RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 191


__ADS_3

"" Pergi lah Mentari, kamu sudah lama di dekat Amang !""


"" Ish, Amang...masa anak sendiri di usir, Giliran dia boleh berada di dekat Amang, Siapa sih wanita itu ? Kenapa dia memiliki wajah seperti Tari, apa ini sebabnya ? Amang meninggalkan Tari.""


"" Tidak sayang, Dia itu kembaran mu, .. Sana pergi, Amang pun sudah waktunya untuk pergi, Amang sudah di jemput kembaran mu. Di sana ada orang yang setia menunggu mu. baliklah sayang, Ucapkan salam sayang Amang ke Amma mu juga ke daeng mu ya. Juga sampaikan salam Amang ke Orang yang bernama Radja."


""Hiks, Hiks..Amang ! Amang ! Jangan pergi ! Jangan tinggalkan Tari, Tari mau ikut.""


Dua cahaya putih berangsur menjauh di mata wanita yang sedang menangis minta ikut bersama. Seketika ada cahaya lain pun yang menariknya sampai melayang terhempas.


"" Amaaaaang !""


Deg...


Biru dan ketiga anaknya, Serta Rose dan Radja yang berada di dalam ruangan rumah sakit yang selama ini Mentari tempati, terkejut sangat, di dominasi rasa senang luar biasa apalagi untuk Biru dan ketiga anak kembarnya.


Mentari mereka bangun. Alhamdulillah !!!


Dr Farel juga terkejut senang, Tadinya jantung itu sempat berhenti beberapa detik dan berusaha untuk menstabilkan... syukur Alhamdulillah, Ternyata pasiennya seketika bangun langsung terpekik.


""Men--Mentari, sayang !"" Rasa lega, senang luar biasa yang tidak bisa di gambarkan oleh apapun terpancar di mata Biru, Rose dan semuanya juga. Seketika tangis haru dan senang begitu saja lolos.


""Petite !"" Biru mendekat ke sisi brankar, mengecup absen wajah pucat Mentari begitu senangnya. Mentari masih diam linglung.


Dimana ia berada ? Kenapa seluruh tubuhnya lemah, bangun pun susah sekali dan siapa yang berani beraninya menciumi wajahnya di hadapan orang tuanya.


""Amma, Amang ! Om ini siapa ? Kenapa Om ini mencium Tari, iiih...dasar Cabu*."" Mentari melirik ke beradaan Rose dan Radja yang berdiri di sisi brankar lainnya. Suara itu terbata bata juga parau serak. Apakah tidurnya begitu nyenyak ?


Bingung ? Semuanya bingung dengan ucapan Mentari. Biru di anggapnya Om Cabu*, Radja di anggapnya Amang-nya. Semuanya diam dengan mata tertuju ke Dr Farel.


""Tunggu sebentar !"" Lirih Dr Farel menyuruh Biru mundur dari sisi Mentari yang nampak risih kepada Biru.


""Mentari ? Itu nama mu kan ?"" Tanya Dr Farel mencoba menyelidik keyakinannya sebagai dokter.

__ADS_1


""Eum, itu nama ku !"" angguknya lemah.


""Aku periksa sebentar ya ! Mentari...Kamu kenal saya tidak ?""


""Eum, Dokter kan ! kan anda memakai seragam Dr !"" Jawabnya polos. Dr Farel sejenak berhenti dari pemeriksaannya.


""Kalau itu, kamu kenal."" Tunjuk Farel ke Rose dan Radja yang diam kebingungan.


""Amma dan Amang, Amang sini ! aku tadi mimpi buruk ! Amang pergi meninggalkan Tari bersama---Entah ? Samar samar ! Tari rindu ini !"" Setelah Radja mendekat dengan pikiran bingungnya. Mentari menjawil kuncup hidung Radja yang selalu di lakukannya bersama Dewa semasa hidupnya. ""Ish..Amang lupa tos hidung kita, Kok gitu sih...Ayo jawil sayang hidung Mentari.""


Radja sejenak melirik Rose untuk minta di contohkan, Dan Radja pun mengikuti instruksi Rose. Menjawil hidung mancung Ponakannya dan mengecup kening Mentari.


""Mentari, Umur mu berapa ? kamu sibuk apa sekarang ?"" Farel semakin menyelidik perkiraannya yang menghinggapi otaknya.


""Entah umur ku berapa ? Tapi aku sekeloh duduk di kelas lima SD. eh.. harusnya Tari sekolah kan hari ini, Kenapa Tari ada di sini Amma ? Tari sakit ya ? Tari ingin bangun Amma..Tapi kenapa kaki Tari lemas?"" Cercanya ingin bergerak tapi Otot ototnya serasa kaku lemah.


Apa lagi ini, Ya Tuhan ? Dalam diamnya, Biru tertohok sedih, setelah tidur panjang... Istrinya malah melupakannya, Bagaimana dengan anak anaknya ? Apakah Mentari juga lupa kalau dia punya anak ?


