumah besar keluarga Sunjaya. Entah kenapa...Si Hulk ini katanya ingin manja manjaan ke mamanya-Vane. Aneh bukan ? Bingung Mentari. Tapi yawis waelah...si Istri imut ini menuruti keinginan suaminya, asal jangan saja minta manja manjaan ke wanita Lain. Ku sunat dua kali burung Garuda mu nanti.


""Ma , pa !""


Mentari menyalami sopan kedua orang tua Biru, Biru langsung tepar tiduran di sofa dengan berbantalkan paha Vane, Titan dan Mentari juga Vane saling mendelik geli. Si manja kumat.


""Kenapa sayang ?!"" Vane dengan lembut mengelus elus kepala Biru, walau pun anaknya terbilang sudah mempunyai istri, Vane dengan egois menganggap anak semata wayangnya ini sebagai bayi besarnya.


""Dia munta munta terus ma, di ajak ke dokter Farel eh tidak mau, Masuk angin doang katanya !"" Mentari yang menyahut menjelaskan. Biru sudah terpejam lemas di paha Vane.


""Sudah minum obat belum ?""


Mentari menggeleng akan pertanyaan dari Titan. "" Boro boro minum obat Pa, makan di suapin saya pun tidak mau, giliran sudah masuk satu atau dua sendok, muncrat lagi. !" Jelasnya.


""Di Kerok pakai koin malah kasian kulitnya, Merah kekelupasnya saja, Tapi anginnya tak mau minggat minggat, mungkin anginnya termasuk golongan penyuka orang tampan kali ya ma ?!"" Imbuhnya mencandai orang tua Biru agar mertuanya ini tidak terlalu cemas, ini hanya penyakit orang kismin....besok juga sudah kabur anginnya. Pikirnya santai.


Saat asyik bertukar canda tawa, Dari ruang tamu, bocil laki laki berlarian saat tahu Mentari dan Biru berkunjung ke rumah besar. Galaksi Miller Al Malik alias Dibi.


""Aunty !"" Riangnya berhambur ke pelukan Mentari.


""Dibi sayaaaaang !"" Antusias Mentari menangkap tubuh kecil itu dan dengan hati hati menaruh di pangkuannya.


Biru yang mendengar samar samar suara si bocil tengil, membuka matanya dan langsung menarik tubuhnya untuk duduk.


""Dibi, turun dari pangkuan Aunty bolong, kalau tidak, Uncle hukum kamu !"" Ancamnya posesif dengan suara galak... separah apapun kondisi tubuhnya, jika menyangkut Mentari maka tidak ada tuh istilah lemas lemasan segala, Baterai full On.


Dibi bukannya turun semakin erat dengan pelukannya di leher Mentari. Ini si Uncle pelit amat sih, minjam mangku sebentar saja kagak boleh. Dibi cium juga si Aunty ini. Dan Cup, Benar saja si bocil anaknya Bintang Dirgan ini mengecup pipi Mentari dan si empu pipi malah membalas ciuman Dibi di pipi gembul itu penuh kegemasan berkali kali.


""Yaaak, Jangan nakal ya bocah, sini kamu... Uncle hukum, Kamu juga Petite, saya hukum nanti.""

__ADS_1


Biru berdiri dari sofa, Melihat itu...Dibi bergegas turun dari pangkuan Mentari dan berlari ke pangkuan Titan. "" Opa... Uncle sangat pelit, Nanti kalau Dibi besar tidak mau seperti Uncle Bownis yang manja itu."" Adunya minta perlindungan Titan dari kegalakan Biru.


""Ini itu milik Uncle, Dibi tidak boleh dekat dekat , kan Uncle sudah pernah memperingati mu, dengar kan Dibi sayang !""


Dibi hanya cuek Mendengar ocehan Biru.


Sekarang bukan Vane lagi yang di jadikan bantal oleh Biru, melainkan Mentari...di kekapnya perut Mentari erat erat dengan wajah tenggelam di perut Mentari. Etdah Buset, Perut gue langsung enakan sih, mendekap perut Mentari.


Vane dan Titan hanya menggeleng aneh dengan kelakuan Biru yang melebihi Dibi kekanak kanakannya.


""Hulk, Kamu---!""


""Jangan membela Dibi Petite !"" Potongnya dengan posisi tak bergerak, pelukan itu semakin erat saja di perut Mentari begitu nyaman.


""Astaga, Kamu ngidam apa sih Ma ? Punya anak seperti Sagara yang manjanya kadang kadang akut pakai banget."" Titan semakin menggeleng aneh melihat tingkah langka Biru saat ini. Dibi sudah anteng di pangkuan nya dengan mainan rubik di tangan.


"Mentari, Hon Hon sudah ada hasilnya belum sayang, Mama lihat lihat dari penampakan Suamimu sekarang ini seperti Dejavu saja. Iya kan Pa ?"" Tanyanya ke Titan pun.


