
Gema membawa Jum pulang ke Apartemennya yang satu gedung dengan apartemen milik Jum pun, ia tidak mungkin membawa Jum ke unit Jum sendiri dalam keadaan tidak baik baik saja, kasihan orang tua Jum, pikirnya orang tua itu akan terpukul anaknya mendapatkan penghinaan yang hampir di lecehkan.
""Mba, Tolong ganti pakaian calon istri saya menggunakan ini."" Pinta Gema ke ART yang kebetulan hari ini jadwal pembersihan rutin unitnya, walaupun jarang di gunakan, Gema selalu membuat unitnya nyaman dan bersih.
""Baik, pak !"" Raih ART itu akan kemeja putih yang ART tahu bahwa itu adalah kemeja bosnya.
Gema pun keluar kamar, memberi ARTnya ruang untuk mengurus Jum yang pingsan dalam berpakaian. Gema hanya khawatir kalau Jum akan mengalami trauma dalam peristiwa ini.
...*****...
""Nda, Bosan ! Ke kantol ayah yu Nda.""
Pelangi, Biasanya selalu anteng dalam melukis, mengeluh manja di atas pangkuan Mentari di atas sofa ruang keluarga, Vane yang mendengar keluh kesah cucunya bukannya merasa iba, malah tersenyum. Lagian ekspresi bocah cilik ini begitu menggemaskan saat meminta sesuatu. Pasti ada udang di balik batu. Ngomongnya saja bosan, tapi pasti ada yang lain yang di inginkan bocah kecik kecik nakal ini. Vane sudah nebak. Pasti !!!
""Kalau bosan, ya main sama Kaka adik kamu dong sayang. Topan...! Badai...!""
Pelangi malah cemberut, Bundanya berteriak memanggil ke-dua kembarannya, ia lagi malas ke mereka berdua.
"Meleka tidak ada !""
Pengakuan Pelangi berhasil membuat Mentari panik ! Tidak ada ? kemana ? Setahunya ke dua anaknya itu di dalam kamar.
""Ke mana mereka ? Ma, apa mereka izin sama Mama ?""
Posesif ke ibuannya On, Mentari tidak mau kalau anak anaknya bertingkah aneh aneh di luaran sana. apalagi tanpa ada pengawasan darinya.
""Tenang Mentari, Anak anak mu ada bersama Dibi di---!""
""Kandang mumun, meleka semua suka ama monyet kak Dibi. Pelangi nggak suka monyet, jelek banyak bulunya, iiiiih !"" Cerewet Pelangi menukas omongan Vane dengan mimik jijik menggemaskan bibir kecil itu berceloteh. ia menolak keras ajakan Dibi dan kedua kembarannya untuk ikut bermain bersama monyet kesayangan milik Gilang yang di tinggal oleh adik Bintang itu untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
""Oalah, jadi begitu... Tapi masalah kantor Ayah, kita percuma kalau ke sana, Ayah tidak ada di kantor, bagaimana kalau Bunda menemani Pelangi menggambar saja, mau ?""
Pelangi menggeleng. menolak.
"Terus ? maunya apa sayang ?""
""Ke doktel saja.""
""Buat ?"" Bingung Mentari.
__ADS_1
""Buat nyuntik Mumun jadi cantik sepelti Pelangi cantiknya.""
hahahaha, Vane dan Mentari malah menertawakan Pelangi, Membuat bocah itu semakin mencibik cemberut.
Sementara di rumah besar sebelah kanan tepatnya di kediaman Al Miller....!
""Topan, Badai ! Aku pukul kalian kalau nakal.""
Dibi marah marah ke kembaran Pelangi. Kedua bocah kembar ini telah memperdayainya, mintanya ingin bermain bersama mumun, Tapi nyatanya, ke-dua bocah ini malah Ingin mengeksekusi peliharaannya, Yakni ingin mengikis bulu halus milik Mumun. dan Alasannya karena Pelangi yang tidak suka melihat peliharaan jelek milik Dibi ini.
""Ck, Botakin sedikit saja kak !""
Topan berlari mengelilingi kolam renang, di ikuti Badai di belakangnya, Dibi lah yang mengejar mereka, ingin memukul Karena kelakuan kedua bocah yang di kejarnya sudah berhasil membuat Mumun stress tak mau keluar dari kandangnya karena takut dengan kedua bocah monster ini.
