
Dua jam menunggu tidak ada tanda tanda Rose-Amma Mentari bangun dari pingsannya.
Duduk bosan, tiga kepala Batara dan juga Biru sering menguap di Landa kebosanan sebab Mentari dan Senja malah asyik berbisik berdua saja seakan tidak memperdulikan tamunya yang datang jauh jauh yang sebenarnya ingin menyampaikan hal penting baik itu Biru maupun ketiga Kepala Batara.
"" Petite."" Rengek Biru layaknya anak kecil butuh perhatian. Mentari hanya melirik dengan Senja pun melirik ke arah kekasih adiknya itu.
""Tar, Kenapa tuh kekasih mu.. Laper kali, kasih makan gih !"" Bisik Senja. Mentari hanya mengedipkan bahu tak banyak bertanya, Sebelum Ammanya bangun kayanya Mentari akan ngirit bicara.
Bima dan Risma mendekat ke arah Senja, ingin memperkenalkan diri dan ingin mendekatkan diri kepada cucunya yang satu ini...Di lihat dari mata tua Bima dan Risma, Senja tidak beda jauh dengan Mentari yang manis dan cantik, Tapi entah dengan kepolosannya...apa kah sama dengan Mentari atau sama dengan licik licik kepintaran Dewa dengan kadang kala, mempunyai watak keras yang jika memutuskan sesuatu harus di ikuti kemauannya. Bedanya, lesungnya Dewa, ada di Mentari yang mendominasi imut seperti wajah Ammanya...Makanya Biru memanggil Mentari dengan sebutan sayang 'My Petite' karena kekasihnya itu imut dengan postur tubuh yang pas mendukung.
""Senja ya ?"" Ujar Risma. Senja mengangguk canggung, ia sudah tahu kalau orang paruh baya ini adalah neneknya yang sudah di bisikkan oleh Mentari.
""Kami adalah orang tua Amang mu sayang, berarti kamu cucu Kami, seperti Mentari."" Jelas Bima.
Senja melirik adiknya yang hanya datar polos, Senja servernya lagi eror, tidak bisa berpikir dengan situasi mendadak seperti ini.
""Apa lihat lihat ?!" Songong Mentari ke kakanya.
Pletaaakkk..
Senja menjitak kepala adiknya, kesal ! tak memperdulikan ada orang yang masih asing di matanya. Adik kaka ini kadang kala memang berperang dingin jika sudah kumat, Tapi sebentar doang, jika Amma sudah berdakwah dengan ayat ancamannya seperti.... Berantem saja terus sampai bosan, tapi kalau Amma turun tangan mengikat satukan rambut panjang kalian maka jangan salahkan Amma ya...! seketika peradaban alotnya akan berhenti, dari pada rambut ketemu rambut di sambung, kan berabe, mau BAB kan ribet.
""Nyebelin kamu Dek !"" Cibik Senja. Risma dan Bima saling lirik dengan tatapan sendu, Mengira kalau Senja tak mau mengakuinya.
""Nih saya contohkan ya Daeng."" Mentari beranjak mencium hangat pipi Risma begitupun ke Bima, Sengaja meledek kakanya yang sebenarnya juga ingin bermanja ke orang tua Amang-nya. Bima dan Risma tersenyum hangat, Sedihnya hilang mendapat perlakuan hangat dari Mentari.
__ADS_1
""Sini sayang, peluk cium kami seperti adik mu."" Rentang tangan Risma. Senja beranjak dengan pelan dan ragu.
"" Awas di gigit."" Goda Mentari. Senja menjitak lagi kepala adiknya. Sebelum benar-benar di peluk hangat oleh Risma. Mentari tersenyum geli dengan tangan mengelus kepalanya.
"" Petite, sakit tidak di jitak ? Saya pun mau dong di cium dan juga di peluk."" Bisik pinta Biru.
Pletaaakkk.
Dan kali ini, jitakan jatuh ke kepala Biru dari tangan Radja yang mendengar bisikan nakal Biru ke Mentari.
Biru mendengus pelan, melirik tak suka ke Radja. Orang tua ini, nyebelin amat sih, untung saya cinta ke keponakannya kalau tidak...eeem, Sudah ku balas kau mantan dosen.
""apa kalian tak mau memperlakukan hangat Om mu ini, eum.? Om pun mau di peluk oleh kalian lho.!"" Ucap Radja melirik Senja dan juga Mentari.
Mentari tak merespon hangat Radja, tiba tiba ia mengingat ancaman Raisa dan berakhir di sini lah dirinya, kalah ! Kalah dengan cita citanya yang terkubur tak bisa berkuliah lagi yang di kiranya adalah kuliah beasiswa dari kampus, padahal kuliahnya tersebut di bayar penuh oleh Biru tanpa sepengetahuannya sampai saat ini.
