
Jum, nitip bembe ku ya, Jangan sampai ngerusak ladang orang.... Sekalian nitip Bos ku, juga.. ! Tapi jangan di lirik apa lagi di pegang...bisa kesetrum nanti, koit Loh... jaga jarak lima atau tiga meter darinya, ok !
Setelah meminta tolong ke Jum di akhiri dengan kata peringatan, Mentari langsung lari cepat menuju ke arah jalan rumahnya. ia tidak mau mengajak Biru bertemu Ammanya dulu. Takut takut Biru ke kampungnya benar benar akan menagih hutangnya. Bisa menegang Amma-nya kalau tahu dirinya punya hutang buaaaaanyak. Mentari tak pernah menceritakan semua masalahnya yang sudah menimpanya di kota, hanya Senja lah yang tahu... bahkan ia pun tak pernah bercerita kalau ia sudah pernah bertemu dengan keluarga besar Batara...
Apakah yang di sebut hantu Amang oleh Jum adalah Om Radja ? Kalau iya, hendak apa mereka menyerbu ku ke kampung, barusan Bos Biru, dan kemungkinan besar, hantu ini Om Radja... hadeeeeh, masalah ku kok tidak abis abis sih ? kapan bahagianya aku...?
Mentari berlari terus seraya bermonolog sendiri, Ia tidak sadar kalau Biru pun sebenarnya dari tadi ikutan berlari kecil di belakangnya....mana bisa si Biru tinggal diam jika mendengar sang kekasih tertimpa masalah... Jangan Panggil dia si Sagara Kalau acuh terhadap masalah Petite-nya, Masalah Lo, masalah gue juga ! Sedih dan bahagia Lo, juga milik gue ! itulah sekarang si otaknya berbicara.
Banyak warga yang di lewati Mentari dalam kepanikannya terhadap kondisi Ammanya, Tapi tak satu pun di perduli kan olehnya, Baik itu sapaan sopan maupun nyinyiran terang terangan masuk ke indranya, Di biarkan saja yang penting tidak menyentuh kulitnya sampai berdarah darah....!
"" Lihatlah, Rupanya ! Mentari sudah mengikuti karma Rose, Memikat orang kota tapi naas... ujung ujungnya tak di anggap oleh keluarga sang pria, seperti Rose di kala itu...""
"" Buah memang tak jatuh jauh dari pohonnya ibu ibu...Yaaa, kita nonton saja !""
Begitulah salah satu Nyinyiran sayup sayup terdengar dari Mak Mak rempong, saat melihat ada seorang pria misterius yang mengikuti langkah Mentari dengan berpakaian hoodie menutupi kepala nan mata di hadang kaca mata hitam... penampilannya keren di lihat oleh orang normal walaupun sudah Mak Mak, Tapi yang namanya iri..ya pasti timbul Fitnah mengudara.
Mentari memelankan langkahnya, Saat matanya menangkap dua mobil mewah terparkir di depan rumahnya. Aduh...
"" Mobil siapa ini ?!"" monolognya.
""Satu, mobil ku..yang satunya entah.."" Jawab Biru. Mentari berbalik dengan tatapan meringis karena Biru terlalu batu di beri tahu untuk jangan ikut.
Biru cengir kuda, Mentari hanya mengedip pasrah... apa pun yang terjadi, biarlah seperti air yang mengalir bebas.
""Ayo naik bos !"" Mentari pun mempersilahkan Biru untuk menaiki tangga kayu rumah panggungnya. ""Jangan mengumpat, beginilah hidup dan keadaan ekonomi ku di kampung."" Ujarnya dengan perasaan kurang enak ke Biru.
__ADS_1
""Saya tidak mendengar kecerewetan mu, Petite !"" malas Biru.
Biru memang prihatin akan kediaman Mentari, tapi sumpah demi tujuh turunan, Ia tidak mengumpati keadaan Petite-nya, bahkan kalau di beri izin, ia ikhlas ridho akan merenovasi atau membangun rumah untuk keluarga kekasihnya.
Sampai di dalam rumah, Mentari mengembung kan pipi, konyol. Seraya mengusap wajahnya pelan. Di matanya, terlihat ada Om-radjanya, beserta Kakek dan neneknya yakni Bima dan Risma yang sedang tersenyum berjamaah atas kedatangannya.
""Apa yang kalian lakukan di sini ? Jangan bilang menyakiti Amma ku, saya tidak suka ya !"" Mentari menghampiri Senja yang mencoba menyadarkan Rose-Ammanya.
Ketiga Batara kompak menggeleng. ""Kami tidak melakukan apa-apa sayang, bahkan kami belum berucap satu kata pun, Amma mu langsung pingsan melihat Om."" Belah Radja akan tuduhan ponakannya yang amat mengagungkan Ammanya.
