
Ragu dan gugup, itu yang di rasakan oleh Mentari saat mobil Biru sudah terparkir di hadapan tiga rumah berjejer di lingkup gerbang menjulang tinggi yang sama.
itu rumah apa istana ya ? Gede amat ! Kekaguman Mentari di kejutkan oleh suara Biru yang memintanya turun.
""Ayo Petite, turun dan masuk, kita sudah sampai !"" Biru dengan sigap membuka pintu mobil dan mengudarakan tangannya agar Mentari menggapainya ala ala Cinderella yang di sambut oleh pangeran berkudanya.
Mentari tak bergeming, ia pun tidak merespon tangan Biru yang sudah kebas di udara terulur kedepan terus.
""Pulang yuk Bos, ngeliat rumah Bos saja saya sudah ngeri !"" Sikap deso Mentari sedang menggerogoti, ia kasihan kelantai bermarmer yang bisa mengaca mematuk diri kalau di injak dirinya, pasti lantai mahal itu akan kotor, takut takut meneriakinya saat tepat di pijarnya.... Wong deso kismin, jangan injak gue, Sorry lah ye...kaki Lo tidak lolos di scan berlogo orang kaaaahyaaa.
Yaak, Gue teploki pakai e e kucing, nyaho kebauan Lo marmer. Kaki Mentari jika bisa protes maka begitu lah cibirannya.
""Jangan mulai ya Petite ! Itu bukan rumah saya semua sayang, Rumah saya yang di tengah, Yang sebelah kanan rumah Tante ku sekeluarga, namanya Tante Meca dan suaminya Om Vero, Kamu sudah pernah melihat Om Vero di saat berkunjung di ruangan Om Radja waktu di rawat kala itu, Nah...rumah sebelah pojok kiri, itu pun sama milik orang tapi bukan orang lain melainkan Om ku yang bernama Om Gion dan istrinya Tante Fina gaul, Mereka baik semua kok, dan intinya mereka bukan kanibal, jadi jangan takut apa pun itu selama saya di dekat mu, Ok sayang ! kamu akan senang kalau sudah kenal oleh mereka kecuali oleh sepupu sepupu ku, Mereka rese' dan jahil semua, jadi usahakan jangan percaya seratus persen oleh mereka kalau sedang berentraksi apa lagi topiknya mengenai saya."" Biru mensugesti otak polos Mentari, Takut takut para sepupu laknat menjelekkan namanya di hadapan Mentari. kan bahaya kalau Mentari percaya dengan omongan busuk busuk kejahilan dari mereka.
""Baiklah, Bos !"" Seketika Mentari mendadak mengembangkan senyum cerianya saat ada anak kecil yang sedang berlari ke arah berdirinya Biru dengan sangat menggemaskan. Ia pun turun dari mobil untuk melihat jelas wajah anak laki-laki yang terlihat lucu dan tampan.
"" Uncle Bownis !"" Sapa cadel anak tampan tersebut.
Biru meraup bocil itu ke gendongannya, yang berumur lima tahun. "" Dibi tampan !"" Cium gemas di pipi kenyal Dibi, anak dari Bintang dan Dirgan-sepupunya. ""Kenapa Dibi di luar, Eum ? kemana semua orang sayang !""
__ADS_1
"""Ada di dalam Uncle."" Dibi melirik ke arah Mentari. ""Kaka tantik itu siapa ? Dibi mau minta endong, boleh ?"" Bisik Dibi ke Biru.
Biru menaikkan satu alisnya. ni bocah, ngerti orang cantik, calon playboy bohai kah, seperti papanya-Dirgan.
""Tidak boleh, Aunty cantik itu kekasih Uncle, punya Uncle, jangan minta gendong dengannya ya, Dada indah itu masih suci, tidak boleh ada yang menyenggol kecuali Uncle."" Balas Bisik Biru, saking posesif nya, anak kecil pun di anggap saingan, dan cara penyampaiannya sangat tidak berfilter. Dibi hanya manggut-manggut bodoh, tapi mata binarnya tak lepas dari dada Mentari yang Katanya masih suci itu, Suci ? dada suci itu apa ? ah, nanti saja bertanya nya. Dibi kecil kecil penggemar wanita cantik rupanya !
""Hai Anak tampan, boleh kenalan tidak ? saya Mentari, panggilnya terserah saja !"" Mentari berasa di cuekin dengan dua kepala berbeda umur ini yang asyik berbisik, ia pun mulai bersuara dan menjawil pipi Dibi gemas. Orang tuanya pasti keren abis, punya genetika setampan ini.
