
Farel dan Dr Anita tanpa berganti pakaian memasuki UGD yang berbeda, tergesa-gesa. Dr Anita menangani Mentari dengan teamnya. Sementara Dr Farel menangani Biru bersama teamnya pula.
""Dok Anita !""
Salah satu suster memberikan selembar kertas hasil laporan pemeriksaan Mentari yang sebelumnya sudah di periksa oleh Dr lain.
""Astaga ! Segera siapkan ruangan operasi, kita harus menyelamatkan bayinya dan urus segala prosedur persetujuan dari keluarganya.""
Dr Anita panik dan cemas bukan main. Setelah mempelajari laporan tersebut, Tekanan darah Mentari turun pesat, di tambah 0² untuk calon bayi di kandungan itu juga tidak tersalurkan dengan baik karena keadaan sang ibu sangat buruk saat ini. jika di biarkan lebih lama lagi, maka dengan sangat menyesal bayi bayi yang belum sempat melihat dunia akan secepat itu bertemu sang Khaliq.
Dalam hati, Dr Anita sangat takut saat setelah operasi ini selesai. Takut karena dengan keadaan Mentari yang tak sadarkan diri menjalankan operasi Caesar, efeknya sangat berdampak buruk untuk kesehatan Mentari setelahnya, banyak komplikasi kehamilan setelah pasca operasi Caesar kemungkinan yang menanti Mentari. Tapi jika harus menunggu Mentari sadar, maka di pastikan kedua cabang bayi itu yang tidak akan terselamatkan karena adanya Gawat janin akut yang sudah tidak bisa di beri pertolongan dini.
""Mentariiiiii !""
Di ruangan UGD lainnya, Saat Dr Farel ingin memasangkan selang infus di punggung tangan Biru, tetiba pasiennya itu sadar dan terpekik hebat menyebut nama istrinya.
""Eh, Bi... mau kemana, Lo harus di rawat !""
Dr Farel menahan Biru yang ingin turun dari brankar, pasiennya ini sangat gila apa, kepala masih berdarah darah, Tapi menolak untuk di rawat malah ingin pergi dari ruangan.
__ADS_1
""Lepasain gue Rel ! jangan beri gue suntikan apa pun, Mentari ? Mentari di mana ? istri gue baik baik aja kan Rel ? Tolong jangan beri suntikan penenang apa pun ke tubuh gue atau tempat Lo praktek ini akan Hangus gue bakar !""
Dr Farel mengkode teamnya untuk menjauh kan suntikan yang hampir menancap di kulit Biru, Dr Farel mengerti kecemasan pasien plus sahabatnya ini. Biru bisa melawan segala rasa sakit di fisiknya, tapi satu hal yang dokter Farel yakini...Biru tidak akan bisa menahan rasa sakit hatinya atas apa yang menimpa Istrinya dan juga calon anak anaknya jika amit amit mereka sampai dalam keadaan tidak tertolong.
""Ayo, gue antar !""
Dr Farel menyiapkan kursi roda, namun Biru langsung saja berjalan tanpa merasakan sakit apa pun.. Kecemasan dan ketakutannya atas kondisi Mentari mengalahkan rasa sakit yang ada di kepalanya. Tak dapat di pungkiri oleh Biru, kalau sekarang ini ia merasakan sakit luar biasa di bagian Kepalanya, tapi...Itu di abaikannya, Hanya satu yang Biru ingin lihat saat ini.... Mentari. Hidupnya, dunianya, Oksigennya. Segalanya galanya ada di Mentari.
"" Mentari kritis, dalam kondisinya itu membuat calon bayinya dalam keadaan bahaya... Tapi jika kita mengambil keputusan untuk melakukan operasi Caesar maka besar kemungkinan Mentari akan mengalami komplikasi kehamilan setelah proses operasi ini. Jadi kalian harus memilih menyelamatkan bayinya atau ibunya. kalau memilih ibunya, maka setelah Mentari sadar nanti, Bayi bayi yang sudah tidak bernafas itu kami angkat. Tapi kalau kalian memilih bayinya...Maka kedepannya Mentari.... Entahlah ?! Kita hanya bisa berdoa.""
Tepat kehadiran Biru di antara kerabat Mentari dan Titan-Papanya, Dr Anita keluar khusus secara langsung untuk menjelaskan kondisi kedepannya yang akan di terima Mentari atas dampak Operasi pengambilan bayi bayi itu di waktu belum tepat. Prematur.... sudah di pastikan, Bayi bayi itu akan terlahir prematur dan tentu saja Dr Anita tidak bisa menjanjikan keadaan yang jika pasti semuanya akan baik-baik saja, Dr Anita tidak mau memberikan harapan palsu, Karena maha kuasa lah yang tahu kedepannya atas kehidupan umatnya.