""Anak nakal, lama amat sih datangnya, Ambil minyak angin ini !"" Mentari mengambil alih untuk membangun Amma-nya. ""...Rasanya bukan Amma saja yang ingin pingsan melihat orang lain tapi mirip dengan Amang itu, Daeng pun kepingin pingsan."" Bisik Senja dengan lirikan ke Radja. Walaupun Mentari pernah bercerita akan kembaran Amang-nya tapi rasanya shock aja melihatnya.
Senja dan ketiga Batara membulat kan matanya, Saat menangkap sosok Biru yang baru muncul.
Siapa itu ? Batin Senja.
Setelah memberi sapaan sopan ke Batara, Biru menghampiri Mentari dan tersenyum manis ke Senja sebagai tanda sopannya.
""Dek, Siapa lagi ini ? Daeng, Rasanya kepingin pingsan benar ini !"" Konyol Senja dengan mata tak berkedip menatap Biru.
"" Saya lempar ke sungai ya Daeng, kalau melihat pacar saya saja sampai pingsan.!"" Ancam Mentari. Senja benar pingsan setelah mendengar ucapan Mentari yang menyebut Biru adalah pacarnya... Ala Mak, keren amat adiknya ini, Sudah punya pacar...Tampan pula ! Sialnya, Mentari tak pernah cakap kalau adiknya punya pacar yang beriringan ketampanan Dewa-Yunani.
""Yaaaak, ribet deh ah...Lebay Daeng ini, ah..!"" Mentari menoyor pelipis Senja yang akan jatuh di pundaknya. Biru dan keluarga Batara tersenyum geli saat melihat Senja tak jadi pingsan.
""Pelit amat si dek."" Cengir konyol Senja ke semua orang kecuali ke adiknya yang nyebelin di matanya.
__ADS_1
""Butuh bantuan sayang / Petite"" Tawar Biru dan Radja berbarengan. Kedua bola mata itu saling tatap lomba setelah berucap. Radja pun mendekat yang tadinya ada rasa canggung ke Senja Sebelum kedatangan Mentari, hilang sudah rasa canggungnya.
""Tidak per-----ah, Amma sudah sadar Daeng."" Lega Mentari. Senja pun tersenyum saat melihat Ammanya membuka mata perlahan.
""Amma tidak apa ?"" Cemas Mentari dan Senja. Amma-Rose mengangguk, namun saat matanya bersibobrok ke wajah Radja, Rose membulat kan mata sejenak, sejurus kemudian pingsan lagi.
""Yaak, pingsan lagi.""Senaja menepuk jidatnya. Mentari pasrah prustasi, Melirik ke Radja dengan tatapan sinisnya. ""Om pakai kumis palsu atau topeng gih.."" Suruh Mentari. Biru dan sepasang kepala tua terkikik geli menatap Radja yang tersenyum kikuk ke Mentari dan Senja.
""Om salah apa coba ? kok Om yang di salahin sih ?"" Radja pura pura bodoh. padahal ia tahu persis permasalahan pingsan adik iparnya ini.
""Cih."" Cibik Mentari. melirik Bima dan Risma minta bantuan agar memarahi Om-nya.
Risma mendekat dengan senyum gelinya. ""Pakai ini Radja !"" Sodor Masker mulut ke arah Radja. Radja hanya melirik tak niat di gapai cepat.
Biru yang melihat itu menyeringai jahil dengan ide konyolnya. Oke....kapan lagi ada kesempatan mengerjai mantan dosen killer-nya ini."" Petite, ada spidol hitam ?""
Mentari mengangguk. "" Buat apa Bos ?""
""Buat melukis wajah Om Radja, memberikan kumis atau jenggot palsu Mungkin."" Sungging geli Biru bersibobrok mata gelinya dengan mata tajam Radja ke arahnya.
Tertawa, Semuanya tertawa geli melihat wajah masam Radja. Senja dan Mentari pun yang tadinya cemas dengan Ammanya malah ikut tersenyum geli.
""Jangan kurang ajar ya anak Sunjaya, apa masih kurang hukuman saya di jaman kuliah mu dulu, eum ? mau di tambah lagi hukuman mu, begitu kah ?"" Radja meraih masker tawaran Risma dari pada harus di coret coret wajahnya oleh tangan kurang ajar Biru.
Biru menggeleng geli.
__ADS_1
Wajah tampan berkharisma begini di suruh di sembunyikan, nasib wajah kembar ya begini nih kurang asemnya tak selamanya seru punya kembaran..! Dumel Radja dalam hati.