
Senja dan Bima juga Risma telah mengobrol santai di dalam rumah, saling mendekatkan diri...dan sesekali pasangan tua itu memberi arahan Senja tentang bisnis ke depannya. Senja antusias, Sebenarnya jiwa bisnis Dewa memang di darah kan oleh gadis berperangai semampai ini.
Mentari dan Biru sedang tidak ada di rumah, melainkan kembali ke Padang rumput untuk mengambil kambingnya yang tadinya di titipkan di Jum.
Sementara, Rose... Janda dari Dewa itu sedang berkebun di belakang rumah yang banyak di tanamin jenis macam sayuran yang bisa di olah sendiri ataupun sekedar di jual ke tetangga yang membutuhkan secara mendadak.
Radja datang dari belakang, takjub dengan tanaman Rose yang tumbuh subur nan hijau.
""Rose !"" Sapa Radja.
Rose terperanjat kaget dengan tangan memegang selang air, tak sengaja ia menyiram wajah serta bagian tubuh depan Radja. Basah ! Radja basah dengan kesal tertahan.
""Mengagetkan !"" Nada Rose naik satu oktaf. Tak mau di salahkan atas ke basahan Radja.
""Hais !"" Radja tak habis pikir, harusnya ia yang marah, ini malah Rose yang naik oktaf.
""Jangan salah kan saya, siapa suruh mengagetkan !"" Rose kembali dengan pekerjaannya, membiarkan Radja yang mendumel lirih.
""Wajahnya saja yang sama ! tapi mulutnya sangat berbeda !"" Gerutu Rose, yang menilai Radja ketus tak seperti Dewa yang selalu kalem dalam bertutur, mau dirinya salah dalam bertindak..Dewa selalu memberi penjelasan yang kalem tapi tegas.
Radja Mendengar dumelan Rose. "" Cih, Jangan sama kan saya dengan Dewa ya ! Tentu saya lebih segalanya."" Pede Radja.
Rose hanya memutar matanya malas.
""Rose, tanggung jawab dong, Ah...! Saya tidak ada baju ganti... Tadinya kan, Kami tidak ada niat untuk tinggal lama di kampung, jadi kami tidak membawa baju ganti !"" Keluh Radja yang melihat Rose tak niat bertanggung jawab.
""Jangan cengeng jadi laki, Basah sedikit saja kan tidak akan membuat orang mati."" Rose masih saja ketus. tak memperdulikan keadaan Radja. entah kenapa ia tak bisa bersahabat dengan wajah berupa Dewa itu. Walaupun Radja begitu mirip dengan wajah Suaminya, tapi tetap saja...mereka itu beda.
""Tamu itu raja !"" Sindir Radja masih berharap Rose memberikan baju ganti, ia orangnya risihan, tak bisa berpenampilan berantakan.
__ADS_1
""Cerewet !"" Rose berlalu meninggalkan pekerjaannya, berniat untuk memberi Radja pakaian milik Dewa.
""Cih, Dewa ! istri mu memang cantik tapi di sayangkan, menyebalkan !"" Dumel Radja mendudukkan bokongnya di batu besar dengan asal asalan. Tak lama...Radja mendengar suara dua warga yang menjelekkan keluarga ponakannya. Radja tersungging tajam saat mendengar Mentari akan menjadi perawan tua kalau masih saja membanggakan diri yang menunggu orang yang bisa memberikan mahar besar.
Lihat saja, ponakan ku akan mendapatkan apa yang di inginkannya, Sekalian saya akan membuat pesta besar besaran di sini untuk membungkam mulut lebar kalian...Jika perlu saya akan mendatangkan artis sekaligus untuk menghibur mulut lembe kalian.
Radja kesal dan marah sendiri mendengar ada orang yang mencibir keluarga kecil Dewa. Pikirnya, Berarti selama ini, Mentari sekeluarga di pandang sebelah mata oleh separuh atau mungkin seluruh warga di sini. Awas saja kalian !
Di tempat lain, Biru sedang berbicara panjang lebar di telpon dengan seseorang dengan sangat serius. memulai akan rencananya atas permintaan dari Radja yang ingin meramaikan acara lamaran. Entah dengan siapa ia bercekramah di balik telpon namun sesekali Biru menyunggingkan senyum devilnya.
Sambungan itu di matikan langsung oleh Biru saat menyadari kedatangan dua orang yang berdiri dari belakangnya, ia tahu itu karena bayangan dua orang yang terpantul cahaya matahari. Biru berbalik dan tersenyum manis saat mendapati wajah petite-nya yang sedang menaikkan alis selidik kepadanya.