Senja, Rose dan semuanya mencerna baik baik penjelasan Dr Anita, buliran air mata pun membanjiri pipi tak henti hentinya. Mereka takut ! Mereka tidak bisa memilih antara kehidupan Mentari atau kehidupan calon bayi Mentari. Ketiga nyawa itu sangat penting bagi mereka apalagi di kehidupan Biru.
""Selamat kan calon bayi bayi ku, Nit !""
Biru memutuskan untuk segera melakukan operasi Caesar walaupun Mentari dalam keadaan kritis, Karena Biru yakin, keputusan Mentari pun sama seperti dirinya, Menyelamatkan anak-anaknya. Biru tidak akan bisa melihat istrinya bersedih berlarut larut jika harus mengikhlaskan kepergian anak anaknya, Itu sama saja membunuh istrinya kelak dalam waktu sedikit demi sedikit karena pilihannya yang salah. Bukan ia egois... Tapi ia tidak mau di salah kan oleh Mentari saat istrinya itu sadar nanti dan amit amit..bisa saja nanti Mentari malah pergi meninggalkan dirinya dengan rasa kecewa atas keputusannya untuk mengorbankan bayi bayinya.
""Baik ! Jadi tolong Bi, tanda tangani segala prosedur yang ada. Permisi !"" Dr Anita pun terburu buru pergi untuk segera melakukan tugasnya.
__ADS_1
"" Biru, Hiks...Ja-jadi kamu mengorbankan nyawa anak Amma ? Ka-kamu tega...Hiks hiks..Anak Amma akan pergi menemui Amang-nya dan juga saudara kembarnya di alam sana..Begitu kah ? Ka---Hiks hiks hiks."'
Rose meraung raung histeris, menguncang guncankan kedua bahu Biru yang nampak kosong tak bergeming. Hati Biru pun remuk tercabik cabik...bukan keputusan mudah baginya untuk memilih...ia juga pun tidak rela... bahkan sangat tidak rela kalau Mentari-nya berhenti berporos di hidupnya.
""Rose.. Rose ! Tenang kan dirimu...!"" Radja yang sedari tadi diam bersedih, menarik Rose dalam pelukannya. Rose tidak mau tenang, memukuli dada Radja tak sadar, Ia tidak mau merasakan kehilangan untuk ketiga kalinya... Kembaran Mentari, suaminya dan Oh Ya Allah.... Jangan sampai Mentari ataupun cucu cucunya kau panggil secepat ini.
Senja yang menangis pilu di pelukan Langit sedari tadi pun semakin terisak. Langit yang cemas dengan emosi naik turun Senja dalam keadaan hamil, membujuk agar Istrinya itu tenang dan jangan sampai berdampak ke Calon bayinya.
Jum menangis dalam diam, sedari orok... Mentari sudah menjadi sahabatnya. Di antara mereka sudah seperti saudara kandung sendiri.
""Bi ! Luka mu harus di obati dulu !"" Bujuk Titan meringis sendiri melihat darah yang hampir kering di kulit bagian wajah anaknya.
""Iya Bi, kuatkan diri mu dan jaga kesehatan mu, aku akan mengobati mu !"" Bujuk Farel. Satria yang ada di samping Biru pun menepuk pelan pundak temannya untuk menyadarkan kekosongan mata itu.
""TIDAK ! Jangan ada yang berbicara lagi tentang pengobatan, luka ini tidak ada apa apanya di bandingkan dengan kondisi istri ku !""
Tes....Mata Biru yang tadinya kosong, sekarang menangis tanpa suara menahan sesak di dadanya. Hatinya perih sakit terdalam... dalam, sedalam-dalamnya.
Ini air mata pertama kalinya lagi yang Papa lihat nak semenjak kamu masuk ke masa masa remaja. Berarti inilah titik terendah kesedihan kamu.
__ADS_1
Titan dengan keras pun tak memperdulikan peringatan keras anaknya yang tidak mau mengobati luka sobek di kulit kepalanya. Orang tua itu sendiri yang membersihkan luka itu masih dalam posisi berdiri tegak karena Biru tak bergeming seperti patung tak bergerak dalam berdirinya... Tatapannya kembali lurus lurus dengan sangat kosong.
kejadian ini adalah salah ku, Petite...andai ku turuti kemauan mu yang tidak mau berangkat ke pesta...maka ini tidak akan terjadi. Aku pantas di hukum...diriku pantas di hukum...DI HUKUM.