""Dja, Tolong temani Mentari juga si kembar ya !"" Pinta Rose.


""Pergilah !"" Sahutnya.


Mata Mentari tertuju ke tiga anak kecil yang duduk di sudut sofa. Entah kenapa, rasa sejuk seketika terasa di hatinya.


""Amang mereka siapa ?"" Lirih Mentari ke Radja.


""Mereka---!!!""


""Bunda, Bunda , Bunda.""


Ketiganya mendekat dengan suara bergantian pun memanggil.


Bunda ? Entah kenapa ada rasa senang saat ketiga bocah di hadapannya ini memanggilnya dengan sebutan itu. Tapi ia kan masih kecil, tidak pantas untuk di panggil Bunda ? Batinnya. Tapi ada rasa tidak tegaan yang menolak panggilan si anak anak manis ini.

__ADS_1


""Hai sayang ! Kalian namanya siapa ? ish... Kenalannya tunggu sebentar ya..Kepala ku sakit."" Tangan lemah itu perlahan ingin menyentu pelipisnya. Namun tertahan dengan suara salah satu dari bocah laki laki di hadapannya.


""Biar Topan yang memijatnya Bunda, pasti sakit, Lagian kata Nenek juga Oma, Bunda itu terlalu lama tidurnya, Kalau tidur berlebihan juga tidak baik bagi kesehatan Bunda, Percaya deh !""


Radja melongo tak percaya, selama ikut mengurus anak kembar ini, ia tidak pernah mendengar penuturan Topan yang panjang kali Lebar, dengan begitu lancarnya. Si Dingin seperti Biru ini menghangat di hadapan Mentari, rupanya.


Topan, Bocah pintar itu naik ke kursi di sisi brankar, agar bisa meraih pelipis Bundanya. tangan mungil itu pun bermain lembut di sana. Sementara kedua kembarannya berada di telapak kaki Mentari, memijit kaki itu dengan lembutnya mengikuti aksi Topan, mereka tak mau kalah mencari perhatian Bundanya yang sudah lama di rindukannya. Kalau berkunjung, mereka hanya bisa diam, menyentuh sebentar...pulang !


Mentari memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan tangan kecil itu.


Astaga....ni ketiga bocah sudah seperti orang dewasa, terbuat apa mereka ini ? Batin Radja.


Ceklek.


Setelah dari ruangan Dr Farel, Langkah Biru dan Rose terhanyut akan pemandangan di hadapannya, Si kembar memperlakukan Bundanya seperti Ratu.


"" Bagaimana dengan anak anak ku ? memori Bundanya hilang separu, Ya Tuhan....Aku tidak mau membuat ke-tiga hati anak ku terluka jika Mentari tidak mengakuinya. Istriku..Kamu istri ku, bukan anak kecil yang duduk di bangku kelas lima SD. Kamu sudah mempunyai anak Petite. Aku mungkin bisa menunggu kesehatan mu lagi karena jujur... Mendengar suara mu pun aku sudah bahagia luar biasa, Tapi aku hanya takut ! Takut jika anak anak kita meminta haknya sebagai anak kepada mu.""


Sedih, Hati itu kembali sedih... lima puluh persen, Biru masih di titik-titik terendah. Setelah sadar, istrinya melupakan memorinya selama beberapa tahun belakangan ini.


""Bagaimana Rose ?" Tanya Radja menarik Rose untuk duduk di sudut sofa. Ia penasaran akan kesehatan Mentari yang terlihat seperti orang lain.


""Mentari melupakan separuh memorinya...Dia menganggap dirinya masik anak anak yang duduk di bangku SD, Dan tentu saja... Mentari menganggap mu sebagai Dewa, Karena di tahun itu Dewa memang masih belum meninggal."" Mata Rose beralih ke Radja yang sedari tadi berucap tapi memperhatikan Si kembar yang masih memijat mijat Bundanya yang menikmati sentuhan itu dalam mata terpejam sadar.


""Dja, Kata Dr Farel...Kita tidak boleh memaksakan memori itu untuk kembali, jadi ku mohon, apakah kamu mau berperang sebagai Amang nya Mentari untuk sementara waktu, biarkan memori itu kembali dengan sendirinya. Kata Dr Farel jika di paksakan, maka akan fatal...Bisa bisa semuanya malah menghilang."" Jelas Rose penuh harap agar Radja mau mengabulkan permintaannya.


""Mau, aku mau ! Amang sesungguhnya pun, aku sangat mau. !"" Lanjutnya membatin.


Setelah puas melihat wajah pucat istrinya dalam diamnya. Biru menurunkan Topan dari kursi. Menggantikan Topan yang memijit pelipis Mentari tanpa suara sedikit pun.


Mata Mentari yang terpejam sadar itu seketika terbuka, saat menyadari tangan lembut kecil milik Topan menjadi sentuhan sedikit berbeda.


""Yak, Om Cabu* !"" Tepisnya di tangan Biru.

__ADS_1


__ADS_2