""serius amat !"" Ujar Mentari.
"Eum, masalah kerjaan !"" Bohong Biru. ""Dan tumben otak lempeng ini, memiliki kekepoan akut ! biasanya kan tak berpeka !"" Goda Biru.
""Sudah kenal, iya kan Jum !"" Ujar Biru, namun tangannya menjulur berkenalan dengan Jum. ""Saya Biru !""
Jum tersenyum canggung. melepaskan tangannya yang tiba-tiba merinding di sentuh oleh orang tampan pakai banget. "" Tar, Namanya Biru ? Darahnya berwarna biru tidak ?"" Konyol Jum.
Mentari tersenyum seraya menoyor jidat sahabatnya. ""Mana ada Ogeb, Darah Biru !""
""Ya kali ada ! kan ada tuh istilah Darah biru ! Ya saya pikir kekasih mu ini mempunyai darah berwarna Biru. makanya di namakan Biru.""
""Ah, sudah lah...Saya malas menjabarkan tentang darah Biru ke otak kamu yang pas Pasan ini, lagian sewaktu pelajaran sejarah kerajaan di kemanain otak kamu, eum !"" Mentari lagi lagi menoyor gemas jidat sahabatnya. membuat Biru menggeleng geli dengan perdebatan masalah namanya.
"" Petite, Jum ! katakan kepada saya, Di kampung ini yang menyewakan tempat untuk menampung orang banyak di mana ?"" Tanya Biru penuh maksud.
""Diiiiiiii, tidak ada ! di sini tidak ada hotel, motel atau sejenisnya."" Telak Mentari.
__ADS_1
Biru garuk tengkuk. "" Bagaimana dong, rencana saya !"" Batinnya.
""Tapi ada aula besar khusus untuk para tamu desa sewaktu waktu, di sana juga lengkap ada beberapa kamar."" Timpal Jum.
Aha.... Biru semberinga Mendengar pernyataan Jum. ""Oke.... antar saya ke sana Jum, dan kamu Petite, siapkan diri untuk saya lamar dengan sangat meriah Rame seperti keinginan Om Radja mu yang menyebalkan itu."" Tengil Biru dengan otaknya yang sudah tersusun rapih.
...****...
Dito, tangan kanan Biru mengetuk sopan ruangan Titan masih dalam jam kantor. ia pun masuk setelah di persilahkan.
""Sore, Tuan Sunjaya !"" Sapa Dito. Titan mendongak dengan dahi mengkirut, Tumben kepercayaan Anaknya ini datang menghampirinya. Titan pun mempersilahkan Dito untuk duduk di hadapan meja kerjanya.
Dengan bertutur sopan, Dito menjelaskan maksud kedatangannya atas arahan dari Biru. Biru sengaja menyuruh Dito agar jiwa kesatuan Papanya di singgung, Supaya pebisnis sibuk seperti Papanya itu datang dengan tidak secara biasa-biasa saja.
""Wah, Sialan tuh si Burung Sumatera ! Keluarga saya di kucilkan. Tidak bisa di biarkan."" Kesal Titan ke Radja.
Dito tersenyum lebar dalam hatinya, saat melihat Titan langsung meradang, Dito semakin bersorak Yes di dalam hati, mendengar Titan langsung berbicara di telpon, menghubungi Vero, Gion serta kemal si raja bisnis.
""Tunggu saya, Radja..! Meriah kan yang Lo mau, Maka saya akan membuatnya All in sekalian."" Tengil Titan menyeringai lebar.
Dito pun pamit Setelah berhasil. Menelpon Biru di luar ruangan Titan.
""Bos ! Saya sudah berhasil membuat Papa anda tersulut... bahkan sudah siap semuanya Bos ! Saya dengar...Tuan Kemal pun akan turut serta.. bahkan pesawat pribadi tuan Kemal Abraham akan di pakai oleh kita semua untuk berangkat malam ini juga.!"" Lapor Dito.
"" Kau terbaik Dito ! Ah, Satu lagi... tolong jemput teman baik Mentari yang lekong itu, Namanya Bang Sam, Kekasih saya sangat menyayangi sahabat satu nya itu...jadi biarkan dia ikut serta akan kebahagiaan Mentari.""
""Laksanakan, Bos !"" Patuh Dito.
š Dukungan ikhlas š
__ADS_1