""Mentari ?"" Tekan Radja yang tak di respon oleh Mentari.
Mentari membuang Nafasnya perlahan.
""Daeng, sini !"" Tarik Mentari di lengan Senja, tak boleh dekat dengan Radja lama lama, Takut takut Raisa membenarkan ancamannya ke Senja yang akan menyuruh orang untuk memperkosa kakanya.
""Kalian mau ngapain ke sini ?"" Mata Mentari melirik satu persatu ke keluarga Amang-nya. Senja menyenggol adiknya yang seakan tidak sopan, Tapi ia tidak tahu maksud adiknya yang sebenarnya ingin melindunginya karena Mentari tak menceritakan ancaman Raisa yang akan tertuju ke dirinya.
""Mau menjemput mu, Sayang ! Sekalian kami ingin menyampaikan hal yang penting untuk kalian tapi menunggu Amma mu bangun dulu !"" Tutur Radja lembut, Ia tahu Mentari saat ini bersikap dingin karena mungkin takut dengan ancaman mantan istrinya yang sekarang sudah di dalam bilik negara.
__ADS_1
""Saya tidak mau, Om, kek, nek !. Saya lebih memilih di sini untuk mencari aman, tolong lah ! pergi lah sekarang ! mengerti keadaan saya saat ini, saya takut dengan ancaman Tan----maksud saya, Saya takut kalian menyakiti perasaan Amma saya, Amma sudah menderita lho, tolong jangan di tambah lagi."" Usir lembut Mentari, sebenarnya ia tidak tega dengan keluarga Batara, Tapi apa boleh buat, ia menyayangi Kakanya yang tak ingin terjadi apa apa kepadanya.
Biru memilih diam, ia sadar kalau ini permasalahan keluarga, jadi ia tak berhak untuk bersuara kali ini, biarkan permasalahan keluarga Mentari selesai terlebih dahulu, baru ia akan menyampaikan niat baiknya yang akan melamar Mentari langsung ke Ammanya Mentari.
""Mentari, Senja ! Nenek paham dengan kecemasan kalian atas kehadiran kami yang tiba-tiba. Tapi percayalah kami tidak ada niat menyinggung kalian apalagi ke Amma mu, Menantu nenek, Dan kamu Mentari...Nenek paham betul atas kekhawatiran kamu sayang, tentang Raisa kan ?"" Ujar lembut Risma.
Mentari mengangguk tidak mau berbohong akan nama Raisa.
""Dia sudah di penjara !"" Tukas Radja. Dan melirik Biru yang santai akan ulahnya, Tapi Radja tak keberatan dengan tindakan Biru yang sudah tepat karena ia pun tak Sudi jika anak dari kembarannya di perlukan tidak pantas.
"Di penjara ?"" Ulang Mentari. Radja mengangguk dengan senyum manisnya, Mencoba memberi pengertian ke Mentari kalau itu tak apa baginya. ""Om bahkan sudah bercerai dengannya.!""
Senja sendiri yang tak tahu dengan jalur cerita yang kurang di pahaminya hanya diam dengan tangan terus memberikan aroma minyak angin ke hidung Ammanya.
Mentari hanya manggut-manggut konyol dengan mulut ber O ria, tak tahu harus senang apa sedih dengan keadaan Raisa.... Di penjara... plus di ceraikan ? Tuhan memang tak tidur ! Mungkin ini lah getahnya untuk Tante Raisa.
":Tari, Amma sadar !"" Senang Senja. Mentari mendekat, Radja mundur bersembunyi di belakang Biru, takut takut Amma Mentari akan pingsan lagi kalau melihatnya...ya, walau pun wajahnya sudah di tutupi separuh...mencegah kan lebih baik, dari pada pingsan lagi, makin lama acara niat penyampaiannya yang penting itu.
Jangan salah kan saya pak dosen, Saya lagi menahan kuat gas yang sudah di ujung bolong sedari tadi, Kalau bau, ya....resiko ! siapa suruh sudah bersembunyi pas di belakang ku... Batin Biru. sejurus kemudian keluar sudah yang di tahannya tanpa ada suara... Preet atau Tut.
Plaaak...
"Sagara ? kurang ajar ! kamu ngentut ya ?"" kesal Radja menggeprak kepala Biru kuat seraya memejet hidungnya yang sudah tertutup masker.
""Hahaha, maaf Om, Tidak tahan sedari tadi !"" Biru tertawa keras hingga mengundang mata ke arah mereka berdua.
__ADS_1