""Awas kalau ketangkap, Kaka jeburin Kalian ke kolam renang."" Ancam Dibi, kesal. terus berlari ingin meraih kaos belakang Badai, namun Salah prediksi pergerakan tetiba Topan, yang malah berbalik menerjang tubuhnya sehingga dirinya malah jatuh masuk ke dalam kolam renang.
""Hahahaaha."" Gelak ke-duanya, menertawakan Dibi yang termakan ancaman sendiri.
""Awas kalian !!!"" Dengus Dibi berusaha berenang ke tepi karena kolam begitu dalam.
""Ayo Dai, kita beri peringatan untuk Mumun.""
Mendengar itu, Dibi semakin buru buru ingin naik ke tepi, tapi sialnya, ia malah tergelincir lagi karena sangat licin.
""Kami akan membuat mu botak, biar cantik seperti yang di inginkan Pelangi."" Timpal Topan berteriak. ia begitu sayang ke saudara kembarnya, jadi apa pun untuk mereka, ia akan mencoba hal apapun yang bisa membahagiakan kedua kembarannya.
Mumun yang di atas pohon dalam rumah kayunya. Mendengar... Serah Lo bocah, serah. Siapalah daku ini. Hanya seorang eh seekor monyet merindukan pemilik asli datang.
...****...
Di dalam kamar unit Apartemen Gema, Jum melenguh racau dalam terpejamnya... Jangan sentuh aku ! Terus, kata kata itu yang di dengar Gema yang duduk di sisi kasur yang di tiduri Jum. Gema jadi cemas sendiri kalau woman ini trauma, alamat.... bagaimana nanti hasil pernikahannya. gagal hon hon dong. jadi sebelum itu mendarah daging di otak Jum, ia harus melakukan sesuatu.
""eh, bangun woman !"" Gema menepuk nepuk pelan pipi Jum. ""buka mata mu dan lawan lah apa pun yang menjadi ketakutan mu !"" Sekali lagi, tangan itu menepuk pipi Jum, cuma agak keras. dan berhasil...!!!
""Uhh, kasar sekali !"" Linglung, Jum bangun menepis tangan Gema yang masih ingin menyentuh pipinya.
""Bagaimana keadaan mu ?""
Jum terdiam dalam kepala berdenyut. Serangkaian kejadian bersama Satria kembali teringat. Apakah tadi cuma mimpi, semoga saja ? Tapi kok rasanya seperti nyata.
__ADS_1
""Apa yang terjadi ?""
Dahi Gema mengkirut halus, si Woman nampak linglung alih alih ingin menepis kejadian itu, ingin mengelak mungkin. kalau pria yang mungkin masih di cintanya berbuat tak senonoh kepadanya.
""Seperti yang kamu pikirkan.""
Mata Gema menangkap tangan lembut itu mencengkeram erat ujung selimut yang terpatri di sisi tubuhnya. Ada pancaran kekecewaan di mata Jum saat mendengar pengakuan Ambigunya.
Gema jadi kasihan ke woman ini. Jadi apa pun yang di inginkan Jum, pasti ia akan kabul kan, Jika Jum ingin mundur dari pernikahan mereka. Gema dengan berat hati...Mau mengabulkan permintaan Jum, biar wanita yang di cintainya dalam diam selama ini merasa bahagia. walaupun kebahagiaan itu bukan berasal darinya, setidaknya ia masih melihat Jum tersenyum manis dari kejauhan. dan itulah yang selalu Gema perhatiin dari Jum selama berada dalam dekapan Satria. Menyakitkan memang saat melihat orang yang kita cintai Tersenyum manis bahagia tapi senyumannya itu bukan untuk diri kita melainkan untuk orang lain.
""Bagaimana keadaannya ?""
Kepalan Gema tetiba mengerat, Jum masih perduli ke pria pengecut itu.
""Masih hidup, Cuma kata Langit dia dalam keadaan patah tulang, tapi tidak parah kok, bisa sembuh dalam waktu dekat."" Jelasnya malas.
Jum hanya diam, matanya pun takut menatap orang yang ada di hadapannya. ini nyata, Satria sudah berubah ! Batinnya masih tak percaya akan kelakuan Satria, dan itu karena dirinya, pikirnya menyalahkan diri sendiri yang menolak Satria karena keadaan orang tua yang tak merestui.