Sebelum menjawab, Titan juga memperhatikan Biru yang hanya terlihat punggungnya saja, wajah anaknya seakan minta masuk ke dalam perut Mentari, Duluuuuuu.... waktu Vane bunting, dirinya lah yang kerap mual tidak jelas...di kerokin pun kagak merah seperti cerita Mentari tadi... Pantas saja Istrinya-Vane merasakan Dejavu.


""Belum Ma, yang ngisi tuh si Daeng !"


""Haaah ? Senja... Maksudmu Senja sudah mblendung."" Kaget Vane. Anak Mantunya yang duluan menikah tapi ini....cih, si Chirs yang duluan akan menimang cucu.


Mentari mengangguk sebagai jawaban.


""Yaelah Bi, Lo kalah tajam pedang sama si Langit !"" Olok Vane ke Anaknya. ""Kalian kapan ? Mama sudah ingin tahu menimang cucu. Lihat lah Si Dibi, Dia sudah tidak pantas di mong mong, sudah besar... kakinya sudah panjang, kalian konsul gih ke dokter kandungan, sekalian cek kesuburan .""


Wajah Mentari redup, mendengar keinginan Vane yang belum terkabul kan, Rasanya ada hati yang tak enak timbul begitu saja, Ia merasa menjadi Istri yang tak becus. Tetiba perutnya terasa lapar lagi, Hati yang keperas, Tapi perut kok rasanya yang kagak terima.

__ADS_1


Biru yang sebenarnya mendengar percakapan itu, mengintip air muka Istrinya, Bersedih...itu yang ia tangkap dari air muka Mentari.


""Ma !"" Tekan Titan memperingati Istrinya yang ceplas-ceplos tak berfilter, Titan pun sama melihat wajah Mentari yang kian berubah ubah.


""Ma, aku lapar ! apa ada makanan untuk bisa di makan ?"" Biru mengalihkan pembicaraan, mendengar suara bunyi gerumuh perut Mentari jadi kagak tega juga membuat istrinya menahan lapar. ia mengabaikan kenyamanan nya yang menyebut makanan saja sebenarnya sangat mual. Seharian ini, Tubuh Biru tidak mendapatkan energi tenaga dari sumber pangan. Hanya air putih saja yang masuk, itu pun nanti akan keluar.


""Ada, Nanti Mama siapkan !"" Ujar Vane beranjak.


""Ma, Aku bantu ya !"" Tawar Mentari. membuang hati tercubitnya dari perkataan Vane. tidak enak dong berlenggang lenggang bokon* di rumah mertua.


""Tidak usah !"" Tolak Vane berlalu.


Nyees....Darah Mentari berdesir tak enak kembali, mendengar nada Vane yang terdengar kurang kurang tak sehat di dengar di telinganya.


""Mentari, jangan di masukkan ke hati, Mertua mu sekarang lagi Dapet ! Jadi suka kagak jelas."" Terang asal asalan Titan, Ia tidak enak ke mantunya.


"" Tidak pa, Aku baik baik saja !"" Senyum Mentari di buat semanis mungkin, Namun di dalam hatinya sangat lah merasa tercubit.


"" Ya sudah, Papa...bawa Dibi dulu ke kamar, Ketiduran dalam permainan rubik nya."" Pamit Titan. Di angguki Mentari seraya tersenyum kecil.


Kepergian Titan, Biru kembali menampakkan wajahnya dari dekapan perut Mentari. Di lihatnya wajah Mentari dari berbaringnya.


""Jangan sedih sayang dan jangan tersinggung dari perkataan Mama ku, Dengar kan ini.... Walaupun sampai seumur hidup ku tidak mendapat kan kuturunan dari pernikahan kita, sampai mati pun, Hati...Jiwa...dan Raga ini akan selalu setia dengan mu. Pegang kata kata ku, tidak ada nama lain lagi yang bisa menggeser dirimu dari hati ku. Dan rasa rasanya...aku suka memeluk perut mu ini, Rasa mual ku hilang...dan setelah dari sini...aku mau ke dokter Farel, menuruti permintaan istriku kan mutlak untuk di kerjakan."" Biru kembali menenggelamkan seluruh wajahnya di perut Mentari Setelah melihat bibir istrinya tersenyum hangat yang di buat buat oleh Mentari. Biru tahu Mentari lagi tersinggung atas perkataan Mamanya.


""Hey, Perut mu semakin bernyanyi sariosa di dalam sana Petite."" Candanya agar Mentari kembali ceria. Tapi Mentari hanya diam saja membuat Biru kembali mendongak dan langsung menarik tubuhnya duduk, Sejurus mengecup selebar wajah Mentari tanpa ada yang tertinggal.


""Yaaak, ini itu rumah Papa Mama, kalau mereka lihat bagaimana ? malu tuan muda Sunja."" Cubit Mentari di perut Biru.


""Hahaha, begitu dong... tersenyum manis ! jangan sedih lagi..!"" Goda Biru semakin nakal menghajar wajah Mentari menggunakan media bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2