""Boleh ! Tapi Dibi minta gendong, boleh ?""
Mentari mengangguk dan segera meraih tubuh kecil Dibi dengan sedikit paksa dari gendongan Biru sebab kekasihnya itu seperti orang ber-lem. Jangan di tanya raut wajah dan mata Biru sudah tak bersahabat , saat sebagian tubuh bocil ini sudah menyentuh dada Mentari yang berbalut kan kain. Astaga, Gue saja tak pernah semepet itu dalam jangka lama, kau sudah mendahului ku, Bocil. Posesif pakai banget Biru minta di tabok kepalanya, Anak kecil saja di cemburui, Cinta sudah membuat logikanya menghitam suram, Gelap bin Buntu.
Biru kembali meraup paksa tubuh Dibi dari gendongan Mentari. Semuanya masih belum menyadari kedatangan mereka.
""Turun lah Bocil, Aunty cantik nanti akan capek, kamu kan Gendut jadi pasti berat, Sana samperin mama papamu, Minta gendong sepuasnya.!""
"Uncle Bownis, pelit..!"" Umpat Dibi dengan suara nyaring yang berhasil semua penghuni taman yang di sulap cantik tersebut pada menoleh ke arah mereka. Namun Titan dan Vane belum terlihat.
Bintang-sepupu Biru sigap mendekat ke arah Dibi anaknya yang cemberut.
__ADS_1
""Dibi sayang, Main gih sama Oma Meca dekat kolam renang."" lembut Bintang, Dibi anak pintar acting itu menurut pergi setelah memeletkan lidahnya ke Biru. Mentari tersenyum bolong, gemas melihat tingkah lucu Dibi.
Bintang menaikkan satu alisnya, melihat ada rupa baru yang memasuki keluarga Sunjaya, bersama Biru lagi, ah... kekasih kah ? harus di goda. Tengil Bintang.
""Brownies, Anak SMA mana yang kamu bawa kesini nyuk, Ya ampun... kasihan amat anak orang di culik oleh Om Om tak laku seperti mu.!"" Sungginng songong Bintang.
""Yaa, Pedas amat tuh mulut, enak saja anak SMA, kenalin... Namanya Mentari kekasih Sagara Biru Sunjaya yang paling tampan dari para pria di sini."" Bangga Biru dengan dirinya.
Bintang malas menyahuti kesombongan sepupu brownies nya, Ia pun berkenalan dengan Mentari dengan penuh hangat ke welcomeman.
""Lagak Lo, Nyuk. Yang paling tampan di antara kita di sini ya aku."" Dirgan datang menyela, mendengar siapa yang tertampan dari mereka membuat kupingnya panas saat jawabannya mengusik jiwa ketampanannya. Mantan playboy cap bohay ini, Tampanan Gue lah.
""Terserah Lo saja dan jangan genit genit tuh mata, Ada bini Lo noh."" Semprot Biru saat mata Dirgan melirik kearah Mentari. padahal Dirgan hanya sekedar ingin tahu nama saja. Minta di serbu godaan ini si Sagara. Dirgan pun mengkode Bintang dengan kedipan mata, Bintang seakan mengerti membalas kedipan itu.
Dengan menggoda, Dirgan mengumbar kemesraan di hadapan sepasang kekasih ini dengan cara mengecup bibir istrinya-Bintang. Sengaja ! "" Sayang, nikah itu nikmat ya, bisa kecupan bibir sesuka hati, Tidur tak butuh bantal guling dan lebih enaknya tidak butuh Tante Lux lagi. mana halal lagi ***** grepeannya! Yang sudah tua di harapkan segera woy."" Sindirnya. Bintang terkekeh geli melihat wajah kecut Biru. Namun anehnya, Si gadis pipi bolong kok santai saja tuh muka.
""Pilihan mu boleh juga Bi, Tapi sayang masih kecil, Bisa ciuman tidak ? saya bisa loh menjadi guru ahli akademis cium mencium."" Bisik goda Dirgan di antara berdiri Mentari dan Biru, sehingga Mentari Mendengar bisikan itu, Otak Ensiklopedianya langsung konek mendengar teori yang tidak pernah ada.
""Bin, Dirgan minta poligami katanya !"" Balas Goda Biru. Dirgan terkesiap, matilah aku di hajar oleh istri galak.
__ADS_1