""Katakanlah Jum, Kalau kamu mau mundur dalam rencana pernikahan kita ini, maka katakan sekarang, aku akan mengabulkannya, aku tidak akan bahagia jika melihat orang yang ku cintai tersiksa dalam rantai tak kasat mata dari ku. Aku akan mempersatukan mu bersama Satria Karena ku lingkup saat ini kamu masih perduli dan cinta kepadanya." Tutur Gema berbesar hati mau mundur.
Jum berhasil di buat mendongak menatap lurus dalam mata Gema yang misterius. Senyum kecut seketika terlukis, si pria irit bicara menjadi cerewet rupanya, Otaknya yang kurang sekilo dua ons itu mengada ngada. Perduli dan cinta dengan Satria ? yang ada ia benci dan tak mau bertemu dengan Satria lagi ! Tapi satu yang Jum tangkap dari mata kelam Gema. Ada rasa kecewa di sana saat memintanya mau mundur dari rencana pernikahan. dan Tunggu ? si Trenggiling ini mengatakan apa ? orang yang ku cintai ? Gema mencintainya ? Jadi si bos irit ini mencintainya toh ? Ck...ck...ck...sejak kapan ?
""Aku tidak akan mundur dari takdir ini, biarkan mengalir apa adanya di depan sana yang penuh permainan hidup dari sang kuasa. dan jangan coba coba menceritakan tentang kejadian semua ini ke bapak berpeci dan kesemua orang, cukup Pak Langit yang tahu. Biarkan Satria tenang dalam hidupnya sendiri kedepannya. Dan ah... Jangan mencoba otak sekilo kurang dua ons mu itu berpikir tidak tidak akan perkataan ku yang ingin membebaskan Satria begitu saja, aku hanya tidak mau egois, dia sebenarnya juga dalam keadaan tidak beruntung dalam nasib percintaannya. mengerti pak treng---Gema ?""
Dan Gema hanya mengangguk dengan senyum tipisnya. okelah kalau begitu ! Pernikahan akan berlangsung. dan lebih Senangnya, Tidak ada tanda-tanda Jum ada trauma berdekatan dengan laki laki. Tapi se ? mari kita tes, Biasanya orang trauma pada laki laki itu, di sentuh inci kulitnya di bagian mana pun akan bereaksi reflek menolak. Jadi mari kita buktikan pemirsa.
"" Cepatlah bersiap...."" Menjeda. Gema memegang kedua pundak Jum, Wanita ini hanya melirik tangannya sekilas lalu menatapnya bingung seraya alis itu bertaut lucu. ""....aku akan mengantarmu ke unit mu ! hari ini kamu bekerja setengah hari saja."" Lanjutnya.
Jum mendengus, menepis lembut tangan Gema. "" Pelit ! Gue mau istrihat di sini saja, sudah pw, Terus gue juga malas di cerca banyak pertanyaan sama bapak berpeci, jadi pergilah."' Berangsur pelan, Jum berbaring dan menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
Gema Tersenyum geli, si woman ini memang ajaib, sangat mudah membuat dirinya sendiri dalam mode nyaman, padahal bencana tadi menerpanya.
"" Pergilah bekerja keras supaya duit mu nanti semakin banyak untuk istri mu nanti. satu lagi... belikan aku baju karena aku tidak mungkin balik ke unit ku dalam baju besar seperti ini, bisa bisa bapak berpeci bernyap nyap selidik."" Pungkas Jum di balik selimut.
Gema pun beranjak dalam diamnya seraya kembali tersenyum, di dekat si woman ini maka hari harinya akan penuh banyak senyum bertebaran yang selama ini kaku tuh bibir.
"" dan jangan potong gaji ku hari ini anggap saja Sedang kerja satu hari full."" Jum kembali bersuara, menghentikan langkah Gema yang hampir menutup pintu kamar. senyum geli terlukis kembali, si woman memperlihatkan sisi matrenya sebagai karyawan.
""Terima kasih atas pertolongan mu, pak !"" Lanjutnya Tulus masih tenggelam dalam selimut.
__ADS_1
""Sudah kewajiban ku."" Lirih Gema tak berniat Jum mendengarnya, itulah dirinya, berbuat apa-apa tapi tak butuh pujian, cukup orang itu tersenyum saja sudah bahagia baginya.
eh, tapi tunggu ? Baju besar yang ku pakai tak mungkin terpasang sendiri kan ? itu tandanya si Trenggiling itu yang memasangnya, berarti tubuh ku sudah di lihatnya dong, ish....dasar mesu*. jadi nyesal sudah menyucapkan terima kasih yang sebenarnya dia pun modus. gerutunya dalam selimut..